Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Sketsa Bisnis

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGENDALIAN KUALITAS PRODUKSI SUSU KENTAL MANIS PT. IDK PASURUAN Khafizh Rosyidi

Publisher : Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/jsb.v3i2.582

Abstract

Salah satu produk olahan susu yang telah berkembang dan dianggap populer hingga saat ini adalah susu kental manis. Di negara-negara berkembang, konsumsi susu kental manis semakin meningkat, baik itu untuk konsumsi langsung ataupun sebagai bahan tambahan pangan olahan lainnya. Jenis kemasan untuk produk susu kental manis pun sudah berkembang sesuai kebutuhannya, tidak hanya dalam bentuk kemasan kaleng, tetapi juga dalam kemasan bulkalumunium foil, ataupun kemasan bulk tanki untuk industri, dan yang sedang berkembang saat ini adalah kemasan satu kali konsumsi (kemasan sachet). Terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk memproduksi susu kental manis antara lain: pengambilan bahan baku, proses penuangan bahan baku (tipping), proses (penimbangan bahan baku)weiging, pencampuran bahan baku (mixing), homogenisasi, pasteurisasi, pengentalan (flashcooler), filling packing, fisnish good. Pengawasan kualitas susu kental manis yang dilakukan oleh PT. IDK adalah terhadap sample pengujian kualitas dilakukan pada bahan baku, proses penuangan, dan pengawasan pada saat penyimpanan di dalam CT (crystalisatin tank). Kualitas merupakan hal yang terpenting didalam proses produksi susu kental manis yang dilakukan oleh PT. IDK, sehingga kualitas susu kental manis sangat diperhatikan untuk menghasilkan produk yang terjamin dan berkualitas. Produk yang dihasilkan harus sesuai dengan standar komposisi yang ditentukan yaitu 71.80 batas bawah dan 72,20 batas atas, jika hasil dari komposisi kurang dari standar akan dilakukan adjustment. Meskipun umumnya terdapat 9 (sembilan) faktor yang dapat mempengaruhi pengendalian kualitas suatu produksi, di PT. IDK terdapat 4 (empat) faktor utama yang mempengaruhi pengendalian kualitas proses produksinya, khususnya pada lini produksi susu kental manis, yaitu: a) Methode (manajemen), b) Man (manusia), c) Materials (bahan), dan d) Machines (mesin). Pengendalian pada kualitas susu kental manis dilakukan dalam frekuensi yang lebih sering agar tidak terjadi kelolosan pada komposisi standar yang di tetapkan sehingga produk yang dihasilakan terjamin kualitasnya. Penyeragaman komposisi bahan baku yang akan dipakai proses produksi agar produk yang dihasilkan sesuai dengan standar komposisi yang ditetapkan, sehingga produk yang dihasilkan tidak kurang ataupun over komposisi. Perlu ditingkatkan lagi sosialisasi terhadap seluruh karyawan tentang cara pengendaian kualias secara benar menurut WI, SOP dan GMP.
PENGUKURAN EFETIFITAS PENJADWALAN PRODUKSI PADA PERUSAHAAN JOB ORDER Khafizh Rosyidi

Publisher : Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.198 KB) | DOI: 10.35891/jsb.v2i1.669

Abstract

Production Planing and Control (PPC) merupakan faktor utama dalam setiap perusahaan untuk menunjang kelancaran proses produksi, baik perusahaan mass production maupun perusahaan job order. Perencanaan produksi memiliki peranan yang sangat penting dalam mengantisipasi supaya tidak terjadi keterlambatan dalam pemenuhan target produksi. Oleha karena itu harus dibuat perencanaan produksi (production planning) secara baik. Di lingkungan CV. YAD tingkat produksi harian didasarkan pada permintaan total harian untuk setiap model produk yang akan diproduksi selama satu minggu dibagi dengan banyaknya hari kerja dalam minggu tersebut. Rasio untuk setiap produk menentukan banyaknya unit yang harus diproduksi setiap hari dalam satu minggu agar dapat memenuhi sasaran dalam master schedule planning (MPS). Sebagaimana hasil penelitian bahwa permintaan total mingguan untuk produk A, B dan C di CV. YAD berturut-turut adalah: 500 unit, 2000 unit, dan 5000 unit. Dalam satu minggu diasumsikan terdapat 6 hari kerja, sehingga tingkat produksi harian untuk produk A = 500/6 = 83,33 unit (dibulatkan menjadi 84 unit), B = 2000/6 = 333,33 unit (dibulatkan menjadi 334 unit), dan C = 5000/6 = 833,33 unit (dibulatkan menjadi 834 unit). Berdasarkan pengukuran efektifitas dari metode sequencing, dapat diambil keputusan berkaitan dengan sekuens operasi mana yang terbaik untuk dipilih. Apabila perusahaan lebih memprioritaskan untuk meminimumkan keterlambatan penyerahan produk ke pelanggan, sebaiknya memilih pendekatan FCFS dengan sekuens operasi atau tugas: B-A-C-D, karena memiliki nilai rata-rata keterlambatan terkecil yaitu: 1,75 hari. Tetapi apabila perusahaan ingin memaksimumkan utilisasi sumber daya, disarankan untuk memilih dengan sekuens operasi atau tugas: A-B-C-D, karena memiliki nilai utilisasi tertinggi yaitu 46,3 %. Bagaimanapun juga aturan-aturan yang berkaitan dengan penetapan prioritas kerja dalam operasi manufacturing harus ditetapkan secara rasional, jelas dan konsisten dengan tujuan strategik dari pengambil keputusan perusahaan itu sendiri.