Sembiring, Emenda
Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

EMISI CO2 DAN PENURUNAN KARBON ORGANIK PADA CAMPURAN TANAH DAN KOMPOS (SKALA LABORATORIUM) Lubna, Dwina; Sembiring, Emenda
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.552 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.1.3

Abstract

Abstrak:  Kenaikan  konsentrasi  Gas Rumah  Kaca (GRK)  di atmosfer  memberikan  efek terhadap  temperatur global. Salah satu GRK yang diatur keberadaannya  oleh Intergovernmental  Panel on Climate  Change (IPCC) adalah karbon dioksida (CO2). Emisi CO2 dihasilkan  dari kegiatan antropogenik  dan sumber alami. Penelitian ini berfokus pada sumber emisi CO2  dari kegiatan antropogenik,  yaitu pertanian. Aplikasi kompos adalah suatu hal yang umum dilakukan  pada sektor  pertanian.  Kompos  merupakan  bentuk akhir dari bahan organik  yang telah terdekomposisi  sehingga bermanfaat sebagai sumber substrat bagi mikroorganisme  dalam tanah. Kegiatan mikroorganisme  dalam  tanah  ini menghasilkan  produk  akhir  berupa  CO2 yang dikeluarkan  melalui  respirasi tanah. Selain itu, kompos juga berperan dalam meningkatkan  carbon sequestration.  Tujuan dari penelitian  ini adalah mengukur emisi CO2  dan mengetahui  penurunan kandungan  karbon organik pada campuran  tanah dan kompos  serta  melihat  perbedaan  antara  kompos  yang  dicampur  rata  dengan  tanah  dan  kompos  yang  tidak dicampur rata dengan tanah. Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan incubator vessel yang diinkubasi selama 90 hari. Ada tiga jenis kompos yang digunakan,  yaitu Kompos Domestik Kampus, Kompos Cacing  dan Kompos  Daun.  Ketiga  kompos  ini merupakan  kompos  komersil.  Dosis  kompos  yang digunakan adalah 0,2 gram kompos/10  gram tanah dan 0,5 gram kompos/ 10 gram tanah. Campuran  tanah dan kompos memiliki  kandungan  karbon  organik  yang  lebih  besar  daripada  tanah.  Setelah  inkubasi  selama  90  hari, kandungan  karbon  organik  pada  campuran  tanah  dan  kompos  mengalami  penurunan.  Penurunan  kandungan karbon   organik   sebagai   sumber   substrat   diikuti   dengan   penurunan   aktivitas   mikroorganisme    dalam menghasilkan CO2  pada campuran tanah dan kompos.    Emisi CO2 mengalami peningkatan dari awal penelitian (t0) hingga hari ke-20 (t20), setelah itu terjadi penurunan kadar emisi CO2  hingga akhir penelitian (t90). Selama masa  penelitian,  campuran  tanah  dan  0,5 gram Kompos  Domestik  Kampus  mengemisikan  CO2  yang  paling tinggi yaitu 0,32-0,64 mg/hari.
PENGARUH APLIKASI KOMPOS TERHADAP EMISI CO2 DAN KARBON ORGANIK TANAH Sitorus, Listra Endenta; Sembiring, Emenda
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.016 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2012.8.2.3

