Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Efektivitas strategi mental contrasting implementation intentions (MCII) terhadap penurunan ketergantungan nikotin pada remaja akhir Ismi, Nurul; faradina, Syarifah
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.705 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v7i2.7391

Abstract

Abstrak. Perilaku merokok pada remaja akhir menjadi salah satu isu yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Mental Constrating Implementation Intention (MCII) strategy merupakan salah satu strategi yang dapat diterapkan pada remaja perokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas strategi MCII terhadap penurunan ketergantungan nikotin pada remaja akhir di Banda Aceh dengan melibatkan 13 sampel perokok dengan rentang usia 19-21 tahun dengan tingkat ketergantungan nikotin pada taraf rendah dan juga memiliki skor kejelasan citra visual yang tinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan model pre-experimental design dengan bentuk one group pretest-posttest design. Alat ukur yang digunakan adalah Fagerstrom Test for Nicotine Dependence (FTND) dan Vividness of Visual Imagery Questionnaire-Revised Version (VVIQ-RV). FTND digunakan untuk mengukur tingkat ketergantungan nikotin, baik sebelum maupun sesudah diberi perlakuan, sedangkan kejelasan citra visual diukur (VVIQ-RV). Data dianalisis menggunakan metode nonparametrik yaitu Wilcoxon Signed-Rank Test formula dengan nilai signifikansi (p)=0,001 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat ketergantungan nikotin berdasarkan pengukuran FTND sebelum dan sesudah diberi perlakuan strategi MCII.Kata Kunci:  Mental Contrasting Implementation Intentions (MCII), Remaja, RokokAbstract. Smoking behavior in late adolescence is one issue that needs special attention. Mental Contrasting Implementation Intention (MCII) strategy is one of the strategies that can be applied to adolescent smokers. This study aims to determine the effectiveness of the MCII strategy for reducing nicotine dependence in late adolescents in Banda Aceh by involving 13 samples of smokers ranging in age from 19-21 years with low levels of nicotine dependence and also having high visual image clarity scores. The research method used is an experimental method with a pre-experimental design model in the form of one group pretest-posttest design. Measuring instruments used are the Fagerstrom Test for Nicotine Dependence (FTND) and Vividness of Visual Imagery Questionnaire-Revised Version (VVIQ-RV). FTND is used to measure the level of nicotine dependence, both before and after treatment, while visual image clarity is measured (VVIQ-RV). Data were analyzed using a nonparametric method namely the Wilcoxon Signed-Rank Test formula with a significance value (p) = 0.001 (p <0.05). These results indicate that there are differences in the level of nicotine dependence based on FTND measurements before and after MCII strategy treatment.Keywords: Adolescence, Cigarette, Mental Contrasting Implementation Intentions (MCII)
Correlation of Mental Toughness with Academic Achievement in Modern Pesantren Students in Aceh Indonesia/ Korelasi Mental Toughness dengan Prestasi Akademik pada Pelajar Pesantren Modern di Aceh Indonesia Amna, Zaujatul; Safira, Syifa; Sari, Kartika; Faradina, Syarifah
Psikoislamika: Jurnal Psikologi Islam Vol 17, No 2 (2020): Second Issue End of Year 2020
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/psikoislamika.v17i2.10105

