Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Pappasang

Tindak Pidana Perzinahan dalam Persfektif Hadis Dol, Sri Karmila; Hafid, Arwin; Rasyid, Muhammad Dirman; Reskiani, Anugrah
PAPPASANG Vol. 7 No. 1 (2025): Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v7i1.1778

Abstract

Abstract: This paper discusses adultery as a criminal offense in Islam based on the Prophetic traditions. It aims to explore the concept of zina, the sanctions imposed on perpetrators, and the relevance of applying Islamic criminal law in contemporary social contexts. Using a normative-theological approach and qualitative descriptive methods, the data are obtained from primary sources in the form of authentic hadiths and supported by secondary literature. The study reveals that Islam imposes firm sanctions against adultery, such as stoning for married offenders (muḥṣan) and flogging for unmarried ones (gairu muḥṣan), serving both as a preventive and educational measure to uphold public morality. In Indonesia, its application faces legal challenges, as adultery is classified as a complaint-based offense. This study recommends a reformulation of national criminal policies grounded in hadith values to realize a fair and moral legal system. Abstrak: Tulisan ini membahas perzinaan sebagai salah satu bentuk tindak pidana dalam Islam berdasarkan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam konsep zina, sanksi terhadap pelakunya, serta relevansi penerapan hukum zina dalam konteks sosial kontemporer. Menggunakan pendekatan normatif-teologis dan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh dari literatur primer berupa hadis-hadis ṣaḥīḥ serta literatur sekunder pendukung lainnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam menetapkan sanksi tegas terhadap zina, seperti rajam bagi pelaku yang telah menikah (muḥṣan) dan cambuk bagi yang belum menikah (gairu muḥṣan), sebagai upaya preventif dan edukatif dalam menjaga moralitas publik. Dalam konteks Indonesia, penerapan hukum ini dihadapkan pada sistem hukum nasional yang menetapkan zina sebagai delik aduan. Kajian ini merekomendasikan reformulasi kebijakan hukum pidana nasional berbasis nilai-nilai hadis, demi mewujudkan sistem hukum yang adil dan bermoral.
Dari Etika Domestik ke Etika Kekuasaan: Membaca Qiwa>mah dalam QS. al-Nisa>‘/4:34 Rasyid, Muhammad Dirman; Reskiani, Anugrah; Nur Murdan, Muhammad; Makmur
PAPPASANG Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v7i2.2113

Abstract

This article examines the concept of qiwa>mah in QS. al-Nisa>‘/4:34 by going beyond interpretations that limit it to domestic ethics in husband-wife relationships. Through a qualitative approach based on literature study and semantic-relational analysis, this article shows that qiwa>mah not only functions as a normative status or legitimization of gender hierarchy, but also as an ethical function that arises from certain excess (fad}l) and is manifested through concrete responsibility (anfaq). By placing the family as the smallest social unit, QS. al-Nisa>‘/4:34 can be read as a pedagogical medium of the Qur’an to explain the principles of managing asymmetrical relationships ethically. This reading places qiwa>mah as a framework of the ethics of power that emphasizes protection, justice, and the prevention of injustice, and is relevant to broader social and political relations. Artikel ini mengkaji konsep qiwa>mah dalam QS. al-Nisa>‘/4:34 dengan melampaui pembacaan yang membatasinya sebagai etika domestik dalam relasi suami-istri. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dan analisis semantik-relasional, artikel ini menunjukkan bahwa qiwa>mah tidak hanya berfungsi sebagai status normatif atau legitimasi hierarki gender, melainkan juga sebagai fungsi etis yang lahir dari kelebihan (fad}l) tertentu dan diwujudkan melalui tanggung jawab konkret (anfaq). Dengan menempatkan keluarga sebagai unit sosial terkecil, QS. al-Nisa>‘/4:34 dapat dibaca sebagai medium pedagogis Al-Qur’an untuk menjelaskan prinsip pengelolaan relasi asimetris secara etis. Pembacaan ini menempatkan qiwa>mah sebagai kerangka etika kekuasaan yang menekankan perlindungan, keadilan, dan pencegahan kezaliman, serta relevan bagi relasi sosial dan politik yang lebih luas