Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

MEMILIH FIGUR PUBLIK BERKESADARAN GENDER: STUDI JARINGAN PENGGUNAAN TOKOH SELEBRITI UNTUK TEMA ‘SETARA’ PADA AKUN INSTAGRAM KEMENPPPA Angeliqa, Fitria; Said, Martriana Ponimin
Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 9, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Master of Communication Science Program, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.437 KB) | DOI: 10.14710/interaksi.9.1.64-75

Abstract

The government had used convergence media to disseminate policies to obtain useful feedback. The purpose of this study searched the implications of the communication technology in the participation of social media users, Instagram, in its debate with public policies related to the issue of women's equality promoted by the Ministry of PPPA. The results became an evaluation of the institutions in determining the use of celebrities who have a vast network of friends. The issue of government policy did not get an adequate response because of the lack of audience knowledge and their reflection on the topic—and vice versa. This study used the concept of the communication network with a constructivist paradigm. The unit of analysis is text, posting by selected public figures on the 'Setara' issue in the Kemenpppa account. The collecting data technique used a mix-method to obtain completeness—the data analysis technique used quantitative network analysis with UCI-Net and discourse analysis for qualitative. The results showed that public figures could not be sub-groups/betweenness centrality that gaining public participation. The inaccuracy in choosing celebrity figures for disseminating gender awareness caused equality issues, not fulfilling expectations, from secondary data spread of the gender issues to the weak content interaction. 
Hyperreality study of hijab fashion celebrity Angeliqa, Fitria; Andriani, Fizzy
Informasi Vol 50, No 1 (2020): Informasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/informasi.v50i1.27842

Abstract

The purpose of this study is to look at the phenomenon of celebrity on social media Instagram and relate it to the hyper-reality theory by Jean Baudrillard. The vast expression space provided by online media has led to a wave of folk culture that allows anyone to become a producer and consumer of texts. Clothing recommendations are now much oriented on the celebrity fashion hijab. The problem is whether this celebrity hijab fashion is an accurate representation of Instagram users, so users often imitate the style of the role model. This study uses the theory of hyperreality, the concept of social media, and celebrity on Instagram. This study uses a post-positivist paradigm, qualitative, and quantitative approaches. The unit of analysis in this study is the followers of hijab fashion celebrity’s Instagram. Data collection techniques are an in-depth interview and survey. The results showed the level of representation in Baudrillard’s terminology— which includes (1) representations that lie behind facts, (2) representations that cover facts, (3) representations that do not have facts, and (4) representations that are not related to facts—and identification of reasons for joining certain celebrity fashion hijabs. The literacy point emphasizes on what is shown by ‘celebgram’ is not the actual reality. It is just a representation that refers to ‘itself’ and not for others. Impersonation can produce a range of satisfaction for disappointment.Tujuan penelitian ini adalah melihat fenomena selebriti Instagram dan kaitannya dengan teori hyper-realita dari Jean Baudrillard. Ruang ekspresi yang terbuka luas akibat perkembangan media online, menyebabkan terjadinya gelombang budaya akar rumput yang memungkinkan siapa pun untuk menjadi produsen dan konsumen teks secara bersamaan. Hal inilah yang memungkinkan siapa pun untuk menjadi ‘ahli’ di bidang yang mereka kerjakan atau sukai, dan fashion jilbab adalah salah satunya. Rekomendasi mode banyak berorientasi pada jilbab fesyen selebriti di Instagram. Masalahnya adalah apakah busana hijab yang dikenakan selebriti di Instagram ini merupakan representasi sebenarnya dari pengguna, sehingga pengguna sering meniru gaya para selebgram tersebut. Penelitian ini menggunakan teori hyperreality, konsep media sosial dan selebriti di Instagram. Penelitian ini menggunakan paradigma postpositivis, pendekatan kualitatif, dan kuantitatif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah followers selebgram hijab fashion. Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam dan survey. Hasil penelitian yang diperoleh adalah tingkatan representasi dalam terminology Baudrillard—yang meliputi (1) representasi yang berada di balik fakta, (2) representasi yang menutupi fakta, (3) representasi yang tidak ada faktanya, serta (4) representasi yang tidak berhubungan dengan fakta—dan identifikasi alasan para followers mengikuti gaya selebgram tertentu. Aspek literasi yang ditekankan dalam penelitian ini adalah pada apa yang ditunjukkan oleh ‘selebgram’ sejatinya bukanlah realitas yang sebenarnya. Itu hanya representasi yang merujuk pada ‘dirinya sendiri’ (selebgram) dan bukan untuk orang lain. Peniruan identitas dapat menghasilkanskepuasan atau justru kekecewaan.
VISUALISASI CONTENT APPEALING TO YOUTH DALAM REPRESENTASI MINUMAN BERALKOHOL (STUDI KASUS: @ANGGUR_OT) Ainy Sucianti Marundha; Fitria Angeliqa
Widya Komunika Vol 10 No 2 (2020): JURNAL KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN WIDYA KOMUNIKA
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.wk.2020.10.2.3254

