Pengembangan produk ekonomi kreatif berbasis budaya lokal, seperti tenun tradisional, menempatkan usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah. Namun demikian, meskipun memiliki keunikan budaya yang kuat, banyak pelaku usaha masih menghadapi keterbatasan dalam menerapkan strategi branding yang efektif, terutama dalam mengintegrasikan nilai budaya dengan pendekatan pemasaran digital modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan strategi branding dalam pemasaran produk tenun oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Kota Kupang serta mengkaji implikasinya terhadap daya saing dan kinerja penjualan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi terhadap lima pelaku usaha tenun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan keterlibatan mereka dalam aktivitas branding. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk mengidentifikasi pola dan hubungan antar variabel utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik branding pada usaha mikro, kecil, dan menengah masih belum merata dan cenderung belum terstruktur secara optimal. Pelaku usaha yang secara konsisten mengembangkan identitas merek, seperti logo, kemasan, dan nama merek, cenderung memiliki tingkat pengenalan konsumen yang lebih tinggi serta peningkatan kinerja penjualan. Cultural branding menjadi kekuatan utama, ditunjukkan dengan penggunaan nilai budaya lokal, motif tradisional, dan narasi historis dalam produk. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena lemahnya pengelolaan storytelling dan keterbatasan dalam mengemas nilai budaya menjadi konten pemasaran yang menarik. Selain itu, kemampuan digital menjadi faktor kunci dalam memperluas jangkauan pasar, tetapi adopsinya masih terbatas dan belum terintegrasi. Interaksi antara brand identity, cultural branding, dan digital capability membentuk mekanisme yang menentukan keunggulan kompetitif, di mana pelaku usaha yang mampu mengintegrasikan ketiga aspek tersebut menunjukkan posisi pasar yang lebih kuat dan pertumbuhan penjualan yang lebih signifikan. Strategi branding yang efektif dalam sektor ekonomi kreatif memerlukan pendekatan yang holistik dan terintegrasi antara identitas merek, nilai budaya, dan kemampuan pemasaran digital. Penguatan ketiga aspek ini secara simultan dapat meningkatkan daya saing, memperluas pasar, dan mendorong peningkatan penjualan. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan kapasitas, adaptasi strategis, serta inovasi berkelanjutan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam menghadapi persaingan di era digital.