Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS KOMUNIKASI SIMBOLIK DALAM TRADISI REBO WEKASAN Ulum, Muhammad Saepul
HIKMAH : Jurnal Dakwah Dan Sosial Volume 5, No.1, Maret 2025
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah (Universitas Islam Bandung)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/hikmah.v5i1.6284

Abstract

The purpose of this study is to explore and further elaborate the meaning of denotation, connotation, and myth related to Rebo Wekasan symbols in Samarang District, Garut used semiotic analysis method proposed by Roland Barthes. The data collection techniques used include observation, interview, and literature study. The subject of this research is the feast that is served during the traditional celebration and the selection of informants using intentional sampling technique. The symbol of the tradition on the one hand is water, and on the other hand there is “Uyah” or Salt, “dupy”, “leupeut”, and “bugis” which are typical foods of the area. The essence of the Rebo Wekasan tradition is sharing or giving to ward off danger by providing food with certain symbolic meanings such as water symbolizing purity, “Uyah” or salt as a symbol to protect sick people, dupy as a symbol of rejection, leupeut as a symbol of unity, and bugis symbolizing faith. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali dan menguraikan lebih jauh makna denotasi, konotasi, dan mitos terkait simbol Rebo Wekasan di Kecamatan Samarang, Garut dengan menggunakan metode analisis semiotika yang dikemukakan oleh Roland Barthes. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan studi pustaka. Subyek penelitian ini adalah hari raya yang dihidangkan pada saat perayaan adat dan pemilihan informannya menggunakan teknik sampling intensional. Simbol dari tradisi tersebut di satu sisi adalah air putih, dan di sisi lain ada “Uyah”atau Garam, “dupy”, “leupeut”, dan “bugis” yang merupakan makanan khas daerah tersebut. Inti dari tradisi Rebo Wekasan adalah berbagi atau memberi untuk menangkal mara bahaya dengan cara menyediakan santapan dengan makna simbolik tertentu seperti air melambangkan kesucian, “Uyah” atau garam sebagai sombol untuk melindungi orang yang sakit, dupy sebagai simbol penolakan, leupeut sebagai simbol persatuan, dan bugis melambangkan keimanan.
Sosialisasi Pendidikan Seksual Dalam Rangka Mencegah Dampak Negatif Pernikahan Dini di Kalangan Siswa SMAN 1 Cimanggung: Desa Sindanggalih Kecamatan Cimanggung Ulum, Muhammad Saepul; Sungkawa, Asep; Marliah; Rahmawati, Aisyah; Nusaibah, Ai Nova; Farida, Idza; Lestari, Dewi; Nurhayati, Nuri; Halimah, Lina Siti; Zaenab, Siti; Ariyani, Dewi; Fauzi, Achmad; Hadi, Hilman Abdul; Nugraha, Muhammad; Sirojul, Aceng M; Pujianto, Agung; Rizki, Deden M
Jurnal Komunikasi Pengabdian Masyarakat (Komdimas) Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Komunikasi Pengabdian Masyarakat (KOMDIMAS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61519/kdm.v2i2.76

Abstract

Pernikahan dini menjadi isu serius yang dapat berdampak negatif terhadap perkembangan sosial, ekonomi, dan kesehatan individu, terutama di kalangan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas sosialisasi pendidikan seksual dalam mencegah dampak negatif pernikahan dini di kalangan siswa kelas 11 SMAN 1 Cimanggung, Desa Sindanggalih, Kecamatan Cimanggung kabupaten sumedang. Kegiatan ini melibatkan narasumber dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Cimanggung dan dosen pembimbing lapangan (DPL) yakni Bapak Muhammad Saepul Ulum, S.Kom.I, M. Sos. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi untuk menggali pemahaman siswa mengenai pendidikan seksual dan isu pernikahan dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosialisasi pendidikan seksual yang dilakukan di sekolah memberikan pemahaman yang lebih baik tentang konsekuensi pernikahan dini, serta meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya kesehatan reproduksi dan juga menunjukan kesadaran lebih tinggi terhadap pentingnya menunda pernikahan hingga usia yang lebih matang. Selain itu, keterlibatan orang tua dan masyarakat juga berperan penting dalam mendukung pendidikan ini. Dengan demikian, sosialisasi pendidikan seksual terbukti efektif dalam mengurangi angka pernikahan dini dan dampak negatifnya di kalangan remaja. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan program pendidikan seksual di sekolah serta kolaborasi dengan pihak terkait untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi remaja.