Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : TEKNOSIAR

Analisis Resiko Pekerjaan Peningkatan Jalan Lintas Selatan Kabupaten Ende Fransiskus Xaverius Ndale; Marselinus Napa
TEKNOSIAR Vol. 7 No. 1 (2013): April
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.862 KB)

Abstract

Resiko adalah kejadian yang tidak pasti atau situasi yang tidak pasti. Bila hal ini terjadi. akan mengakibatkan terhadap tujuan dari proyek. Resiko akan dapak terhadap bertambah biaya serta terlambat jadwal pelaksnaan proyek. Mutu pekrjaan jalan merupakan implementasi dari rencana strategis prioritas dari pemilik proyek. Resiko kegagalan proyek konstruksi peningkatan jalan menunjukkan indikasi bahwa kurang efektif dan efisien kinerja kontraktor selama pelaksanaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara langsung serta menyebar kuisoner yang harus diisi oleh responden dengan bererapa penilaian yaitu; penilaian terhadap risiko dengan probability impact analysis, untuk mengetahui risiko terbesar yang terjadi pada pelaksanaan proyek jalan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hasil maksimal dalam pelaksanaan suatu pekerjaan peningkatan Jalan Lintas Selatan Kabupaten Ende. Pihak kontraktor harus tahu factor-faktor resiko apa saja yang menyebabkan terjadinya tambahan biaya dalam pelaksanaan proyek tersebut. Hasil penelitian teridentifikasi: Resiko eksternal: topografi cukup sulit sebesar 87,69%, pengijinan material lokal sebesar 49,23% dan harga material mengalami kenaikan sebesar 49,23%. Resiko Internal : SDM kurang pengelaman sebesar 78,46%, tim pelaksanaan proyek kurang memahami manajemen sebesar 60%, tidak ada pedoman dan pelimpahan tugas kurang tegas sebesar 49,23%. Resiko dalam proyek: alat sudah berumur sebesar 90,77%, kelangkaan BBM sebesar 89,23%, serta adanya keraguan dalam menganalisis bahan sebesar 50,77%.
Pengaruh Akar Tanaman Terhadap Parameter Geser Tanah Dan Stabilitas Lereng Pada Ruas Jalan Ende – Wolowaru Veronika Miana Radja; Fransiskus Xaverius Ndale; Tarsisius Tibo
TEKNOSIAR Vol. 7 No. 2 (2013): Oktober
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.232 KB)

Abstract

Keberadaan akar tanaman dapat meningkatkan kekuatan tanah khususnya tegangan geser (kohesi) dalam menjaga kestabilan lereng. Akar tanaman mempunyai kemampuan menyimpan air tanah yang baik dan menjaga kestabilan tanah terhadap perubahan kadar air akibat proses pembasahan dan pengeringan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui berapa besar kekuatan geser tanah dari masing-masing vegetasi seperti tanah yang mengandung akar; bambu, akar kemiri, akar rumput gajah, akar alang – alang dan akar cengkeh. Pengambilan sampel tanah dilakukan di sepanjang ruas jalan Ende- Wolowaru yaitu pada Km. 12 tanah yang mengandung akar bambu, Km. 19 tanah yang mengandung akar kemiri, Km. 27 tanah yang mengandung akar rumput gajah, Km. 28 tanah yang mengandung akar alang-alang dan Km. 46 tanah yang mengandung akar cengkeh. Hasil uji geser langsung didapatkan hubungan antara kadar air, angka pori, derajat kejenuhan, kohesi dan sudut geser. Hasil penelitian dari masing-masing vegetasi: tanah yang tidak mengandung akar nilai kohesi 0.13 kg/cm2, tanah yang mengandung akar bambu nilai kohesi 0.2 kg/cm2, tanah yang mengandung akar kemiri nilai kohesi 0.5 kg/cm2, tanah yang mengandung akar rumput gajah nilai kohesi 0.5 kg/cm2, tanah yang mengandung akar alang-alang nilai kohesi 0.05 kg/cm2 dan tanah yang mengandung akar cengkeh nilai kohesi 0.4 kg/cm2.
Sifat Fisik Dan Mekanik Bambu Sebagai Bahan Konstruksi Fransiskus Xaverius Ndale
TEKNOSIAR Vol. 7 No. 2 (2013): Oktober
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.325 KB)

