Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : MEDIAN

Kelimpahan Dan Keanekaragaman Jenis Burung Di Hutan Mangrove Kampung Yenanas Kabupaten Raja Ampat Petronela Lekipiou; Lona Helti Nanlohy
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v10i2.404

Abstract

Burung memiliki kemampuan hidup, kemampuan untuk berpindah dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai tipe tempat hidup yang luas. Lingkungan yang dianggap sesuai sebagai tempat hidup bagi burung akan menyediakan pakan, tempat berlindung maupun tempat berbiak. Setiap spesies burung memiliki tempat hidup yang berbeda-beda, tempat hidup yang disukai oleh satu jenis burung belum tentu sesuai untuk jenis burung yang lain. Salah satu tempat hidup burung adalah hutan mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian ini  yaitu metode Concentration Counts Metode Concentration counts efektif digunakan untuk mengetahui populasi satwaliar yang mempunyai pola hidup terkonsetrasi pada suatu tempat. Peneliti berada pada suatu tempat tertentu yang telah ditentukan. Titik pengamatan ditentukan berdasarkan kondisi tempat hidup  burung yang akan diamati. Kemudian mencatat dan melakukan indentifikasi jenis dan jumlah individu setiap jenis yang dijumpai dan dilihat secara langsung. Waktu pengamatan burung  dilakukan pada pukul 06.00 WIT sampai pukul 10.00 WIT, dan  pada pukul 16.00 WIT sampai pukul 18.00 WIT. Terdapat 9 jenis  burung yaitu jenis Kuntul karang (Egreta sacra), Tepekong kumis (Hemiprocne mystacea),  Gajahan penggala (Numenius phocopus), Umukia raja (Tadorna radjah),  Jagal Hitam    (Cracticus quoyi), Kuntul perak (Ardea intermedia), Bambangan hitam  (Ixobrychus flavicollis), Gagak orru (Corvus orru), Srigunting lencana (Dicrurus bracteatus) yang termasuk dalam 7 famili yaitu Ardeidae, Hemiprocnidae, Scolopacidae, Recurvirostridae, Cracticidae, Corvidae dan DicruridaeNilai kelimpahan jenis burung termasuk kategori dominan  (> 8) dan melimpah  (2,1 – 8). Nilai kelimpahan tertinggi adalah jenis Srigunting lencana (18,08) dan nilai kelimpahan terrendah adalah jenis Gajahan penggala dan Bambangan hitam  (7,23).  Nilai Indeks Keanekaragaman jenis burung adalah 2,17 yang termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukan bahwa apabila nilai keanekaragamannya sedang berarti bahwa lokasi tersebut mempunyai populasi burung yang sedang pula.
Potensi Pati Sagu Dan Pendapatan Masyarakat Di Kampung Mega Distrik Mega Kabupaten Sorong Lona Helti Nanlohy; Muzna Ardin Gafur
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.321 KB) | DOI: 10.33506/md.v12i1.818

Abstract

Sagu merupakan salah satu penghasil karbihodrat, sagu dapat dimanfaatkan dalam bentuk pati yang dapat diolah menjadi berbagai produk. Pati sagu selama ini dimanfaatkan sebagai makanan pokok  bagi masyarakat  Papua terutama masyarkat yang bermukim di daerah pesisir yang umumnya dalam bentuk pangan tradisional misalnya dikonsumsikan sebagai bahan makanan pokok dalam bentuk papeda. Disamping sebagai makanan pokok sagu juga dikonsumsi sebagai makanan pendamping seperti ;  sagu lempeng dan sagu bungkus.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi pati sagu dan pendapatan masyarakat di Kampung Mega Distrik Mega Kabupaten Sorong. Pengukuran Potensi sagu dilakukan melalui metode survey dengan pangamatan dan pengukuran langsung di lapangan Pengukuran Potensi pati sagu dilakukan dengan pengukuran diameter pohon sagu (cm) dan tinggi pohon sagu (m) pengukuran  potensi pati sagu dalam penelitian ini hanya di batasi pada tumbuhan sagu fase Masak tebang (MT).  Metode yang digunakan untuk pengukuran kerapatan pohon sagu masak tebang adalah metode jalur.Potensi pati sagu rata-rata perpohon adalah 282,93 kg  dengan diameter pohon sagu berkisar antara 37 sampai 57 cm dengan rata-rata 47 cm, sedangkan tinggi pohon berkisar antara 15 sanpai 28 m dengan rata-rata 19,29 m. Luas areal yang menjadi sampel penelitian adalah 5 Ha dari 100 ha luas keseluruhan hutan sagu. Ditemukan 74 pohon sagu masak tebang (MT) sehingga hasil perhitungan potensi pohon sagu masak tebang (MT) adalah 14.8 pohon/Ha. Pendapatan masyarakat  adalah sebesar Rp. 31.410.000/bulan atau rata-rata Rp. 1.847.647/bulan.
Penilaian Kualitas Kesehatan Pohon Pada Jalur Hijau Kota Sorong Lona Helti Nanlohy; Fajrianto Saeni
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1022.772 KB)

