Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

RUMAH SUSUN SEWA DI DENPASAR SELATAN Widiyani, Desak Made Sukma; Frysa Wiriantari
Jurnal Anala Vol 5 No 2 (2017): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.957 KB) | DOI: 10.46650/anala.5.2.490.%p

Abstract

Denpasar Selatan merupakan salah satu kecamatan di kota Denpasar. Denpasar Selatan memiliki beberapa wilayah sebagai Tempat wisata, Perbankan, Pendidikan, Perkantoran, Rumah sakit dan lain – lain, sehingga memiliki potensi tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi, yang mana akan berbanding lurus dengan kebutuhan akan hunian, luas wilayah yang tetap dan tingkat hunian yang tinggi membuat harga lahan semakin tinggi, untuk itu perlu di ciptakan tempat hunian yang bisa menampung masyarakat khususnya yang berpenghasilan menengah kebawah tanpa menghilangkan nilai – nilai arsitektur tradisional Bali. Metode Penyusunan Landasan Konsepsual yang dipakai adalah metode pengumpulan data dengan cara studi pustaka, metode penarikan kesimpulan dengan metode analogi, observasi lapangan serta ke instansi terkait, kasus yang terkait adalah masyarakat yang berpenghasilan rendah perlu akan tempat hunian yang layak. Dengan adanya Rumah Susun untuk masyarakat ekonomi menengah kebawah terkait dengan tipe rumah susun yang dipakai terdapat 3 tipe sesuai dengan jumlah dari anggota keluarga per kepala keluarga, selain rumah susun diperlukan juga fasilitas penunjang seperti : tempat pendidikan, pasar dan tempat serbaguna sebagai tempat berkumpul/diskusi untuk para penghuninya. Dengan di bangunnya Rumah Susun ini diharapkan para Penghuni mendapat hunian yang layak serta bisa memperbaiki taraf hidupnya. Kata Kunci : Rusun, Densel , Denpasar
Arsitektur Rumah Adat Tradisional Mbatangu Di Kampung Ratenggaro Winne , Sopiah Bela; Wiriantari, Frysa
Jurnal Anala Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.8.1.934.27-34

Abstract

Traditional Sumba houses not only have meaning arising from the belief system, but also have technical solutions that are able to solve architectural problems arising from the shape of the building. The Mbatangu traditional house in Ratenggaro village, known as the tower house, is divided into 3 parts, namely the lower part (kali kambunga), the middle part or (uma dei), and the upper part (uma deta). These three parts have an integrated structural system from the foundation to the roof structure system so that this traditional house can stand in a unique shape and become part of the cultural heritage of the people of Southwest Sumba. Especially the Mbatangu traditional house on the coast, which has a roof which is much higher than other traditional houses in mountainous areas.
Penerapan Pendekatan Arsitektur Perilaku dalam Merancang Perpustakaan Umum Guna Mendukung Kegiatan Literasi di Kota Denpasar Kepakisan, Nareswari; Wiriantari, Frysa; I Nyoman Gde, Suardana
Jurnal Anala Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.8.2.979.25-32

Abstract

The decline in statistics on public visits to the library draws attention to review. Changing patterns and lifestyles of people shift people's views about libraries. The fast-paced era of digital literacy has shifted people's interest in libraries. Increasing time and era, libraries are no longer used as a lifestyle by the community. Human behavior, which is implemented as a form of architecture, is also known to shape human behavior. The buildings that were originally designed and shaped by humans as their fulfillment will then assist the human way in living their social life and values ​​in life. The old paradigm of society towards the library is an old building that is dark, stuffy, lonely, and even haunted. Therefore it is necessary to have a study of what kind of design can captivate the hearts of today's people so that they can then apply it in an architectural design by studying the patterns and lifestyles of today's society with the aim of obtaining a library design concept that is in accordance with the lifestyle of the community (especially students) today and the reactivation of library building facilities which are increasingly disappearing from the pattern of people's lives.
PROSES PEMBANGUNAN RUMAH ADAT UMA BEI KMEDA DI DESA LOROTOLUS KABUPATEN MALAKA - NTT Deni Yosef Nahak Berek; Frysa Wiriantari, ST, MT.
Jurnal Anala Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.7.1.997.10-16

