Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Evaluation of Employee Mental Workload Using the Rating Scale Mental Effort and KAUPK2 Method in the Production Process of Spoon Making PT. VRIZ Fais, Moh. Ainul; Deviyanti, I Gusti Ayu Sri; Tjandra, Suhatati; Mohamad, Silvana; Lapai, Yolanda; Syahrir H, Muhammad
Jurnal Optimalisasi Vol 10, No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jopt.v10i2.9911

Abstract

Ergonomics is an approach that makes humans the main actors in the smooth running of the work system. PT. VRIZ is a company that produces stainless steel spoons. The manufacture of spoon products has 8 stages of the process with one employee working at any time and not allowed to stop before break time, the working hours that apply to this company are 7 working hours with 1 hour of rest. Static work has the potential to be easily bored, saturated and sleepy. This study aims to minimize the risky process flow taken in evaluating employee mental workload, analyzing the results of the two methods used, and providing recommendations for improvements in the workplace. With a better understanding of employee mental workload, PT. VRIZ can achieve higher levels of productivity and create a healthier and more sustainable work environment. The stages in this study use the RSME and KAUPK2 methods in data collection, this approach has a tool in the form of a questionnaire that must be filled out by the object or employee. The data obtained will be an early indication to provide improvements to the work system to reduce the impact of work fatigue. The Mental Effort Rating Scale questionnaire is one method of measuring mental workload by referring to the effort expended, while KAUPK2 is one method of measuring worker fatigue. The results of the Mental Effort Rating Scale show an average value of mental load of 115 (the effort expended is very large) and employee work fatigue using KAUPK2 shows the most dominant attributes felt by 8 employees, namely being reluctant to look others in the eye, being reluctant to work diligently and feeling tired all over the body.
Pemodelan Supply Chain Resilience Risk Management Menggunakan Metode FMEA Berbasis Macroergonomic Analysis and Design Mohamad, Silvana; Lahay, Idham Halid; Lapai, Yolanda; Fais, Moh. Ainul; Prayogo, LM Fandy
Jurnal INTECH Teknik Industri Universitas Serang Raya Vol. 10 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/v10i2.7896

Abstract

PPI Bonto Bahari Bulukumba merupakan sebuah lembaga yang menaungi kapal-kapal perikanan di bawah pengawasan Dinas Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan. Selain aktivitas keberangkatan dan tempat perhentian kapal, di PPI juga dipergunakan sebagai tempat pembelian ikan melalui pengepul-pengepul yang telah bekerja sama dengan PPI Bonto Bahari. Aktivitas pengolahan ikan oleh pengepul terbesar berada pada wilayah PPI, sehingga memudahkan pihak pemilik kapal untuk memindahkan ikan-ikan hasil tangkapan. Ikan hasil tangkapan yang diserahkan pada pengepul besar, kemudian dibersihkan dan diantarkan menuju Kota Makassar. Pada proses supply chain, sering mengalami kendala risiko satu diantaranya adalah kualitas ikan yang berubah. Risiko lainnya diidentifikasi menggunakan tahapan SCOR, kemudian penilaian risiko digunakan metode Failure Mode and Effect Analysis, dan mitigasi risiko digunakan metode HOR 2. Seluruh keterkaitan identifikasi, penilaian serta mitigasi dilakukan melalui tahapan Macroergonomic Analysis and Design (MEAD). Hasil mitigasi risiko terpilih adalah pengadaan difungsikan kembali fasilitas pendukung di PPI Bonto Bahari Bulukumba. Supply Chain Resilience sebagai kemampuan sebuah sistem dalam rantai pasok agar kembali ke kondisi normal, digambarkan melalui tahapan MEAD sebagai pendekatan dengan usulan model supply chain resilience risk management.
Optimalisasi Perawatan Mesin Press dengan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) Santoso, Ribut; Lahay, Idham Halid; Junus, Stella; Lapai, Yolanda
Jambura Industrial Review (JIREV) VOL.1 NO.1, MEI 2021
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.825 KB) | DOI: 10.37905/jirev.v1i1.7112

Abstract

Sistem perawatan yang dilakukan selama ini adalah bersifat breakdown maintenance yaitu pemeliharaan yang dilakukan setelah mesin mengalami kerusakan. Sistem ini belum memberikan data akurat kapan suatu mesin atau komponen mengalami kerusakan, sehingga strategi yang tepat untuk menjaga mesin tetap beroperasi adalah menentukan interval waktu perawatan yang optimal.Hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) maka didapat komponen kritis pada Mesin Screw Press yaitu Komponen Worm Screw, Besi Shaft dan Press Cage diperoleh waktu penggantian Komponen Worm Screw 32 hari, Besi Shaft 68 hari, Press Cage 48 hari pada Mesin Screw Press 1 ; untuk Mesin Screw Press 2 Komponen Worm Screw 52 hari, Besi Shaft 128 hari, Press Cage 52 hari ; untuk Mesin Screw Press 3 Komponen Worm Screw dilakukan penggantian selama 56 hari, Besi Shaft 104 hari, Press Cage 64 hari ; untuk Mesin Screw Press 4 pada Komponen Worm Screw dilakukan penggantian selama 56 hari, Besi Shaft 72 hari, Press Cage 74 hari. Untuk Mesin Screw Press 5 pada Komponen Worm Screw dilakukan penggantian selama 50 hari, Besi Shaft 80 hari, Press Cage 92 ; hari dan untuk Mesin Screw Press 6 pada Komponen Worm Screw dengan interval waktu penggantian selama 52 hari, Besi Shaft 72 hari dan Press Cage 58 hari. Kata Kunci: FMEA, MTTF, MTTR, Downtime, Age Replacement