Abstract

Abstrak: Isu mengenai pemanasan global dan perubahan iklim telah memicu penelitian strategis untuk mengatasi emisi gas rumah kaca (GRK), salah satunya adalah CO2. Salah satu kegiatan yang juga mempengaruhi kenaikan CO2  di atmosfer adalah kegiatan pertanian. Penggunaan kompos pada tanah akan menambah aktivitas mikroba karena kompos menyediakan materi organik yang dapat didegradasi oleh mikroba. Salah satu hasil dari dekomposisi karbon organik adalah CO2. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur besarnya emisi CO2  dari aplikasi kompos pada tanah sebagai bidang tanam selada (Lactuca sativa) serta pengaruh aplikasi kompos terhadap perubahan karbon organik tanah. Pengukuran dilakukan pada area seluas 2,5 x 0,75 m dengan 2 variasi kompos yang berbeda, yaitu kompos cacing dan kompos daun dengan dosis yang diberikan adalah 5 kg/m2  dan 8,5 kg/m2. Untuk setiap area dilakukan pengukuran emisi CO2 di 4 titik dimana hasilnya kemudian dimodelkan dengan metode block kriging dan pengukuran karbon organik tanah. Untuk aplikasi kompos cacing dengan dosis 5 kg/m2, CO2  yang diemisikan adalah 0,53 mgCO2/m2/jam, kompos cacing 8,5 kg/m2  CO2  yang diemisikan adalah 0,59 mgCO2/m2/jam, kompos daun 5 kg/m2, CO2  yang diemisikan adalah 0,59 mgCO2/m2/jam, dan untuk kompos daun 8,5 kg/m2, CO2  yang diemisikan adalah 0,7 mgCO2/m2/jam. Semakin banyak dosis kompos yang digunakan semakin tinggi konsentrasi CO2   yang  diemisikan.  Setelah  aplikasi  kompos  pada  tanah,  karbon  organik  tanah  mengalami  peningkatan. Kandungan karbon organik tanah dengan aplikasi  kompos sebanyak 8,5 kg/m2  lebih tinggi dibandingkan dengan aplikasi kompos dengan dosis 5 kg/m2. Dapat disimpulkan bahwa penambahan kompos pada tanah mempengaruhi kandungan karbon organik tanah dan peningkatan karbon organik tanah tersebut juga dipengaruhi dengan dosis kompos yang digunakan.
SEKTOR BARU PENGELOLAAN SAMPAH DI INDONESIA (STUDI KASUS DI KOTA YOGYAKARTA, KABUPATEN SLEMAN DAN BANTUL) Hijrah Purnama Putra; Enri Damanhuri; Emenda Sembiring
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 11 No. 1 (2019): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol11.iss1.art2

Abstract

The rate of municipal waste generation increases along with the increase in population, infrastructure and supporting activities in it. But in developing countries, the amount of waste is not comparable with the government's performance in handling it. The role of the government in waste management, in this study is referred to as the formal sector. Various limitations arise in this formal sector, such as minimal funding, human resources and the availability of infrastructure. In addition to the formal sector, there are also informal activities that play a role, but the motives for their activities are not environmental issue, but economic motives for individuals and groups, so that their large role is not considered in municipal solidwaste management and planning. The Indonesian government presents other sectors in the Solidwaste Bank and TPS 3R programs, this sector is referred to as the semi-formal sector, because of the government's involvement but operated by the community. The motive is also integrated between environment and economy as a step of empowerment. This study aims to present the semi-formal sector, whose task is to assist in the handling and reduction of waste at both at the source and the larger scale (comunal), as a new sector in the solidwaste management system in Indonesia. Keywords : Semi-formal sector, Solidwaste Bank, Solidwaste management, TPS3R
Identify Water Treatment Plant Capability in Removing Microplastic : Lab Scale Simulation and Direct Sampling Wa Ode Sitti Warsita Mahapati; Emenda Sembiring; Syarif Hidayat
Journal of Multidisciplinary Academic Vol 6, No 1 (2022): Science, Engineering and Social Science Series
Publisher : Penerbit Kemala Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The challenges of Drinking Water Treatment Plants (DWTP) are increasing due to the presence of new types of pollutants that can contaminate raw water and increase the processing load on the installation. One of the pollutants that is currently being discussed a lot is plastic particles measuring < 5 mm which are called microplastics. Based on these factual conditions, it is also important to identify the generation of microplastics at the raw water treatment plant in Bandung-Indonesia. In this study, laboratory-scale water treatment simulations and sampling at two drinking water treatment plants in Bandung City were carried out using the grab sampling method to identify their generation in the laboratory. The results showed that microplastics were still found in all processing units, this was in line with laboratory-scale processing which showed that the processing still left residue at the final stage of the experiment. So, it can be concluded that further research is needed to optimize the performance of conventional water treatment units in removing microplastics and the mechanism that can be applied to prevent the spread of microplastics into water bodies.
KAJIAN PEMANFAATAN LIMBAH AMPAS TAHU MENJADI KOMPOS DI INDUSTRI TAHU X DI KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Icha Yulianis Pertiwi; Emenda Sembiring
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.7

