Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Fasilitasi Deteksi Dini Pneumonia Pada Balita Dengan Menggunakan Media Aplikasi Sebar Pesona (Selamatkan Balita Dari Pneumonia) Di Kota Depok Sa'diyah, Halimatus; Supriyatna, Rahmat; Kasih, Bayu Aditya Trisnaning; Ananda, Dea Elsa; Kusumaningrum, Meliana; Pangestu, Riyan; Sarwendah, Sarwendah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju Vol 3 No 01 (2022): Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju Volume 03 Nomer 01 Tahun 2022
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jpmim.v3i01.1712

Abstract

Pneumonia masih menjadi salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian pada balita saat ini yang salah satunya disebabkan kurangnya pengetahuan ibu. Berdasarkan cakupan penemuan kasus pneumonia yang ditangani di Kota Depok tahun 2018 sebanyak 2.408 (24,39%). Alternatif luaran intervensi pada pelaksanaan Aplikasi ini dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang penyakit pneumonia. Penelitian ini dibuat dengan metode observasi secara online melalui google formulir dalam jangka waktu April hingga September 2021 di wilayah Kota Depok dengan sasaran ibu yang mempunyai balita sebanyak 20 orang. Berdasarkan hasil yang di dapat dari pretest terdapat 13 orang yang masih belum mengetahui tentang penyakit pneumonia dan berdasarkan hasil post test terdapat peningkatan pengetahuan ibu terhadap penyakit Pneumonia dengan melihat nilai akurasi dari pre test dan post test. Kegiatan ini memiliki kekurangan yaitu jaringan internet yang kurang stabil. Materi aplikasi yang disampaikan mendapat respon yang cukup baik dari responden. Kesimpulan kegiatan ini adalah mengenalkan produk luaran dalam bentuk aplikasi yang berisi tentang edukasi pencegahan penyakit pneumonia pada balita. Diharapkan kepada ibu yang mempunyai balita dapat mempelajari tentang pneumonia pada balita dengan menggunakan media digital berupa aplikasi atau media pembelajaran lainnya sehingga dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang penyakit pneumonia pada balita.
STEM-Integrated Phyphox to Enhance Student Engagement and Understanding of Newton’s Law Priscilia, Masayu Putri; Haryani, Fairusy Fitria; Astuti, Linda Dwi; Ramli, Murni; Indriyanti, Nurma Yunita; Sarwendah, Sarwendah; Novia
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika Vol. 11 No. 2 (2025): JPPPF (Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Fisika), Volume 11 Issue
Publisher : Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Negeri Jakarta, LPPM Universitas Negeri Jakarta, HFI Jakarta, HFI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/1.11208

Abstract

The COVID-19 pandemic has significantly impacted educational technology, such as virtual labs, simulations, and various learning software, to facilitate physics experiments. In the post-pandemic era, virtual laboratory continues to be used in hybrid and face-to-face learning. However, virtual laboratories lack the practical skills of students compared to hands-on experiments. Phyphox (Physical Phone Experiment), an open-source tool that utilises mobile device sensors, addresses the problem by integrating students’ practical skills. This study examines the integration of Phyphox in STEM-based physics learning, with a focus on Newton's Laws. Using an exploratory sequential mixed methods approach, the research examines how Phyphox can enhance student engagement and understanding of complex physics concepts. The first phase involves designing and implementing experiments related to Newton's Laws using Phyphox, while the second phase tests the application in authentic learning contexts. The study employs pretests, post-tests, and questionnaires to evaluate the effectiveness of this approach. Results indicate that STEM-based learning integrated with Phyphox significantly improves student learning outcomes and engagement. Students reported positive experiences, highlighting the app's ease of use, accurate data, and ability to make learning more interactive and enjoyable. The research sample consists of two experimental classes from grades XI Senior High School 1 Karanganyar, with 33 students per class, selected via a Cluster Random Sampling method from the school's overall population. The findings suggest that integrating Phyphox into physics learning can provide valuable guidance for teachers, students, and researchers to develop more effective and engaging STEM education methodologies.
Analisis fishbone tingginya prevalensi stunting Sarwendah, Sarwendah; Lamtiur, Posma Rohana; Herniwanti, Herniwanti; Dewi, Oktavia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2432

