Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

TANGGAP BAHAYA COVID-19 MELALUI DUKUNGAN SOSIAL DI KECAMATAN SUKASARI KOTA BANDUNG Noneng Nurjanah; Achmad Andriyanto; Ifa Saidatuningtyas; Hilman Setiadi
Merpati: Media Publikasi Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Pos Indonesia Vol. 3 No. 1 (2021): Merpati
Publisher : LPPM Politeknik Pos Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.945 KB) | DOI: 10.36618/merpati.v3i1.1495

Abstract

Dampak dari berbagai kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah menimpa masyarakat yang memiliki penghasilan yang kecil. Dimana peran serta semua elemen masyarakat untuk membantu memberikan dukungan sosial sangat penting bagi kelangsungan hidup. Perilaku hidup sehat dan bersih (PHBS) yang muncul dari kesadaran diri pribadi terbukti menjadi benteng utama untuk mencegah penularan virus corona, sehingga diperlukan pemahaman dan pengetahuan yang massif. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai penyebaran coronavirus, dan memberikan pengetahuan tentang upaya pencegahan penularannya yang salah satu caranya adalah dengan melakukan perilaku hidup sehat dan bersih serta pemberian dukungan fisik pada masyarakat pra-sejahtera yang terdampak di Kecamatan Sukasari, Kota Bandung.
Pelatihan Manajemen Logistik Dan Rantai Pasok di SMKN 11 Bandung Achmad Andriyanto; Noneng Nurjanah; Hilman Setiadi
Merpati: Media Publikasi Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Pos Indonesia Vol. 3 No. 2 (2022): Merpati
Publisher : LPPM Politeknik Pos Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36618/merpati.v3i2.1951

Abstract

SMK Negeri 11 Bandung merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri yang berlokasi di Jl. Budhi, Cilember, Bandung, Jawa Barat. Sejak berdiri dari tahun 1987 SMKN 11 Bandung telah memiliki 5 program keahlian yaitu : (1) Bisnis Daring dan pemasaran; (2) Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran; (3) Akuntansi dan Keuangan Lembaga; (4) Manajemen Logistik, dan; (5) Teknik Komputer Informatika. Tenaga pendidik atau guru merupakan salah satu komponen esensial dan asset dalam suatu sistem pendidikan. Maka kedudukan tenaga pendidik sangatlah strategis, karena disamping melaksanakan tugas sebagai pendidik, mereka juga dituntut untuk dapat mengembangkan kompetensinya. Penguasaan bidang ajar secara menyeluruh khususnya kelompok keahlian manajemen logistik merupakan salah satu syarat wajib untuk dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik dengan baik dan berkualitas, dimana hal ini dirasakan kurang oleh tenaga pendidik keahlian manajemen logistik di SMKN 11 Bandung. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan di atas adalah perlu adanya mekanisme penambahan skill dan knowledge guru melalui pelatihan. Pelatihan merupakan salah satu bagian dari upaya institusi pendidik untuk secara terus-menerus mengembangkan mutu, wawasan, profesionalisme dan kompetensi para tenaga pendidik, sehingga dapat menyampaikan pengetahuan dengan baik dan diterima oleh peserta didik. Metode pelaksanaan kegiatan dalam pengabdian kepada masyarakat ini terdiri dari tahapan yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dokumentasi, persiapan laporan, dan publikasi.
KAJIAN PEMILIHAN REKANAN PADA PERUSAHAAN PT TIRTA GEMAH RIPAH: KAJIAN PEMILIHAN REKANAN PADA PERUSAHAAN PT TIRTA GEMAH RIPAH Achmad Andriyanto; Liane Okdinawati
Competitive Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Competitive
Publisher : Politeknik Pos Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Tirta Gemah Ripah yang dikenal sebagai Tirta Jabar didirikan dengan latar belakang Pemprov Jabar inginmemperbaharui dan mengelola sumber daya air yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. Untukmeningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, PT Gemah Ripah harus memiliki pasangan yang baik dansesuai prosedur, untuk mengetahui perlu melakukan penilaian kinerja Mitra untuk mengevaluasi memakannya.Melalui pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP), dapat diukur dengan kinerja mitra tersebut. Dalammelakukan performance appraisal partner membuat struktur hirarki terlebih dahulu, yaitu penentuan tujuan,kriteria, sub kriteria dan alternatif. Tujuannya adalah penilaian kinerja mitra, untuk kriteria ada harga barang,kualitas barang, kinerja pengiriman, pelayanan dan perilaku. Pada sub kriteria, ada harga bersaing, diskon,standar, konsistensi kualitas, daya tahan, ketepatan waktu, kuantitas, kesesuaian, garansi dan pengaduan yangtepat, dukungan operasional, responsif, kepatuhan hukum dan penyelesaian kontrak. Dan alternatifnya adalahnilai Mitra A, Mitra B, Mitra C, Mitra D, dan Mitra E. AHP untuk masing-masing pasangan berdasarkan kriteriadan sub kriteria di atas adalah A Partner = 0,315; Mitra B = 0,256; Mitra C = 0,199; Mitra D = 0.138; Mitra E =0,102. Penilaian kinerja mitra mungkin tidak bisa dilakukan mitra bisnis atau tidak.
Model Distribusi Industri Pangan di Jawa Barat dengan Menggunakan Pendekatan Causal Loop Sistem Dinamik Achmad Andriyanto; Amri Yanuar
Competitive Vol. 15 No. 1 (2020): Jurnal Competitive
Publisher : Politeknik Pos Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36618/competitive.v15i1.627

