Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

ARCA BATU SAKE: PENJAGA BUKIT BERIBIT (SAKÉ STONE STATUE: THE KEEPER OF BUKIT BERIBIT) Kusmartono, Vida Pervaya Rusianti; Hindarto, Imam
Kindai Etam: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 5, No 1 (2019): Kindai Etam Volume 5 Nomor 1 November 2019
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5470.315 KB) | DOI: 10.24832/ke.v5i1.50

Abstract

Pada waktu manusia mulai sadar bahwa terdapat hakikat di alam semesta yang lebih ?besar? dan ?berkuasa? yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidupnya, manusia berupaya untuk dapat mempersonifikasikan ?kekuatan? tersebut. Upaya personifikasi ini ditujukan agar ?kekuatan? alam lebih bersifat teraba oleh indera manusia. Wujud personifikasi tersebut dapat berupa struktur, gambar arang, lukisan cadas, atau arca, yang dijumpai di situs-situs gua atau situs terbuka di Nusantara. Salah satu wujud personifikasi alam yang ditemukan di Bukit Beribit di pedalaman hutan Sintang di bagian barat Kalimantan adalah arca Sake. Gejala yang menarik dari arca Sake ini adalah sosok dan sifat kesendiriannya, di tengah belantara hutan hujan tropis di lembah selatan Pegunungan Müller, tanpa didampingi komponen lain yang mendukung keberadaannya. Arca Sake ini berupa bentukan monolit vulkanis setinggi 2 meter, dan disebut sebagai ?batu Tenavak? oleh masyarakat Ot Danum. Arca serupa belum ditemukan di kawasan lain di Kalimantan. Apakah sebenarnya arca Sake ini? Etnohistori menyebutkan dua versi tentang arca tersebut, yaitu sebagai tanda mata perkawinan Rikai kepada Panjan, dan sebagai perisai spiritual atas serangan musuh terhadap etnis Ot Danum. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan penalaran induktif. Penalaran tersebut diuraikan dengan cara menggambarkan secara rinci data yang telah dikumpulkan, merekamnya secara verbal dan piktoral, dianalisis, untuk selanjutnya disintesiskan. Arca Sake diinterpretasikan sebagai figur arca penjaga, yang konsep pengarcaannya mengambil unsur campuran wujud binatang-binatang amfibi dan reptil dari konsep religi tua, dan berfungsi menjaga kawasan hutan Bukit Beribit.When human began to realize that there was an entity in the universe that was 'bigger' and 'powerful' that can affect their survival, human strived to personify such 'power'. This effort was intended so that the 'strength' of nature was more tangible to human senses. Such personification can take the form of structures, charcoal drawings, rock paintings, or statues, which can be found in cave sites or open sites in Nusantara. One manifestation of this nature personification found at Bukit Beribit in the depths of the Sintang forest in western Kalimantan is the Sake stone statue. An interesting phenomenon about the Sake stone statue is its form and solitariness, in the midst of tropical rainforests in the southern valley of Pegunungan Müller, unaccompanied by components that support its existence. The Sake stone statue is of a volcanic monolith as high as 2 meters, and is called the 'Tenavak stone' by the Ot Danum community. Similar statues have not been found in other regions of Kalimantan. What exactly is the Sake stone statue? The Ot Danum ethnohistory mentions two versions of its identity, i.e. as a dowry from Rikai to Panjan, and as a spiritual shield to prevent the Ot Danum from enemy attacks. This research was conducted using qualitative-descriptive methods with inductive reasoning. The arguments were described by depicting the collected data in detail, recording them verbally and pictorially, analysed and eventually synthesized them. The Sake stone statue was interpreted as a figure of a keeper, where the sculpture takes on an element of mixture of animals amphibian and reptile from old religious concepts, and serves to protect the forest region of Bukit Beribit.
UNGKAPAN LADA DALAM HIKAYAT BANJAR SEBUAH ANALISIS SEMIOTIK hindarto, imam; Kusumartono, Vida Pervaya Rusianti; prasetyo, sigit eko
Siddhayatra Vol 26, No 1 (2021): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v26i1.201

