Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGARUH PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (P3K) TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KEMAMPUAN MASYARAKAT DI KAMPUNG IFALE DISTRIK SENTANI Rohmani, Rohmani; Tukayo, Isak JH; Felle, Zeth Robert; Sahiddin, Muhamad
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SISTHANA Vol. 4 No. 2 (2022): Desember : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/pkmsisthana.v4i2.151

Abstract

Latar belakang:Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) merupakan usaha untuk menangani korban segera mungkin ditempat kejadian sebelum tenaga medis mengambil alih penanganan. Pemberian pertolongan harus cepat dan tepat dengan menggunakan saran dan prasarana yang ada ditempat kejadian. Tindakan P3K yang dilakukan dengan benar akan mengurangi cacat atau penderita dan bahkan menyelamtakan korban dari kematian tetapi bila tindakan P3K dilakukan tidak benar dapat menyebabkan kecelakaan bahkan bisa terjadi kematian (Al-Fath, 2009). Tujuan pengabdian masyarakat ini yaitu untuk mengetahui Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) terhadap kemampuan masyarakat di Kampung Ifale distrik sentani Kota Kabupaten Jayapura. Metode pelaksanaan kegiatan ini memberikan penyuluhan dan memberikan simulasi tentang penangangan pertolongan kepada masyarakat di Kampung Ifale serta memberikan kuesioner pre dan post Tindakan pada peserta. Hasil pengabdian masyarakat Rata-rata dari kuesioner hasil post pelatihan P3K masyarakat 85 % mengalami peningkatan pengetahuannya menjadi baik meskipun ada beberapa yang masih keadaan cukup.
Unraveling Potential Confounding Variables in the Association Between Maternal Malaria and Child Stunting in Papua: A Case-Control Study with Mantel-Haenszel Analysis Felle, Zeth; Sahiddin, Muhamad
Public Health of Indonesia Vol. 10 No. 1 (2024): January - March
Publisher : YCAB Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36685/phi.v10i1.772

Abstract

Background:Papua is a malaria-endemic region with Indonesia's highest annual parasite incidence. At the same time, stunting is a common child health problem in Papua. Malaria incidence in pregnant women is considered a risk factor for stunting in children. Thus, the identification of confounding factors in this relationship is necessary. Objective:The study aimed to determine significant confounding factors in maternal malaria and child stunting and clarify the true association between these two conditions. Methods: The study with a case-control design was conducted at 14 Puskesmas from May to September 2023. The sample size was 681 children, consisting of toddlers who were stunted and not stunted and were selected by probability sampling technique. Data collection used questionnaires and anthropometric measurements. Statistical analysis used Mantel-Haenszel chi-square with a cut-off point for changes in the estimated coefficient for determining confounding> 10%. Results: The results showed that the crude Odds Ratio of the effect of malaria incidence during pregnancy on the incidence of stunting in children was 1.746 (95% CI 1,062-2,872). Stratification analysis showed the adjusted Odds Ratio value of child sex (1.78), low birth weight (1.652), basic immunization status (1.771), breastfeeding status (1.753), maternal age (1.732), occupation (1.828), ethnicity (1.722) and family income (1.764). There were no potential confounding variables in the association between malaria incidence in pregnant women and childhood stunting (change in coefficient estimate <10%). Conclusions: Public health interventions aimed at preventing malaria during pregnancy can be used as a strategy to reduce the risk of childhood stunting. Keywords:Malaria; pregnancy; stunting; confounding; Indonesia
Impact of early-life malaria exposure on childhood stunting: A case-control study in high endemic malaria area, Papua, Indonesia Sahiddin, Muhamad; Ishak, Hasanuddin; Arsin, Andi A.; Pramestiyani, Mustika
Narra J Vol. 4 No. 3 (2024): December 2024
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v4i3.1451

