Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pengaruh Perbedaan Arus Pengelasan pada Sambungan Pipa Baja API SL Gr B Adi Ganda Putra; Pawawoi
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 7 No 1 (2008): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol7no1.281

Abstract

Baja karbon merupakan salah satu jenis bahan yang berasal dari jenis logam ferro dimana memiliki pembagian yang salah satunya adalah baja karbon rendah. Baja AP! 5 L grade B salah satu contoh dari sekian banyak jenis baja karbon rendah. Baja ini biasa digunakan sebagai pipa penyalur (pipe line) maupun proses pemipaan (piping process). Dan pengelasan merupakan proses penyambungan yang dilakukan pada konstruksi pipa tersebut, dimana banyak proses pengelasan yang dapat dipilih guna mendapatkan hasil yang terbaik. Akan tetapi, pada kenyataannya sebaik apapun desain yang dirancang, cacat selalu mengikuti setiap prosesnya. Untuk itu kesalahan jangan sampai terulang kedua kali dimana cacat yang terjadi tidak dapat terdeteksi oleh sebab pengujian yang dilakukan harus sesuai dengan standar yang ada, pada pengujian kali ini standar yang digunakan adalah API 1104 yang sesuai dengan proses pemipaan untuk migas. Perbedaan arus pengelasan yang digunakan pada sambungan pipa baja dapat mengurangi cacat pada sambungan pipa baja sehingga kegagalan pada sambungan tersebut dapat dihilangkan.
Analisis Kegagalan Mur Heavy Hexagonal pada Valve Flange dalam Sistem Jalur Pipa di Industri Minyak dan Gas Ahmad Gunawan; Pawawoi
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 7 No 2 (2008): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol7no2.286

Abstract

Pada proses penyambungan sistem jalur pipa di industri minyak dan gas, mur heavy hexagonal banyak digunakan. Namun pada penggunaan mur di bagian valve flange beberapa mur mengalami patah. Dari hasil penelitian, patah yang terjadi disebabkan adanya retak pada ujung sisi bagian luar dari mur dan bagian dalam permukaan ulir. Pada bagian dalam ini ditemukan cacat yang merupakan awal terjadinya korosi sumur yang kemudian meningkat menjadi korosi retak tegang. Kekerasan pada bagian patah mengalami penurunan dibanding bagian tidak mengalami patah. Sedangkan pada pemeriksaan struktur mikro, awal retakan terjadi pada bagian akar ulir berupa retak intergranular yang selanjutnya merambat pada batas butir. Dari hasil analisa tegangan, terjadi momen lentur sebesar 1943,76 Nmm akibat adanya tegangan sebesar 876, 48 Mpa. Gaya lentur yang terjadi disertai adanya lingkungan klor yang korosif merupakan dua komponen utama penyebab terjadinya korosi retak tegang atau stress corrosion cracking.
Pengaruh Variasi Arus GMAW pada Sambungan Pipa aja API 5L Grade B terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Adi Ganda Putra; Pawawoi
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 8 No 1 (2009): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol8no1.309

Abstract

Proses pengelasan merupakan teknologi penyambungan pada logam yang sering digunakan. Metoda pengelasan GMAW telah banyak digunakan secara luas pada penyambungan pipa penyalur (pipe line), pipa kostruksi, proses pemipaan (piping process), dll. Baja API 5L Grade B adalah salah satu bahan yang distandarkan oleh API untuk penggunaan/aplikasi perpipaan pada perusahaan minyak dan gas (oil and Gas). Dalam instalasinya dibutuhkan hasil penyambungan yang baik tanpa terbentuknya cacat pada sambungan sesuai dengan standar API. Variasi arus (100, 135 dan 160A) pada proses pengelasan GMAW akan berpengaruh terhadap heat input dan kelarutan (dilution) antara logam dasar dengan logam pengisi yang dapat menyebabkan perubahan sifat fisik dan sifat mekanik pada sambungan pipa. Kualitas/mutu sambungan dapat dikaji dengan melakukan pengujian supaya dapat diketahui sifat fisik dan sifat mekanik hasil sambungan pipa dengan variasi arus pada metoda GMAW. Metoda pengujian yang dilakukan antara lain : uji tarik, uji nick break dan uji lengkung, sedangkan perubahan struktur mikro dikaji dengan analisa metalografi.
The Effect of Chrom Element on Oxidation Behaviour of TiAl-based Alloy Pawawoi
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 8 No 2 (2009): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol8no2.317

