Pallawa, Alimuddin Hassan
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dinamika dan Kontestasi Moderasi Beragama di Kalangan Guru Pendidikan Agama Islam Kota Pekanbaru Asmuri, Asmuri; Masbukin, Masbukin; Pallawa, Alimuddin Hassan; Hanafi, Imam
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 6 No 2 (2024): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v6i2.233

Abstract

PAI teachers are an important part of supporting the success of the Religion moderation program that is being echoed by the Ministry of Religious Affairs today. It would be a problem if PAI teachers have a different view from the spirit of religious moderation itself. This research attempts to describe the ‘voice from below’ of PAI teachers who are an integral part of the Ministry of Religious Affairs, in understanding religious moderation in Pekanbaru. Data were collected through in-depth interviews with several PAI teachers at the junior high school in Pekanbaru City. In general, the views of PAI teachers coincide with the four indicators developed by the Ministry of Religious Affairs; national commitment, tolerance, non-violence and friendliness to local culture. However, there are some important issues that they think should be avoided, namely; wishing Merry Christmas; giving space for the Shia and Ahmadiyya religions; and the obligation to wear hijab for adult women.
DARI PANTUN KE PELAMINAN: Jejak Kurikulum Cinta dalam Hidup Orang Melayu Nuh, Zulkifli M; Mawarti, Sri; Pallawa, Alimuddin Hassan
Nusantara Journal for Southeast Asian Islamic Studies
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/nusantara.v21i2.38562

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana tradisi lisan dan ritual adat Melayu Riau berfungsi sebagai “kurikulum cinta,” yakni seperangkat ajaran afektif dan etis yang diwariskan melalui pantun, syair, lagu zapin, dan prosesi adat pernikahan. Dengan pendekatan kualitatif-etnografis melalui observasi, analisis teks budaya, serta wawancara dengan generasi muda dan tokoh budaya, penelitian ini menemukan bahwa nilai-nilai cinta dalam budaya Melayu tidak hanya hadir sebagai ekspresi estetis, tetapi sebagai struktur moral yang membentuk cara masyarakat memahami, merasakan, dan menjalankan hubungan. Pantun dan syair menanamkan kesopanan, kesabaran, dan komitmen; sementara prosesi adat mematerialkan nilai-nilai tersebut melalui simbol warna, motif, gerak, dan tata upacara. Temuan ini juga menunjukkan bahwa generasi muda tidak meninggalkan nilai tradisi, tetapi menegosiasikannya dengan media dan gaya hidup modern, sehingga kurikulum cinta Melayu tetap relevan dalam bentuk yang lebih adaptif. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan afektif Melayu Riau bekerja melalui hubungan erat antara tutur, simbol, dan praktik budaya.