Abstract

Industri pangan menjadi salah satu faktor yang dapat menciptakan stabilitas ekonomi daerah, terkhusus di Jawa Barat. Tanaman pangan menjadi salah satu subsektor pertanian yang dominan di Jawa Barat. Tanaman pangan ini didominasi oleh produksi padi, jagung dan kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model distribusi dari industri pangan yang ada di Jawa Barat terkhusus untuk komoditas padi, jagung dan kedelai. Metode yang digunakan untuk menganalisis model distribusinya adalah metode Sistem Dinamik. Dengan Sistem Dinamik diharapkan dapat mengetahui titik lemah proses distribusi yang dilakukan selama ini, sehingga proses distribusinya bisa berjalan dengan baik. Dari model yang dibuat dan dikembangkan dengan metode sistem dinamik, dapat teridentifikasi variabel-variabel apa saja yang berpengaruh terhadap pendistribusian komoditas pangan tersebut. Variabel yang mempengaruhi model distribusi komoditas beras di Jawa Barat yaitu disparitas harga beras yang tinggi dan rantai distribusi beras yang panjang. Variabel yang mempengaruhi model distribusi komoditas jagung pipilan dan kedelai di Jawa Barat yaitu karakteristik pelaku perdagangan yang berbeda antara produsen/petani, pedagang besar dan pengecer; kualitas, disparitas harga, marjin usaha, dan peran sentra produksi dalam memasok pasar; sistem saluran pemasaran yang berkembang.
Pemetaan Teknologi Industri Jagung dari Hulu ke Hilir di Kabupaten Bandung Achmad Andriyanto; Hilman Setiadi
Competitive Vol. 16 No. 1 (2021): Jurnal Competitive
Publisher : Politeknik Pos Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36618/competitive.v16i1.1168