Abstract

Abstract: Mental toughness is a capacity that individuals have in dealing with stressors, pressures, and challenges to achieve what they want. Individuals who have mental toughness will be able to overcome various kinds of demands and pressures that occur in their lives, one of which is in the field of education, such as academic achievement. This study aims to determine the correlation between mental toughness and academic achievement among Islamic boarding school students. A total of 335 students consisting of 219 women and 116 men with an age range of 12-18 years were selected as research samples using purposive sampling techniques. Mental Toughness Questionnaire-18 (MTQ-18) is used as a measure of mental toughness; meanwhile academic achievement is measured through score student report in period of Academic Year 2019/2020. The result has shown that there were positive and significant corelations between mental toughness and academic achievement in pesantren’s students (p= 0.011 with r= 0.139). In addition, the results of the study also suggested that the contribution of mental thougness toward on the students' academic achievement was lowest (1,9%). Further discussion of the correlation between the two variables has been described.Keywords: Mental Toughness; Academic Achievement; Boarding School StudentAbstrak: Mental toughness merupakan kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam menghadapi stressor, tekanan, dan tantangan agar dapat mencapai tujuan yang dimiliki. Individu dengan mental toughness yang tinggi akan mampu mengatasi berbagai macam tuntutan dan tekanan yang akan dihadapinya, diantaranya adalah tuntutan yang akan ditemui dalam bidang pendidikan, seperti prestasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara mental toughness dengan prestasi akademik pada pelajar pesantren modern. Sejumlah 335 pelajar yang terdiri dari 219 perempuan dan 116 laki-laki dengan rentang usia 12-18 tahun telah dipilih sebagai sampel penelitian dengan teknik purposive sampling. Mental Toughness Questionnaire-18 (MTQ-18) digunakan sebagai alat ukur mental toughness, sedangkan prestasi akademik diukur dengan menggunakan nilai rapor pelajar periode Semester Ganjil Tahun Ajaran 2019/2020. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara mental toughness dengan prestasi akademik pada pelajar pesantren modern (p=0,011 dan r=0,139), artinya semakin tinggi tingkat mental toughness maka semakin tinggi pula prestasi akademik padapelajar pesantren modern tersebut. Selain itu, hasil penelitian ini juga menjelaskan bahwa nilai kontribusi variabel mental toughness terhadap prestasi akademik pelajar pesantren tergolong lemah, yaitu hanya 1,9%, pembahasan lanjutan mengenai korelasi antar kedua variabel tersebut telah diuraikan dalam artikel ini.Kata Kunci: Mental Toughness; Prestasi Akademik; Pelajar Pesantren
Efektivitas strategi mental contrasting implementation intentions (MCII) terhadap penurunan ketergantungan nikotin pada remaja akhir Nurul Ismi; Syarifah faradina
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 7 No. 2 (2019): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.705 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v7i2.7391

Abstract

Abstrak. Perilaku merokok pada remaja akhir menjadi salah satu isu yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Mental Constrating Implementation Intention (MCII) strategy merupakan salah satu strategi yang dapat diterapkan pada remaja perokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas strategi MCII terhadap penurunan ketergantungan nikotin pada remaja akhir di Banda Aceh dengan melibatkan 13 sampel perokok dengan rentang usia 19-21 tahun dengan tingkat ketergantungan nikotin pada taraf rendah dan juga memiliki skor kejelasan citra visual yang tinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan model pre-experimental design dengan bentuk one group pretest-posttest design. Alat ukur yang digunakan adalah Fagerstrom Test for Nicotine Dependence (FTND) dan Vividness of Visual Imagery Questionnaire-Revised Version (VVIQ-RV). FTND digunakan untuk mengukur tingkat ketergantungan nikotin, baik sebelum maupun sesudah diberi perlakuan, sedangkan kejelasan citra visual diukur (VVIQ-RV). Data dianalisis menggunakan metode nonparametrik yaitu Wilcoxon Signed-Rank Test formula dengan nilai signifikansi (p)=0,001 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat ketergantungan nikotin berdasarkan pengukuran FTND sebelum dan sesudah diberi perlakuan strategi MCII.Kata Kunci:  Mental Contrasting Implementation Intentions (MCII), Remaja, RokokAbstract. Smoking behavior in late adolescence is one issue that needs special attention. Mental Contrasting Implementation Intention (MCII) strategy is one of the strategies that can be applied to adolescent smokers. This study aims to determine the effectiveness of the MCII strategy for reducing nicotine dependence in late adolescents in Banda Aceh by involving 13 samples of smokers ranging in age from 19-21 years with low levels of nicotine dependence and also having high visual image clarity scores. The research method used is an experimental method with a pre-experimental design model in the form of one group pretest-posttest design. Measuring instruments used are the Fagerstrom Test for Nicotine Dependence (FTND) and Vividness of Visual Imagery Questionnaire-Revised Version (VVIQ-RV). FTND is used to measure the level of nicotine dependence, both before and after treatment, while visual image clarity is measured (VVIQ-RV). Data were analyzed using a nonparametric method namely the Wilcoxon Signed-Rank Test formula with a significance value (p) = 0.001 (p <0.05). These results indicate that there are differences in the level of nicotine dependence based on FTND measurements before and after MCII strategy treatment.Keywords: Adolescence, Cigarette, Mental Contrasting Implementation Intentions (MCII)
Hubungan Health Locus of Control Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Naila Iffah; Syarifah Faradina
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 1 (2018): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.365 KB) | DOI: 10.24854/jps.v6i1.631

