Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Negosiasi Identitas Keagamaan dalam Tradisi Mongakiki Masyarakat Gorontalo Muhammad Ibrahim; Donald Qomaidiasyah Tungkagi; Andi Oktami Dewi Artha Ayu Purnama; Zulkarnain Anu
Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal Vol 11, No 3 (2025): September 2025
Publisher : Magister Pendidikan Nonformal Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/aksara.11.3.%p.2025

Abstract

Penelitian ini mengkaji praktik tradisi Mongakiki (Aqiqah) di Desa Batu Keramat, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, sebagai fenomena akulturasi antara ajaran syariat Islam dan budaya lokal. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi, penelitian ini menemukan bahwa masyarakat melaksanakan aqiqah dengan cara yang berbeda dari tuntunan syariat Islam, yaitu menggunakan ayam putih atau membeli darah sapi dari hajatan orang lain, bukan menyembelih kambing. Praktik ini disertai dengan prosesi adat mohundingo (gunting rambut bayi) yang sarat dengan simbol-simbol budaya lokal. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Mongakiki merupakan hasil negosiasi antara ortodoksi Islam dan pragmatisme budaya, yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, ikatan sosial, dan identitas komunal. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang dinamika Islam lokal di Indonesia, khususnya bagaimana masyarakat Muslim menegosiasikan identitas keagamaan mereka dalam konteks budaya yang spesifik.
Negotiating Islamic Moderation: The Interplay of Sharia and Local Culture in Gorontalo, Minangkabau, and Banten Zulfitri Zulkarnain Suleman; Donald Qomaidiasyah Tungkagi; Zulkarnain Suleman; Sofyan A.P. Kau; Mohd Afandi Salleh
Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Vol 23, No 1 (2025)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jis.v23i1.3527

Abstract

Muslim scholars and local communities have actively negotiated the Islamization process in Indonesia through complex engagements with Islamic law (sharia) and local cultural traditions. This study examines how such interactions have shaped distinct constructions of Islamic moderation in three culturally significant regions: Gorontalo, Minangkabau, and Banten. Employing a qualitative, field-based approach, the research utilizes in-depth interviews, participant observation, and document analysis to explore the integration of sharia and adat (customary law). The findings reveal three typological models of Islamic moderation: (1) an integrative model in Gorontalo, where royal diplomacy and political marriage internalized Islamic law within the framework of customary governance; (2) a negotiation model in Minangkabau, emerging from post-conflict reconciliation between ulama and customary leaders, institutionalized through the philosophy of Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah; and (3) a hegemonic model in Banten, characterized by the dominance of Islamic law over local traditions, embedded within the centralized religious authority and state power. These findings suggest that Islamic moderation in Indonesia is not a singular concept but the product of historically and contextually embedded legal-cultural dynamics. The study concludes that Islamic moderation is a localized negotiation among legal norms, cultural practices, and power structures. Its academic contribution advances the understanding of legal pluralism in Muslim societies while offering policy-relevant insights for promoting religious tolerance and cultural inclusivity in Indonesia.