Abstract

Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung Tahun 2016-2036 akan dilakukan pengembangan kawasan pertanian, peternakan, perkebunan, dan lain-lain. Dimana sektor pertanian memiliki potensi terbesar dalam seluruh wilayah kawasan pengembangannya, sehingga kebijakan pengembangannya didominasi pada pengembangan kawasan pertanian. Pengembangan kawasan pertanian meliputi kawasan tanaman pangan dan hortikultura. Jika dibandingkan dengan hortikultura, komoditas pangan di Kabupaten Bandung masih menjadi komoditas unggulan terutama padi, jagung dan kedelai. Ketiga komoditas ini merupakan komoditas pangan yang paling strategis, sehingga terus dikembangkan baik kawasannya maupun proses industrinya. Produksi jagung di Kabupaten Bandung merupakan produksi jagung terbesar yang ada di Jawa Barat. Industri jagung yang ada di Kabupaten Bandung masih didominasi oleh industri di hulu, sehingga jika ingin memiliki daya saing yang tinggi maka harus terjadi keseimbangan antara struktur industri yang ada di hulu dan di hilir serta memaksimalkan nilai tambah dari setiap hasil olahan jagungnya. Keseimbangan antara struktur industri yang ada di hulu dan di hilirnya akan dapat terjadi jika didukung oleh database yang lebih komprehensif dengan memunculkan karakteristik teknologi dan karakteristik pendukungnya. Sehingga dibutuhkan pemetaan teknologi pada industri jagung ini secara menyeluruh, baik di struktur industri hulu maupun industri hilirnya. Subsistem industri hulu merupakan industri yang menghasilkan benih yang unggul sehingga menghasilkan juga varietas yang unggul. Subsistem industri antara merupakan industri yang memproses produk jagung dari hasil olahan daun jagung, buah jagung dan batang jagung. Subsistem industri hilir merupakan industri yang mengolah output industri antara menjadi produk akhir dari bahan baku jagung ini. Penelitian ini akan memetakan baik kekuatan maupun kelemahan dari teknologi industri jagung di Kabupaten Bandung dari tinjauan rantai nilai industri jagung dan kapabilitas teknologinya. Hasil dari pemetaan teknologi ini akan digunakan sebagai landasan pengembangan seluruh struktur industri jagung dari hulu sampai ke hilirnya.
PEMANFAATAN SISTEM RESI GUDANG DI CV TRIANOM AGROTEKTUR (KADATUAN KOFFIE) DENGAN IKATAN KELOMPOK TANI Achmad Andriyanto; Hilman Setiadi; Gayuh Minang Lati; Mubassiran Mubassiran
Merpati: Media Publikasi Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Pos Indonesia Vol. 4 No. 2 (2023): Merpati
Publisher : LPPM Politeknik Pos Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36618/merpati.v4i2.2827

Abstract

Coffee farmers are still often faced with the problem of unstable coffee selling prices during the harvest season to a price level that is not profitable for farmers. This problem often occurs in almost all agricultural commodity producers. Meanwhile, agricultural commodities themselves are very vulnerable to price fluctuations where during the main harvest the price will fall, while during a famine, prices will soar. One way to overcome this problem is to delay the sale of their crops, but farmers will need money in cash to finance their daily needs. One alternative way to deal with the various losses incurred by farmers due to the drop in coffee prices is to implement a warehouse receipt system. The Warehouse Receipt System (SRG) is a system innovation created by the Ministry of Trade (Kemendag). This WRS aims to overcome various problems that occur during the harvest season. The main problem that often occurs when the harvest season arrives is the decline in commodity prices. This will certainly be detrimental to both farmers. When using SRG, farmers will feel the benefits. Utilization of WRS that will be obtained by farmers is the profit from the difference in selling prices obtained during harvest and post-harvest. The benefits of this WRS will be obtained by the availability of facilities and infrastructure in the warehouse. However, not all farmers are willing to use this WRS. Therefore, in implementing WRS, it is necessary to provide training in the form of outreach, education, and success stories to farmers and institutions such as cooperatives to accommodate their crops. Based on the results of the implementation of community service entitled "Utilization of the Warehouse Receipt System at CV Trianom Agrotektur (Kadatuan Koffie) with Farmers Group Association", the following conclusions are obtained: (1) Training can increase farmers' knowledge regarding the use of the Warehouse Receipt System (WRS); (2) Training encourages better problem solving through discussion and exchange of opinions regarding the utilization of the Warehouse Receipt System (WRS).
Model Distribusi Industri Pangan di Jawa Barat dengan Menggunakan Pendekatan Causal Loop Sistem Dinamik Achmad Andriyanto; Amri Yanuar
Competitive Vol. 15 No. 1 (2020): Jurnal Competitive
Publisher : PPM Universitas Logistik dan Bisnis Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36618/competitive.v15i1.627