Abstract

Papua faces public health challenges as a region with high malaria endemicity and a very high prevalence of stunting. Infectious diseases are one of the risk factors for stunting. The aim of this study was to investigate the effect of early-life malaria exposure on stunting among children in Papua. The study was conducted in 14 public health centers (PHCs) in Papua in 2023. Six hundred eighty-one children (227 stunted and 454 non-stunted) were selected using simple random sampling. The study data were gathered from medical records, structured parent interviews, and direct anthropometric measurements of the children. Chi-square tests were performed to determine unadjusted OR, while adjusted OR was calculated using multivariate analysis. The height-for-age z-score was calculated using WHO Anthro version 3.2.2. The results showed that 45.1% of mothers who had malaria during pregnancy had stunted children. The average z-score height-for-age of children from mothers who experienced malaria during pregnancy vs those who did not was -1.69±1.23 vs -1.41±1.55. Among the 84 children who had malaria under one year old, 45.2% experienced stunting. The average z-score height-for-age of children who had malaria under one year old vs those who did not was -1.83±1.24 vs -1.38±1.6. In the unadjusted analysis, malaria during pregnancy (OR 1.74; 95%CI:  1.06–2.87), malaria in children under one year old (OR 1.78; 95%CI: 1.12–2.83), low birth weight status (OR 1.82; 95%CI: 1.08–3.05), family income (OR 1.75; 95%CI: 1.09–2.81), and mother’s ethnicity (OR 1.45; 95%CI: 1.05–2.01) were associated with stunting incidence in children. In the multivariate analysis, mother’s ethnicity (aOR 1.41; 95%CI: 1.00–1.97) and low birth weight status (aOR 1.72; 95%CI: 1.00–2.94) were the only risk factor for stunting. This study suggests a potential association between early-life malaria exposure and stunting in children. In malaria-endemic areas, health interventions targeting malaria prevention during pregnancy and early childhood are necessary to reduce the risk of stunting.
Pendampingan dan aktualisasi kader sebagai edukator pencegahan HIV/AIDS dan seks pranikah di Distrik Sentani, Papua Utami, Theresia Febriana Christi Tyas; Kismiyati, Kismiyati; Sahiddin, Muhamad; Sunarti, Sunarti
Jurnal PADE: Pengabdian & Edukasi Vol 7, No 1 (2025): Maret
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/pade.v7i1.2334

Abstract

The high prevalence of HIV/AIDS and premarital sexual behavior among adolescents is a significant public health concern in Papua. To address this issue, community service activities were conducted through two main programs: training cadres as health educators for HIV/AIDS prevention and premarital sex and cadre-led activities for adolescent health screening and reproductive health education at YPKP Junior High School in Sentani. The methods used included lectures, discussions, and hands-on practice. The evaluation was carried out using pre-test and post-test assessments to measure changes in the cadres' knowledge, which were analyzed with the Wilcoxon test. The results showed an increase in the average knowledge score of cadres after the training, from 15.6 to 18. The cadres were able to conduct adolescent screenings and provide counseling sessions. This activity effectively enhanced the capacity of adolescent cadres as agents of change and can be sustainably implemented to support HIV/AIDS and premarital sex prevention efforts in other regions.Keywords:  Adolescents, HIV/AIDS, premarital sex, reproductive health, cadre empowerment
PENINGKATAN KETERAMPILAN DAN PENGETAHUAN KADER TENTANG PERAWATAN LUKA KUSTA DENGAN PENDEKATAN LEARNING BY DOING Sahiddin, Muhamad; Kismiyati, Kismiyati; Felle, Zeth Roberth; Sunarti, Sunarti
Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v4i1.2411

Abstract

Wilayah kerja Puskesmas Hamadi merupakan daerah dengan kasus Kusta tertinggi di Kota Jayapura. Stigma masih menjadi masalah pada kasus kusta yang menyebabkan masyarakat enggan untuk mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan. Hal ini berakibat pada munculnya penderita dengan kondisi luka kusta yang cukup parah. Peningkatan kapasitas kader kusta tidak hanya pada kemampuan untuk menemukan pasien baru dengan risiko kusta, melainkan kader perlu memiliki kemampuan untuk melakukan perawatan luka kusta untuk menjangkau pasien yang tidak mau melakukan pengobatan di Puskesmas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan keterampilan dan pengetahuan kepada kader dan masyarakat dalam melakukan perawatan luka kusta. Kegiatan ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Hamadi, Jayapura pada bulan Juni–Oktober 2022. Metode yang digunakan adalah pelatihan dengan pendekatan learning by doing dengan kegiatan berupa demonstrasi dan ceramah tanya jawab. Sasaran kegiatan pengabdian masyarakat adalah kader kusta dan masyarakat yang berjumlah 21 orang. Tim pengabdian masyarakat memberikan demonstrasi perawatan luka kusta, selanjutnya peserta melakukan simulasi secara bergantian. Pengukuran hasil kegiatan dilakukan dengan evaluasi proses dan evaluasi hasil. Hasil evaluasi proses menunjukan peserta memiliki tingkat partisipasi yang tinggi dan mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir, secara sukarela bergantian untuk melakukan simulasi, serta mampu menunjukan kemampuan untuk melakukan perawatan luka kusta. Sedangkan hasil evaluasi peningkatan pengetahuan peserta sebelum (60±8,803) dan sesudah (75,7±8,984) pelatihan diperoleh peningkatan skor sebesar 15,7 poin. Kegiatan dapat dilanjutkan dengan kunjungan rumah perawatan luka kusta oleh kader dan masyarakat di rumah pasien yang didampingi tim pengabdian masyarakat untuk memberikan pengalaman aksi nyata pada penderita kusta di lingkungan tempat tinggalnya
Berat dan Panjang Badan Lahir serta Infeksi Malaria pada Ibu sebagai Faktor yang Berhubungan dengan Pertumbuhan Anak Usia Dini di Papua Ngardita, I Rai; Sahiddin, Muhamad; Masrif
Journal of Health Education and Literacy Vol 8 No 1 (2025): Journal of Health, Education and Literacy (J-Healt)
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/j-healt.v8i1.5987