Abstract

Abstrak: Limbah yang ditimbulkan dari industri tahu, 70%  limbah padat berupa ampas tahu. Dalam penelitian ini dilakukan kajian tentang pemanfaatan limbah ampas tahu mejadi kompos. Metode yang digunakan dalam  proses pengomposan adalah metode takakura secara aerob. Bahan baku yang dipakai adalah limbah ampas tahu dengan campuran daun kering. Pada penelitian ini dibuat tiga variasi antara limbah ampas tahu dengan daun kering yaitu : satu banding empat, satu banding tiga, dan satu banding dua dengan jumlah limbah ampas tahu lebih banyak.Proses pengomposan berlangsung selama 40 hari. Untuk memantau proses pengomposan yang berlangsung, dilakukan monitoring harian terhadap beberapa parameter yaitu : temperatur, PH, dan kadar air. Selain monitoring harian diperlukan juga analisis laboratorium terhadap beberapa parameter yaitu : kadar abu dan kadar volatil. Analisis laboratorium dilakukan setiap tiga hari sekali selama pengomposan berlangsung.Hasil penelitian pengomposan pada kompos jadi menunjukkan bahwa pada ketiga variasi telah sesuai dengan standar ,berdasarkan parameter  yaitu : PH, kadar air, kadar abu, dan kadar volatil. Sedangkan untuk parameter temperatur, ketiga variasi tidak memenuhi teori pengomposan selama proses berlangsung. Hal ini disebabkan karena temperatur tertinggi yang dicapai kurang dari temperatur optimum yaitu 550C.  Untuk variasi satu banding empat adalah 350C dan 340C untuk variasi satu banding tiga dan satu banding dua.Kata kunci: ampas tahu,  pengomposan, dan Takakura. Abstract : An Industry, such as tofu industrygenerates solid waste, and 70% of the solid waste is tofu pulp. This study focuses on the utilization of waste pulp into compost. The method used in the composting process is the Takakura method with aerob process. The raw material used is tofu pulp waste with a mixture of dry leaves. In this study created three variations of the tofu pulp waste with dry leaves, namely: 1:4, 1:3, and 1:2  with the amount of tofu pulpis higher than the leaves.The composting process took 40 days. To monitor the composting process is underway, conducted daily monitoring of several parameters are: temperature, pH, and water content. In addition to daily monitoring, laboratory analysis is required also to some of the parameters :ash content and volatile content. Laboratory analysis done every three days during the composting takes place.The results showed that the mature compost in all three variations are in accordance with the standards and quality that exist, based on the parameters are: pH, water content, ash content, and volatile content.for the parameters of temperature, the three variations do not meet quality standard. This is because the highest temperature for all variations reach below the optimum standard which is 550C. For 1:4 the highest temperature is 350C, and for others, 1:3 dan 1:2 are 340C.  Key words: composting, pulp of tofu, and Takakura
PENGARUH APLIKASI KOMPOS TERHADAP EMISI CO2 DAN KARBON ORGANIK TANAH Listra Endenta Sitorus; Emenda Sembiring
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 18 No. 2 (2012)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2012.8.2.3