Abstract

Industri pangan menjadi salah satu faktor yang dapat menciptakan stabilitas ekonomi daerah, terkhusus di Jawa Barat. Tanaman pangan menjadi salah satu subsektor pertanian yang dominan di Jawa Barat. Tanaman pangan ini didominasi oleh produksi padi, jagung dan kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model distribusi dari industri pangan yang ada di Jawa Barat terkhusus untuk komoditas padi, jagung dan kedelai. Metode yang digunakan untuk menganalisis model distribusinya adalah metode Sistem Dinamik. Dengan Sistem Dinamik diharapkan dapat mengetahui titik lemah proses distribusi yang dilakukan selama ini, sehingga proses distribusinya bisa berjalan dengan baik. Dari model yang dibuat dan dikembangkan dengan metode sistem dinamik, dapat teridentifikasi variabel-variabel apa saja yang berpengaruh terhadap pendistribusian komoditas pangan tersebut. Variabel yang mempengaruhi model distribusi komoditas beras di Jawa Barat yaitu disparitas harga beras yang tinggi dan rantai distribusi beras yang panjang. Variabel yang mempengaruhi model distribusi komoditas jagung pipilan dan kedelai di Jawa Barat yaitu karakteristik pelaku perdagangan yang berbeda antara produsen/petani, pedagang besar dan pengecer; kualitas, disparitas harga, marjin usaha, dan peran sentra produksi dalam memasok pasar; sistem saluran pemasaran yang berkembang.
Pemetaan Teknologi Industri Jagung dari Hulu ke Hilir di Kabupaten Bandung Achmad Andriyanto; Hilman Setiadi
Competitive Vol. 16 No. 1 (2021): Jurnal Competitive
Publisher : PPM Universitas Logistik dan Bisnis Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36618/competitive.v16i1.1168

Abstract

Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung Tahun 2016-2036 akan dilakukan pengembangan kawasan pertanian, peternakan, perkebunan, dan lain-lain. Dimana sektor pertanian memiliki potensi terbesar dalam seluruh wilayah kawasan pengembangannya, sehingga kebijakan pengembangannya didominasi pada pengembangan kawasan pertanian. Pengembangan kawasan pertanian meliputi kawasan tanaman pangan dan hortikultura. Jika dibandingkan dengan hortikultura, komoditas pangan di Kabupaten Bandung masih menjadi komoditas unggulan terutama padi, jagung dan kedelai. Ketiga komoditas ini merupakan komoditas pangan yang paling strategis, sehingga terus dikembangkan baik kawasannya maupun proses industrinya. Produksi jagung di Kabupaten Bandung merupakan produksi jagung terbesar yang ada di Jawa Barat. Industri jagung yang ada di Kabupaten Bandung masih didominasi oleh industri di hulu, sehingga jika ingin memiliki daya saing yang tinggi maka harus terjadi keseimbangan antara struktur industri yang ada di hulu dan di hilir serta memaksimalkan nilai tambah dari setiap hasil olahan jagungnya. Keseimbangan antara struktur industri yang ada di hulu dan di hilirnya akan dapat terjadi jika didukung oleh database yang lebih komprehensif dengan memunculkan karakteristik teknologi dan karakteristik pendukungnya. Sehingga dibutuhkan pemetaan teknologi pada industri jagung ini secara menyeluruh, baik di struktur industri hulu maupun industri hilirnya. Subsistem industri hulu merupakan industri yang menghasilkan benih yang unggul sehingga menghasilkan juga varietas yang unggul. Subsistem industri antara merupakan industri yang memproses produk jagung dari hasil olahan daun jagung, buah jagung dan batang jagung. Subsistem industri hilir merupakan industri yang mengolah output industri antara menjadi produk akhir dari bahan baku jagung ini. Penelitian ini akan memetakan baik kekuatan maupun kelemahan dari teknologi industri jagung di Kabupaten Bandung dari tinjauan rantai nilai industri jagung dan kapabilitas teknologinya. Hasil dari pemetaan teknologi ini akan digunakan sebagai landasan pengembangan seluruh struktur industri jagung dari hulu sampai ke hilirnya.
Penerapan Metode Material Requirement Planning (MRP) dalam Pengendalian dan Perencanaan Persediaan Bahan Baku Semen Instan Variasi X pada PT XYZ Putri Wahyudiana, Qoulina Sakilah; Nurjanah SP.,MT, Noneng; Thorfiani, Dera; Andriyanto,ST.,MT, Achmad
Go-Integratif : Jurnal Teknik Sistem dan Industri Vol. 4 No. 02 (2023): Go-Integratif : Jurnal Teknik Sistem dan Industri
Publisher : Engineering Faculty at Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35261/gijtsi.v4i02.9967