Abstract

Tial-based alloy have long been considered to be suitable candidates for high temperature structural application expecially at below 700oC. Unfortunately, in higher temperature (between 700oC and 900oC), TiAl-based alloy have a poor oxidation resistance. The reason for this is that the alloys generally form rapidly growing titania based surface oxide scales rather than protective alumina layers.Various efforts have been and are being made to overcome these problems. One of alloying elements have been developed is chrom element which hoped could decreased the form of titania and lead to form alumina layers.
Pengaruh Proses Temper terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro pada Baja Perkakas Eskylos 2344 Pawawoi
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 9 No 2 (2010): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jt.vol9no2.319

Abstract

Baja perkakas pengerjaan panas (Hot Work Tool Steel) Eskylos 2344 merupakan baja perkakas yang dihasilkan dari proses ESR (Electro Slag Remelting). Baja ini memiliki sifat tahan gesekan, tahan tekanan tinggi, mampu keras (good hardenability) dan memiliki ketahanan panas (hot resistant) yang baik. Dengan adanya sifat mampu keras yang baik ini, maka sifat baja perkakas Eskylos dapat diubah dengan proses perlakuan panas (heat treatment). Salah satu proses perlakuan panas yang dapat dilakukan untuk memperbaiki sifat mekaniknya adalah pemanasan pada temperatur Austenisasi yang diikuti dengan pendinginan cepat kemudian dilanjutkan proses temper. Hasil optimun perlakuan panas baja perkakas pengerjaan panas Eskylos 2344 dicapai pada temperatur Austenisasi 1050oC dan proses temper pada temperatur 400oC dengan kekerasan rata-rata 55,6 Hrc dan ketahanan aus 5,24%. Sedangkan struktur mikro baja perkakas pengerjaan panas Eskylos 2344 menunjukkan sebaran partikel-partikel karbida spheroidal halus dalam matrik martensit temper.
Perilaku Elektrokimia Paduan Bio Inert Ti-6Al-4V Bahan Implant Yang Di Doping Dengan Nb Dalam Media Minuman Berkarbonasi Djoko Hadi Prajitno; Ahmad Brian Pratama; Pawawoi Pawawoi
Journal of Chemical Process Engineering Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1336.963 KB) | DOI: 10.33536/jcpe.v4i1.306

Abstract

Penelitian ini untuk mempelajari  pengaruh doping unsur Nb terhadap paduan bioinert Ti-6Al-4V dengan metode elektrokimia sebagai bahan  implant dalam media minuman berkarbonasi. Tujuan penelitian adalah untuk mempebaiki biokompatibel paduan Ti-6Al-4V yang telah di doping dengan Nb dalam media minuman berkabonasi. Pembuatan paduan Ti-6Al-4V-xNb (x= 0, 1 dan 2 %wt) dilakukan dengan melebur Ti-6Al-4V  dan Nb dalam tungku busur listrik. Perilaku elektrokimia paduan Ti-6Al-4V yang telah di doping dengan  unsur Nb di uji menggunakan potensiostat  dengan metode polarisasi Tafel dengan waktu perendaman selama 0 menit, 60 menit, dan 120 didalam media minuman berkarbonasi pada temperatur kamar. Hasil data pengujian polarisasi Tafel diolah dengan software Echem Analist V.5.66 sehingga didapatkan besaran laju korosi paduan Ti-6Al-4V dalam media minuman berkarnonasi. Permukaan paduan  hasil pengujian polarisasi Tafel dievaluasi dengan difraksi sinar X. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa paduan Ti-6Al-4V-xNb (x= 0, 1 dan 2 %wt) akan meningkat biokompatibelnya dengan meningkatnya ketahanan korosi dalam media minuman berkabornasi bila paduan titanium yang di doping dengan Nb dengan jumlah yang lebih besar. Hal tersebut terjadi dikarenakan penambahan Nb pada paduan titanium Ti-6Al-4V terjadi peningkatan transisi dari aktif menjadi pasif. Hasil evaluasi sampel  menggunakan difraksi sinar X menujukkan bahwa pada permukaan sampel terdapat lapisan pasif. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa biokompatibel paduan Ti-6Al-4V dalam minuman berkabonasi yang telah di doping dengan Nb unjuk kerjanya akan meningkat.
MECHANOSYNTHESIS OF MMC Cu-C DOPED WITH Ti FOR APPLICATION OF PANTOGRAPH CONTACT STRIP (PCS) Andhika Abdan Rahmanullah; Pawawoi Pawawoi; Djoko Hadi Prajitno
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 14 No. 3 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v14i3.4168