Abstract

Lada merupakan tanaman yang berpengaruh dalam perkembangan sejarah kebudayaan masyarakat Banjar di Kalimantan bagian selatan. Tanaman ini disebut-sebut dalam Hikayat Banjar sebagai tanaman yang diwasiatkan oleh raja-raja yang memerintah pada periode pra Kesultanan Banjar. Telaah ini mengusung permasalahan makna dan proses simbolis lada dalam Hikayat Banjar. Tujuannya untuk memahami makna lada dalam kebudayaan masyarakat Banjar. Melalui analisis semiotika dan interpretasi proses simbolis telah diperoleh simpulan bahwa makna lada telah berkembang dari tanaman botanis menjadi tanaman bermakna ekonomis dan politis. Dapat disimpulkan pula bahwa ungkapan lada dalam Hikayat Banjar merujuk pada sejarah penanaman lada di Kesultanan Banjar pada pertengahan abad ke-18 M. Pada periode tersebut telah terjadi persaingan dagang yang berujung konflik fisik di lingkungan internal kesultanan yang melibatkan pihak luar. Peristiwa ini telah menginspirasi penulis hikayat untuk menciptakan lada sebagai simbol budaya. Tujuannya untuk mengingatkan generasi penerus tentang dampak kapitalisme terhadap keberlanjutan kebudayaan Banjar.
Seni Musik Cajon Sebagai Media Pembelajaran Sejarah Perbudakan Di Rusunawa, Banjarbaru Susilo, Tanto Budi; Susanti, Dewi Sri; Soesanto, oni; Manik, Tetti Novalina; Hindarto, Imam; Yunus, Rahmat; Krisdianto, Krisdianto
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v4i2.13343