Abstract

XYZ Company is the largest manufacturing company in Indonesia that produces various materials such as instant cement, lightweight bricks (AAC), wall panels, and floor panels. However, the company faces challenges in the supply of raw materials, which hinder the production process and lead to product shortages. The most frequent shortages occur in the 210 instant cement product, with a shortage rate of 99.3% over a six-month period from October 2022 to March 2023. This study employs the Material Requirement Planning (MRP) method to address this issue. The objective is to plan the scheduling of raw material orders and project future requirements. Data on demand, inventory, raw material structures, and supporting data are used in the calculations. As a result, the scheduling of raw material orders for the 210 instant cement product is conducted for three consecutive months, namely April, May, and June 2023. Each month, raw materials such as silica sand, lime, cement, and additives are meticulously planned with several orders based on the lead time of each material.
USULAN PERBAIKAN TATA LETAK GUDANG MENGGUNAKAN METODE CLASS BASED STORAGE: (Studi Kasus: PT. XYZ, Bandung) Anggareksa, Teguh; Lati, Gayuh Minang; Andriyanto, Achmad
JISO : Journal of Industrial and Systems Optimization Vol. 7 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/jiso.v7i2.32-38

Abstract

ABSTRAKDalam operasional gudang terdapat berbagai faktor yang harus diperhatikan, salah satunya tata letak gudang. Faktor tersebut sering dianggap remeh oleh kebanyakan perusahaan manufaktur dan menyebabkan sering terjadi permasalahan penumpukan material. Permasalahan tersebut dialami juga oleh perusahaan PT XYZ. Oleh karena itu pada penelitian ini, penulis akan menganalisis tata letak gudang PT XYZ, khususnya pada material defend. PT tersebut memiliki gudang seluas 192 meter persegi. Metode yang digunakan adalah metode class based storage. Metode class based storage adalah cara untuk menyimpan barang di gudang. Material dipisah menjadi tiga kelas, disebut A, B, dan C, dengan analisis ABC yang telah dilakukan sebelumnya digunakan untuk menentukan aktivitas penerimaan dan pengeluaran gudang. Diketahui bahwa kelas A mempunyai nilai 29,69% dengan jumlah kategori sebanyak 19 kategori, kelas B mempunyai nilai 28,13% dengan jumlah kategori sebanyak 18 kategori, kelas C mempunyai nilai 42,19% dengan jumlah kategori sebanyak 27 kategori. Tata letak usulan dapat mengurai penumpukan material di akes jalan dan di tempat penyimpanan. Pada tata letak usulan untuk penumpukan material yang terdapat di area jalan mempunyai area tersendiri. perbandingan jarak perpindahan material sebelum dan sesudah perubahan tata letak gudang adalah memiliki selisih 34,1% atau 6.914 meter. Hasil sebelum perubahan sebesar 20.273 meter, sedangkan hasil setelah perubahan sebesar 13.359 meter. ABSTRACTIn the warehouse operations, there are various factors that must be considered, one of which is the warehouse layout. These factors are often to be underestimated by most manufacturing companies and cause frequent problems with the material being excessive . This problem was also experienced in PT XYZ. Therefore, in this research, the author will analyze the layout of PT XYZ's warehouse, especially the defense material. The PT has a warehouse covering an area of 192 square meters. The method used is the class based storage. The class based storage method is a way to store goods in a warehouse. Goods are divided into three classes, called A, B, and C, and the ABC analysis that has been carried out previously is used to determine warehouse receipt and expenditure activities. It is known that class A has a value of 29.69% with a total of 19 categories, class B has a value of 28.13% with a total of 18 categories, class C has a value of 42.19% with a total of 27 categories. The proposed layout can reduce the excessive of material on the walking area and in storage areas. In the proposed layout for the accumulation of materials in the walking area there is a separate area. The comparison of material movement distance before and after changes to the warehouse layout is 34.1% or 6,914 meters. The results before the changes were 20,273 meters, while the results after the changes were 13,359 meters.