Abstract

Pohon merupakan faktor penting pada penanaman Ruang Terbuka Hijau. Pohon dalam kondisi sehat pasti menghasilkan kualitas pertumbuhan yang baik dengan kemampuann untuk mampu bertahan hidup pada kondisi apapun. Pohon yang mengalami kerusakan dapat dilihat dari keberadaan pohon tersebut yang mengalami gangguan pada pertumbuhannya. Tujuan dilaksanakan penelitian ini untuk mengetahui komposisi jenis pohon dan menganalisis kondisi kesehatan pohon pada lokasi green belt kiri kanan jalan di Kota Sorong. Penelitian dilaksanakan pada kawasan green line kiri kanan jalan sepanjang jalan Basuki Rahmat Km. 7 sampai km. 12 Kota Sorong. Penelitian dilaksanakan selama 1 satu bulan yaitu pada bulan April 2021. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sensus. Dengan mengamati seluruh pohon dan kondisi kerusakan pohon di kawasan green belt kiri kanan jalan. Pohon yang diamati meliputi seluruh bagian pohon yaitu akar, batang, dahan, ranting dan tajuk. Pengumpulan data meliputi tipe kerusakan yang terjadi, letak lokasi kerusakan, dan kondisi keparahan. Jenis-Jenis penyusun kawasan green line kiri kanan jalan Basuki Rahmat Kota sorong yaitu 6 jenis pohon dengan 218 jumlah individu pohon. Komposisi jenis tersebut yaitu Linggua (Pterocarpus indicus), Mahoni (Swietenia mahagoni), Ketapang (Terminalia catappa), Trembesi (Samanea saman), Matoa (Pometia pinnata), Jati (Tectona grandis) dan beringin (Ficus sp), dimana pohon yang paling banyak ditemukan adalah jenis Trembesi (Samanea saman) dengan jumlah individu sebanyak 99 pohon (45,41%) dan jenis yang paling sedikit ditemukan yaitu  beringin (Ficus sp) dengan jumlah individu sebanyak 1 pohon (0,46%). Kondisi kualitas kesehatan pohon pada kawasan green line kiri kanan Kota Sorong menunjukan kondisi yang Sehat. Hal ini dikarenakan jumlah pohon yang termasuk kriteria kelas sehat mendominasi yaitu sebesar 64% (139 pohon)  pohon dengan kerusakan ringan sebesar 25 % (54 pohon), pohon dengan kelas kerusakan sedang dan kelas kerusakan berat masing-masing 6 % (14 pohon) dan 5 % (11 pohon)
Etnobiologi Dan Interdependensi Masyarakat Terhadap Kawasan Konservasi (Studi Masyarakat Sekitar Taman Wista Alam Klamono Papua Barat Daya) Maruapey, Azis; Nanlohy, Lona Helti; Saeni, Fajrianto
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 16 No. 3 (2024): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v16i3.4174

Abstract

As a conservation area, the Klamono Nature Tourism Park is also expected not only for tourism purposes, but also as a life support area for the surrounding community who are dependent on natural resources, both wood and non-timber forest products. The method used in this research is a descriptive method with survey techniques and semi-structural interviews. The results of the research show communally that the community in utilizing the Klamono Nature Tourism Park conservation area is farming, hunting and gathering which is of ethnobiological significance and interdependence (dependence) on the availability of forest resources in the park area. Ethnobiology and community interdependence are interpreted by the perception that forests are a source of food, forests are a source of medicines, forests are a source of building materials, forests are a source of firewood and forests are a source of cash income.
Respons Publik Tentang Taman Deo Kota Sorong Sebagai Green Open Space (GOS) Maruapey, Azis; Maipauw, Nini Jeni; Nanlohy, Lona Helti; Saeni, Fajrianto
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 17 No. 3 (2025): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v17i3.5105

Abstract

Green Open Space (GOS) Taman DEO Kota Sorong merupakan taman kota yang berfungsi sebagai sarana olahraga, rekreasi, ekonomi dan sosial. Riset ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting dan respons publik tentang taman DEO sebagai Green Open Space. Metode dalam riset ini adalah metode deskriptif kuantitatif melalui teknik wawancara terhadap masyarakat saat menikmati areal Taman DEO Kota Sorong. Pemilihan sampel secara accidental sampling, yaitu tiap masyarakat yang secara kebetulan berada di Taman DEO. Hasil riset menunjukkan bahwa kondisi eksisting Taman DEO sebagai GOS sangatlah kecil dan termasuk jenis taman kota mini dengan ketersediaan fasilitas lapangan terbuka yang kecil, kursi-kursi taman, wahana permainan anak, areal parkir, dan kios jajanan yang ditutupi oleh berbagai jenis vegetasi pohon. Respons publik terhadap GOS Taman DEO Kota Sorong menunjukkan tentang aspek keindahan taman rata-rata 3,23 dengan kategori ”Cukup Baik”. Respons publik tentang aspek kebesihan taman rata-rata 2,93 dengan kategori persepsi ”Cukup Baik”. Respons publik tentang aspek keamanan taman rata-rata 3,62 dengan kategori ”Baik”. Sedangkan respons publik terkait dengan aspek sarana prasarana taman rata-rarta 3,14 dengan kategori ”Cukup Baik”.