Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : SALINGKA

MERANTAU KE DELI KARYA HAMKA DALAM PERSPEKTIF INTERKULTURALISME Daratullaila Nasri; Muchlis Awwali
Salingka Vol 11, No 01 (2014): SALINGKA, EDISI JUNI 2014
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.38 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v11i01.7

Abstract

Merantau Ke Deli merupakan salah satu kisah yang mengangkat persoalan antaretnik yang ada di Indonesia. Munculnya sebuah kebudayaan baru di antaranya bisa disebabkan terjadinya kontak antarbudaya. Kontak antarbudaya ini pun adakalanya diterima oleh suatu kebudayaan dan tidak jarang juga ditolak. Tulisan ini bertujuan menjawab pertanyaan mengapa sebuah budaya bisa diterima atau ditolak dalam suatu masyarakat? Untuk mengetahui hal tersebut digunakan pendekatan interkulturalisme. Pendekatan ini (interkulturalisme) dalam karya sastra menfokuskan kajiannya pada berbagai asal budaya yang berbeda dipahami, dinilai, diterima, atau dikeluarkan (ditolak) dalam satu perspektif dan tindakan budaya tertentu. Melalui tulisan ini dapat dibuktikan bahwa agama merupakan salah satu unsur kebudayaan yang dapat mempersatukan budaya yang berbeda. Selain itu, tradisi juga merupakan unsur kebudayaan yang dapat menolak dan menerima kebudayaan lain. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan budaya antaretnik memperlihatkan keberagaman dan kekayaan budaya yang hidup di Indonesia. Perbedaan antarbudaya tidak hanya dapat memisahkan, tetapi juga dapat mempersatukan pemilik kebudayaan tersebut.
LEGENDA MALIN KUNDANG SUATU KAJIAN STRUKTURAL LÉVI-STRAUSS Daratullaila Nasri
Salingka Vol 18, No 2 (2021): SALINGKA, Edisi Desember 2021
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v18i2.480

Abstract

Artikel “Legenda Malin Kundang suatu Kajian Struktural Lévi-Staruss” membicarakan makna yang terkandung dalam legenda Malin Kundang. Makna legenda tersebut dilihat dari sudut pandang struktural yang digagas oleh Lévi-Staruss. Untuk menemukan makna dalam legenda tersebut penulis menggunakan metode analisis struktural yang ditawarkan Lévi-Staruss tersebut. Dalam hal ini Lévi-Staruss” mengistilahkan mytheme (miteme) dan ceriteme. Dengan metode tersebut penulis mendapatkan hasil bahwa legenda Malin Kundang tidak menggambarkan sistem Matrilineal. Hal itu terlihat dengan tidak adanya tokoh mamak dalam legenda Malin Kundang. Selain itu, juga tergambar dari tempat tinggal Malin Kundang yang memperlihatkan keluarga inti. Akan tetapi, dilihat dari nama tokoh cerita, legenda tersebut memperlihatkan ciri keminangkabauan. Kemudian, budaya merantau yang digambar dalam legenda itu merupakan salah satu konsep penting dalam budaya Minangkabau.  Dengan demikian, legenda Malin Kundang merupakan cerita simbolis. Malin Kundang dikisahkan tidak mengakui ibunya. Artinya, dia menggugat keberadaan ibu dan menafikan simbol penting dalam sistem matrilineal Minangkabau dan ajaran Islam yang mengagungkan dan memuliakan ibu. Oleh karena itu, akibat perbuatannya Malin Kundang dan Kapalnya menjadi batu.