Abstract

This research was conducted to determine the effect of the addition of Titanium (Ti) and the sintering temperature variation on MMC CuC alloys as reinforcing elements. The process of this research uses powder metallurgical method with an alloying technique in Mechanical Alloying using a Planetary Ball Mill (PBM) machine with a speed of 600 rpm for 2 hours, the ratio of powder to the ball mill is 10:1. The compacting process is carried out using dies 11 mm in diameter and compacting pressure of 90 Kg/cm2. The sintering process is carried out three times, with variations in sintering of 800oC, 900oC, and 1000oC with sintering time for 1 hour in the tube furnace in the argon gas vacuum environment. The number of samples used in this study amounted to 9 samples with variations in alloy and temperature sintering, consist of MMC CuC alloy with addition of Ti 0%, 0.5%, 1.5% (T=800 oC), MMC CuC with  addition of Ti 0%, 0.5%, 1.5% (T=900 oC), and MMC CuC with addition of Ti 0%, 0.5%, 1.5% (T=1000 oC). The tests included Vickers hardness testing, metallography testing, XRD testing, and SEM-EDS testing. The addition of Ti elements and varying sintering temperature had an effect on the hardness value of MMC CuC material with the highest hardness value in samples with 1.5% Ti alloy (800oC) which is 87.25 HV, and the lowest porosity value is 2.491% in the sample of 1.5% Ti (1000oC). Keywords : MMC CuC; Mechanical Alloying; Titanium; Pantograph Contact Strip
Perilaku Elektrokimia Paduan Bio Inert Ti-6Al-4V Bahan Implant Yang Di Doping Dengan Nb Dalam Media Minuman Berkarbonasi Pratama, Ahmad Brian; Pawawoi, Pawawoi; Prajitno, Djoko Hadi
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 4 No. 1 (2019): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33536/jcpe.v4i1.835

Abstract

Penelitian ini untuk mempelajari pengaruh doping unsur Nb terhadap paduan bioinert Ti-6Al-4V dengan metode elektrokimia sebagai bahan implant dalam media minuman berkarbonasi. Tujuan penelitian adalah untuk mempebaiki biokompatibel paduan Ti-6Al-4V yang telah di doping dengan Nb dalam media minuman berkabonasi. Pembuatan paduan Ti-6Al-4V-xNb (x= 0, 1 dan 2 %wt) dilakukan dengan melebur Ti-6Al-4V dan Nb dalam tungku busur listrik. Perilaku elektrokimia paduan Ti-6Al-4V yang telah di doping dengan unsur Nb di uji menggunakan potensiostat dengan metode polarisasi Tafel dengan waktu perendaman selama 0 menit, 60 menit, dan 120 didalam media minuman berkarbonasi pada temperatur kamar. Hasil data pengujian polarisasi Tafel diolah dengan software Echem Analist V.5.66 sehingga didapatkan besaran laju korosi paduan Ti-6Al-4V dalam media minuman berkarnonasi. Permukaan paduan hasil pengujian polarisasi Tafel dievaluasi dengan difraksi sinar X. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa paduan Ti-6Al-4V-xNb (x= 0,1 dan 2%wt) akan meningkat biokompatibelnya dengan meningkatnya ketahanan korosi dalam media minuman berkabornasi bila paduan titanium yang di doping dengan Nb dengan jumlah yang lebih besar. Hal tersebut terjadi dikarenakan penambahan Nb pada paduan titanium Ti-6Al-4V terjadi peningkatan transisi dari aktif menjadi pasif. Hasil evaluasi sampel menggunakan difraksi sinar X menujukkan bahwa pada permukaan sampel terdapat lapisan pasif. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa biokompatibel paduan Ti-6Al-4V dalam minuman berkabonasi yang telah di doping dengan Nb unjuk kerjanya akan meningkat.
Optimisasi Sifat Mekanik Paduan Mg AZ91: Pengaruh Proses Thixoforming dan Homogenisasi terhadap Kekerasan, Kekuatan Tarik, dan Mikrostruktur Putra, Adi Ganda; Universitas Mathla ul Anwar; Ganda Putra, Adi; Afrianto, Afrianto; Mohamad , Vicky; Sukmara, Sony; Pawawoi
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 24 No 1 (2025): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55893/jt.vol24no1.680

