Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Perbedaan Gula Darah Sewaktu Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Sebelum Dan Sesudah Pemberian Totok Punggung Lie Liana Fuadiati; Eka Mei Dianita; Ananda Patuh Padaallah
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i7.20107

Abstract

ABSTRACT A problem that often arises from patients is blood sugar instability. Currently, in addition to pharmacological treatment (medical drugs), non-pharmacological therapy and alternative therapies are widely developed. Not to replace medical treatment, but used as a support for medical treatment. One of the non-pharmacological therapies is back acupressure. The purpose of this study was to determine the average random blood sugar in patients with type 2 diabetes mellitus before and after back acupressure and to determine whether there was a difference in random blood sugar in patients with type 2 diabetes mellitus before and after back acupressure. Experimental design research design, using one group pretest-posttest control group design. The sample in this study were 35 diabetes mellitus. The sampling technique used purposive sampling with inclusion and exclusion criteria determined by the researcher. The measuring instrument in this study used a glucometer which functions to measure blood sugar levels. Data analysis in this study used the Wilcoxon-test, because the data was not normally distributed. The results of this study were that the average blood sugar levels of respondents before the intervention were 234 mg/dL and the average blood sugar levels of respondents after the intervention were 223 mg/dL. The results of the statistical test analysis using the Wilcoxon pre-post blood sugar test for patients with diabetes mellitus obtained sig. (tailed) or a p value of 0.000 α, which means that H1 is accepted or there is a difference in the average between before and after the intervention. Back acupressure helps improve blood circulation and stimulates organs that play a role in sugar metabolism, thereby helping to lower blood sugar levels. It can be concluded that there is a difference in blood sugar levels when patients with diabetes mellitus before and after back acupressure is given. Keywords: Random Blood Sugar Levels, Back Acupressure.  ABSTRAK Masalah yang seringkali muncul dari pasien adalah ketidakstabilan gula darah. Saat ini selain pengobatan farmakologis (obat-obatan medis), terapi non farmakologis dan terapi alternatif banyak dikembangkan. Bukan untuk menggantikan pengobatan medis, namun digunakan sebagai pendukung pengobatan medis. Salah satu terapi non farmakologis yaitu totok punggung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi rerata gula darah sewaktu pada pasien diabetes mellitus tipe 2 sebelum dan sesudah pemberian totok punggung dan mengetahui adakah perbedaan gula darah sewaktu pada pasien diabetes mellitus tipe 2 sebelum dan sesudah pemberian totok punggung. Desain penelitian experimental design, menggunakan one group pretest-posttest control group design. Sampel pada penelitian ini adalah 35 pasien diabetes mellitus. Teknik Sampling menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditentukan peneliti. Alat ukur pada penelitian ini menggunakan glucometer yang berfungsi untuk mengukur kadar gula dalam darah. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Wilcoxon-test, dikarenakan data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian pada penelitian ini adalah rerata kadar gula darah responden sebelum intervensi rata-rata 234 mg/dL dan rata-rata gula darah responden sesudah intervensi 223 mg/dL. Hasil analisis uji statistik menggunakan Uji Wilcoxon pre-post gula darah pasien diabetes mellitus diperoleh sig.(tailed) atau nilai p sebesar 0,000 α, yang berarti H1 diterima atau ada perbedaan rata-rata antara sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Totok punggung membantu meningkatkan sirkulasi darah dan merangsang organ-organ yang berperan dalam metabolisme gula, sehingga membantu menurunkan kadar gula darah. Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaann gula darah sewaktu pasien diabetes mellitus sebelum dan sesudah pemberian totok punggung. Kata Kunci: Kadar Gula Darah Sewaktu, Totok Punggung.
Penerapan Terapi Musik Suara Alam dan Aromaterapi Chamomile Terhadap Mual Muntah dan Kecemasan Pasien Gastritis Lie Liana Fuadiati; Desy Rinawaty; Afiatur Rohimah
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i1.22058

