Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

UTILIZATION OF REMOTE SENSING TECHNOLOGY AND GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEMS FOR TOURISM DEVELOPMENT Riki Ridwana; Shafira Himayah
Jurnal Internasional Ilmu Pengetahuan Terapan bidang Pariwisata dan Events Vol 4 No 2 (2020): December 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/ijaste.v4i2.2042

Abstract

The success of tourism in any country depends on the country's ability to develop, manage and market its tourism facilities and activities. Tourism development and management can be done in various ways. One of the most effective and efficient ways is to utilize remote sensing technology and geographic information systems (GIS). This article was created to archive and review some of the findings of the use of remote sensing technology and GIS for tourism management and development, using the literature review method. The use of remote sensing technology and GIS for tourism development and management has been widely used by various academics and researchers in various countries in the world including in Indonesia. This is acceptable because it is considered effective and efficient, the suitability of tourism development studies, for the study of tourism multimedia development, identification of the most desirable tourist areas, and for the evaluation of ecotourism areas.
Analisis Perubahan Land Surface Temperature Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Kota Pekanbaru Riau Tahun 2000 dan 2020 Abyan Hilmy; Ayi Susandi; Bella Melania Damanik; Leo Widdyusuf; Riki Ridwana; Shafira Himayah
JPIG (Jurnal Pendidikan dan Ilmu Geografi) Vol. 6 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Geography Education Study Program, Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpig.v6i1.5197

Abstract

Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu permasalahan serius yang sampai saat ini masih belum dapat penanganan yang baik. Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau dengan kejadian bencana kebakaran hutan yang sering terjadi, salah satunya di Provinsi Riau. Kebakaran hutan yang terjadi di Provinsi Riau menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan. Kondisi ini juga berdampak pada peningkatan suhu permukaan di wilayah perkotaan Kota Pekanbaru. Kenaikan suhu permukaan akan menyebabkan peningkatan suhu udara yang dapat berdampak pada tidak nyamannya aktivitas di Kota Pekanbaru. Penggunaan teknik Penginderaan Jauh dapat digunakan untuk memantau (monitoring) pada daerah yang luas. Melalui pemanfaatan data penginderaan jauh yang ada, maka dapat diketahui perubahan suhu yang terjadi pada suatu wilayah. Beberapa contoh data penginderaan jauh yang dapat digunakan untuk mengestimasi suhu permukaan tanah (Land Surface Temperature) adalah citra satelit Landsat 7 dan Landsat 8. Pengolahan data citra dilakukan menggunakan software ArcGIS. Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan sebaran temperatur permukaan di Kota Pekanbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, suhu permukaan tanah Kota Pekanbaru tahun 2000 – 2020 meningkat pada beberapa titik, seperti pada bagian barat laut kota ini. Namun pada wilayah lain tidak terdapat perubahan yang cukup signifikan. Abstract : Forest and land fires are one of the serious problems that have yet to be handled properly. Sumatra Island is one of the islands with frequent forest fire disasters, one of which is in Riau Province. Forest fires that occurred in Riau Province caused environmental changes. This condition also has an impact on increasing surface temperature in the urban area of ​​Pekanbaru City. The increase in surface temperature will cause an increase in air temperature which can have an impact on uncomfortable activities in Pekanbaru City. The use of remote sensing techniques can be used to monitor (monitoring) in a large area. Through the use of existing remote sensing data, it can be seen the temperature changes that occur in an area. Some examples of remote sensing data that can be used to estimate the land surface temperature are Landsat 7 and Landsat 8 satellite imagery. Image data processing is performed using ArcGIS software. This research was conducted to produce the distribution of surface temperature in Pekanbaru City. The results showed that the land surface temperature of Pekanbaru City from 2000 to 2020 increased at several points, such as in the northwestern part of the city. However, in other areas there are no significant changes.
Pemanfaatan Citra Satelit Landsat 8 Dan Sentinel 2A Dalam Identifikasi Lahan Kritis Mangrove Di Wilayah Kecamatan Ciemas Kabupaten Sukabumi Adi Firmansyah; Efri Triana Nur Arifin; Ilham Nurfalah; Riki Ridwana; Shafira Himayah
JPIG (Jurnal Pendidikan dan Ilmu Geografi) Vol. 6 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Geography Education Study Program, Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpig.v6i1.5198