Abstract

Paduan Mg AZ91 merupakan material yang banyak digunakan dalam industri otomotif dan penerbangan karena rasio kekuatan terhadap berat yang tinggi. Untuk aplikasi yang lebih luas, perlu dilakukan optimisasi sifat mekanik melalui berbagai proses perlakuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh proses thixoforming dan homogenisasi terhadap kekerasan, kekuatan tarik, dan mikrostruktur paduan Mg AZ91. Pengujian dilakukan pada empat kondisi perlakuan, yaitu as-cast, as-cast dan homogenizing, thixoforming, dan thixoforming dan homogenizing. Hasil menunjukkan kondisi thixoforming diikuti oleh homogenisasi menghasilkan peningkatan kekerasan tertinggi (108,8 HB) dibandingkan dengan kondisi as-cast (65,1 HB). Kekuatan tarik mengalami peningkatan signifikan, dari 148,3 MPa pada kondisi as-cast menjadi 299,4 MPa pada kondisi thixoforming dan homogenizing. Selain itu, kekuatan luluh meningkat dari 82,6 MPa menjadi 277,2 MPa, sementara regangan meningkat dari 12,1% menjadi 14,475% pada kondisi yang sama. Mikrostruktur material menunjukkan perubahan dari struktur dendritik kasar pada kondisi as-cast menjadi struktur ekuiaksial dengan distribusi fasa alpha dan beta yang lebih seragam setelah thixoforming dan homogenisasi. Porositas dan pengotor tetap terdeteksi pada kedua kondisi perlakuan, tetapi lebih terkendali setelah homogenisasi. Secara keseluruhan, thixoforming diikuti oleh homogenisasi memberikan optimisasi yang signifikan pada sifat mekanik dan mikrostruktur paduan Mg AZ91, menjadikannya lebih unggul untuk aplikasi teknik yang membutuhkan kekuatan tinggi dan keuletan.
Influence of Fixed Carbon Carburizer on The Hardness and Microstructure of Cast Iron FC 25 Putra, Adi Ganda; Ghose, Aurobindo; Pawawoi; Sukmara, Sony
Journal of Technology and Engineering Vol 1 No 2 (2023): Journal of Technology and Engineering
Publisher : Yayasan Banu Haji Samsudin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/journaloftechnologyandengineering.v1i2.226

Abstract

Cast iron smelting is carried out with the main materials, namely steel scrap (C) 0.08% and recycled material FC 25 (C) 3.37% so that the mixture of the two raw materials results in the carbon content being less than the FC 25 target which has a content range (C) between 3.10% – 3.40% (JIS G 5501). In order for element (C) to meet the material standardization criteria, a carburizer is used as an addition to element (C) in the smelting process. This research uses an induction furnace with a capacity of 1500 kg for the melting process. Metallographic testing aims to see the comparison of the microstructure that occurs. Brinell hardness testing is carried out by providing 5 point indent traces on the surface. (α) and 2 points in the phase (α+Fe3C). The research results show that the addition of element (C) using a carburizer with a fixed carbon content of 91.57% and 96.7% in casting FC 25 material affects the value of material hardness, phase hardness and microstructure in FC 25 material. The use of carburizers with different contents This does not affect the graphite shape, graphite type and graphite size. The use of a 96.7% carburizer produces a Brinell hardness value of 205 HB, Vickers 259 HV and a pearlite phase percentage of 59% which is higher than a 91.67% carburizer which produces a Brinell hardness value of 184 HB, Vickers 238 HV and a pearlite phase percentage of 56%.