Abstract

ABSTRACT Gastritis is a disease that can affect all levels of society, most commonly affecting those of productive age. People in productive age are vulnerable to infection due to busy schedules, a lifestyle that doesn't pay attention to health, and the stress they experience. Gastritis can recur, and relapses are influenced by poor diet and stress factors.Analyzing the application of natural sound music therapy and chamomile aromatherapy on nausea, vomiting and anxiety in gastritis patients. This study used a Quasi-Experimental Pre-Post Test with One Group Design. The sample in this study were 36 gastritis patients. The research instrument was the DASS 42 (Depression Anxiety Stress Scale) questionnaire to measure anxiety consisting of 14 questions, and nausea and vomiting were measured using a nausea and vomiting questionnaire consisting of 3 questions. Data analysis in this study used the Wilcoxon Test statistical test. Nausea and vomiting of respondents before the intervention were mostly moderate, as many as 21 respondents (58.3%). And nausea and vomiting of respondents after the intervention were mostly mild, as many as 15 respondents (41.6%). Anxiety of respondents before the intervention was mostly moderate, as many as 12 respondents (33.33%). And anxiety of respondents after the intervention Most had mild anxiety, as many as 16 respondents (44.44%). The results of the Wilcoxon test of nausea and vomiting in gastritis patients after natural sound music therapy and chamomile aromatherapy showed that Sig. was 0.000 or 0.05. The results of the Wilcoxon test of anxiety in gastritis patients after natural sound music therapy and chamomile aromatherapy showed that Sig. was 0.000 or 0.05. The application of natural sound music therapy and chamomile aromatherapy has been shown to have an effect on nausea, vomiting, and anxiety in gastritis patients. Classical music plays a crucial role in relieving mental tension and neutralizing emotions. By utilizing a regular tempo, rhythm, melody, and harmony, classical music can stimulate alpha and beta waves in the brain, providing a relaxing and calming effect. Aromatherapy affects the nervous system. When inhaled, aromatherapy stimulates the olfactory nerve and is transmitted to the hypothalamus, which then triggers the release of chemicals in the brain that have a calming and relaxing effect. Keywords: Nature Music, Aromatherapy, Nausea and Vomiting, Anxiety  ABSTRAK Gastritis merupakan penyakit yang dapat menyerang semua kalangan Masyarakat, paling banyak menyerang usia produktif. Di usia produktif masyarakat rentan terserang karena tingkat kesibukan, gaya hidup yang kurang memperhatikan kesehatan serta stres yang mudah dialami. Gastritis dapat mengalami kekambuhan dimana kekambuhan terjadi dipengaruhi oleh pola makan yang tidak baik dan faktor stress. Menganalisis penerapan terapi musik suara alam dan aromaterapi chamomile terhadap mual muntah dan kecemasan pasien gastritis. Desain penelitian ini menggunakan Quasi Experimental Pre Post Test with One Group Design. Sampel pada penelitian ini adalah 36 pasien gastritis. Instrumen penelitian ini yaitu Kuesioner DASS 42 (Depression Anxiety, Stres Scale) untuk mengukur kecemasan terdiri dari 14 pertanyaan dan mual muntah diukur dengan kuesioner mual muntah terdiri dari 3 pertanyaan. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji statistik Wilcoxon Test. Mual muntah responden sebelum intevensi sebagian besar sedang sebanyak 21 responden (58,3%). Dan mual muntah responden sesudah intevensi sebagian besar ringan sebanyak 15 responden (41,6%). Kecemasan responden sebelum intevensi sebagian besar memiliki kecemasan sedang sebanyak 12 responden (33,33%). Dan kecemasan responden sesudah intevensi Sebagian besar memiliki kecemasan ringan sebanyak 16 responden (44,44%). Hasil Uji Wilcoxon mual muntah pada pasien gastritis sesudah terapi musik suara alam dan aromaterapi chamomile menunjukkan bahwa Sig. sebesar 0,000 atau 0,05. Hasil Uji Wilcoxon kecemasan pada pasien gastritis sesudah terapi musik suara alam dan aromaterapi chamomile menunjukkan bahwa Sig. sebesar 0,000 atau 0,05. Terdapat pengaruh penerapan terapi musik suara alam dan aromaterapi chamomile terhadap mual muntah dan kecemasan pasien gastritis. Musik  klasik  memiliki  peran penting dalam meredakan  ketegangan pikiran dan menetralkan emosi. Dengan  memanfaatkan tempo, ritme, melodi, dan harmoniyang teratur, musik klasik mampu merangsang  gelombang  alfa  dan  beta  pada  otak,  memberikan efek  rileks  dan  ketenangan. Aromaterapi berpengaruh pada sistem saraf. Saat dihirup, aromaterapi merangsang saraf penciuman (olfactory nerve) dan diteruskan ke hipotalamus, yang kemudian memicu pelepasan zat kimia di otak yang memberikan efek tenang dan rileks. Kata Kunci: Musik Alam, Aromaterapi, Mual Muntah, Kecemasan.
Efektivitas Relaksasi Autogenik dan Mindfulness Terhadap Tingkat Stres dan Kecemasan Pasien Stroke Lie Liana Fuadiati; Desy Rinawaty; Nadhifah Rahmawati; Putu Sintya Arlinda Arsa; Luluk Nur Aini; Ariefatun Nisa
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55624

