Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Giberelin Pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Besar (Capsicum annuum L.) Sasongko, Danang Pujo; Koesriharti, Koesriharti; Armita, Deffi
Jurnal Produksi Tanaman Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1385

Abstract

Cabai besar (Capsicum annuum L.) ialah tanaman hortikultura yang cukup penting di Indonesia karena dimanfaatkan sebagai bumbu penyedap dan pelengkap bumbu untuk membuat masakan khas Indonesia.  Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan cabai besar telah meningkat, sementara produksi cabai besar di Jawa timur masih rendah dibandingkan dengan produksi cabai besar nasional. Produktivitas cabai besar di Jawa timur yang belum stabil kurang sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang setiap tahunnya terus meningkat. Salah satu upaya dalam meningkatkan produktifitas cabai besar ialah dengan pemberian giberelin. fungsi giberelin ialah mendorong perkembangan buah, memproduksi buah yang banyak sehingga mampu meningkatkan produktifitas dan kualitas buah yang baik dengan menghasilkan ukuran buah yang lebih besar sehingga dapat meningkatkan bobot buah dan mampu bersaing di pasar global. Tujuan penelitian ini ialah mendapatkan konsentrasi giberelin yang tepat dan sesuai sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil buah pada tanaman cabai besar (Capsicum annuum L). Penelitian ini dilaksanakan di Brumbung, Kepung, Kabupaten Kediri pada bulan Januari hingga Juli 2019 dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 6 taraf perlakuan yaitu 0 ppm (A0), 50 ppm (A1), 100 ppm (A2), 150 ppm (A3), 200 ppm (A4), 250 ppm (A5). Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian giberelin dengan konsentrasi 0 ppm atau tanpa giberelin mampu menghasilkan jumlah buah panen dan jumlah bunga yang lebih banyak dan  bobot buah per buah yang lebih tinggi dibandingkan pemberian giberelin konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm dan 250 ppm
Respon Tanaman Bit Merah (Beta Vulgaris L.) Terhadap Pemberian Unsur Hara Nitrogen Dan Kalium Pada Dataran Sedang Avyneysa, Nathania Julia; Armita, Deffi; Sitompul, Syukur Makmur
Jurnal Produksi Tanaman Vol 8, No 10 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1468

Abstract

Tanaman bit merah (Beta vulgaris L.) adalah tanaman biennal yang secara morfologis memiliki batang pendek dan akar tunggang yang akan tumbuh menjadi umbi akar. Tanaman bit merah merupakan tanaman cuaca sejuk, oleh karena itu tanaman bit merah yang dibudidayakan pada dataran sedang ataupun rendah dapat mengalami cekaman panas sebagai akibat dari peningkatan suhu. Namun, pengaruh negatif dari cekaman panas lingkungan pada tanaman dapat dikurangi dengan pemberian unsur hara nitrogen dan kalium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari tingkat adaptasi tanaman bit merah dalam pertumbuhan, hasil umbi, pigmen daun dan pigmen umbi pada dataran sedang dengan pemberian pupuk nitrogen dan kalium. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai September 2019 di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dan terdiri dari empat kali ulangan. Faktor pertama adalah pemberian pupuk urea dengan 4 taraf, yaitu N0 (0 kg N ha-1), N1 (100 kg N ha-1), N2 (200 kg N ha-1), dan N3 (300 kg N ha-1). Faktor kedua adalah pemberian pupuk KCl yang terdiri dari 2 taraf, yaitu K0 (0 kg K2O ha-1) dan K1 (200 kg K2O ha-1). Dari dua faktor diperoleh delapan kombinasi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk nitrogen dengan dosis 300 kg N ha-1 dan pupuk kalium dosis 200 kg K2O ha-1 dapat meningkatkan tingkat adaptasi tanaman bit merah dalam pertumbuhan pada dataran sedang.
Pengaruh Dosis Nitrogen dan Interval Pemberian Air terhadap Pertumbuhan dan Hasil tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata Ness.) Larasati, One Grahita Dinar; Armita, Deffi; Nihayati, Ellis
Jurnal Produksi Tanaman Vol 8, No 12 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1507