Abstract

Data survei SDKI pada tahun 2017 menyatakan bahwa konsumsi alkohol pada usia remaja 15-19 tahun, pada remaja pria mencapai 70% dan 50% pada remaja wanita. Media sosial merupakan platform media baru yang terbuka bagi khalayak. Media sosial Instagram dimanfaatkan brand minuman beralkohol sebagai platform periklanan. Salah satunya yang memanfaatkan Instagram adalah brand Anggur Orang Tua yang sudah ada sejak tahun 1984 di Indonesia. Pemanfaatan media sosial Instagram oleh brand Anggur Orang Tua menayangkan representasi melalui tanda-tanda gambar dan teks narasi pada unggahan. Tanda-tanda yang menghasilkan makna dan representasi pada unggahan Instagram Anggur Orang Tua dianalisis dengan semiotika Roland Barthes. Melalui analisis semiotika Roland Barthes, operasionalisasi kode content appealing to youth dianalisa keberadaannya pada unggahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa operasionalisasi kode content appealing to youth ditemukan pada unggahan dan brand merepresentasikan minuman beralkohol dengan representasi positif sebagai teman, juga orang tua melalui unggahan Instagram. Kata Kunci: Representasi, Content appealing to youth, Remaja, Minuman beralkohol
Wacana Alternatif pada Akun Instagram @overheard di Indonesia Nurul Hutami; Fitria Angeliqa
Ultimacomm: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 12 No 1 (2020): UltimaComm
Publisher : Universitas Multimedia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2620.774 KB) | DOI: 10.31937/ultimacomm.v12i1.1483

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi wacana lokal dalam media sosial @overheard di Indonesia yang membahas tentang berbagai isu sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat selama ini. Media baru yang berkembang, seperti Instagram, menyebabkan munculnya komunitas-komunitas akar rumput secara virtual di masyarakat. Salah satu bentuk komunitas yang kini banyak muncul di Instagram berupa akun media sosial yang disertai kata ‘overheard’. Kata ‘overheard’ pada awalan nama akun media sosial ini menunjukkan secara jelas konsep yang diusung oleh komunitas tersebut, yaitu menampilkan potongan percakapan sehari-hari yang tidak sengaja didengar di ruang publik. Penelitian ini menggunakan konsep wacana dan ruang publik. Penelitian ini juga dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan menggunakan paradigma konstruktivis. Teknik pengambilan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis isi di akun berbagai overheard yang ditulis dalam Bahasa Indonesia. Dari penelitian ini ditemukan bahwa akun-akun Instagram dengan konsep @overheard muncul karena keterhubungan pemikiran di masyarakat guna mempublikasikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah memiliki kesempatan untuk dipublikasi karena tidak memiliki nilai berita atau informasi. Hal-hal tersebut sifatnya beragam, mulai dari parodi, humor, serta kisah-kisah personal. Akun @overheard ini termasuk ke dalam ruang publik digital karena menjadi wadah agar sesama pengguna Instagram dapat berinteraksi, namun diskusi yang dilaksanakan tidak berkembang kepada keputusan apapun. Kata Kunci: wacana, media sosial, instagram, ruang publik
Distinction, Trajectory, Aromatherapy as Capital Distribution on AgroTourism Destinations Bukit Waruwangi, Serang-Banten Fitria Angeliqa; Ucca Widya Satyanti; Zalfadianti Khairunnisa Achmad
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v7i1.621

