Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Syiah Kuala Psychology Journal

Perilaku Cyberslacking dan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Universitas Syiah Kuala Sulha, Khalila; Yulandari, Nucke; Iskandar, Iskandar; Faradina, Syarifah
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.33422

Abstract

University Students are often faced with various academic demands that require good time management and discipline. However, many of them tend to engage in academic procrastination, which is the habit of delaying tasks or academic responsibilities. One factor that can influence this behavior is cyberslacking, which refers to the use of the internet for non-academic activities during study time. In the digital era, easy access to the internet often tempts students to divert their attention to social media, entertainment, or other activities that reduce academic productivity. The purpose of this study is to examine the relationship between cyberslacking and academic procrastination among students at Syiah Kuala University. This study involved 340 students at USK who were selected using simple random sampling techniques. The measurement tools used in this study were the Academic Procrastination Scale developed by McCloskey and Scielzo (2015) and the Cyberslacking Scale developed by Akbulut (2016). The results of this study indicate a significant relationship between cyberslacking and academic procrastination among students at Syiah Kuala University, with a significant value of p 0.001 (r = 0.181). This means that the higher the level of cyberslacking performed by students, the higher their level of academic procrastination, and vice versa.Mahasiswa kerap dihadapkan pada berbagai tuntutan akademik seperti manajemen waktu dan disiplin yang baik. Namun, banyak di antara mereka cenderung melakukan prokrastinasi akademik, yaitu kebiasaan menunda pengerjaan tugas atau kewajiban akademik. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku ini adalah cyberslacking, yaitu penggunaan internet untuk kegiatan non-akademik selama waktu belajar. Dalam era digital, kemudahan akses internet sering kali membuat mahasiswa tergoda untuk mengalihkan perhatian mereka ke media sosial, hiburan, atau aktivitas lainnya yang mengurangi produktivitas akademik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perilaku cyberslackling dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini melibatkan 340 mahasiswa di USK yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini Academic Procrastination Scale yang disusun oleh McCloskey dan Scielzo (2015) dan Cyberslacking Scale yang dikembangkan oleh Akbulut (2016). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat adanya hubungan antara perilaku cyberslacking dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala dengan nilai signifikansi p=0,001 (r=0.181) artinya, semakin tinggi cyberslacking yang dilakukan mahasiswa, maka semakin tinggi juga perilaku prokrastinasi pada mahasiswa, begitu pula sebaliknya.
Hubungan Lingkungan Kerja Psikososial dengan Turnover Intention pada Pekerja Generasi Z Yazid, Sulthanul; Riamanda, Irin; Rachmatan, Risana; Yulandari, Nucke
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.32454

Abstract

Generation Z exhibits a higher tendency to frequently change jobs compared to previous generations, with one of the suspected contributing factors being the psychosocial work environment. This study aims to examine the relationship between the psychosocial work environment and turnover intention among Generation Z workers. This research employed a quantitative approach with a correlational method. The sample was collected using accidental sampling in Banda Aceh. A total of 315 respondents participated in the study by completing the Turnover Intention Scale (TIS-6) and the Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III). Pearson product-moment correlation analysis revealed a strong and significant negative correlation between the psychosocial work environment and turnover intention, with a significance level of (p)=0.000 (p0.05) and a correlation coefficient of (r)=-0.733. These results indicate that the better the quality of the psychosocial work environment experienced by Generation Z workers, the lower their turnover intention. This implies that organizations should invest in supportive psychosocial work environments to enhance Generation Z employee retentiscon and reduce turnover cost.Generasi Z menunjukkan kecenderungan tinggi untuk sering berpindah pekerjaan dibandingkan generasi sebelumnya, dan salah satu faktor yang diduga berkontribusi adalah kondisi lingkungan kerja psikososial. Tujuan penelitian dilakukan adalah untuk mengetahui hubungan antara lingkungan kerja psikososial dengan turnover intention pada pekerja Generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan accidental sampling di Kota Banda Aceh. Sebanyak 315 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi Instrumen Turnover Intention Scale (TIS-6) dan Copenhagen Psychosocial Questionnaire III(COPSOQ III). Analisis menggunakan pearson-product moment menunjukkan adanya tingkat korelasi yang kuat dan signifikan dengan arah hubungan yang negatif antara lingkungan kerja psikososial dengan turnover intention, dengan taraf signifikansi (p)=0,000 (p0,05) dengan nilai koefisien korelasi (r)=-0,733. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin baik kualitas lingkungan kerja psikososial yang dirasakan pekerja generasi Z, maka semakin rendah turnover intention yang dialami. Implikasinya, perusahaan perlu berinvestasi pada lingkungan kerja psikososial untuk meningkatkan retensi pekerja Generasi Z dan mengurangi biaya turnover.