Abstract

Sambiloto ialah tumbuhan liar berkhasiat obat. Penggunaan sambiloto sebagai obat tradisional semakin diminati, akan tetapi, hingga sekarang sebagian besar sambiloto masih belum banyak dibudidayakan dan mengandalkan pasokan dari alam. Tanaman obat yang masih mengandalkan pasokan dari alam memerlukan teknik budidaya yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman. Teknik budidaya yang perlu diperhatikan diantaranya ialah pemberian pupuk dan air pada tanaman. Kedua hal tersebut sangat penting karena pupuk digunakan sebagai tambahan hara dari luar selain dari media tanam, sedangkan air dapat mempengaruhi fotosintesis dan reaksi kimia pada organ tanaman. Sambiloto merupakan tanaman yang dipanen pada masa vegetatif, sehingga kebutuhan nitrogen harus terpenuhi. Oleh karena itu, dosis nitrogen dan interval pemberian air yang tepat diperlukan untuk mencapai produksi tanaman sambiloto yang optimal. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), disusun secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk N yang terdiri dari 4 taraf yaitu 0 kg N.ha-1 (N0), 46 kg N.ha-1 (N1), 92 kg N.ha-1 (N2) dan 138 kg N.ha-1 (N3). Sedangkan faktor kedua, interval pemberian air yang terdiri dari 3 taraf yaitu P1 = 1 hari sekali; P2 = 2 hari sekali; P3 = 3 hari sekali.  Hasil yang diperoleh menunjukkan interaksi pemupukan Nitrogen 92 kg.ha-1 dengan penyiraman 2 hari sekali dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar dan bobot kering tanaman sambiloto. Semakin tinggi dosis pemupukan N dan semakin jarang interval penyiraman maka semakin tinggi kandungan flavonoid dalam tanaman sambiloto. Perlakuan Nitrogen 92 kg.ha-1 dapat meningkatkan kandungan nitrogen dan klorofil dalam tanaman sambiloto.
Pengaruh Penjarangan Buah dan Pemupukan Kalium terhadap Pertumbuhan, Hasil, dan Kualitas Buah Melon (Cucumis melo L.) Bazaz, Haikal Akmam; Armita, Deffi; Koesriharti, Koesriharti
Produksi Tanaman Vol. 10 No. 7 (2022)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.protan.2022.010.07.07

Abstract

Melon merupakan tanaman hortikultura yang banyak diminati karena rasanya yang manis dan jmemiliki kandungan gizi yang baik. Produksi melon pertahun terus mengalami penurunan dari tahun 2014 sampai tahun 2017. Produsksi tersebut hanya memenuhi dari 40% kebutuhan di Indonesia. Penjarangan buah pada tanaman melon perlu dilakukan karena tanaman melon memiliki banyak buah. Jumlah buah yang banyak akan menyebabkan buah menjadi kecil. Dalam proses budidaya, melon memerlukan unsur hara dalam jumlah yang cukup banyak. Kalium merupakan unsur yang berperan penting dalam pertumbuhan melon. Kalium berperan dalam merangsang translokasi gula, pertumbuhan, perkembangan buah dan biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penjarangan buah dan pemupukan kalium terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juli 2021 di Dusun Mandala, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan RAK dengan dua faktor. faktor pertama penjarangan buah dengan dua taraf dan faktor kedua pemupukan kalium dengan lima taraf dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukan tidak terjadi interaksi antara penjarangan buah dan pemberian dosis pupuk kalium pada pertumbuhan, hasil, dan kualitas buah melon. Perlakuan penjarangan dengan menyisakan 1 buah per tanaman menghasilkan bobot buah per buah dan diameter buah lebih tinggi, namun menghasilkan bobot buah per tanaman yang lebih rendah dibandingkan perlakuan penjarangan dengan menyisakan 2 buah per tanaman. Pemberian pupuk kalium pada tanaman melon dengan dosis 60kg K2O.ha-1 menghasilkan buah melon pada ruas batang ke 10 dengan  kadar gula paling tinggi.
Aplikasi Pupuk Organik Pada Budidaya Mawar Di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Karyawati, Anna Satyana; Rahayu, Aldila Putri; Saitama, Akbar; Kurniawan, Andi; Armita, Deffi; Nihayati, Ellis; M. Roviq, M. Roviq; Barunawati, Nunun; Islami, Titiek; Maghfoer, M. Dawam
JAPI (Jurnal Akses Pengabdian Indonesia) Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/japi.v9i1.5790