Abstract

Smoking for some individuals is a need that must be fulfill, although the impact of smoking behavior can be disadvantageous to health, economics and the environment. Smoking behavior in adolescents affected by fear is considered not socially good, left behind by the group, and considered immature. This study aims to see the relationship between health locus of control with smoking behavior in adolescents. This research uses quantitative method with purposive sampling technique (n = 60). There negative relationship between health locus of control with smoking behavior in adolescent. This shows the higher health locus of control will lead the lower smoking behavior in adolescents
RELIGIUSITAS DAN KECEMASAN KEMATIAN PADA DEWASA MADYA Liza Merizka; Maya Khairani; Dahlia Dahlia; Syarifah Faradina
AN-NAFS Vol. 13 No. 2 (2019): Psikologi Islam dan Solusi dalam Berbagai Aspek kehidupan
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.544 KB)

Abstract

Middle adulthood has age range between 40-60 years and characterized by physical caused by biological changes such as generativity and health problems. When health decreases, individuals tend to feel more concerned about death. Death anxiety increases at this age compared to other ages. One of the effective strategies in dealing with death anxiety is to increase religiosity. The sampling technique used was incidental sampling. The total sample consisted of 60 middle-aged individuals (35 men and 25 women). Data were collected using the MRPI scale and Templer's Death Anxiety Scale. The results of data analysis using Spearman correlation technique showed correlation coefficient (r) = -0.461 with a significance value (p) = 0.004 (p <0.05) thus meant that there was negative correlation between religiosity and death anxiety in middle adulthood. This indicated that the higher the religiosity score, the lower the death anxiety score, and vice versa. Therefore, it can be concluded that religiosity is significantly correlated to death anxiety in middle-aged individuals. Keywords : Religiosity, death anxiety, middle adulthood Abstrak Masa dewasa madya biasa disebut dengan masa paruh baya atau masa peralihan dari dewasa awal menuju dewasa akhir yang memiliki rentang usia antara 40–60 tahun. Masa ini ditandai oleh adanya perubahan-perubahan fisik dikarenakan terjadinya perubahan secara biologis seperti generativitas dan menurunnya kesehatan. Saat kesehatan menurun, maka individu merasa lebih memikirkan akan kematian. Kecemasan terhadap kematian menjadi lebih meningkat pada usia ini dibandingkan dengan usia lainnya. Salah satu strategi yang efektif untuk menghadapi kecemasan kematian adalah meningkatkan religiusitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dengan kecemasan kematian pada dewasa madya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah insidental sampling. Sampel penelitian berjumlah 60 individu dewasa madya (35 laki-laki dan 25 perempuan). Pengumpulan data menggunakan skala MRPI dan DAS. Analisis data menggunakan teknik korelasi Spearman yang menunjukkan nilai (r) = -0,461 p = 0,004 (p < 0,05) sehingga dapat diartikan bahwa terdapat hubungan negatif antara religiusitas dengan kecemasan kematian pada dewasa madya. Hal ini mengindikasikan semakin tinggi skor religiusitas maka semakin rendah skor kecemasan kematian, demikian juga sebaliknya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa religiusitas berkaitan dengan kecemasan kematian pada dewasa madya. Kata kunci : religiusitas, kecemasan kematian, dewasa madya
Hubungan Kelekatan Orangtua Dengan Kemandirian Remaja SMA Di Banda Aceh Nurul Fadhillah; Syarifah Faradina
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Psikologi Vol 1, No 4 (2016): November 2016
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.399 KB)