Abstract

Paper ini akan menyajikan hasil eksperimental tentang sifat fisik Bambu yang akan digunakan sebagai bahan konstruksi. Bambu adalah rumput berkayu berbentuk pohon atau perdu. Bambu termasuk ordo Gramineae, familia Bambuseae. Berat jenis dan kerapatan bambu menentukan sifat fisika dan mekanikanya. Berat jenis bambu berkisar antara 0,5 – 0,9 gr/cm³. Bambu mempunyai perbandingan kekuatan dan berat yang sangat tinggi sehingga efisien dan efektif untuk digunakan sebagai bahan bangunan. Kandungan air pada bambu akan berpengaruh pada kekuatan bambu. Kembang susut bambu perlu diperhatikan agar struktur bangunan bambu tidak mengalami perubahan bentuk dan penurunan kualitas akibat adanya penyusutan. Adanya perubahan bentuk ini tentunya akan mengurangi nilai fungsi dari sebuah struktur bangunan.Bambu mempunyai kuat tarik 1180 - 2750 kg/cm² , kuat tekan 499 – 588 kg/cm² dan kuat lentur 785 – 1960 kg/cm². Kekuatan pada bambu juga dipengaruhi oleh posisinya, bagian terkuat dari bambu adalah kulit. Kekuatan kulit ini sangat jauh lebih tinggi daripada kekuatan bambu bagian dalam. Sedangkan kuat tekan bambu semakin meningkat sesuai dengan umur bambu tersebut. Modulus elastisitas (E) bambu berkisar antara 98.070 – 294.200 kg/cm², tetapi untuk perancangan dipakai E sebesar 294.200 kg/cm². Kuat geser bambu sangat rendah, maka dari itu perancangan bambu sebagai struktur sebagai batang tunggal lebih efektif bila dibandingkan batang ganda.
Pengaruh Penambahan Serat Daun Pandan Laut Terhadap Sifat Mekanik Beton Fransiskus Xaverius Ndale; Marselinus Padhi Pi
TEKNOSIAR Vol. 8 No. 2 (2014): Oktober
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.136 KB)

Abstract

Kelemahan beton sebagai bahan konstruksi adalah tegangan tarik yang rendah dan sifatnya yang getas, karena itu beton membutuhkan perkuatan berupa tulangan tarik untuk menahan tegangan tarik yang terjadi. Untuk mengurangi terjadinya retakan atau kerusakan pada beton maka dilakukan dengan menambahkan serat kedalam campuran beton. Dalam penelitian ini serat yang yang digunakan sebagai bahan tambah dalam pembuatan adukan beton adalah serat yang terbuat dari serat daun pandan laut yang diambil dari tepi pantai Nanganesa Kabupaten Ende.Beton berserat merupakan suatu campuran antara semen, agregat kasar, agregat halus, air dan bahan tambahan (Serat Daun Pandan Laut) yang menyebabkan terjadinya interaksi antara material pembentuknya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode perencanaan beton berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI).Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dapat diketahui bahwa hasil kuat tekan beton normal memperoleh nilai kuat tekan sebesar 22,90 Mpa dan kuat tariknya sebesar 6,51 Mpa. Beton dengan penambahan serat daun pandan laut dengan komposisi serat sebagai berikut : serat daun pandan laut 1% memperoleh hasil kuat tekan sebesar 16,57 Mpa,. Untuk kuat tarik belah beton serat 1% sebesar 7,61 Mpa,. Beton berserat 2%, memperoleh hasil kuat tekan sebesar 19,15 Mpa, Kuat tarik belah 2% memperoleh hasil kuat tarik sebesar 7,80 Mpa, dan serat 3% memperoleh hasil kuat tekan sebesar 12,45 Mpa,. Kuat tarik belah 3% memperoleh hasil kuat tarik sebesar 7,81 Mpa,Dari hasil analisa test kuat tekan dan kuat tarik belah beton dengan menambahkan serat daun pandan laut kedalam campuran beton maka, semakin banyak menggunakan serat daun pandan laut kedalam campuran beton maka semakin besar nilai kuat tarik yang diperoleh. Sedangkan untuk nilai kuat tekannya, semakin banyak menggunakan serat daun pandan laut kedalam campuran beton, maka semakin menurun nilai kuat tekan yang dihasilkan.
Studi Evaluasi Perencanaan Perkerasan Lentur Pada Ruas Jalan Eputobi Di Kecamatan Tetihena Kabupaten Flores Timur Fransiskus Xaverius Ndale; Dominikus Suban Kromen
TEKNOSIAR Vol. 9 No. 1 (2015): April
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.08 KB)