Abstract

Abstrak: Isu mengenai pemanasan global dan perubahan iklim telah memicu penelitian strategis untuk mengatasi emisi gas rumah kaca (GRK), salah satunya adalah CO2. Salah satu kegiatan yang juga mempengaruhi kenaikan CO2  di atmosfer adalah kegiatan pertanian. Penggunaan kompos pada tanah akan menambah aktivitas mikroba karena kompos menyediakan materi organik yang dapat didegradasi oleh mikroba. Salah satu hasil dari dekomposisi karbon organik adalah CO2. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur besarnya emisi CO2  dari aplikasi kompos pada tanah sebagai bidang tanam selada (Lactuca sativa) serta pengaruh aplikasi kompos terhadap perubahan karbon organik tanah. Pengukuran dilakukan pada area seluas 2,5 x 0,75 m dengan 2 variasi kompos yang berbeda, yaitu kompos cacing dan kompos daun dengan dosis yang diberikan adalah 5 kg/m2  dan 8,5 kg/m2. Untuk setiap area dilakukan pengukuran emisi CO2 di 4 titik dimana hasilnya kemudian dimodelkan dengan metode block kriging dan pengukuran karbon organik tanah. Untuk aplikasi kompos cacing dengan dosis 5 kg/m2, CO2  yang diemisikan adalah 0,53 mgCO2/m2/jam, kompos cacing 8,5 kg/m2  CO2  yang diemisikan adalah 0,59 mgCO2/m2/jam, kompos daun 5 kg/m2, CO2  yang diemisikan adalah 0,59 mgCO2/m2/jam, dan untuk kompos daun 8,5 kg/m2, CO2  yang diemisikan adalah 0,7 mgCO2/m2/jam. Semakin banyak dosis kompos yang digunakan semakin tinggi konsentrasi CO2   yang  diemisikan.  Setelah  aplikasi  kompos  pada  tanah,  karbon  organik  tanah  mengalami  peningkatan. Kandungan karbon organik tanah dengan aplikasi  kompos sebanyak 8,5 kg/m2  lebih tinggi dibandingkan dengan aplikasi kompos dengan dosis 5 kg/m2. Dapat disimpulkan bahwa penambahan kompos pada tanah mempengaruhi kandungan karbon organik tanah dan peningkatan karbon organik tanah tersebut juga dipengaruhi dengan dosis kompos yang digunakan.
EMISI CO2 DAN PENURUNAN KARBON ORGANIK PADA CAMPURAN TANAH DAN KOMPOS (SKALA LABORATORIUM) Dwina Lubna; Emenda Sembiring
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.1.3

Abstract

Abstrak:  Kenaikan  konsentrasi  Gas Rumah  Kaca (GRK)  di atmosfer  memberikan  efek terhadap  temperatur global. Salah satu GRK yang diatur keberadaannya  oleh Intergovernmental  Panel on Climate  Change (IPCC) adalah karbon dioksida (CO2). Emisi CO2 dihasilkan  dari kegiatan antropogenik  dan sumber alami. Penelitian ini berfokus pada sumber emisi CO2  dari kegiatan antropogenik,  yaitu pertanian. Aplikasi kompos adalah suatu hal yang umum dilakukan  pada sektor  pertanian.  Kompos  merupakan  bentuk akhir dari bahan organik  yang telah terdekomposisi  sehingga bermanfaat sebagai sumber substrat bagi mikroorganisme  dalam tanah. Kegiatan mikroorganisme  dalam  tanah  ini menghasilkan  produk  akhir  berupa  CO2 yang dikeluarkan  melalui  respirasi tanah. Selain itu, kompos juga berperan dalam meningkatkan  carbon sequestration.  Tujuan dari penelitian  ini adalah mengukur emisi CO2  dan mengetahui  penurunan kandungan  karbon organik pada campuran  tanah dan kompos  serta  melihat  perbedaan  antara  kompos  yang  dicampur  rata  dengan  tanah  dan  kompos  yang  tidak dicampur rata dengan tanah. Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan incubator vessel yang diinkubasi selama 90 hari. Ada tiga jenis kompos yang digunakan,  yaitu Kompos Domestik Kampus, Kompos Cacing  dan Kompos  Daun.  Ketiga  kompos  ini merupakan  kompos  komersil.  Dosis  kompos  yang digunakan adalah 0,2 gram kompos/10  gram tanah dan 0,5 gram kompos/ 10 gram tanah. Campuran  tanah dan kompos memiliki  kandungan  karbon  organik  yang  lebih  besar  daripada  tanah.  Setelah  inkubasi  selama  90  hari, kandungan  karbon  organik  pada  campuran  tanah  dan  kompos  mengalami  penurunan.  Penurunan  kandungan karbon   organik   sebagai   sumber   substrat   diikuti   dengan   penurunan   aktivitas   mikroorganisme    dalam menghasilkan CO2  pada campuran tanah dan kompos.    Emisi CO2 mengalami peningkatan dari awal penelitian (t0) hingga hari ke-20 (t20), setelah itu terjadi penurunan kadar emisi CO2  hingga akhir penelitian (t90). Selama masa  penelitian,  campuran  tanah  dan  0,5 gram Kompos  Domestik  Kampus  mengemisikan  CO2  yang  paling tinggi yaitu 0,32-0,64 mg/hari.
VALUASI EKONOMI DAN UPAYA PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DI KECAMATAN MUARA GEMBONG KABUPATEN BEKASI Barti setiani Muntalif; Olva Hasian; Emenda Sembiring
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.1.9