Abstract

Latar Belakang: Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di seluruh dunia, sehingga sering menimbulkan stres dan kecemasan. Salah satu intervensi nonfarmakologis terbukti efektif dalam menurunkan stres dan kecemasan adalah relaksasi autogenik dan mindfulness. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas relaksasi autogenik dan mindfulness terhadap tingkat stres dan kecemasan pasien stroke. Metode : Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen one group pretest-posttest dengan jumlah sampel 32 pasien. Intervensi relaksasi autogenik dan mindfulness diberikan selama 4 minggu, dalam 1 minggu pasien mendapat 3 kali terapi selama 30 menit. Stres dan kecemasan diukur menggunakan DASS 42 (Depression Anxiety, Stres Scale). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Relaksasi autogenik dan mindfulness efektif menurunkan stres dan kecemasan pasien stroke dengan nilai Sig. 0,000 < 0,005. Simpulan: Relaksasi autogenik dan mindfulness efektif menurunkan tingkat stres dan kecemasan pasien stroke. Kata Kunci: Relaksasi Autogenik, Mindfulness, Stres, Kecemasan
Kombinasi Brisk Walking Exercise dan Relaksasi Deep Breathing Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi Desy Rinawaty; Lie Liana Fuadiati; Ramli Herikzah; Muh. Nur Syamsu
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.22552

Abstract

ABSTRACT Hypertension is a chronic disease characterized by elevated blood pressure above normal. Hypertension is caused by changes in peripheral blood vessels that lead to changes in blood pressure. When hypertension is not properly managed, it can lead to complications. To prevent these complications, therapy is needed to control blood pressure. To determine the effect of brisk walking exercise and deep breathing relaxation therapy on blood pressure in hypertensive patients. This study used a quasy-experimental design with a one-group pre-test-post-test design. The sample consisted of 30 hypertensive patients. The research instrument used a sphygmomanometer to measure blood pressure. Data analysis used the Wilcoxon test. The mean systolic blood pressure before the intervention was 169.00 and the mean post-intervention was 138.33. The mean diastolic blood pressure before the intervention was 96.67 and the mean post-intervention was 8.33. The Wilcoxon test for systolic and diastolic blood pressure yielded an Asymp.Sig. value of 0.000, thus concluding that the application of brisk walking exercise and deep breathing relaxation therapy has an effect on blood pressure in hypertensive patients. The application of brisk walking exercise and deep breathing relaxation therapy has an effect on blood pressure in hypertensive patients. Keywords: Brisk Walking Exercise , Deep breathing Relaxation , Blood Pressure , Hypertension.  ABSTRAK Hipertensi merupakan suatu penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah lebih dari normal. Hipertensi disebabkan oleh perubahan pembuluh    darah    perifer    yang    menyebabkan perubahan tekanan darah. Ketika hipertensi tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan komplikasi. Untuk mencegah komplikasi tersebut perlu adanya terapi yang dilakukan untuk mengontrol tekanan darah.  Mengetahui pengaruh penerapan terapi brisk walking exercise dan relaksasi deep breathing terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi. Desain penelitian ini menggunakan Quasy Experimental dengan rancangan One Group Pre Test Post Test Design. Sampel pada penelitian ini adalah 30 pasien hipertensi. Instrumen penelitian ini yaitu tensimeter untuk mengukur tekanan darah. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji statistik Wilcoxon Test. Nilai mean tekanan darah sistolik sebelum intevensi sebesar 169.00 dan nilai mean sesudah setelah intervensi sebesar 138.33. Sedangkan nilai mean tekanan darah diastolic seebelum intervensi sebesar 96.67 dan nilai mean sesudah intervensi sebesar  8.33.  Hasil uji Wilcoxon tekanan darah sistolik dan diastolik didapatkan nilai Asymp.Sig sebesar 0.000 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penerapan terapi brisk walking exercise dan relaksasi deep breathing  terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi. Terdapat pengaruh penerapan terapi brisk walking exercise dan relaksasi deep breathingterhadap tekanan darah pasein hipertensi.  Kata Kunci: Brisk Walking Exercise , Relaksasi Deep Breathing , Tekanan Darah , Hipertensi.
PENGARUH PIJAT COMMON COLD TERHADAP WAKTU SEMBUH BATUK PILEK PADA ANAK USIA 0-3 TAHUN DI TPMB DWI AGUSTIN PANDAAN PASURUAN: THE EFFECT OF COMMON COLD MASSAGE ON COUGH AND COLD RECOVERY TIME IN CHILDREN AGED 0-3 YEARS IN TPMB DWI AGUSTIN PANDAAN PASURUAN Syafia Rahma Syafitri; Nurul Anjarwati; Lie Liana Fuadiati; Siti Kholifah
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.489