Abstract

Ruas jalan junction Eputobi dimana, selama kurang lebih 5 (lima) tahun terakhir telah terjadi peningkatan komposisi maupun volume lalu lintas yang melintasi pada ruas jalan tersebut sehingga akan terjadi perubahan pembebanan akibat muatan lalu lintas yang bekerja.maka perlu mengetahui tebal lapis perkerasan lentur yang diperlukan sesuai beban lalu lintas yang terjadi. Metode penelitian yang digunakan untuk melakukan analisis perencanaan konstruksi perkerasan lentur dengan metode Analisa Komponen SKBI 2.3.26.1987-UDC.625.73. Hasil penelitian ditinjau berdasarkan evalusai kondisi eksisting dan perencanaan alternative, tebal perkerasan pada ruas jalan junction Eputobi yang mana pada tebal lapisan permukaan kondisi eksisting yang ada masih layak sampai dengan umur rencana 10 tahun, namun setelah umur rencana 10 tahun maka lapisan permukaan sudah tidak layak lagi. Kemudian berdasarkan perencanaan alternative untuk tebal lapisan permukaan pada perencanaan awal kurang 1 cm yang mana seharusnya 5 cm bukan 4 cm, sedangkan kalau ditinjau dari lapisan pondasi bawah maka tebal lapisan bawah masih mampu sampai dengan umur rencana 10 tahun dan setelah umur rencana lebih dari 10 tahun sudah tidak layak lagi
Analisis Tingkat Kekakuan Struktur Rangka - Dinding Geser Tanpa Dan Dengan Belt Truss Pada Bangunan Tinggi Beton Bertulang Akibat Beban Lateral Suku, Yohanes Laka; Ndale, Fransiskus Xaverius
TEKNOSIAR Vol. 13 No. 1 (2019): Volume 13 Nomor 1 April 2019
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.869 KB) | DOI: 10.37478/teknosiar.v13i1.229

Abstract

Bangunan tinggi rawan terhadap beban lateral akibat gempa dan angin. Salah satu solusi untuk meningkatkan kinerja struktur bangunan tingkat tinggi dalam menahan beban lateral antara lain yaitu dengan pemasangan dinding geser (shear wall) sebagai sub sistim penahan beban lateral dari sistim struktur untuk manambah kekakuan struktur. Semakin tinggi bangunan maka dinding geser akan menyerap gaya geser yang besar, dan dengan demikian lebar dinding geser akan bertambah besar. Salah satu cara untuk memperkecil lebar diding geser dengan nilai kekuatan yang sama yaitu dengan penambahan outrigger dan belt truss. Penggunaan Sistim Belt Truss pada bangunan tinggi dapat meningkatkan kekakukan struktur dan membuat struktur lebih efficient dibawah pengaruh beban lateral/gempa. Hasil perhitungan untuk struktur gedung 15 lantai ini, didapat bahwa model struktur rangka dinding geser dengan satu belt truss dapat mereduksi simpangan lateral maksimum sebesar 18,5 % dengan penempatan belt truss pada ¾ tinggi gedung, sedangkan dengan dua belt truss simpangan lateral maksimum yang dapat diredukai sebesar 27,01 % yakni dengan penempatan belt truss pada lantai atas dan pada ½ tinggi bangunan.
Penggunaan Geotextil Sebagai Bahan Bangunan Ndale, Fransiskus Xaverius
TEKNOSIAR Vol. 13 No. 2 (2019): Volume 13 Nomor 2 Oktober 2019
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.226 KB) | DOI: 10.37478/teknosiar.v13i2.265