Abstract

Proses budidaya bunga mawar memerlukan penerapan sistem pertanian konvensional dengan penggunaan pupuk, pestisida, dan herbisida berbahan kimia sintetik masif dilakukan oleh petani. Dalam jangka panjang, kondisi ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kesuburan tanah secara fisik, kimiawi ataupun biologis. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan contoh di lapang tentang manfaat dan hasil yang diperoleh dari penggunaan pupuk organik (kompos) sisa panen bunga mawar dan perbandingannya dengan penggunaan pupuk kimia serta ditinjau dari segi efisiensi usaha tani. Kegiatan ini dilakukan dilaksanakan mulai bulan Mei sampai Desember 2022 bertempat di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kegiatan di awali dengan dilakukanya survei lahan mawar di kota tujuan, dilanjutkan dengan 3 kegiatan utama, meliputi: 1) pertemuan diskusi dan penyuluhan dengan petani di ikuti dengan pembagian kuesioner, 2) praktik lapang aplikasi kompos, dan 3) evaluasi keberhasilan program melalui pengambilan data kuesioner dari petani. Aplikasi pupuk kompos limbah mawar adalah sebagai salah satu upaya untuk memaksimalkan hasil panen mawar untuk dapat menambahan nilai jual dan kebermanfaatan produk. Penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bibit mawar. Di saat yang bersamaan, konversi limbah mawar menjadi pupuk organik dapat menambah pemasukan bagi petani dan secara tidak langsung akan dapat menekan biaya produksi dalam budidaya mawar. Hasil penyuluhan menunjukkan bahwa lebih dari 70 % petani yang ikut kegiatan menyatakan telah mengetahui dampak negatif pupuk kimia, serta telah mengetahui apa itu pupuk organik dan aplikasinya pada tanaman. Terlebih lagi, sebagian besar petani juga telah menerapkan pupuk organik dalam budidaya mawar, meskipun diberikan secara bersamaan atau berselang dengan pupuk anorganik.
Pelatihan Pembuatan Kompos Limbah Mawar di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu Nihayati, Ellis; Maghfoer, Moch. Dawam; Roviq, Muhammad; Rahayu, Aldila Putri; Barunawati, Nunun; Armita, Deffi; Saitama, Akbar; Koesriharti, Koesriharti; Islami, Titiek; Wardiyati, Tatik; Karyawati, Anna Satyana 
JAPI (Jurnal Akses Pengabdian Indonesia) Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/japi.v8i1.4528