Abstract

Abstrak Masalah yang sering kali dialami oleh anak usia 0-3 tahun yaitu batuk pilek yang disebabkan oleh iritasi saluran pernapasan, alergi, melemahnya sistem kekebalan tubuh dan lingkungan yang kurang baik. Biasanya mereka akan mengalami bersin-bersin, hidung meler, dan disertai dengan demam. Anak usia 0-3 tahun sangatlah sulit untuk meminum obat oral, karena mereka cenderung rewel sehingga obat oral tidak cukup untuk memulihkan kondisi anak. Maka dari itu, pemberian pijat Common Cold sangat disarankan karena pijat ini merupakan terapi relaksasi untuk mengurangi perasaan depresi dan gelisah pada kondisi gangguan saluran napas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pijat common cold terhadap waktu sembuh batuk pilek pada anak usia 0-3 tahun di TPMB Dwi Agustin Pandaan Pasuruan pada kelompok kontrol dan intervensi. Jenis desain yang digunakan pada penelitian ini adalah quasi experimental design dengan posttest-only control group designl yang membandingkan kelompok tanpa dilakukan intervensi dan setelah dilakukan intervensi. Sample terdiri dari 80 anak usia 0-3 tahun dengan 40 kelompok kontrol dan 40 kelompok intervensi dengan menggunakan teknik total sampling. Hasil dari uji analisa menggunakan Mann Whitney yang digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan waktu sembuh pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi mendapatkan hasil 0.000 (p value <0.005). Dapat disimpulkan bahwasannya terdapat pengaruh pada pijat common cold untuk mempercepat waktu sembuh batuk pilek. ABSTRACT Common health problems experienced by children aged 0–3 years include cough and cold, which are generally caused by respiratory tract irritation, allergies, weakened immune systems, and unfavorable environmental conditions. The symptoms commonly include sneezing, runny nose, and are sometimes accompanied by fever. At this age, children often have difficulty taking oral medications due to irritability, making pharmacological treatment alone insufficient to accelerate recovery. One non-pharmacological therapy that can be applied is common cold massage. This therapy is a form of relaxation that may help reduce discomfort, anxiety, and respiratory disturbances. The purpose of this study was to determine the effect of common cold massage on the recovery time of cough and cold in children aged 0–3 years at TPMB Dwi Agustin Pandaan, Pasuruan, by comparing the control group and the intervention group. This study employed a quasi-experimental design with a posttest control group approach, comparing a group that did not receive the intervention with a group that received the intervention. The sample consisted of 80 children aged 0–3 years, divided into 40 children in the control group and 40 children in the intervention group, using a total sampling technique. The results of the analysis using the Mann–Whitney test showed a p-value of 0.000 (p < 0.005), indicating a significant difference in recovery time between the control and intervention groups. In conclusion, common cold massage has an effect on accelerating the recovery time of cough and cold in children aged 0–3 years
Educational Demonstration of Eye Exercises Video Based Affected Knowledge, Anxiety, Self-Resilience of Cataract Patients Lie liana Fuadiati; Desy Rinawaty; Nadhifah Rahmawati; Afiatur Rohimah
Journal of Ners and Midwifery Vol 12 No 1 (2025)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v12i1.ART.p035-043