Abstract

Agrotourism and ecotourism immediately became a trend when the Covid-19 pandemic began to increase and social activity restrictions took effect. This particular market requires the foresight of tourism actors and local governments to provide an open interaction space for residents. This article aims to explain how the postmodern approach with its vision of empowerment is used in agro-tourism destination brands by finding typical behavior in its operations. Using the capital and distinction terminology of Pierre Bourdieu, this study uses a mixed-method approach in the form of network analysis in social media (Youtube, Instagram, and online media coverage) to obtain quantitative data. At the same time, in-depth interviews and observation explored qualitative data. The results show that data on all social media platforms showed positive sentiment. Meanwhile, the results of in-depth interviews show how visitors are willing to take the difficult path to get the essential experiences conveyed in their social media accounts. Data observations also provide an overview of herbal plants cultivation as a way of land use and reflect the habits of residents involved in this agrotourism operation. Thus, the location is the cultural capital, while the natural scenery is Bukit Waruwangi (BWW) symbolic capital as an agro-tourism destination. The voluntary testimonials of visitors in social media accounts are proof of BWW's extensive and networked social capital. While cultivating aromatherapy as a natural product beneficial for health, it is BWW's distinction to differentiate itself in the competitive arena. Aromatherapy and essential oil products are the trajectories of plants that are closely related to palliative medicine in the context of Indonesian culture.
VISUALISASI CONTENT APPEALING TO YOUTH DALAM REPRESENTASI MINUMAN BERALKOHOL (STUDI KASUS: @ANGGUR_OT) Ainy Sucianti Marundha; Fitria Angeliqa
Widya Komunika Vol 10 No 2 (2020): JURNAL KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN WIDYA KOMUNIKA
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.wk.2020.10.2.3254