Abstract

Bahan dasar geotekstil pada umumnya dihasilkan dari serat dan benang polymeric dengan unsur utama seperti polypropylene, polyester, polyethylene dan polyamide. Jenis geotextile yang banyak digunakan adalah jenis woven dan nonwoven Woven geotextiles adalah suatu bahan seperti kain yang dibentuk dengan ditenun. Nonwoven dibuat dengan 100 persen polypropylene. Bahan polimer sebagai perkuatan konstruksi, khususnya perkuatan dengan bahan geotextile. Geotextile merupakan salah satu jenis geosynthetis yang cukup luas penggunaannya dibidang teknik sipil untuk memecahkan permasalahan geoteknik. Sebagai alternatif yang digunakan dalam menangani tanah dasar adalah penggunaan geotekstil yang berfungsi sebagai pemisah atau separator (separation) ,filtrasi,drainase,perkuatan atau tulangan (reinforcement),stabilisasi,proteksi dan gabungan dari fungsi-fungsi tersebut. Dalam pemilihan bahan geotextil yang akan digunakan pada umumnya berdasarkan karakteristik teknik bahan geotextile tersebut. Karakteristik teknik tersebut meliputi antara lain karakteristik fisis, mekanis, dan hidrolis. Penggunaan geotextile yang paling umum diantaranya:stabilisasi tanah,perkuatan tanah timbunan,perkuatan lapis perkerasan jalan,perkuatan jalan kereta api,selain itu hasil pengembangan geotekstil dengan bahan lain: retaining wall, geotextile pada abutment jembatan,geotextile yang digunakan untuk box culvert,sedimen kontrol,waste containment. Hasil yang diperoleh dari penggunaan bahan geotekstil adalah: durabilitas bangunan dan umur bangunan lebih lama ,pelaksanaan relatif mudah,bahan ringan mobilisasi relative murah, biaya konstruksi relative murah.
Pengaruh Penggunaan Tepung Bata Ringan Pada Campuran Beton Terhadap Kuat Tekan dan Kuat Tarik Belah Beton Cunradiana, Meiske; Ndale, Fransiskus Xaverius; Suku, Yohanes Laka
TEKNOSIAR Vol. 14 No. 1 (2020): Volume 14 Nomor 1 April 2020
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/teknosiar.v14i1.1132

Abstract

Beton adalah suatu bahan bangunan komposit yang terdiri atas kombinasi ukuran tertentu dari agregat kasar, agregat halus, air dan semen. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kekuatan beton dengan memodifikasi penyusunannya seperti beton ringan, beton semprot(shotcrete)t, beton fiber, beton mutu tinggi, beton mutu sangat tinggi, beton mampat sendiri, dll. Untuk keperluan tertentu terkadang campuran beton ditambahkan dengan bahan aditif kimia dan mineral. Penambahan bahan performa atau mineral diharapkan dapat mengubah kinerja dan sifat campuran beton sesuai kondisi dan tujuan yang diinginkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi dan kadar tepung bata ringan dalam campuran beton terhadap kuat tekan dan kuat tarik belah beton. Penelitian ini menggunakan metode Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil yang diperoleh kuat tekan maksimum beton adalah 23,66 MPa dan kuat tarik maksimum beton 4,38 MPa dengan persentase 10% tepung pada umur 28 hari yang telah memenuhi dan melebihi kuat tekan dan kuat tarik yang direncanakan. beton. f 'c 20 MPa. Kadar optimum tepung bata ringan 10% dapat meningkatkan kuat tekan dan kuat tarik beton. Hal ini berbanding terbalik dengan persentase 30% dan hasil yang didapat sebesar 50% cenderung mengalami penurunan kekuatan.
Studi Perbandingan Karakteristik Agregat Quarry Nangapanda Dan Quarry Aemau Untuk Lapis Pondasi Bawah (Sub Base) Nosemba, Blasius D.; Sydin, Thomas Aquino Arif; Ndale, Fransiskus Xaverius
TEKNOSIAR Vol. 15 No. 1 (2021): Volume 15 Nomor 1 April 2021
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/teknosiar.v15i1.1201