Abstract

Abstrak: Kecamatan Muara Gembong merupakan salah satu daerah di Indonesia yang telah mengalami degradasi mangrove di wilayah pesisirnya akibat perubahan lahan. Perubahan lahan terbesar digunakan untuk membuka lahan tambak ikan untuk kegiatan budidaya. Dampak ekologi yang timbul akibat rusaknya ekosistem hutan mangrove  di wilayah Muara Gembong saat ini adalah abrasi. Melihat permasalahan yang terjadi, analisis terhadap aspek ekologis dan ekonomi yang saling berkaitan perlu dilakukan agar sumberdaya pesisir yang ada dapat digunakan secara lebih optimal dan efisien serta berkelanjutan. Analisis valuasi ekonomi dilakukan dengan perhitungan Total Economic Value (TEV) yang terdiri dari perhitungan nilai pemanfaatan (Use Value) dan nilai non-pemanfaatan (Non-Use Value). Dengan total luasan mangrove seluas 103,75 hektar, manfaat yang dapat diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung adalah sebesar Rp. 23.690.709.886,-. Enam skenario pemanfaatan lahan hutan mangrove disiapkan. Untuk melihat skenario mana yang layak untuk dijadikan acuan dalam rencana pengembangan daerah, maka dilakukan perhitungan analisis kelayakan usaha. Dari analisa tersebut terlihat bahwa skenario 4 (80% hutan mangrove dan 20% tambak ikan) merupakan skenario paling layak, dimana nilai NPV yang didapatkan selama 10 tahun memiliki nilai tertinggi sebesar Rp. 4.100.769.095.248,-  dan benefit-cost rasio (BCR) yang dihasilkan adalah 4,84 yang berarti apabila nilai BCR > 1 maka usaha dinyatakan layak untuk diterapkan.
PEMILIHAN PROGRAM PENGENDALIAN KEHILANGAN AIR SERTA PENGARUH IMPLEMENTASINYA TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN PDAM Imanullah Imsawan el-Ahmady; Emenda Sembiring
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.5