Abstract

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir tropis atau sub-tropis yang sangat dinamis serta mempunyai produktivitas dan nilai ekologis yang tinggi. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang mengalami dampak perubahan akibat terjadinya perubahan iklim dan aktivitas manusia. Kecamatan Ciemas adalah wilayah yang menjadi tempat konservasi dan sentra wisata mangrove di provinsi Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan lahan kritis ekosistem mangrove di wilayah Kecamatan Ciemas Kabupaten Sukabumi. Metode yang digunakan adalah skoring dan pembobotan dengan memanfaatkan teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis. Parameter yang digunakan diantaranya adalah penggunaan lahan, kerapatan vegetasi, kerapatan tajuk mangrove, dan jenis tanah atau kepekaannya terhadap abrasi atau erosi. Hasil yang diperoleh adalah pada citra Landsat 8 sebaran lahan kritis mangrove kategori rusak berat tersebar di dekat daerah pesisir. lalu untuk kategori rusak berada menyebar di daerah pesisir dan di pinggiran sungai. Sedangkan untuk hasil dari citra Sentinel 2A, sebaran lahan kritis mangrove dengan kategori rusak berat hanya berada pada titik tertentu dan mempunyai luasan paling kecil, dan untuk sebaran lahan kritis mangrove dengan kategori rusak mempunyai luasan paling besar. Kata Kunci : Lahan Kritis, Mangrove, Sistem Informasi Geografis, Kabupaten Sukabumi Abstract : Mangrove forest is one of the tropical or sub-tropical coastal ecosystems which is very dynamic and has high productivity and ecological value. The mangrove ecosystem is one of the coastal ecosystems that is experiencing the impact of change due to climate change and human activities. Ciemas sub-district is an area that is a conservation area and a tourist center for mangroves in West Java province. The purpose of this study was to identify the level of vulnerability of critical mangrove ecosystems in the Ciemas District, Sukabumi Regency. The method used is scoring and weighting using Remote Sensing technology and Geographic Information Systems. The parameters used include land use, vegetation density, mangrove canopy density, and soil type or its sensitivity to abrasion or erosion. The results obtained are in the Landsat 8 image, the distribution of critical mangrove lands in the severely damaged category is scattered near the coastal areas. then the damaged category is spread out in coastal areas and along river banks. Whereas for the results of the Sentinel 2A image, the distribution of critical mangrove land with the severely damaged category is only at a certain point and has the smallest area, and for the distribution of critical mangrove land with the damaged category has the largest area. Keywords : Critical Land, Mangroves, Geographic Information System, Sukabumi Regency
Komparasi Algoritma Spectral Angle Mapper dan Algoritma Spectral Information Divergence untuk Pemetaan Penutup Lahan pada Citra Pansharped Naufal Azmi; Shafira Himayah; Lili Somantri; Riki Ridwana
JPIG (Jurnal Pendidikan dan Ilmu Geografi) Vol. 6 No. 2 (2021): September
Publisher : Geography Education Study Program, Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpig.v6i2.5886

Abstract

Kota Bandung memiliki luas wilayah 16.731 hektar dan senantiasa berkembang dari tahun ke tahun termasuk dalam hal perubahan penutup lahan. Penelitian ini membandingan algoritma Spectral Angle Mapper dan Spectral Information Divergence untuk pemetaan penutup lahan di Kota Bandung menggunakan citra SPOT 7 PMS ORT tahun 2019. Pengolahan data citra dimulai dengan koreksi geometrik, koreksi radiometrik, pemotongan area kajian, dan pengambilan training area. Proses selanjutnya adalah klasifikasi citra masing-masing algoritma yang kemudian dibuat peta penutup lahan, validasi data, dan uji keakuratan. Hasil klasifikasi citra mengklasifikasikan 11 kelas penutup lahan, yaitu bangunan industri, bangunan permukiman, hutan kota, hutan lahan rendah, hutan lahan tinggi, jaringan jalan, kebun campuran, ladang, lahan terbuka, sawah, dan sungai. Algoritma SAM memperoleh luasan terbesar pada kelas penutup lahan bangunan permukiman seluas 7.551,37 hektar (45,20%) dan luasan terkecil pada kelas penutup lahan hutan lahan rendah seluas 349,24 hektar (2,09%). Lalu algoritma SID memperoleh luasan terbesar pada kelas penutup lahan bangunan permukiman seluas 4.837,70 hektar (23,37%) dan luasan terkecil pada kelas penutup lahan sawah seluas 287,53 hektar (1,72%). Nilaii uji akurasi keseluruhan agoritma SAM sebesar 90% lebih teliti 4% dibandingkan nilai uji akurasi keseluruhan algoritma SID sebesar 86%.
Pemanfaatan Object-Based Image Analysis (OBIA) pada Citra SPOT-6 untuk Identifikasi Jenis Penutup Lahan Vegetasi di Kota Bogor Farizkhar; Lili Somantri; Shafira Himayah
JPIG (Jurnal Pendidikan dan Ilmu Geografi) Vol. 7 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Geography Education Study Program, Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpig.v7i1.6546