Abstract

Cataracts are the main cause of blindness throughout the world which can actually be prevented. Lack of knowledge, increased anxiety and lack of self-resilience in cataract patients cause patients to be afraid to seek treatment from health services. The research design used Quasi Experimental Pre-Post Test with One Group Design. The sample in this research was 42 cataract patients. The instrument for this research was the Knowledge, Anxiety and Self-Resilience Questionnaire. Data analysis in this research used the Wilcoxon Test statistical test. The results of the Wilcoxon Test of knowledge in the experimental group showed that Sig. equal to 0.000 or <0.05 (error level), meant that there was a difference in knowledge results before and after treatment. Meanwhile, the results of the Wilcoxon test for anxiety in the experimental group showed that Sig. equal to 0.008 or <0.05 (error level), it could be concluded that there was a difference in anxiety results before and after treatment. And the results of the Wilcoxon Test of self-reliance in the experimental group showed that Sig. equal to 0.000 or <0.05 (error level), meant that there was a difference in the results of self-resilience before and after being given treatment. Video-based Educational Demonstration Of Eye Exercises is effective for increasing knowledge, reducing anxiety and increasing self-resilience in cataract patients. Health workers can increase knowledge about cataracts and non-pharmacological therapy independently to increase personal resilience and reduce anxiety in cataract patients, as an effort to improve optimal health services.
Pengaruh Terapi Bermain Balon Tiup Terhadap Tingkat Nyeri Saat Pemasangan Infus Pada Anak Usia Sekolah Di RS Prima Husada Malang Fathimatuzzahro; Nurul Anjarwati; Lie Liana Fuadiati
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i2.2149

Abstract

Pemasangan infus merupakan prosedur invasif yang sering menimbulkan nyeri pada anak usia sekolah. Rasa nyeri ini dapat menimbulkan kecemasan, trauma, dan penolakan terhadap tindakan medis. Distraksi nonfarmakologis, seperti terapi bermain balon tiup, dapat digunakan untuk mengalihkan perhatian anak dari nyeri. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest dengan responden 30 anak usia sekolah yang dipilih melalui purposive sampling di RS Prima Husada Malang. Tingkat nyeri diukur menggunakan Wong-Baker Faces Pain Rating Scale. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Sebelum diberikan intervensi, mayoritas anak mengalami nyeri sedang hingga berat, dengan distribusi terbanyak pada skor 8 dan 9. Setelah diberikan terapi bermain balon tiup, sebagian besar responden mengalami penurunan tingkat nyeri dan berpindah ke kategori nyeri ringan hingga sedang. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara tingkat nyeri sebelum dan sesudah intervensi (p < 0,001). Terapi bermain balon tiup terbukti efektif menurunkan nyeri pada anak usia sekolah saat pemasangan infus. Intervensi ini sederhana, murah, dan mudah diaplikasikan sehingga dapat digunakan sebagai strategi distraksi nonfarmakologis dalam praktik keperawatan pediatrik untuk meningkatkan kenyamanan anak selama prosedur invasif.
Pengaruh Terapi Rima Terhadap Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi Appendiktomi Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Prima Husada Malang Dyah Palupi; Putu Sintya Arlinda Arsa; Lie Liana Fuadiati
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i2.2155

Abstract

Apendisitis merupakan salah satu kasus akut terbanyak yang membutuhkan tindakan pembedahan, yaitu apendektomi. Pasien pasca apendektomi umumnya mengalami nyeri akut yang dapat memengaruhi pemulihan fisik maupun psikologis. Terapi nonfarmakologis seperti RIMA (Relaxation, Autogenic Movement, and Affirmation) dapat digunakan sebagai alternatif untuk membantu menurunkan intensitas nyeri. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh terapi RIMA terhadap tingkat nyeri pada pasien pasca operasi apendektomi di ruang rawat inap RS Prima Husada Malang. Desain penelitian menggunakan pre-experimental dengan pendekatan one group pre-test post-test. Sampel berjumlah 32 responden yang ditentukan dengan teknik total sampling. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah diberikan terapi RIMA. Pengumpulan data dilakukan pada 1 Juli–31 Agustus 2025 di ruang rawat inap RS Prima Husada Malang. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata intensitas nyeri sebelum intervensi sebesar 4,125 (kategori nyeri sedang), sedangkan setelah diberikan terapi RIMA menurun menjadi 2,719 (kategori nyeri ringan). Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,001 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan terapi RIMA terhadap penurunan intensitas nyeri akut pasca apendektomi. Dengan demikian, terapi RIMA terbukti efektif menurunkan nyeri akut dan dapat dijadikan salah satu intervensi nonfarmakologis mandiri oleh perawat dalam manajemen nyeri di rumah sakit. Kendala yang ditemukan adalah beberapa pasien mengalami kesulitan melakukan bagian autogenic movement karena adanya jahitan di area perut yang menyebabkan keterbatasan mobilisasi, khususnya pada gerakan kaki.