Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pola Pengembangan Potensi Daerah Dalam Upaya Peningkatan Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Gorontalo Jumiyanti, Kalzum R; Yusuf, Barmin R
SENTRALISASI Vol 9, No 1 (2020): Sentralisasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.666 KB) | DOI: 10.33506/sl.v9i1.569

Abstract

The objectives of this paper are to analyze economic growth through the GRDP (Gross Regional Domestic Product) figure which leaves a problem of regional disparity between districts/cities in Gorontalo Province and aims to identify potential sectors in districts/cities in Gorontalo. The analytical method used is location quotient, Klassen typology, Williamson analysis, and Gini ratio. The findings in this paper are where Gorontalo City is the center of economic activity, so it can be said that of the 17 (seventeen) Gorontalo provincial national income sectors, 15 (fifteen) of them are based sectors, 2 sectors are agriculture, forestry and the fisheries and mining and quarrying sector are not the basic sectors in Gorontalo City. Gorontalo City has 15 (fifteen) basic sectors, 3 (three) sectors that have the highest value for the base sector including the water supply sector, the sector of providing food and drinking accommodation, and the real estate sector. Another case with other districts that are hinterland areas for developed regions. High inequality in developed regions (Gorontalo City) and hinterland areas such as Gorontalo Regency, Bone Bolango Regency, North Gorontalo Regency, Boalemo Regency, and Pohuwato Regency are caused by backwash effects so that financially cannot focus on funding investment in its superior sectors. Leading sectors in Gorontalo Regency have 9 (nine) leading economic sectors, Bone Bolango Regency has 11 (eleven) leading economic sectors, North Gorontalo Regency has 6 (six) leading economic sectors, Boalemo Regency has 1 (one) leading economic sector and Regency Pohuwato has 6 (six) leading economic sectors.
Pemetaan Partisipatif Potensi Ekonomi dan sosial Wisata Hiu Gorontalo Sebagai Basis Perencanaan Desa Wisata Bahari Jumiyanti, Kalzum R; Taniu, Silviana; R Yusuf, Barmin; Novriansyah, Moh Arif
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/qq27dk13

Abstract

Wisata hiu paus di Desa Botubarani, Gorontalo, merupakan potensi bahari unggulan yang mendorong transformasi ekonomi masyarakat pesisir. Namun, pengelolaannya masih menghadapi tantangan seperti ketimpangan manfaat ekonomi, lemahnya kelembagaan, dan rendahnya kesadaran konservasi. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan desa wisata bahari melalui pemetaan partisipatif serta membangun komitmen kolaboratif antar pemangku kepentingan untuk mewujudkan wisata berkelanjutan. Menggunakan pendekatan kualitatif partisipatif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, FGD, dan pemetaan komunitas berbasis SIG. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif mampu meningkatkan keterampilan teknis dan kesadaran ekologis masyarakat, memperkuat kelembagaan lokal seperti Pokdarwis, serta menghasilkan rencana pengembangan wisata yang berorientasi konservasi dan kesejahteraan sosial. Temuan ini menegaskan pentingnya sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan lembaga mitra dalam menciptakan tata kelola wisata bahari berkelanjutan. Implikasinya, model pemetaan partisipatif dapat dijadikan acuan dalam perencanaan pembangunan desa wisata di daerah pesisir lainnya. Kegiatan ini penting karena memperkuat konsep community-based tourism di Indonesia, dan studi lanjutan disarankan untuk mengintegrasikan hasil pemetaan ke sistem digital GIS serta mengevaluasi dampak sosial-ekonomi jangka panjangnya.
Pendampingan Pembuatan VCO (Virgin Coconut Oil) di Desa Lelato Kec. Sumalata Kab. Gorontalo Utara Novriansyah, Moh Arif; Harun, Nur Istiyan; Jumiyanti, Kalzum R; Hasan, Wahyudin; Alamri, Annisa Rizqa
Insan Cita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2020): Agustus 2020 - Insan Cita Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.144 KB) | DOI: 10.32662/insancita.v2i2.1138

Abstract

VCO merupakan minyak kelapa murni yang berasal dari buah kelapa tua segar yang diolah secara sederhana tanpa proses pemutihan dan hidrogenasi. VCO tergolong ke dalam minyak yang tahan terhadap panas, cahaya, oksigen dan proses degradasi, karena struktur kimianya tidak mengandung ikatan ganda. Desa Lelato merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sumalata Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani dan pekebun. Salah satu tanaman perkebunan yang banyak dibudidayakan adalah kelapa, namun selama ini hasil kelapa hanya di jadikan sebagai kopra dan harga kopra saat ini turun drastis yakni 400.000 per 100 kilogram, sehingga tidak mampu menutupi biaya yang di keluarkan pada proses panen sampai pada tahapan kopra siap jual. Saat ini masyarakat Desa Lelato memilih untuk menjual kelapa dalam bentuk mentah dikarenakan jika di olah menjadi kopra maka pihak pekebun/ petani akan mengalami kerugian. Menjual kelapa mentah menjadi pilihan masyarakat karena masyarakat desa Lelato belum memahami cara mengelolah kelapa untuk menjadi sebuah produk yang memiliki nilai jual tinggi. Tujuan pendampingan pembuatan VCO adalah memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat desa Lelato. Metode  pelaksanaan kegiatan adalah;1) Sosialisasi, 2) Pendampingan pembuatan VCO, pengemasan produk dan pemasaran.  Kata kunci : Lelato, Kelompok Bugenvil, VCO (Virgin Coconut Oil) 
Gorontalo city's strategy as a plastic waste-free coastal city 2030: Qualitative SWOT analysis and blue economy Jumiyanti, Kalzum R; Taniu, Silviana; Yakup, Anggita Permata; Walahe, Dewi
Optimum: Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/optimum.v16i1.14789

Abstract

The phenomenon of the distribution of coastal plastic waste is dynamic—triggered by currents, winds, waves, and extreme events—so static policies fail to maintain the cleanliness of destinations. Gorontalo's main problems include drainage-estuary leaks, cross-OPD data standards that are not yet uniform, and the performance of WWTP that has not included microplastic fractions. This study aims to map the governance SWOT, estimate the economic benefits of the ecosystem for the competitiveness of blue tourism, and analyze economic-environmental vulnerabilities to formulate a roadmap for 2026–2030. Using qualitative research case studies, the data were collected through in-depth interviews, FGDs, destination-estuary observations, and document review (policies, visits, cleaning operations, WWTP). Framework/Thematic analysis is mapped to a SWOT matrix and downgraded to TOWS. Results: identified strengths (OPD–community commitments, basic facilities, GIS capacity), weaknesses (data, transport logistics, microplastics), opportunities (EPR, green procurement, mixed finance), and threats (storms/floods, re-beaching, greenwashing). The finding shows that data standardization, forecast-based rapid capture SOPs, and microplastic testing in WWTP raise hygiene scores, accelerate recovery, and increase length of stay. Discussion: findings confirm the linkage between water quality–logistics operations–destination reputation. GIS integration, performance-based service contracts, and "blue destination" labels lock in market compliance. This study is important because it integrates coastal science, water governance, and destination economics into an executable policy framework. Implication of the study to use measurable roadmap (indicators, targets, person in charge, public audit). Further studies are suggested on policy trials and strengthening of cross-season sensor datasets.