Abstract

Abstrak:Konversi lahan yang terjadi di wilayah perkotaan menajdikan keberadaan ruang terbuka hijau terancam. Ruang terbuka hijau terdiri dari vegetasi yang dapat dianalisis menggunakan penginderaan jauh. Selain menggunakan penginderaan jauh, penerapan sistem informasi geografis (SIG) juga mengambil peran penting dalam mengelola dan menghasilkan suatu informasi spasial. Dengan integrasi penginderaan jauh dan SIG, setiap jenis penutup lahan dapat diketahui persebarannya secara spasial dan dapat dilakukan analisis hingga dipetakan. Citra satelit SPOT-6 digunakan sebagai data untuk mengekstrak informasi penutup lahan vegetasi dengan memanfaatkan metode klasifikasi berbasis objek atau Object-Based Image Analysis (OBIA). Penelitian ini mengkaji pemanfaatan metode OBIA pada citra satelit SPOT-6 yang merupakan citra resolusi tinggi untuk mengidentifikasi penutup lahan berupa jenis vegetasi dengan karakteristik wilayah Kota Bogor. Akurasi penggunaan metode OBIA pada citra SPOT 6 mampu menghasilkan akurasi sebesar 94% dan nilai Kappa sebesar 91%. Dengan resolusi spasial citra SPOT-6 yang digunakan mencapai 1,5 meter, penggunaan metode OBIA di wilayah Kota Bogor mampu dengan baik menghasilkan klasifikasi penutup lahan vegetasi dengan jenis dan karakteristiknya. OBIA mampu membedakan kelas-kelas penutup lahan dengan karakteristik vegetasi yang berbeda seperti, pohon, semak dan belukar, serta herba dan rumput. Kata kunci: OBIA, penutup lahan, vegetasi, RTH, SPOT-6 Abstract: Land conversion that occurs in urban areas makes the existence of green open spaces threatened. Green open space consists of vegetation that can be analyzed using remote sensing. In addition to using remote sensing, the application of geographic information systems (GIS) also plays an important role in managing and producing spatial information. With the integration of remote sensing and GIS, each type of land cover can be identified spatially and can be analyzed and mapped. SPOT-6 satellite imagery is used as data to extract vegetation land cover information by utilizing the Object-Based Image Analysis (OBIA) classification method. This study examines the use of the OBIA method on SPOT-6 satellite imagery which is a high-resolution image to identify land cover in the form of vegetation types with the characteristics of the Bogor City area. The accuracy of using the OBIA method on SPOT-6 images is able to produce an accuracy of 94% and a Kappa of 91%. With the spatial resolution of the SPOT-6 imagery used reaching 1.5 meters, the use of the OBIA method in the Bogor City area is able to produce a classification of vegetation land cover with its types and characteristics. OBIA is able to distinguish land cover classes with different vegetation characteristics such as trees, shrubs, as well as herbs and grasses. Keywords: OBIA, land cover, vegetation, green open space, SPOT-6
Analisis Vegetasi Mangrove di Kawasan Hutan Mangrove Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat Alya Sekar Hapsari; Dede Sugandi; Riki Ridwana; Shafira Himayah
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jpk.v12i1.14800

