Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DETERMINATION OF THE LUNDAYEH DAYAK COMMUNITY CULTIVATION CALENDAR: ETHNOASTRONOMICAL MODELING oktrivia, ulce; Hindarto, Imam; Bawono, Rochtri Agung; Herwanto, Eko; Oktaby, Naurus Zaman; Karma, Made Prarabda; Darma, I Kadek Sudana Wira Darma
Berkala Arkeologi Vol. 44 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jba.2024.6201

Abstract

Traditional ecological knowledge and planting time management have led to agricultural success in Krayan. The Lundayeh community in Krayan determines planting time based on sun’s position as seen from a sign stone. The problem in this study is in what month do farming activities begin if determined based on sun’s position? This study aims to reconstruct the local knowledge of the Lundayeh community. Data collection was conducted by surveys, interviews, and measuring the azimuthal angle from the observation location to the position of the sun. To observe the position of the sun one has to stand on a marker stone and direct the view to the sunset location marker. At the Long Mutan marker stone, the sunset location markers are two hills, Tudal Wir and An Lam. When the sun sets over Tudal Wir Hill, the slash-and-burn process begins, which is around 11 May and 3 August. The activity of spreading seedlings will start when the sun sets over An Lam Hill, which is around 20 September.
OSTEOBIOGRAFI RANGKA MANUSIA SITUS LIANG BANGKAI 10, PEGUNUNGAN MERATUS, KALIMANTAN SELATAN Noerwidi, Sofwan; Oktrivia, Ulce; Sugiyanto, Bambang
AMERTA Vol. 40 No. 1 (2022)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2022.22

Abstract

Abstrak. Jejak paleoantropologis di Kalimantan sampai saat ini baru diketahui dari Gua Niah (Sarawak), Liang Jon dan Kebobo (Pegunungan Sangkulirang—Mangkalihat), Gua Babi dan Gua Tengkorak (Tabalong), serta Gua Jauharlin (Kotabaru). Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan osteobiografi sisa rangka manusia dari situs Liang Bangkai 10 (Tanah Bumbu), Pegunungan Meratus yang ditemukan pada tahun 2014 dan belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Deskripsi osteobiografi bertujuan untuk mengetahui informasi biologis dan kultural rangka manusia dari situs tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan bioarkeologis, yaitu analisis biologis pada sisa manusia yang ditemukan dalam konteks arkeologis, mencakup aspek anatomi tersisa, jumlah minimum individu, usia, jenis kelamin, tinggi badan, afinitas populasi, diet, patologi, modifikasi kultural, praktek penguburan, dan tafonomi. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa di Liang Bangkai 10 terdapat paling tidak empat individu manusia, yang terdiri atas dua rangka hampir utuh dari individu dewasa yang dikuburkan dalam posisi terlentang, serta satu individu dewasa dan satu individu anak-anak yang tidak dapat diketahui konteks penguburannya. Rangka-rangka tersebut menunjukkan afinitas populasi Mongoloid, dan karakter campuran dengan Australo-Melanesoid. Pada rangka tersebut ditemukan jejak patologi berupa osteoatritis dan enamel hipoplasia, serta indikasi pola konsumsi diet rendah kalori. Selain itu, juga terdapat jejak tafonomi berupa luka (chopping mark) pada femur kanan dan beberapa tanda tafonomi biotik. Temuan ini memperkaya bukti paleoantropologis di Kalimantan, sehingga dapat melengkapi rekonstruksi sejarah penghunian pulau tersebut beserta etnogenesis manusianya. Kata kunci: Osteobiografi, rangka manusia, pertengahan Holosen, Pegunungan Meratus, Kalimantan Abstract. The Osteobiography of Human Skeleton from Liang Bangkai 10, Meratus Mountains, South Kalimantan. Paleoanthropological evidences in Kalimantan have only been known from Niah Cave (in Sarawak), Liang Jon and Kebobo (in Sangkulirang—Mangkalihat Mountains), Gua Babi and Gua Tengkorak (in Tabalong), and Gua Jauharlin (in Kotabaru). This paper aims to describe the osteobiographical aspects of human skeletons from the Liang Bangkai 10 site (in Tanah Bumbu), Meratus Mountains, found in 2014, which previous researchers have never done. The purpose of such an osteobiographical study of the Liang Bangkai 10 remains is to obtain biological and cultural information about humans who once inhabited the site. The study uses a bioarcheological approach by performing a biological analysis of human remains found in an archaeological context, including anatomical traits, the minimum number of individuals, age, sex, stature, population affinity, diet, pathology, cultural modification, burial practices, and taphonomy. The analysis resulted in at least four human individuals at the site, which comprised extended burials of two almost complete adults as well as one adult and one juvenile with unknown burial context. These human remains show a Mongoloid affinity and a combination of Australo-Melanesian characteristics. The skeletons present pathological traces such as osteoarthritis and hypoplastic enamel, and a low-calorie diet pattern. Furthermore, a chopping mark on the right femur and some biotaphonomical evidence were also identified. This finding enriches the paleoanthropological evidence of Kalimantan to complete the historical reconstruction of the human occupation and its ethnogenesis. Keywords: Osteobiography identification, human remains, Middle Holocene, Meratus Mountains, Kalimantan