Abstract

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan budaya dan arsitekturnya. Sudah sejak lama, nenek moyang Bangsa Indonesia memiliki pengetahuan tentang teknologi bangunan yang cukup maju pada jamannya. Penemuan tentang beberapa arsitektur jaman prasejarah membuktikan bahwa sesungguhya arsitektur sudah ada sejak jaman itu. Pengetahuan tentang penggunaan bahan material yang banyak tersedia di alam sekitarnyapun sudah berkembang pada saat itu serta upaya untuk menggabungkan material tersebut menjadi sebuah Sistem Struktur dan Konstruksi yang sangat kuat dan sesuai dengan fungsinyapun masih dapat kita jumpai sampai saat ini. Tetapi apapun bentuk bangunannya, itu membuktikan bahwa Rasa Seni dan nilai Estetikanya sangat dijunjung tinggi pada jaman itu karena arsitekturnya sejalan dengan kekuatan struktur dan konstruksinya. Arsitektur jaman dulu selalu memakai material / bahan bangunan tradisional yang secara alamiah namun dapat menghasilkan suatu wadah yang mempunyai fungsional dan fleksibel. penelitian tentang arsitektur lainnya telah banyak menjelaskan bahwa gaya arsitektur vernacular adalah sangat cocok dengan kehidupan jaman itu sebab arsitektur vernacular gaya arsitektur yang dirancang berdasarkan kebutuhan lokal, ketersediaan bahan bangunan dan mencerminkan tradisi lokal. secara keseluruhan dalam pertimbangan praktis, seperti menunjukkan adaptasi terhadap iklim lokal, geografi, dan lingkungan atau dalam perlengkapan dan keterbatasan-keterbatasan materi tertentu yang digunakan dalam konstruksi. Penelitian lain juga telah berusaha menjelaskan setiap aspek desain pada masyarakat skala kecil berdasarkan prinsip kosmologi, yang diturunkan oleh leluhurnya. Rumah adat Uma Bei Kmeda merupakan sala satu gaya vernacular yang proses pembangunannya masih di pertahankan tradisinya sampai saat ini
Tradisi Siri Bongkok Pada Rumah Adat Mbaru Gendang Di Desa Todo Kabupaten Manggarai - NTT Heribertus Ran Kurniawan; Frysa Wiriantari, S.T.,M.T
Jurnal Anala Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.7.2.1042.8-15

Abstract

Kampung Todo merupakan salah satu kampung bersejarah yang sampai saat ini masih mempertahankan adat. Salah satu upacara adat yang masih di lestarikan oleh masyarakat todo adalah tradisi tiang utama (Siri Bongkok) pada rumah adat (mbaru gendang). Siri bongkok merupakan salah satu tiang yang sakral dari semua tiang yang ada di rumah adat (mbaru Gendang) Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menjunjung tinggi nilai gotong royong dalam mewujutkan persatuan dan kesatuan masyarakat Todo juga masyarakat manggarai pada umumnya, selain itu agar generasi penerus mengerti dan memahami makna simbolik siri bongok sebagai pemersatu kehidupan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pola pikir Induktif dalam membahas tradisi siri bongkok diantaranya Studi literartur, Wawancara dan Observasi. Berdasarkan hasil penelitian, penyusun dapat menyimpulkan bahwa Mbaru Gendang memiliki makna simbolik. Makna simbolik Mbaru gendang Masyarakat Manggarai terdiri atas makna individual, makna social dan makna religius. Makna-makna tersebut didasarkan atas interpretasi Masyarakat itu sendiri. salah satu simbolik dalam rumah adat (mbaru gendang) adalah siri bongkok yaitu pemersatu kehidupan masyarakat Todo dan manggarai pada umumnya.
Catuspatha As A Landmark Of Semarapura City In Terms Of Physical And Socio-Cultural Aspects Frysa Wiriantari; Syamsul Alam Paturusi; Ngakan Ketut Acwin Dwijendra; I Dewa Gede Agung Diasana Putra
International Journal of Engineering and Emerging Technology Vol 5 No 1 (2020): January - June
Publisher : Doctorate Program of Engineering Science, Faculty of Engineering, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/IJEET.2020.v05.i01.p06