Abstract

Latar Belakang: Papua memiliki tingkat endemisitas malaria dan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia. Infeksi malaria selama kehamilan dapat mengganggu perfusi plasenta dan suplai nutrisi janin, yang berdampak pada berat badan lahir rendah (BBLR) dan panjang badan lahir pendek, serta berpotensi menyebabkan stunting pada anak usia dini. Tujuan: Menilai hubungan antara berat badan lahir, panjang badan lahir, dan infeksi malaria maternal dengan pertumbuhan linear anak usia 0–59 bulan di Papua. Metode:Penelitian potong lintang ini melibatkan 212 anak yang memiliki data kelahiran dan riwayat kesehatan ibu lengkap dari fasilitas kesehatan di Papua (2024). Data berat dan panjang badan lahir diambil dari catatan kelahiran, sedangkan riwayat malaria ibu diperoleh dari rekam medis. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk menilai hubungan ketiga variabel dengan tinggi badan anak, dikontrol oleh usia dan jenis kelamin. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara panjang badan lahir (β = +0,98; p < 0,001), berat badan lahir (β = +0,05; p = 0,021), dan infeksi malaria ibu (β = –1,68; p = 0,003) dengan tinggi badan anak. Anak dari ibu yang terinfeksi malaria memiliki rerata tinggi badan sekitar 3 cm lebih rendah dibandingkan kelompok tanpa infeksi. Kesimpulan: Berat dan panjang badan lahir serta infeksi malaria maternal berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan anak usia dini di Papua.
Non-adherence to medication, malaria relapse, and asymptomatic reservoirs in malaria transmission: A narrative review Sahiddin, Muhamad; Ishak, Hasanuddin; Arsin, Andi Arsunan; Mallongi, Anwar; Arsyad, Muhammad; Hamid, Firdaus
Public Health of Indonesia Vol. 11 No. 4 (2025): October - December
Publisher : YCAB Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36685/phi.v11i4.1032

Abstract

Background: Malaria elimination remains a pressing global health priority, yet progress is hindered by interconnected human-driven factors that sustain residual transmission. Objectives: This review aims to integrate and analyze key factors driving residual malaria transmission, particularly non-adherence to anti-malarial medication, relapse of Plasmodium vivax and P. falciparum infections, and the persistence of asymptomatic parasite reservoirs. Methods: A narrative review was conducted by synthesizing findings from peer-reviewed studies, including observational studies, clinical trials, and program evaluations. Relevant articles were identified through PubMed, Scopus, Google Scholar, and Web of Science databases. Results: Demographic, behavioral, and health system factors were consistently associated with incomplete treatment, which in turn doubled relapse risk and extended the duration of gametocyte carriage. Biological factors, such as dormant hypnozoites and CYP2D6 polymorphisms that reduce primaquine metabolism, increased the likelihood of recurrent infections. Additionally, asymptomatic carriers disproportionately younger and mobile populations sustained transmission beyond the reach of routine surveillance. Unlike previous reviews that examined these factors separately, this review integrates them into a unified framework, emphasizing their synergistic effects on residual transmission and identifying leverage points for targeted interventions. Conclusion: Addressing residual malaria transmission requires coordinated strategies, including community-supervised or directly observed radical cure regimens, genotype-informed dosing strategies, molecular surveillance for asymptomatic infections, and culturally tailored adherence support. These interventions are essential to strengthen malaria elimination programs and advance progress toward national and global goals by 2030. Keywords: adherence medication; relapse; transmission; endemic; malaria