Abstract

Kemandirian penting untuk dimiliki oleh remaja SMA.Untuk mencapai kemandirian, kelekatan antara orangtua dengan remaja dapat menjadi peranan penting dalam membantu remaja.Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan kelekatan orangtua dengan kemandirian pada remaja SMA di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik multi stage cluster dan disproportionate stratified random sampling. Sampel yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 336 siswa/i SMA di Banda Aceh.Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kemandirian yang disusun serta dikembangkan sendiri oleh peneliti dan mengadaptasi skala Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) oleh Armsden dan Greenberg. Hasil analisis data menggunakan teknik analisis data Spearman menunjukkan koefisien korelasi (r) sebesar 0,135 dengan nilai p = 0,014 (p 0,05).Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis yang diajukan diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara kelekatan orangtua dengan kemandirian pada remaja SMA di Banda Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kelekatan antara remaja dengan orangtua maka akan semakin tinggi pula kemandiriannya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kelekatan antara orangtua dengan remaja di Aceh berada pada kategori tinggi yaitu 316 subjek (94,04%) dan kemandirian juga berada pada kategori tinggi yaitu 240 (71,42%).
MENULIS EKSPRESIF UNTUK ANAK JALANAN: “SUATU METODE TERAPI MENULIS DALAM DIARY MELALUI MODUL EKSPERIMEN” Ida Fitria; Syarifah Faradina; Fathi Rizqina; Taifatul Jannah; Ayu Fajri; Fajmal Hadi; Ratna Maya Sari; Nurul A&#039;la
Psikoislamedia : Jurnal Psikologi Vol 1, No 1 (2016): Psikoislamedia : Jurnal Psikologi
Publisher : State Islamic University (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.565 KB) | DOI: 10.22373/psikoislamedia.v1i1.1486

Abstract

Perancangan modul experimen adalah langkah awal suksesnya sebuah penelitian, terutama dalam penelitian experimental secara kuantitatif maupun kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji sebuah modul eksperimen menulis ekspresif yang dirancang oleh peneliti berdasarkan pada rancangan umum dari Pannebaker dan Chung (2007). Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif-eksperimen, Uji T-Dua Sampel yang Berpasangan (Paired-Samples T Test) pada kelompok eksperimen pre dan post test. Tolak ukur keberhasilan modul dinilai dari penurunan kecemasan sosial partisipan pada skala SKS-R dari hasil perbandingan mean pre dan post-test pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menujukkan keberhasilan pengaplikasian modul menulis ekspresif dengan penurunan 5,2 dari nilai range mean skala kecemasan sosial sebelum dan sesudah perlakuan dengan nilai t yang signifikan. Hasil penelitian ini berkontribusi untuk penambahan sarana pelayanan di panti asuhan untuk mengarahkan anak panti asuhan untuk menulis ekspresif dalam bentuk diary. Kontribusi ini akan memberi dampak positif bagi kesejahteraan psikologis mereka, mengingat di panti asuhan jumlah pengasuh dengan anak panti asuhan berbanding jauh. Dengan adanya penelitian ini maka pihak panti asuhan dapat menggunakan sarana menulis sebagai alternatif dan tempat anak panti asuhan berkeluh kesah tanpa batasan.
KECENDERUNGAN ADIKSI SMARTPHONE DITINJAU DARI JENIS KELAMIN DAN USIA marty - mawarpury; Syanti Maulina; Syarifah Faradina; afriani afriani
Psikoislamedia : Jurnal Psikologi Vol 5, No 1 (2020): PSIKOISLAMEDIA : JURNAL PSIKOLOGI
Publisher : State Islamic University (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/psikoislamedia.v5i1.6252