Abstract

Salah satu bahan penyusun perkerasan jalan adalah agregat,untuk itu perlu dilakukan penelitian terhadap karakteristik material agregat sebagai bahan dasar konstruksi jalan. Quarry Nangapanda dan quarry Aemau merupakan sumber material yang sering digunakan untuk pembangunan pekerjaan jalan di Kabupaten Ende dan Nagekeo. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui karakteristik agregat quarry Nangapanda dan quarry Aemau, serta perbandingan karakteristiknya untuk lapis pondasi bawah (sub base). Metode yang digunakan adalah Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil pengujian analisis saringan agregat dua quarry ini termasuk dalam tipikal gradasi seragam,berat jenis (bulk) quarry Nangapanda sebesar 2,53 dan quarry Aemau sebesar 2,84. Penyerapan (absorption) untuk quarry Nangapanda sebesar 2,81% dan quarry Aemau sebesar 1,60%,kadar air agregat quarry Nangapanda sebesar 1,51% dan quarry Aemau sebesar 1,075%,agregat yang lolos nomor 200 (0,075 mm) quarry Nangapanda sebesar 0,283% dan quarry Aemau sebesar 0,423%, keausan agregat quarry Nangapanda sebesar 18,30% dan quarry Aemau sebesar 12,06%. Hasil akhir agregat dua quarry ini sudah memenuhi syarat SNI dengan perbandingan karakteristik agregat quarry Aemau lebih baik dari agregat quarry Nangapanda.
Pengaruh Perubahan Kadar Air Tanah Terhadap Tingkat Keamanan Lereng Sepanjang Ruas Jalan Lokoboko-Lokapere Kabupaten Ende Radja, Veronika Miana; Ndale, Fransiskus Xaverius; Suku, Yohanes laka
TEKNOSIAR Vol. 17 No. 1 (2023): Volume 17 Nomor 1 April 2023
Publisher : Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/teknosiar.v17i1.2717

Abstract

The conversion of land functions in the slope area which was previously a protected forest and then being cut to make roads will certainly affect the level of stability. High intensity rains will also affect the increase in surface runoff which will erode the surface of the slopes and erosion. To prevent this from happening, it is necessary to study the safety level of the slopes along the Lokoboko-Lokipere road due to changes in soil water content. Soil sampling is carried out by taking disturbed soil and undisturbed soil and testing soil properties, among others; soil consistency, analysis of specific gravity, cohesion, and shear angle with the addition of 25%, 50%, 75%, and 100% of the initial moisture content. The results of this test show that physically the soil samples on the Lokoboko-Lokipere road section of Ende Regency are classified in soil group A-2-5, namely in the form of gravel and sandy soils that are silt or loamy. Meanwhile, according to USCS, the soil can be classified as silty sand (SM). Mechanically. For slopes with a height of 10 m, it is not safe to add water to 100% of the initial condition (wi), SF=0.996. For a 20 m high slope, it is no longer safe from the initial conditions, SF=0.950. The failure plane for slopes with a height of 10 m is deeper than the failure plane for slopes with a height of 20 m.