Abstract

Referensi: Aristo, M., Setyawan, D., Dopo, F. B., (2022), Analisis Fungsi Dan Bentuk Komposisi Gong-Gendang Sebagai Alat Musik Pengiring Tarian Caci Di Wongko Lema Desa Golo Lebo Kecamatan Elar Kabupaten Manggarai Timur, Jurnal Citra Pendidikan (JCP), http://jurnalilmiahcitrabakti.ac.id/jil/index.php/jcp/index Volume 2 Nomor 1 Tahun 2022 ISSN 2775-1589 Hal. 1-13Cahyani, Y., Wahyudiati, D., (2022), Ethnochemistry: Exploring the Potential of Samawa Local Wisdom as a Source for Learning Chemistry, Jurnal Pendidikan Kimia, Unnes Vol 11, No 4 (2023)Damaningrum, A., dan Budiarto, M. T., (2021), Etnomatematika Alat Musik Kesenian Reyog Ponorogo ditinjau dari Aspek Literasi Matematis, Jurnal Pendidikan Matematika FKIP Universitas Halu Oleo, ISSN-e 2597-352 Vol. 12, No. 1, Januari 2021, Hal: 71-82, Doi: http://dx.doi.org/10.36709/jpm.v12i1.15254Junaidi M., Wirawani, I. K., dan Lanusi, I. K.,  (2022), Kemampuan Memainkan Instrument Cajon Dalam Lagu Karena Kucinta Kau Pada Siswa Kelas Xi Ipa 1 Smak Thomas Aquino Tangeb Tahun Pelajaran 2021/2022, Batarirupa: Jurnal Pendidikan Seni Volume II, Nomor 1, April 2022, DOI: 10.5281/zenodo.7112691 54Manshur, F. M., (2019), Kajian Teori Formalisme Dan Strukturalisme, Sasdaya Gadjah Mada, Journal of Humanities Volume 3, no. 1.Medianti, A. P., dan Wahidah, A. N., (2023), Eksplorasi Etnomatematika Pada Bentuk Alat Musik Kesenian Hadrah Di Desa Parit Lengkong Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya, Jurnal Al-‘Adad Tadris Matematika, Volume 2, Nomor 1, Juni 2023 pp. 51-63, E-ISSN : 2987-646XNursanti, Y. B., Cahyani, R. A., Regita, A. S., Ramadhani, N. D., Fikriyani, F. F., Saputra, R. Y., (2024), Systematic Literature Review: Implementasi Etnomatematika pada Alat Musik Angklung untuk Penanaman Konsep Geometri dan Pola Bilangan, Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol 8 No 2 (2024): Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024 / ArticlesDOI: https://doi.org/10.31004/cendekia.v8i2.3169Rusunawa (2024), https://mining.ft.ulm.ac.id/asrama-mahasiswa/, diakses tanggal 16 Januari 2024Sari, A. K., R. Ningrum, A. P., dan Eliana, P., (2022), Eksplorasi Etnomatematika Pada Alat Musik Tradisional Kenong Jawa Tengah, Semiar nasional Matematikan dan Pendidikan Matematika, Vol. 7 (2022)Sari, F. L., Sari, N. H. M., Auliya, M., Damayanti, E., dan Rizqoh, M., (2023), Eksplorasi Etnomatematika Pada Alat Musik Angklung Dalam Pembelajaran Matematika, ProSandika (Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika) 2022 Vol 4 No 1 (2023)  Sumarni, W., dan Sudarmin, (2022), Etnosains Dalam Pembelajaran Kimia: Prinsip, Pengembangan Dan Implementasinya, Unnes PressSusantya, P. I., Zaenuri dan Kharisudina, I., ( 2019), Eksplorasi Etnomatematika Alat Musik Gong Waning Masyarakat Sikka, Seminar Nasional Pascasarjana 2019, ISSN: 2686-6404Susilo, T. B., (2023a), Podcast Seni Sebagai Media Pembelajaran Sains: Bukti Evolusi Musik Di Desa Dukuhrejo (5000 Tahun lalu), Jurnal Ilung, Vol. 2, No. 4 Mei 2023, Hal. 783-791 DOI: https://doi.org/10.20527/ilung.v2i4  E-ISSN 2798-0065 783. Susilo, T. B., (2023c), Podcast Bagi Pemandu Eduwisata Desa Dukuhrejo: Seni Rock Art Features “Dua Manusia” Jurnal Pengabdian Ilung (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol. 3, No. 1 Agustus 2023, Hal. 8-16 DOI: https://doi.org/10.20527/ilung.v3i1Susilo, T. B., (2023e), Podcast Seni Sebagai Media Pembelajaran Sains: Bukti Evolusi Musik Di Desa Dukuhrejo (5000 Tahun lalu), Jurnal Pengabdian Ilung (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol. 2, No. 4 Mei 2023, Hal. 783-791 DOI: https://doi.org/10.20527/ilung.v2i4Susilo, T. B., dan Soesanto, O., (2022a), Fuzzy Logic (Bagian 1): Senandung Lukisan Cadas Dari Situs Bukit Bangkai Untuk Pendidikan Wisata Masyarakat, Jurnal Pengabdian Ilung, Vol. 2, No. 1 Juli 2022, Hal. 122-130 DOI: https://doi.org/10.20527/ilung.v2i1. Susilo, T. B., Irwan, A., Yunus, R., Bianchi, P. A. E,. Sugiyanto, B. S., dan Soesanto, O., (2022b), Fuzzy Logic (Bagian 2): Bersenandung Dari Lukisan Cadas Ke Taman Perguruan Tinggi Kalimantan, Jurnal Pengabdian Ilung, Vol. 2, No. 2 November 2022, Hal. 244-253 DOI: https://doi.org/10.20527/ilung.v2i2.Susilo, T. B., Krisdianto, Susanti, D. S, Thresye, dan Manik, T. N., (2024a), Seni Musik Tifa Sebagai Media Pembelajaran Sejarah AfrikaPapua Di Rusunawa Banjarbaru, Jurnal Pengabdian Ilung, Vol. 3, No. 3 Februari 2024, Hal. 623-632 DOI: https://doi.org/10.20527/ilung.v3i3 E-ISSN 2798-0065 623 . Susilo, T. B., Paula A. E., Bianchi, Sugiyanto, B., Merry dan Soesanto, O.,(2020), Analisis rock art mirip burung enggang, dari situs Bukit Bangkai, Proseeding Seminar Internasional Lahan Basah, ULM.Susilo, T. B., Soesanto, O., and Hendarto, I., (2023f), Fuzzy Logic of Formation Early of Language: Analysis of Specstroscopy-Pneumatics Hb and H. sapiens of Psyches in Cave LB1, The 6th International Conference on Science and Technology (ICST), SEMIRATA BKS PTN Barat Bidang MIPA 2023.Susilo, T. B., Soesanto, O., Wahjono, S. C., Susanti, D. S., Krisdianto, Fahrudin, A. E., Suhartono, E., Soendjoto, M. A., dan Hidayat, Y., (2024b), Penyuluhan Asal Mula Teknologi Polymerase Chain Reaction Bagi Komunitas Minggu Raya (Bagian 2), Jurnal Ilung, Vol. 3, No. 3 Februari 2024, Hal. 504-515 DOI: https://doi.org/10.20527/ilung.v3i3, E-ISSN 2798-0065 504 . Susilo, T. B., Yunus, R., Sanjaya, R. E., Soesanto, O., Akbar, A. R. M., dan Hidayat, Y., (2023b), Bimteks Bagi Pemandu Eduwisata: Rock Art Features “Kotak-kotak dan titik” dari Desa Dukuhrejo, Jurnal Ilung Vol. 3, No. 1 Agustus 2023, Hal. 27-36 DOI: https://doi.org/10.20527/ilung.v3i1. Susilo, T. B., Yunus, R., Sanjaya, R. E., Soesanto, O., Akbar, A. R. M., Hidayat, Y., (2023d) Podcast Bimteks Pemandu Wisata: Seni Rock Art Features “Jukung” dari Desa Dukuhrejo, Jurnal Pengabdian Ilung (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol. 3, No. 1 Agustus 2023, Hal. 17-26 DOI: https://doi.org/10.20527/ilung.v3i1
Asal Usul Campus di Perguruan Tinggi: Mengapa Campus (Bisa) Mengalami Kemunduran? Susilo, Tanto Budi; Soesanto, Oni; yunus, Rahmat; Akbar, Arief Rahmad Maulana; Krisdianto, Krisdianto; Hindarto, Imam; Utami, Umi Baroroh Lili
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v4i2.13347