Abstract

Aplikasi pupuk anorganik merupakan hal yang wajar dalam praktek budidaya tanaman. Begitu pula yang dilakukan oleh para petani mawar yang ada di Desa Gunungsari, Kota Batu. Namun aplikasi yang dilakukan sering kali melebih dosis yang ditentukan. Sehingga perlu adanya upaya untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik agar dapat meningkatkan nilai guna mawar. Tujuan kegiatan ini yaitu untuk mengedukasi petani mengenai kelebihan dan kekurangan pupuk organik dalam rangka mengurangi bahan kimia sintetik dalam budidaya tanaman serta demonstrasi pembuatan pupuk organik dari limbah sisa panen mawar sebagai pengganti pupuk kimia sintetik. Kegiatan dilakukan secara luring mulai dari Mei hingga Desember 2022.  Kegiatan diawali dengan diskusi dan penyuluhan mengenai pengenalan pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia sintetik, kemudian dilanjutkan dengan praktik lapang pembuatan kompos dan evaluasi keberhasilan program. Penyuluhan mengenai pupuk telah dijelaskan dengan baik dan meningkatkan minat para petani untuk mengolah limbah sisa panen mawar menjadi pupuk kompos. Pembuatan pupuk kompos dari limbah sisa panen mawar dapat memberikan manfaat terhadap petani berupa berkurangnya biaya pupuk, keuntungan produksi yang lebih tinggi serta berukurangnya limbah. Para petani berharap perlu adanya sosialisasi dan pelatihan yang berkala untuk dapat memantau perkembangan dan pengolahan pupuk dari limbah sisa panen mawar.
PENGARUH PERBEDAAN POLA TANAM SISTEM TUMPANGSARI PADA PERTUMBUHAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill) Rulliyah, Binti; Armita, Deffi; Nihayati, Ellis
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 3 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedelai (Glycine max (L.) merrill) ialah komoditas pangan ketiga setelah padi dan jagung. Tanaman kedelai memiliki jarak tanam sempit yaitu 20 x 30 cm, 30 x 30 cm atau 40 x 10 cm serta memiliki umur yang relatif pendek yaitu 85 – 95 hari setelah tanam (HST). Disamping itu, pada akar tanaman kedelai terdapat bintil akar yang merupakan simbiosis antara akar dengan bakteri Rhizobium japanicum yang mampu menyumbangkan N dalam bentuk asam amino. Bintil akar berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai, selain itu juga dapat menyuburkan tanah karena penyediaan unsur nitrogen ke tanah dan meningkatkan N tanaman (%) yang ditanam bersamaan dengan tanaman kedelai. Sebaliknya, temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) ialah tanaman yang memiliki jarak tanam lebar serta memiliki umur panjang yaitu 10 – 12 bulan. Kelebihan pada tanaman kedelai serta kekurangan pada tanaman temulawak merupakan peluang untuk membudidayakan keduanya secara tumpangsari, sehingga mampu meningkatkan efisiensi lahan dan meningkatkan keuntungan petani. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Juni 2016 di Kebun Percobaan, Jatikerto, Kromengan, Malang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dan data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), apabila terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan, tanaman kedelai dengan pola tanam T6 (strip relay (K–T)) memiliki tinggi tanaman, luas daun dan berat brangkasan yang lebih tinggi dari pola tanam sistem tumpangsari yang lain.
PENGARUH KONSENTRASI DAN INTERVAL PEMBERIAN PGPR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BUNCIS TEGAK (Phaseolus vulgaris L.) Ningsih, Yanti Fitriah; Armita, Deffi; Maghfour, Mochammad Dawam
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 7 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi buncis yang berfluktuasi mengakibatkan Indonesia masih belum dapat memenuhi kebutuhan konsumsi. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi buncis dilakukan dengan cara penggunaan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacter). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi dan waktu aplikasi PGPR yang tepat dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman buncis. Hipotesis dari penelitian ini adalah konsentrasi PGPR dipengaruhi oleh interval aplikasi PGPR dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman buncis (Phaseolus vulgaris L.). Penelitian di-laksanakan di Unit Pelayanan Teknis Tanaman Palawija Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang Jawa Timur pada bulan februari sampai april 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan 3 taraf diantaranya K1= 5 ml L-1, K2 = 10 ml L -1, K3 = 15 ml L -1 dan 4 taraf antara lain T1= 0, 1, 3 MST; T2 = 0, 2, 3 MST; T3 = 0, 2, 4 MST; T4 = 0, 3, 4 MST dan terdapat satu perlakuan tanpa PGPR sebagai Kontrol. