Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Vitamin A dan Vitamin C pada Minuman Jelly Sari Daun Pepaya (Sadaya) di Daerah Endemis Malaria Aulia, Fitria Lintang; Lusiana, Sanya Anda; Kristanto, Budi; Ngardita, I Rai; Sumardi, Ratih Nurani
Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2024): December
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ghidza.v8i2.1143

Abstract

Malaria merupakan penyakit infeksi yang terjadi akibat parasite Plasmodium melalui gigitan Anopheles betina. Terdapat sepuluh kabupaten/kota dengan jumlah kasus malaria tertinggi se-provinsi Papua salah satunya yaitu, Kota Jayapura sebanyak 74,234 kasus. Telah ditemukan 1854 tanaman dari 196 famili dan 1012 genera telah digunakan untuk malaria secara global. Dalam jumlah tersebut, daun papaya merupakan salah satu tanaman obat malaria yang banyak digunakan. Di Indonesia sangat mudah untuk menemukan daun pepaya. Daun pepaya biasanya diolah menjadi sayur dan obat herbal. Kandungan kimia dari daun papaya diantaranya adalah alkaloid yang menyebabkan rasa pahit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima dan nilai gizi terhadap pembuatan minuman jelly sari daun pepaya untuk penderita penyakit malaria. Rancangan penelitian ini adalah One-Shot Case Study yaitu dimana dalam desain penelitian ini terdapat suatu kelompok diberi treatment (perlakuan) dan selanjutnya diobservasi hasilnya. Penelitian dilakukan terhadap produk minuman jelly (warna, aroma, rasa, dan tekstur) dari 30 panelis agak terlatih. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan terbaik secara organoleptik diperoleh dari formula 3 dengan presentase daun pepaya 80 gr dengan karagenan 1,5 gr. Daya terima pada 30 panelis tidak terlatih menunjukan bahwa produk minuman jelly sadaya masih dapat diterima oleh konsumen. Kandungan vitamin C pada formula 2 terbaik minuman jelly sebesar 82.70 mg/L. Vitamin A yang terkandung dalam minuman jelly pada formula 3 terbaik yaitu sebesar 7.46 mg.
Bubur Instan Ampas Tahu Dan Penambahan Kacang Merah Untuk Pencegahan Stunting Violeta, Vernanda Estu; Lusiana, Sanya Anda; Ngardita, I Rai; Raya, Maxianus K
Pontianak Nutrition Journal (PNJ) Vol 7, No 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/pnj.v7i1.1340

Abstract

Tingginya angka stunting yang ada di Indonesia merupakan salah satu permasalahan gizi ganda atau dikenal dengan sebutan double burden. Stunting memiliki hubungan dengan zat gizi berupa protein. Dalam 100 gram, ampas tahu memiliki kandungan protein 10,80% Tujuan Mengetahui pemanfaatan ampas tahu dengan panambahan kecambah kacang merah sebagai bubur instan untuk pencegahan stunting. Penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan penelitian One-Shot Case Study. Hasil penelitian menunjukan F1 sebagai formulasi terpilih yang paling banyak disukai panelis pada rasa dan tekstur. Hasil Analisis Kandungan protein 14,5 gr , lemak 15,2 gr , serat 10,7 gr , karbohidrat 51,3gr , kadar air 5,6 gr , kadar abu 2,1 gr. Hasil daya terima menggunakan Comstock  50% Balita menghabiskan 50% bubur instan. Hasil analisis daya simpan bubur instan bertahan di suhu ruang selama 40 hari. Berdasarkan hasil penelitian, analisis kandungan zat gizi bubur instan ampas tahu dengan penambahan kecambah kacang merah sudah memenuhi syarat MP-ASI bubur instan (SNI 01-7111.4- 2005), tergoloh aman di konsumsi oleh Balita.
Berat dan Panjang Badan Lahir serta Infeksi Malaria pada Ibu sebagai Faktor yang Berhubungan dengan Pertumbuhan Anak Usia Dini di Papua Ngardita, I Rai; Sahiddin, Muhamad; Masrif
Journal of Health Education and Literacy Vol 8 No 1 (2025): Journal of Health, Education and Literacy (J-Healt)
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/j-healt.v8i1.5987

Abstract

Latar Belakang: Papua memiliki tingkat endemisitas malaria dan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia. Infeksi malaria selama kehamilan dapat mengganggu perfusi plasenta dan suplai nutrisi janin, yang berdampak pada berat badan lahir rendah (BBLR) dan panjang badan lahir pendek, serta berpotensi menyebabkan stunting pada anak usia dini. Tujuan: Menilai hubungan antara berat badan lahir, panjang badan lahir, dan infeksi malaria maternal dengan pertumbuhan linear anak usia 0–59 bulan di Papua. Metode:Penelitian potong lintang ini melibatkan 212 anak yang memiliki data kelahiran dan riwayat kesehatan ibu lengkap dari fasilitas kesehatan di Papua (2024). Data berat dan panjang badan lahir diambil dari catatan kelahiran, sedangkan riwayat malaria ibu diperoleh dari rekam medis. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk menilai hubungan ketiga variabel dengan tinggi badan anak, dikontrol oleh usia dan jenis kelamin. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara panjang badan lahir (β = +0,98; p < 0,001), berat badan lahir (β = +0,05; p = 0,021), dan infeksi malaria ibu (β = –1,68; p = 0,003) dengan tinggi badan anak. Anak dari ibu yang terinfeksi malaria memiliki rerata tinggi badan sekitar 3 cm lebih rendah dibandingkan kelompok tanpa infeksi. Kesimpulan: Berat dan panjang badan lahir serta infeksi malaria maternal berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan anak usia dini di Papua.