Abstract

Kawasan Hutan Manrgove Karangsong terletak di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kawasan hutan mangrove karangsong merupakan salah satu wilayah hutan mangrove hasil rehabilitasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari – maret 2022 guna menganalisis vegetasi mangrove beradasarkan kerapatan vegetasi dan mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi perubahan luas dan kerapatan vegetasi, metode yang digunakan adalah metode survei, dengan cara transek line plot (TLP). Parameter yang diamati adalah komposisi jenis, dan indeks nilai penting mangrove serta parameter lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 2 jenis vegetasi mangrove yaitu Avicennia Marina dan Rhizopora Mucronata. Pada tahap semai kerapataan jenis mangrove dalam keadaan kurang baik atau termasuk kedalam kerapatan jarang. Sedangkan untuk tahap pancang dan pohon dalam keadaan baik atau termasuk kedalam kerapatan rapat. Perubahan luas lahan di Kawasan Hutan Mangrove Karangsong dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan maupun faktor dari aktifitas manusia. Secara keseluruhan total luas Kawasan Hutan Mangrove menjadi ± 29 ha dalam kurun waktu 13 tahun ( tahun 2008 hingga 2022).
Karakteristik Spektral Vegetasi di Gunung Api Galunggung Berdasarkan Hasil Pengolahan Citra Multispektral dan Hiperspektral Shafira Himayah, S.Pd., M.Sc.; Riki Ridwana; Setio Galih Mariyono; Riko Arrasyid; A. Sediyo Adi Nugraha
JPG (Jurnal Pendidikan Geografi) Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpg.v10i1.15548

Abstract

Galunggung merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian 2168 meter di atas permukaan laut.. Hutan Gunung Galunggung merupakan ekosistem yang sangat penting dalam menunjang lingkungan hidup di Kabupaten Tasikmalaya. Kawasan hutan ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan air untuk konsumsi, pertanian, perkebunan, pariwisata, dan lain-lain. Fungsi hutan Gunung Galunggung dalam bidang ekologi, hidrorologi, konservasi keanekaragaman hayati sangat ditentukan oleh kondisi hutan saat ini, terutama kondisi vegetasinya. Karakteristik spektral dari vegetasi dapat diamati menggunakan teknologi penginderaan jauh melalui band infra merah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik spectral vegetasi di Gunung Galunggung berdasarkan zona ketinggian. Penelitian ini menggunakan citra Landsat 8, citra Aster GDEM, dan citra Hyperion. Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan transformasi NDVI menggunakan Landsat 8 dan Hyperion. Nilai NDVI pada Landsat memiliki rentang nilai -0.2 hingga 0.62, sedangkan pada Hyperion memiliki rentang nilai -0.3 hingga 0.66. Hasil NDVI citra Hyperion pada zona hutan hujan bagian bawah memiliki nilai tertinggi (0,63) yang merepresentasikan kehijauan pada vegetasi dengan kerapatan tinggi. Sedangkan nilai terendah terdapat pada hasil NDVI citra Hyperion pada zona hutan hujan tengah dengan nilai 0,1 yang secara umum dikategorikan sebagai objek non-vegetasi. Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis bagaimana penggunaan citra yang berbeda dan kondisi fisik daerah penelitian dapat mempengaruhi hasil penelitian.
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Tipologi Urban Sprawl Menggunakan Sistem Informasi Geografis Di Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung Andini, Dava Novita; Somantri, Lili; Himayah, Shafira
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 8 No. 1 (2024): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jgel.v8i1.11668

Abstract

Penduduk terus bertambah meningkatkan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Namun, terbatasnya lahan perkotaan mengakibatkan perubahan menuju wilayah pinggiran kota. Seperti perkembangan yang terjadi di Kota Bandung memberikan pengaruh pada perubahan pola penggunaan lahan Kecamatan Bojongsoang. Tujuan penelitian ini ialah 1). untuk menganalisis penggunaan lahan Kecamatan Bojongsoang tahun 2017 dan 2021; 2). untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan pada tahun 2017-2021; dan 3) untuk menganalisis tipologi Urban Sprawl akibat perubahan penggunaan lahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif yakni membandingkan hasil digitasi penggunaan lahan tahun 2017 dan 2021 berdasarkan interpretasi Citra SPOT 6/7 di Kecamatan Bojongsoang. Populasi penelitian merupakan seluruh Kecamatan Bojongsoang. Sampel terdiri dari 50 titik sampel yang dipilih berdasarkan luasan perubahan penggunaan lahan, kemudahan akses, dan sebarannya yang dapat mewakili wilayah penelitian. Pengukuran tipologi Urban Sprawl menggunakan 5 (lima) variabel, yakni kepadatan penduduk, kepadatan bangunan, jarak ke pusat kota, pembangunan dalam jangkauan jaringan jalan, dan pola pembangunan lompatan katak. Hasil penelitian diperoleh 18 klasifikasi penggunaan lahan yang terinterpretasi di Kecamatan Bojongsoang dan berdasarkan hasil wawancara sampel penduduk di tiap desa diketahui bahwa penggunaan lahan tahun 2017 sesuai dengan hasil digitasi. Perubahan penggunaan lahan sebesar 274,94 Ha, dan hasil uji akurasi terdapat 4 (empat) titik sampel yang tidak sesuai sehingga akurasi diperoleh sebesar 92%. Perubahan penggunaan lahan memberikan pengaruh pada pengukuran variabel tipologi Urban Sprawl sehingga didapatkan perubahan tingkat tipologi di Desa Bojongsari dari tingkat sedang menjadi tinggi. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan terkait perubahan penggunaan lahan yang mengakibatkan berubahnya tipologi Urban Sprawl di daerah pinggiran kota.  
Analisis Spasial Sebaran Lokasi Wisata di Kabupaten Pangandaran Himayah, Shafira; Somantri, Lili; Maryani, Enok; Ihsan, Haikal Muhammad; Aliyan, Silmi Afina; Astari, Annisa Joviani
Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha Vol. 11 No. 3 (2023): Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpg.v11i3.71876