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), yang di uji lanjut dengan BNJ 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan konsen-trasi dan interval pemberian PGPR pada semua parameter, akan tetapi secara terpisah  perlakuan konsentrasi PGPR dan perlakuan interval waktu pemberian PGPR berpengaruh nyata pada beberapa parameter. Dari penelitian ini didapatkan bahwa perlakuan pemberian PGPR dengan konsentrasi 15 ml memiliki hasil yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan yang lain pada parameter tinggi tanaman dan luas daun dan Perlakuan T1 dan T2 menunjukkan jumlah cabang berbeda nyata dengan T3 dan T4.
PENGARUH KONSENTRASI GA3 DAN LAMA PENYINARAN PADA KUALITAS BUNGA ANYELIR (Dianthus caryphyllus L.) Rachma, Herda; Armita, Deffi; Barunawati, Nunun
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 8 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) ialah komoditas bunga potong yang potensial karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi dalam industri bunga potong dan menempati peringkat ke tiga dalam peragangan komoditas bunga potong di Indonesia. Faktor utama permasalahan anyelir potong ialah fase vegetatif yang panjang sehingga menyebabkan waktu berbunga menjadi lebih lama. Anyelir potong umumnya berbunga pada umur 6 bulan setelah perbanyakan vegetatif menggunakan stek. Waktu tersebut tergolong lama untuk budidaya tanaman hias bunga potong, sehingga diperlukan teknologi yang mampu menghasilkan anyelir potong dengan waktu berbunga lebih cepat serta tetap memenuhi klasifikasi mutu bunga potong. Salah satu upaya untuk mempercepat pembungaan serta tetap memenuhi syarat mutu bunga potong ialah dengan melakukan induksi pembungaan menggunakan pemberian GA3 dan lama penyinaran. Tujuan penelitian ini ialah mempelajari pengaruh interaksi antara konsentrasi GA3 dan lama penyinaran pada kualitas bunga serta menentukan konsentrasi GA3 dan lama penyinaran yang tepat untuk mempercepat terbentuknya pembungaan. Bahan yang digunakan adalah bibit anyelir varietas top beauty, pupuk majemuk NPK, GA3 dan aquades. Rancangan yang digunakan ialah Rancangan Petak Terbagi (RPT). Penelitian dilaksanakan bulan Juni sampai Oktober 2016 didalam rumah naungan Desa Punten, Bumiaji, Kota Batu. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi GA3 dipengaruhi oleh pemberian lama penyinaran pada parameter pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun serta seluruh pengamatan komponen hasil.
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL KENTANG (Solanum tuberosum L.) DATARAN MEDIUM VARIETAS DTO 28 TERHADAP DOSIS PUPUK NPK DAN PGPR Ristikawati, Dinar; Armita, Deffi; Barunawati, Nunun
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 9 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, budidaya kentang umumnya dilakukan di dataran tinggi. Peningkatan produktivitas kentang dapat dilakukan dengan budidaya kentang di dataran medium. Salah satu faktor pembatas produksi kentang adalah ketersediaan unsur hara dalam tanah. Penggunaan varietas yang tepat dengan optimalisasi dosis pupuk NPK yang dibantu oleh PGPR merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil kentang dataran medium. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari interaksi antara dosis NPK dengan waktu pemberian PGPR terhadap pertumbuhan dan hasil kentang di dataran medium. Penelitian dilaksanakan di Desa Junrejo, Kota Batu dengan ketinggian tempat 600 m diatas permukaan laut dan dimulai pada bulan Januari hingga Mei 2017. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial dengan metode Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis NPK, yaitu tanpa NPK (P0), 600 kg/ha NPK (P1), 900 kg/ha NPK (P2), 1.200 kg/ha NPK (P3). Faktor kedua adalah waktu pemberian PGPR, yaitu saat tanam (T1), saat tanam dan 15 hari setelah tanam (T2), saat tanam, 15, dan 30 hari setelah tanam (T3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara dosis NPK dan waktu pemberian PGPR mempengaruhi bobot umbi kentang per petak dan per hektar. Dosis NPK mempengaruhi jumlah umbi per tanaman dan bobot umbi per tanaman. Namun, pemberian PGPR pada berbagai waktu tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kentang.