Abstract

AbstraksProgram kreatifitas masyarakat (PKM) ini, dilakukan melalui penyuluhan asal usul (geneology) campus di Nusantara (Indonesia). Tujuannya untuk memahami dinamika kampus dalam memproduksi ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa Kampus Nalanda (India, 5 M) dan Kampus Muaro Jambi (era Sriwijaya, 7 M) telah berkontribusi dalam mengasah dan mengasuh intelektual Buddhisme mulai dari Asia Selatan, Timur hingga Tenggara. Pengalaman historis tersebut perlu untuk ditemukan ulang (reinventing) dan dirumuskan ulang (reformulation) guna mendukung kurikulum pendidikan yang kompatible dan kongruen dengan visi bernegara. Pengalaman tersebut juga dapat menjadi pedoman etika pengajaran -- memberi rasa asah, rasa asih, dan rasa asuh -- sebagai geneology etis yang merepresentasikan karakter pengajar di negeri ini. Kampus Muaro Jambi sebagai contoh historis yang unggul pada pengajaran dan pendidikan di era jamannya, memberikan karya tercerahkan bagi Buddhadharma, dan berpengaruh luas pada Buddhisme sejak abad ke-7 masehi hingga sekarang. Artikel ini membahas persepsi mahasiswa ULM yang tinggal di Asrama Rusunawa. Metode yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM) dengan membuat kategorisasi pemahaman; sangat mengerti (2,77%), mengerti (38,34%), kurang mengerti (36,68%) dan tidak mengerti (23,32%) dengan 12 responden. Diharapkan bahasan penyuluhan asal usul campus ini menginspirasi civitas academika untuk reinventing dan reformulation nilai-nilai pendidikan yang kualitas.Kata Kunci: Muaro Jambi, pendidikan, pengajaran, campus 
DETERMINATION OF THE LUNDAYEH DAYAK COMMUNITY CULTIVATION CALENDAR: ETHNOASTRONOMICAL MODELING oktrivia, ulce; Hindarto, Imam; Bawono, Rochtri Agung; Herwanto, Eko; Oktaby, Naurus Zaman; Karma, Made Prarabda; Darma, I Kadek Sudana Wira Darma
Berkala Arkeologi Vol. 44 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jba.2024.6201