Abstract

Abstract. The development of a city cannot be separated from how its people view a city. People who understand how the culture of the city will give a strong identity and character to the city. Over time, there are differences in how people perceive elements of the city, one of which is the catuspatha. Catuspatha is no longer interpreted as empty space but began to get additional functions as aesthetic and elemental elements of city landmarks (landmarks). There are several meanings arising from the physical aspects and socio-cultural aspects of a catuspatha as a landmark of the City of Semarapura. This research focuses on Catuspatha Semarapura City in terms of physical and socio-cultural aspects. The data search was carried out by means of litelature studies, field observations and interviews with people who were active in and around Semarapura City. By using a qualitative descriptive method, this research results that the Semarapura catuspatha in terms of physical size has different criteria with its environment so that it is physically prominent, unique, easy to remember, easily recognizable, has historical and aesthetic value. From the socio-cultural aspects of the area around the Semarapura catuspatha also functions as a node, in which at this location a variety of activities are held mainly related to social and cultural activities such as Tawur Kesanga, Ngulapin, Nebusin, Ngelawang, and other activities including Ogoh-ogoh parade activities, various festivals and folk parties and also cultural marches. Keyword: catuspatha, identity, landmarks, physical, social culture.
Architecture Design in Energy Usage Efficiency Effort Frysa Wiriantari; Arya Bagus Mahadwijati Wijaatmaja
Journal of Sustainable Development Science Vol 2 No 2 (2020)
Publisher : Dwijendra University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.537 KB) | DOI: 10.46650/jsds.2.2.1013.46-52

Abstract

The current world condition where the availability of energy especially non-renewable energy is running low, we are required to be able to use available energy efficiently and as economically as possible. Amid the not yet socialized use of alternative energy, these demands are mandatory. One key to saving energy is the use of electrical energy to meet the needs of lighting and air conditioning. Some ways that can be done to save energy are through the management of utility systems, user behavior and consistency of knowledge related to energy-efficient buildings. Some of the principles used in energy-efficient development are minimizing fuel, adjusting to the surrounding climate conditions, using appropriate materials, while still providing comfort to the user. The method used in this research is a qualitative descriptive method focusing on efforts to minimize energy use in buildings.
PERAN ARSITEKTUR DALAM PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL ANYAR SARI PASCA KEBAKARAN DI ERA PASAR MODERN arfendi Hambabandju; Bayu Pratama; Arliansyah Pratama; Frysa Wiriantari
Jurnal Anala Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.11.1.1395.1-8

Abstract

Resiliensi merupakan bentukan yang lebih baru dan kompleks dari kata keberlanjutan dimana resiliensi menekankan tidak hanya pada kontinuitas, namun juga kemampuan arsitektur tersebut untuk kembali bangkit setelah menghadapi gangguan yang merusak. Perkembangan pasar modern yang dimonopoli swasta tumbuh subur hampir diseluruh wilayah Indonesia. Pertumbuhannya yang begitu masif nyaris melumpuhkan eksistensi pasar tradisional tempat bergantung hidup kebanyakan masyarakat kelas bawah. Kondisi pasar tradisional yang bertolak belakang dengan pasar modern baik fisik maupun manajemennya adalah salah satu faktor penyebab ketertinggalannya. Namun perbaikan fisik saja seperti yang dilakukan pemerintah melalui progam revitalisasi pasar dirasa kurang berdampak signifikan. Maka diperlukan konsep baru untuk meningkatkan daya saingnya, dalam hal ini ada pasar wisata. Pengembangan pasar tradisional Anyar Sari menjadi destinasi wisata kreatif diharap mampu meningkatkan daya saing yang nantinya tidak hanya menyasar masyarakat lokal namun juga wisatawan dari luar daerah. Penerapan arsitektur tropis pada bangunan serta bentuk yang modern minimalis namun tidak meninggalkan unsur tradisi yang merupakan ciri khasnya akan menambah daya tarik pasar ini. Konsep wisata kreatif juga akan meningkatkan kualitas pengunjung pasar yang semula hanya sekedar buying product menjadi buying experince dan wawasan,. Serta melalui konsep ini pula diharapkan mampu menaikkan perekonomian masyarakat lokal melalui track-track wisata lanjutan ke daerah penghasil komoditasnya yang dimulai dari pasar Anyar Sari. Resilience is a newer and more complex form of the word sustainability where resilience emphasizes not only continuity, but also the ability of the architecture to bounce back after facing destructive disturbances. The development of the modern market monopolized private sectors, has flourished in most areas of Indonesia. It grows massively and almost takes over the existence of traditional markets where is filled most of the small medium entrepreneurs or traders. The contrast distinction in physical and management between the traditional and modern markets, are one of the factors creating the gap. However, physical improvements of market buildings done by the government through revitalization program have yet to create significant impact. Then a new strategy is needed to increase the competitiveness and decrease the gap, in this case there is a tourist market. The development of the traditional Anyar Sari market to be a creative tourist destination for local and foreign tourists are expected to increase competitiveness. Applying tropical architecture, minimalist or modern style, and considering the elements of tradition can create attractiveness of this market building. And moreover, the concept of creative tourism can add value and the quality of tourism destination for end-users not only to buy tourism product but also the experience. Through this new development of the iconic market along with creating other tourism spots and tracks inside the region can raise the economy of the local community.
KONSEP PERANCANGAN PUSAT PELATIHAN URBAN FARMING DI KABUPATEN BADUNG Ni Putu Kinsa Destias Wirawan; Frysa Wiriantari; Anak Agung Ayu Sri Ratih Yulianasari
Jurnal Teknik Gradien Vol 14 No 02 (2022): JURNAL TEKNIK GRADIEN
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v14i02.934