Abstract

Background: Stunting remains a significant public health problem in Kuantan Singingi Regency, with a prevalence of 23.1%. Data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey ranked this regency as having the third highest prevalence in Riau Province. Purpose: To analyze the situation, establish priority issues, identify root causes, and formulate evidence-based interventions to accelerate stunting reduction. Method: This qualitative study, using a problem-solving cycle approach, was conducted in October 2025 at the Kuantan Singingi Regency Health Office. Four key informants, including one Division Head and three Public Health Section Heads, participated through in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), and document review. Results: Based on the Urgency, Severity, and Growth (USG) method, the stunting prevalence of 23.1% was identified as a top priority. Root cause analysis using a fishbone diagram identified six key factors: human factors (low family knowledge and ineffective educational methods), limited facilities and utilization of integrated health posts, suboptimal sanitation conditions, limited provision of locally based supplementary feeding, limited operational budgets, and weak cross-sectoral coordination. Conclusion: Accelerating stunting  reduction requires the integration of Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) interventions. Environmental factors, such as access to safe drinking water, proper sanitation, and waste management, have been shown to significantly influence stunting prevalence through disease risk. The program's success depends on cross-sectoral collaboration, optimizing the role of community health workers, and educating children about sustainable behavior change. Suggestion: The Health Office is expected to continuously intensify the five-pillar Community-Based Total Sanitation program, implement a regular Household Drinking Water Quality Monitoring program, and optimize monitoring and evaluation activities. This program must actively involve community health workers to ensure the sustainability of behavior change in the community.   Keywords: Clean and Healthy Living Behavior; Drinking Water; Environmental Sanitation; Stunting.   Pendahuluan: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Kabupaten Kuantan Singingi dengan prevalensi sebesar 23.1%. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, menempatkan kabupaten ini sebagai peringkat ketiga tertinggi di Provinsi Riau. Tujuan: Untuk menganalisis situasi, menetapkan masalah prioritas, mengidentifikasi akar penyebab, dan merumuskan intervensi berbasis bukti dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting. Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan siklus pemecahan masalah yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2025, di Dinas Kesehatan Kabupaten Kuantan Singingi dengan melibatkan 4 informan kunci, terdiri dari 1 Kepala Bidang dan 3 Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat, melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan tinjauan dokumen. Hasil: Berdasarkan metode Urgency, Seriousness, and Growth (USG), prevalensi stunting  sebesar 23.1% ditetapkan sebagai prioritas utama. Analisis akar masalah menggunakan diagram fishbone yang mengidentifikasi 6 faktor utama, yaitu faktor manusia (rendahnya pengetahuan keluarga dan metode edukasi yang kurang efektif), keterbatasan sarana dan pemanfaatan posyandu, kondisi sanitasi yang belum optimal, keterbatasan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal, keterbatasan anggaran operasional, dan lemahnya koordinasi lintas sektor. Simpulan: Percepatan penurunan stunting  memerlukan integrasi intervensi Water Sanitation and Higiene (WASH). Faktor lingkungan, seperti akses minum aman, sanitasi layak, dan pengolahan sampah terbukti signifikan memengaruhi prevalensi stunting melalu risiko penyakit. Keberhasilan program bergantung pada kaloborasi lintas sektor, optimalisasi peran kader, dan edukasi perubahan perilaku berkelanjutan. Saran: Dinas kesehatan diharapkan dapat mengintensifkan program 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) secara berkelanjutan, melaksanakan program Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) secara periodik dan mengoptimalkan kegiatan monitoring serta evaluasi. Program tersebut hendaknya melibatkan kader kesehatan lingkungan secara aktif untuk memastikan keberlangsungan perubahan perilaku di masyarakat.   Kata Kunci: Air Minum; Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS); Sanitasi Lingkungan; Stunting.
Literature Review : Analisis Kebijakan Pengelolaan Limbah Medis Padat Rumah Sakit Sarwendah, Sarwendah; Herniwanti, Herniwanti
Jurnal Sehat Mandiri Vol 21 No 1 (2026): Jurnal Sehat Mandiri, Volume 21, No.1 Juni 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33761/jsm.v21i1.2622

Abstract

The management of hazardous and toxic solid medical waste (B3) in hospitals remains a critical issue due to its potential to cause infection risks and environmental pollution if not properly managed. In Riau Province, the compliance level of health facilities with medical waste management standards is still low, while the volume of waste continues to increase. This study aims to analyze the overview of management practices, identify the types of medical waste, and examine policies related to the management of B3 solid medical waste in hospitals in Riau Province. The study employed a Systematic Literature Review (SLR) method by searching scientific articles through the Google Scholar database using keywords related to hospital medical waste management in Riau. From 169 identified articles, 10 met the inclusion and exclusion criteria and were analyzed narratively. The results indicate that infectious waste and sharps are the most dominant types, mainly generated from inpatient wards, emergency departments, laboratories, and operating rooms, with an average volume of about 100–150 kg per day. Several issues were identified, including inconsistent waste segregation, substandard temporary storage facilities, limited transportation infrastructure, and high dependence on third-party services for waste treatment. In conclusion, the management of B3 solid medical waste in hospitals in Riau Province is not yet optimal and requires improved regulatory compliance, better infrastructure, and strengthened monitoring and evaluation systems.