Abstract

Data survei SDKI pada tahun 2017 menyatakan bahwa konsumsi alkohol pada usia remaja 15-19 tahun, pada remaja pria mencapai 70% dan 50% pada remaja wanita. Media sosial merupakan platform media baru yang terbuka bagi khalayak. Media sosial Instagram dimanfaatkan brand minuman beralkohol sebagai platform periklanan. Salah satunya yang memanfaatkan Instagram adalah brand Anggur Orang Tua yang sudah ada sejak tahun 1984 di Indonesia. Pemanfaatan media sosial Instagram oleh brand Anggur Orang Tua menayangkan representasi melalui tanda-tanda gambar dan teks narasi pada unggahan. Tanda-tanda yang menghasilkan makna dan representasi pada unggahan Instagram Anggur Orang Tua dianalisis dengan semiotika Roland Barthes. Melalui analisis semiotika Roland Barthes, operasionalisasi kode content appealing to youth dianalisa keberadaannya pada unggahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa operasionalisasi kode content appealing to youth ditemukan pada unggahan dan brand merepresentasikan minuman beralkohol dengan representasi positif sebagai teman, juga orang tua melalui unggahan Instagram. Kata Kunci: Representasi, Content appealing to youth, Remaja, Minuman beralkohol
“It Is Not Out There, and It’s in Here”: The Challengingand Duality Perspective of Teaching Gender in Journalism and Media Studies in Private Universities Angeliqa, Fitria; Nurhajati, Lestari
JURNAL KOMUNIKASI INDONESIA Vol. 11, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to determine challenges of teaching gender in journalism and media studies courses on various campuses in Jakarta, Indonesia. The ‘otherness’ is still ghosting the lecturer, where the duality is a must to create comprehension on gender topics. It is essential because teaching the gender issue in communication study programs in Indonesia does not reflect a lot on women’s experiences. The theory of gender pedagogy is the basis of this study. Meanwhile, the duality perspective serves as its framework. Gender pedagogy is not just a tool, strategy, or practical technique for understanding gender teaching in education. Teaching gender equality values in the classroom becomes a challenge for teachers. This research applied a qualitative approach and hermeneutic phenomenology strategy. The research used in-depth interviews for research instruments. This research indicated various levels of understanding and implementation of teaching gender issues. Even in some universities that do not include gender issues in journalism and media studies courses, the lecturers must struggle to fit gender issues in various teaching opportunities in their classrooms. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tantangan pengajaran gender dalam mata kuliah jurnalisme dan studi media di berbagai kampus di Jakarta, Indonesia. ‘Keberbedaan’ masih mengaburkan pengajaran, di mana dualitas menjadi suatu keharusan untuk menciptakan pemahaman tentang topik gender. Hal ini penting karena pengajaran isu gender di program studi komunikasi di Indonesia tidak banyak merefleksikan pengalaman perempuan. Teori pedagogi gender adalah dasar dari penelitian ini. Sementara itu, perspektif dualitas berfungsi sebagai kerangka kerjanya. Pedagogi gender bukan hanya alat, strategi, atau teknik praktis untuk memahami pengajaran gender dalam pendidikan. Mengajarkan nilai-nilai kesetaraan gender di kelas menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dan strategi fenomenologi hermeneutika. Penelitian ini menggunakan wawancara mendalam untuk instrumen penelitian. Penelitian ini menunjukkan berbagai tingkat pemahaman dan implementasi pengajaran isu gender. Bahkan di beberapa universitas yang tidak memasukkan isu gender dalam mata kuliah jurnalisme dan studi media, para dosen harus berjuang untuk menyesuaikan isu gender dalam berbagai kesempatan mengajar di kelas mereka.
Strengthening the Ethics of the Deontology of Local Media Journalists in the Disruption Era Mubarok, Mubarok; Sarwono, Billy K.; Angeliqa, Fitria
Jurnal The Messenger Vol. 15 No. 2 (2023): May-August
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/themessenger.v15i2.5204

Abstract

Introduction: This study aims to describe the important role of organizational culture in strengthening the deontology ethics of local media journalists. Deontological ethics states that the will to do good must arise from within a person's individual. Organizational culture is one of the means used to instill, strengthen and internalize these values. Technological disruptions that have an impact on changes in media consumption, the closure of print media, the development of online media have changed the dynamics of journalistic practice in Indonesia. The important role of ethics comes to the fore in maintaining the quality of local media journalistic practices. Methods: This research was conducted with a phenomenological approach. The data were obtained from interviews with local media journalists in Central Java. Informants in this study are journalists who have worked for more than 20 years in local media, members of journalist organizations and actively provide journalistic ethics training. Findings: Ethics are still considered important by journalists. Therefore, it is necessary to strengthen ethics considering that not all journalists have adequate knowledge and understanding of ethics. The culture of media organizations and professional organizations plays an important role in strengthening the deontology ethics of local media journalists. Originality: This research provides a novelty on how to strengthen the deontological ethics of local media journalists through strengthening organizational culture. This research provides it in terms of building journalist ethics as individuals and the media as a press company that sells news ideology.
Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Posdaya Soka Jakarta Selatan Dalam Pembuatan Yogurt Tinggi Asam Folat Novi Yantih; Rahmatul Qodriah; Fitria Angeliqa
SULUH: Jurnal Abdimas Vol 6 No 1 (2024): SULUH: Jurnal Abdimas Agustus
Publisher : FEB-UP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/suluh.v6i1.5893