Abstract

Urban farming merupakan salah satu usaha di bidang pertanian yang cukup banyak dilakukan di perkotaan dengan memanfaatkan lahan lahan terbuka di sekitar masyarakat. Metode pertanian ini cocok karena tidak diperlukan area yang luas dan dapat dilakukan tanpa media tanah. Salah satu metode urban farming yang banyak diminati oleh masyarakat, yaitu metode hidroponik atau penanaman tanpa menggunakan media tumbuh dari tanah. Metode pertanian hidroponik menggunakan lahan lebih efesien dan memiliki manfaat bagi lingkungan seperti, mampu mengurangi polusi udara, menjadikan udara lebih sejuk dan mampu meningkatkan kadar oksigen O2 di udara. Selain pengembangan teknologi pertanian metode hidroponik, budidaya ikan lele dengan metode bioflok, budidaya maggot dan pengolahan sampah atau limbah organik menjadi eco-enzyme juga menjadi tren baru yang diminati oleh masyarakat. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan ini dipilih dengan tujuan untuk dapat menjelaskan dan menjawab secara lebih rinci permasalahan yang akan diteliti. Metode penarikan kesimpulan menggunakan metode induktif dengan melihat hal-hal khusus kemudian menarik sebuah kesimpulan baru yang lebih umum. Pusat Pelatihan Urban farming di Kabupaten Badung mengambil konsep edukasi dan wisata dengan tema Green Architecture seperti penggunaan bahan material ramah lingkungan, penggunaan energi terbarukan, tampilan fasad bangunan menggunakan material alam dengan penambahan vegetasi disekitarnya dan konservasi penggunaan air seperti pengolahan kembali limbah air pada bangunan. Bangunan Pusat Pelatihan Urban farming di Kabupaten Badung diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi civitas didalamnya tetapi mampu bermanfaat terhadap lingkungan disekitarnya.
Etika Profesi dan Profesionalisme Bagi Arsitek dalam Berkarya Frysa Wiriantari
Jurnal Anala Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.9.1.1050.23-28

Abstract

Perkembangan dunia rancang bangun, mensyaratkan bagi para arsitek untuk terus berkompetisi dengan tetap berlandaskan etika dan kode etik professional. Ditengah tuntutan kepentingan berbagai pihak arsitek harus tetap berjalan di aturan dan tetap memberikan “kepuasa” secara maksimal bagi semua pihak. Penelitian ini bertujua untuk memberikan pemahaman bagaimana etika profesi Arsitek harus tetap bisa diakui dalam gelanggang pembangunan yang penuh kepentingan. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data skunder berupa melalui studi litelatur. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa etika berprofesi akan sangat tergantung dari penilaian subjektif masing masing individu. Etika akan memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap profesi dan apa yang telah arsitek lakukan. Menjaga moral sebagai seorang arsitek untuk tetap diakui oleh masyarakat adalah bagian dari etika yang harus dipertahankan. Dan dalam perspektif etika profesi, arsitek diminta untuk bisa bersikap menghindari konflik kepentingan. Ketika, nilai-nilai yang menjadi dasar bagi para pelaku pembangunan berbeda-beda, maka etika menjadi relatif.