Abstract

Traditional ecological knowledge and planting time management have led to agricultural success in Krayan. The Lundayeh community in Krayan determines planting time based on sun’s position as seen from a sign stone. The problem in this study is in what month do farming activities begin if determined based on sun’s position? This study aims to reconstruct the local knowledge of the Lundayeh community. Data collection was conducted by surveys, interviews, and measuring the azimuthal angle from the observation location to the position of the sun. To observe the position of the sun one has to stand on a marker stone and direct the view to the sunset location marker. At the Long Mutan marker stone, the sunset location markers are two hills, Tudal Wir and An Lam. When the sun sets over Tudal Wir Hill, the slash-and-burn process begins, which is around 11 May and 3 August. The activity of spreading seedlings will start when the sun sets over An Lam Hill, which is around 20 September.
Toponimi Kuno Di Daerah Aliran Sungai Nagara, Kalimantan Selatan Hindarto, Imam; Ida Bagus Putu Prajna Yogi
PURBAWIDYA Vol. 13 No. 2 (2024): Vol. 13 (2) November 2024
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/purbawidya.2024.4894

Abstract

The Nagara river basin is an area for developing cultural history in South Kalimantan. The Hikayat Banjar and Tutur Candi tell a lot about historical events and places in this area. Archaeological evidence in this area also confirms the existence of cultural activities in the past. Through archaeo-toponymic studies, this article aims to understand the cultural history of this region. The problem in this article will discuss the meaning of place names and their relationship to the existence of archaeological sites. This research was carried out using a literature study. The data sources used in this study consist of the Hikayat Banjar, Tutur Candi, Archaeological Research Reports, and landform maps. The analysis used is the first archaeo-toponomic model. This analysis requires clarity of place names, locations, and their role in history. The analysis resulted in the interpretation that three place names played an important role in the course of cultural history in this area, namely Ujung Tanah, Candi, and Nagara. The third toponymy is spread along the Nagara River Basin and each of its meanings is related to events in the two literary works. Archaeological sites discovered in these places indicate cultural activities in the past.
Penyuluhan Evolusi Budaya Berpuasa Bagi Generasi Muda di Rusunawa: Studi Kasus Autofagi Susilo, Tanto Budi; Susanti, Dewi Sri; Soesanto, oni; Manik, Tetti Novalina; Rasjava, Achmad Ramadhanna'il; Krisdianto, Krisdianto; Hindarto, Imam; Thresye,, Thresye,; Kristanto, Budi; Akbar, Arief Rahmad Maulana
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 4, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v4i3.13506

Abstract

Puasa merupakan praktik universal yang melintasi berbagai zaman dan budaya, termasuk dalam konteks prasejarah, sejarah global, dan spesifik di Nusantara. Pada masa prasejarah, puasa mungkin berfungsi sebagai ritual spiritual dan strategi bertahan hidup, dengan indikasi dari temuan arkeologis yang menunjukkan adanya praktik menahan diri sebagai bagian dari upacara religius atau sebagai adaptasi terhadap kekurangan makanan. Di tingkat global, puasa dipraktikkan dalam berbagai bentuk di berbagai agama, seperti puasa Ramadan dalam Islam, puasa Yom Kippur dalam Yahudi, dan puasa Upawasa dalam Hindu, menunjukkan betapa pentingnya puasa dalam kehidupan spiritual dan sosial manusia. Di Nusantara, puasa menggabungkan elemen-elemen tradisi lokal dengan ajaran agama, seperti puasa Ramadan di kalangan Muslim, Upawasa di Bali, dan puasa adat di berbagai suku. Selain dimensi spiritual dan budaya, puasa juga memiliki mekanisme biologis yang signifikan. Autofagi, proses seluler di mana sel memecah dan mendaur ulang komponen internalnya, meningkatkan kesehatan dan ketahanan sel. Integrasi antara aspek historis, budaya, dan mekanisme biologis puasa menunjukkan kompleksitas dan pentingnya praktik ini dalam berbagai konteks. Program kreatifitas masyarakai (PKM) ini menyoroti evolusi budaya berpuasa dan manfaatnya untuk bertahan hidup. Berdasarkan uraian pada evolusi budaya berpuasa dan dielaborasi dengan metode structural equation modelling (SEM), tanggapan 31 responden menunjukan sebagai berikut ini; sangat mengerti (2,3 %), mengerti (66,9 %), kurang mengerti (27,9 %) dan tidak mengerti (2,9 %). PKM ini dapat dimanfaatkan sebagai informasi untuk menjelaskan bagaimana manusia bisa bertahan hidup dengan berpuasa. Kata kunci: puasa; prasejarah; agama; autofagi; hidup