Abstract

POSDAYA merupakan kepanjangan dari Pos Pemberdayaan Keluarga adalah suatu forum silaturahmi advokasi, komunikasi, informasi, edukasi, dan wadah koordinasi kegiatan penguatan fungsi keluarga secara terpadu. POSDAYA Soka di Jatayu Raya Kampung Duku Jl. Al-Barokah RW012 Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan adalah bagian dari program pemberdayaan masyarakat oleh Yayasan Damandiri dalam Program Tabur Puja (Tabungan Pundi Sejahtera) sejak tahun 2012. Salah satu usaha POSDAYA adalah penjualan produk kuliner. Diversifikasi produk belum dilakukan. Pemasaran produk pun masih sederhana. Pengelolaan pembukuan keuangan juga masih konvensional. Hal ini menyebabkan nilai ekonomi kegiatan POSDAYA belum sesuai dengan harapan. Masih kurangnya pemahaman mitra tentang pemanfaatan teknologi untuk melakukan pemasaran online menjadi salah satu penyebabnya. Pada kegiatan ini mitra didorong diversifikasi produk usahanya dengan memproduksi yogurt yang tinggi asam folatnya sehingga sangat baik untuk kebutuhan ibu hamil dan menyusui. Produk untuk ibu hamil dan menyusui merupakan produk yang memiliki segmen pasar yang spesifik dan diharapkan dapat menstimulasi peningkatan hasil penjualan POSDAYA. Untuk itu, kemampuan mitra ditingkatkan dalam membuat yogurt yang tinggi asam folat hasil dari penelitian dosen Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. Target berikutnya adalah solusi dari masalah pemasaran produk, baik penyiapan desain kemasan dan cara menyiapkan konten untuk cara pemasaran digital melalui media sosial. Dalam rangka pencapaian target, kegiatan dilakukan dengan edukasi, pelatihan, pendampingan, dan monitoring-evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan mitra dalam membuat yogurt berasam folat tinggi, dapat membuat bahan promosi digital, dan dapat melakukan pemasaran secara online. Hasil ini diharapkan dapat diimplemantasi secara berkelanjutan untuk menunjang ekonomi perempuan di POSDAYA Soka.
Fan power and capital in JKT48’s senbatsu sousenkyo voting contest Prasetyo, Mario Aditya; Angeliqa, Fitria
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 11, No 2 (2025): Vol 11, No 2 (2025): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No.152/E/KPT/2023
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/bricolage.v11i2.8128

Abstract

Senbatsu Sousenkyo (SSK), adapted from Japanese idol sister groups, is an event that members JKT48 and fans look forward to. Through a voting system, fans play a role in determining which members will take center position in the next single. SSK as a general election always experiences a surge compared to the previous event. This shows the militancy of fans which has implications for the popularity of their idols. It cannot be denied that there are various capitals massively empowered to boost voting results. This research aims to explore the complex interactions and contestations of capital in popular culture, especially in the context of participatory democracy in SSK. This research also aims to identify the dominant forms of capital, explore the habitus displayed by fans, and analyze the doxa of the SSK competition arena as a reflection of power dynamics in popular culture. This research uses Pierre Bourdieu's approach in understanding the SSK phenomenon through the trilogy of habitus, field, and capital to analyze how fan practices reproduce power relations in digital fandom economies. This research uses qualitative approach with a case study design. Data collection techniques in this research involved document tracing, non-participatory observation, and analysis of physical artifacts on several fanbase accounts, such as @FreyanationID and @C_Jessination48. This research finds that various capitals in SSK interact with each other to determine the outcome of contestation through, especially economic capital as the main factor in the voting system that boosts voting preferences for certain idols. The victory obtained through the mobilization of economic capital also raises other capitals such as symbolic and social capital related to the ‘closeness’ and previlege obtained by fans. These findings indicate that SSK is a capital-driven battleground that reinforces consumerist culture, produces fan hierarchies, and institutionalizes economic stratification within the idol group entertainment industry.