Abstract

Abstrak: Tingkat air tak berekening (NRW) di Indonesia yang rata-rata sebesar 37% menunjukkan bahwa PDAM telah kehilangan 37% potensi pendapatan sehingga dapat menyebabkan buruknya kondisi keuangan dan pelayanan PDAM. NRW terdiri dari komponen kehilangan air dan konsumsi resmi tak berekening, di  mana  komponen  kehilangan air  lebih  mungkin  untuk  diintervensi untuk  diturunkan. Perlunya pengendalian kehilangan air disamping merupakan bentuk kepekaan terhadap menurunnya kuantitas air secara global, juga dapat memantapkan kinerja keuangan PDAM, mendukung peningkatan cakupan pelayanan, menunda investasi pembangunan sistem baru, penguatan manajemen dan SDM, serta peningkatan fokus  pelayanan pada  pelanggan dengan  menerapkan  prinsip  kepengusahaan. Dengan didasari keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh PDAM, maka perlu dipilih alternatif program yang dinilai paling efektif dan efisien dalam menurunkan tingkat kehilangan air dengan mempertimbangkan aspek keuangan, aspek pelayanan, aspek teknis operasional dan aspek SDM. Pemilihan alternatif program dilakukan dengan metode AHP, kemudian alternatif program yang terpilih disimulasikan dalam tiga skenario untuk mengetahui tingkat profitabilitasnya dengan  menggunakan metode  analisis finansial Skenario tersebut adalah penurunan hingga 20%, penurunan tingkat lanjut dan  penurunan hingga mendekati 0%. Seluruh skenario tersebut juga mensimulasikan pengendalian kehilangan air komersil, fisik dan kombinasi keduanya. Dari seluruh simulasi tersebut kemudian diberikan skor berdasarkan kriteria dalam analisis finansial sehingga diperoleh peringkat skenario program yang dipilih. Hasil dari AHP menunjukkan bahwa upaya pengendalian kehilangan air komersil lebih dipilih untuk menjadi prioritas karena dari empat program yang barada pada posisi teratas, tiga di antaranya adalah program pengendalian air komersil. Sedangkan dari analisis finansial dan pemeringkatan, program pengendalian kehilangan air komersil hingga 20% berada di urutan kedua setelah skenario kombinasi hingga 20%. Perbedaan hasil ini dikarenakan dalam AHP tidak ada skenario kombinasi. Sehingga secara umum kenario pengendalian kehilangan air komersil masih unggul dibandingkan skenario fisik. Dari hasil penelitian ini, disarankan bahwa  sebagai  langkah  awal  PDAM  setidaknya  harus  memiliki  program  pengendalian kehilangan air komersil.Kata kunci: PDAM, kehilangan air, AHP, analisis finansial, ranking Abstract : The average of Non-Revenue Water (NRW) in Indonesia is about 37% which means that PDAM has lost 37% of its potential revenues causing less efficiency in PDAM's service and financial health. NRW consists of water loss and unbilled authorized consumption, where the water loss component is more possible to be intervened and reduced. In addition to the water quantity degradation as one global issue, control of water loss is also important to improve the financial performance of PDAM, develop the coverage of service area, delay the investment of new system development, strengthen the management and human resources, and also increase the focus on consumer's service according to the principles of entrepreneurship. Based on the limitation of PDAM's resources, selection of the most effective and efficient program to decrease the water losses by considering the financial, service, technical and human resources aspects is needed. The selection of program is prioritized by AHP method, then the selected programs are simulated in three scenarios to define its profitability rate using financial analysis. The scenarios are the decreasing rate up to 20%, the advanced decreasing rate and the decreasing rate until close to 0%. All scenarios also simulate three conditions of water loss control; the first is about commercial water loss, the second is physical and the last one is the combination of both. From the entire simulations, then scores are given based on financial analysis criterias to obtain ranks of the scenarios. Based on AHP result, it is known that from the four high-prioritized programs, three of them are about commercial water loss control. From the financial analysis and ranking result, commercial water loss control up to 20% scenario is at the second rank after the combination of up to 20% scenario. This different result is because there is no combination scenario in the AHP. Generally, the commercial water loss control scenario is still superior than the physical. From this research it is recommended that as the first step PDAM at least must have a commercial water loss control program. Key words: PDAM, water loss, AHP, financial analysis, ranking
DINAMIKA JUMLAH SAMPAH YANG DIHASILKAN DI KOTA BANDUNG Zulfinar Zulfinar; Emenda Sembiring
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 1 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.1.3

Abstract

Abstrak: Umumnya permasalahan yang dialami oleh kota-kota menengah dan besar di Indonesia adalah masalah persampahan. Banyak faktor yang menyebabkan meningkatnya jumlah timbulan sampah, seperti pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, standar hidup yang tinggi, perilaku masyarakat dan sektor informal. Bandung merupakan salah satu kota yang memiliki faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya jumlah timbulan sampah. Oleh karenanya perlu mengetahui seberapa dinamis jumlah timbulan sampah sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan penduduk di Kota Bandung. Metode pendekatan sistem dinamik dengan menggunakan simulasi, didapat proyeksi sampah yang dihasilkan Kota Bandung dengan menerapkan berbagai skenario hingga tahun 2034. Timbulan sampah selama masa simulasi memiliki perubahan-perubahan yang cukup dinamis dengan parameter sensitivitas berupa parameter timbulan sampah perkapita. Kata Kunci: sampah, sistem dinamis, simulasi, sensitivitas Abstract: Generally, the problems experienced by the cities of medium and large companies in Indonesia is the problem of waste. Many factors led to increased amount of waste, such as population growth, economic growth, higher living standards, social behavior and informal sector. Bandung is one of the cities that have the factors that led to the increasing amount of waste. Therefore, need to know how dynamic the amount of waste in accordance with the development and population growth in the city of Bandung. Dynamical systems approach using simulations obtained projection Bandung waste generated by applying various scenarios until the year 2034. Waste generation during simulation has changes quite dynamic parameters such as parameter sensitivity of waste generation per capita. Keywords: garbage, dynamic systems, simulation, sensitivity