Abstract

Adiksi smartphone merupakan suatu keadaan dimana individu sulit untuk berhenti menggunakan smartphone dan menyebabkan terjadinya perubahan sosial seperti menarik diri, dan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kecenderungan adiksi smartphone ditinjau dari jenis kelamin dan usia di kota Banda Aceh. Menggunakan metode kuantitatif dengan teknik quota sampling dengan jumlah 300 sampel. Terdiri dari 150 sampel berjenis kelamin laki-laki dan 150 berjenis kelamin perempuan, berada pada rentang usia remaja dan dewasa awal. Instrumen penelitian yang digunakan adalah adaptasi Smartphone Addiction Scale-Short Version (SAS-SV) dengan koefisien nilai reliabilitas penelitian sebesar (α)= 0,928. Uji hipotesis menggunakan independent sample t-test menunjukkan nilai t=-0,313, dengan nilai signifikansi p = 0,754 (p < 0,05) yang tidak terdapat perbedaan kecenderungan adiksi smartphone ditinjau jenis kelamin. Namun pada kategori usia, terdapat kecenderungan adiksi terhadap smartphone dengan nilai t sebesar -1,976 dan p = 0,049 (p < 0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan tidak terdapat kecenderungan adiksi smartphone ditinjau jenis kelamin, sedangkan pada kategori usia, remaja memiliki kecenderungan adiksi terhadap smartphone dibandingkan usia dewasa awal.  
PERBEDAAN KESIAPAN MENIKAH PADA DEWASA AWAL DITINJAU DARI JENIS KELAMIN DI BANDA ACEH Sari Mawaddah; Lely Safrina; Marty Mawarpuri; Syarifah Faradina
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 1, Tahun 2019 (Januari 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.191 KB) | DOI: 10.14710/empati.2019.23649

Abstract

Kesiapan Menikah adalah sebuah proses persiapan yang dilakukan oleh pasangan yang ingin menikah guna menghindari konflik serta mencapai pernikahan yang bahagia. Kesiapan menikah yang baik akan memengaruhi pada pernikahan yang dijalani dan mengurangi terjadi perceraian. Kesiapan menikah harus dilakukan oleh laki-laki dan perempuan guna mencapai kehidupan rumah tangga yang sejahtera. Perbedaan karakteristik sikap, dan pikiran antara laki-laki dan perempuan ikut berkontribusi dalam proses kesiapan menikah individu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kesiapan menikah pada dewasa awal ditinjau dari jenis kelamin di Kota Banda Aceh. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis komparatif dengan kriteria dewasa awal usia 18-25 tahun  yang terdiri dari 155 subjek laki-laki dan 155 subjek perempuan. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik quota sampling, data dikumpulkan menggunakan skala kesiapan menikah yang dimodifikasi dari CMRQ (Criteria Marriage Readiness Questionare) yang disusun oleh Carroll, dkk (2009). Analisis data menggunakan teknik independent sample t-test, dengan hasil p=0,044 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kesiapan menikah antara laki-laki dan perempuan dewasa awal di Banda Aceh. Adapun kesiapan menikah cenderung lebih tinggi pada perempuan dari pada laki-laki dengan perbedaan yang sangat tipis. 
Perfeksionisme pada Penari: Adaptif atau Maladaptif? Talitha Noveasara Dayo; Syarifah Faradina
Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP) Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.341 KB) | DOI: 10.22146/gamajop.52696

Abstract

Tarian merupakan salah satu hasil karya seni yang dilakukan oleh penari yang menguasai teknik-teknik tari tertentu yang dilakukan, baik secara individu maupun kelompok. Penari mendapatkan penilaian subjektif berupa kritikan dan dituntut untuk meningkatkan kualitas penampilan yang menimbulkan kecenderungan perfeksionisme. Perfeksionisme adalah penetapan standar tinggi pada suatu kinerja atau penampilan yang bersifat adaptif (conscientious perfectionism) yang mendorong individu menjadi teratur dan rapi, dan bersifat maladaptif (self-evaluative perfectionism) yang menjadikan individu menilai diri secara negatif dan berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perfeksionisme pada penari di Aceh terhadap 343 penari yang terdiri dari 219 perempuan dan 124 laki-laki dengan rentang usia 19-39 tahun (M=21,38) yang dipilih dengan menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data penelitian menggunakan Perfectionism Inventory dengan (α) = 0,917. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Hasil analisis deskriptif dan crosstab menunjukkan bahwa perfeksionisme pada 290 (84,5%) penari Aceh berada pada tingkat tinggi, terutama pada kategorisasi jenis tari tradisional, penari perempuan, dan penari berusia dewasa awal. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa self-evaluative perfectionism berada pada kategori tinggi, sedangkan conscientious perfectionism berada pada kategori rendah.