Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Manajemen Majelis Taklim Dalam Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur: (Studi Multisitus pada Majelis Taklim Darus Shofa, Majelis Taklim Nurul Amin, dan Majelis Taklim Anwarul Bahiyah) Imaduddin; Al Attas, Sayyid Muhammad
Nidhomiyyah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 3 No. 2 (2022): July
Publisher : Program Pascasarjana Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah Bangil Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/nidhomiyyah.v3i2.870

Abstract

Majelis taklim menjadi sarana dakwah dan tabligh yang coraknya berperan sentral pada pembinaan dan peningkatan pada kualitas hidup umat Islam sesuai tuntunan ajaran Islam. Disamping itu guna menyadarkan umat Islam dalam rangka menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya yang konteksual kepada lingkungan hidup sosial budaya dan alam sekitar mereka, sehingga dapat menjadikan umat Islam sebagai ummat yang rahmatan lil alamin. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan secara empiris dan obyektif serta menganalisa peran serta Majelis Taklim dalam Pemberdayaan ekonomi Masyarakat di Majelis Taklim Darus Shofa, Majelis Taklim Nurul Amin, serta Majelis Taklim Anwarul Bahiyah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan penelitian multi situs atau penelitian lapangan. Dari metode penelitian tersebut diharapkan agar dapat mempelajari secara intensif, kemudian mendeskripsikannya dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada konteks ilmiah tentang latar belakang keadaan dan fenomena yang terjadi secara keseluruhan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Optimalisasi Managemen Majelis Taklim akan memberikan dampak yang tidak hanya dari sisi spiritual bahkan dari sisi pengembangan ekonomi di tengah masyarakat, sehingga menjadi salah satu solusi dari pemerataan pembangunan dan pengentasan masalah kemiskinan di masyarakat
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB IHYA’ ULUMUDDIN KARYA IMAM AL-GHAZALI DI PONDOK PESANTREN ASSUNIYAH KENCONG-JEMBER-JAWA TIMUR Muhsin, Hafidul; Imaduddin
Jurnal Pendidikan Islam Vol 12 No 2 (2022): Jurnal Pendidikan Islam (JPI)
Publisher : Research Departement of Darullughah Wadda'wah International Islamic University Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/jpi.v12i2.989

Abstract

Islamic boarding schools are educational institutions that provide maximum and in-depth religious learning. Islamic boarding schools have their own uniqueness in fostering their students, namely the independent attitude of various parties including the government. Islamic boarding schools stand and develop from the community so that they have freedom in providing educational regulations and are not bound by standard government regulations. Islamic boarding schools have characteristics that do not change with the times and technology. Islamic boarding schools are one of the moral development institutions. Islamic boarding school education increases religious knowledge and moral formation and teaches the character of honesty to prepare students for a simple life with a heart that is clean from reprehensible traits. The role of the kiai in moral formation is very crucial among the different character backgrounds of the santri. The role of the kiai is through exemplary, habituation of discipline which is enforced as a rule in Islamic boarding schools. The focus of this research is to find out the concept of reciting the Ihya' Ulumuddin Book by Imam Al-Ghazali at the Assuniyah Kencong Jember Islamic Boarding School, the implementation of moral education values based on the thoughts of Imam Al-Ghazali in the Ihya' 'Ulumuddin book and the learning model for the Ihya' 'Ulumuddin book in Assuniyah Kencong Jember Islamic boarding school. This study uses a qualitative approach, emphasizing its analysis on the comparative inference process of the dynamics of the phenomena relationship using scientific logic. The result of this research is the recitation of the Ihya' book, the method used is the bandongan method and lectures from the kiyai. Activities carried out in Islamic boarding schools are activities related to religious activities, students are limited to the environment outside the Islamic boarding school. This research has conceptual findings with the NIAT model which stands for Nurut, Istiqomah, Actualization, Tawaduk.
Kepemimpinan Kiai Dalam Mendidik Santri Di Pondok Pesantren Imaduddin
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 19 No. 2 (2021): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/al qodiri.v19i2.4401

Abstract

Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia. Keberadaannya sangat berpengaruh terhadap dinamika kehidupan masyarakat disekitarnya. Sejalan dengan arah perkembangan zaman, pesantren selalu berusaha meningkatkan mutu pendidikannya. Penelitian ini menyiratkan sesuatu yang urgen untuk diketahui dan dikaji secara mendalam tentang kepemimpinan pondok pesantren dalam membina santri. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah library reaserch. Kepemimpinan kyai sangat urgen dalam menjalankan roda pesantren agar pesantren tetap eksis dan berkembang mengikuti perkembangan zaman, maka menjadi penting gaya dan pola kepemimpinan kyai dalam mengelola pesantren. Seringkali kyai dalam mengelola pesantren dengan pola rangkap jabatan, yaitu semua urusan ditangani sendiri. Model kepemimpinan tersebut terjadi karena kyai membangun pesantren dengan upaya mandiri serta belum menemukan sosok kader. Kepemimpinan kyai sebagai seorang pendidik di pondok pesantren sangat urgen untuk mengarahkan dan membina santri. Kepemimpinan kyai yang diperlukan adalah kepemimpinan yang kharismatik dengan tetap mengedepankan suasana dan nuansa demokratis agar santri tetap dapat berinteraksi dengan leluasa sehingga mereka merasa nyaman dengan suasana di pesantren. Kepemimpinan kyai yang didelegasikan kepada satu sosok santri pada beberapa kasus menimbulkan gejolak, yaitu kurang diterima oleh kalangan sesama santri sebagaimana kepemimpinan kyai karena kurangnya ilmu dan pengalaman serta self control oleh santri tersebut, sehingga cenderung otoriter dan tidak demokratis seperti kyai. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang didelegasikan secara kolektif dengan struktur organisasi yang jelas Kata Kunci: Kepemimpinan Kyai; Santri; Delegasi.