Abstract

Jawa Barat adalah provinsi yang memiliki objek wisata alam dan kebudayaan yang tidak kalah indah dibanding provinsi lain di Indonesia, salah satunya adalah Kabupaten Pangandaran yang upaya pengembangan kepariwisataannya akan membawa dampak baik bagi kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah sehingga perlu dikaji dengan seksama. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengkaji kepariwisataan secara spasial adalah dengan menggunakan teknologi sistem informasi geografis. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Memetakan sebaran lokasi wisata di Kabupaten Pangandaran, 2) Menganalisis aksesibilitas lokasi wisata di Kabupaten Pangandaran. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data lokasi pariwisata di Kabupaten Pangandaran berdasarkan plotting GPS, serta data batas administrasi dan jaringan jalan yang diperoleh dari Badan Informasi Geospasial. Berdasarkan hasil pemetaan, saat ini terdapat 67 lokasi wisata di Kabupaten Pangandaran. Lokasi wisata menyebar di setiap Kecamatan yang ada di Kabupaten Pangandaran, dan jenis wisata yang menjadi unggulan adalan wisata bahari. Berdasarkan hasil analisis keterjangkauan, diperoleh kesimpulan bahwa saat ini sarana infrastuktur jalan sudah cukup memadai untuk mempermudah akses ke lokasi wisata, namun belum banyak moda transportasi yang tersedia.
Analisis Ketersediaan dan Keterjangkauan Fasilitas Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kota Cimahi Ruuhulhaq, Muhammad Saiful; Waluya, Bagja; Himayah, Shafira
Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpg.v12i02.74283

Abstract

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah atau RPJP Kota Cimahi Tahun 2005-2025 disebutkan bahwa permasalahan yang terdapat di Kota Cimahi salah satunya adalah aspek pendidikan. Jumlah sekolah harus menyesuaikan jumlah penduduk tersebut serta ketersediaan sekolah berdasarkan prediksi pertumbuhan penduduk Indonesia. Selain jumlah bangunan sekolah yang harus mencukupi juga keterjangkauan sekolah harus berada di lokasi yang terjangkau oleh penduduk. Pemetaan fasilitas sekolah berbasis Sistem Informasi Geografis bertujuan agar dapat memberikan kemudahan kepada para pengguna dalam pencarian informasi mengenai keterangan sekolah serta letak lokasi sekolah yang ingin diketahui. Kelurahan Karangmekar memiliki dua SMP negeri yang tersedia. Kelurahan Cimahi tidak memiliki SMP negeri yang tersedia. Prasarana dan sarana transportasi yang meliputi jalan dan alat angkut transportasi merupakan sarana untuk menghubungkan jarak antara daerah satu dengan yang lain.Kelurahan ini saat ini memiliki 1 SMP Negeri yang telah ada, dan terdapat kebutuhan untuk pembangunan 4 SMP tambahan. Dengan demikian, total kebutuhan fasilitas pendidikan di kelurahan Baros adalah 5 SMP. Lebih dari setengah sekolah memiliki lokasi yang dekat dengan pemukiman, memberikan kemudahan akses bagi siswa untuk mencapai sekolah dari lingkungan tempat tinggal mereka.