Wibawa, Budi
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Navigating Ethics and Innovation: The Role of AI in Cultural Heritage Wibawa, Budi; Rusnalasari, Zulidyana Dwi
Harmonia : Journal of Music and Arts Vol. 2 No. 4 (2024): November 2024
Publisher : Indonesian Scientific Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61978/harmonia.v2i4.905

Abstract

The preservation of cultural heritage has become increasingly reliant on Artificial Intelligence and digital technologies, reflecting a global shift toward technology-driven conservation strategies. This narrative review synthesizes evidence from diverse academic sources to examine how AI is being applied to safeguard both tangible and intangible heritage. Literature searches were conducted using Scopus, Web of Science, and Google Scholar, employing keywords such as “Artificial Intelligence,” “cultural heritage preservation,” “digital archiving,” and “machine learning.” Studies were screened based on inclusion criteria emphasizing empirical research, case studies, and reviews published within the last decade. Results reveal four dominant themes: tangible heritage conservation, intangible heritage preservation, environmental monitoring and risk management, and museum and archive engagement. AI has demonstrated strong potential in artifact restoration, predictive maintenance, and revitalization of traditional practices through immersive technologies. However, systemic barriers, including limited financial resources, fragmented governance, and lack of standardized ethical frameworks, hinder its broader adoption. Ethical challenges, particularly concerning cultural representation, data privacy, and inclusivity, further complicate implementation. Innovative solutions such as public-private partnerships, community-driven digitization, and interdisciplinary collaborations present promising pathways forward. The findings highlight both the opportunities and challenges of integrating AI into heritage preservation and emphasize the need for urgent, coordinated strategies to enhance cultural sustainability. This study contributes to the discourse by underscoring the dual imperative of advancing technological adoption while ensuring cultural sensitivity and inclusivity.
Harmonic Poetics and Vocal Subtlety in Karambangan: Interpreting Pamona Musical Aesthetics Setyawan, Dedi; Wibawa, Budi
Harmonia : Journal of Music and Arts Vol. 2 No. 4 (2024): November 2024
Publisher : Indonesian Scientific Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61978/harmonia.v2i4.1017

Abstract

Karambangan is a traditional vocal genre of the Pamona people in Central Sulawesi, Indonesia, blending poetic kayori with guitar based harmonic textures. This study aims to analyze the vocal interpretation strategies employed by Karambangan performers, focusing on the integration of harmony, diction, and vocal affect within cultural and pedagogical contexts. Using a multidisciplinary approach, the research combines ethnographic fieldwork, harmonic transcription, phonetic analysis, and cultural interpretation. Data were collected through audio recordings, kayori texts, and interviews with performers. Harmonic progressions were mapped, vocal timbre and vibrato were measured, and rhetorical features in lyrics were analyzed. Findings reveal that Karambangan vocalists emphasize emotional nuance through vibrato restraint, nasal resonant timbre, and precise prosodic alignment. Harmonic structures often based on three chord cycles and supported by alternate guitar tunings offer a stable platform for expressive delivery. Kayori lines are vocally interpreted through dynamic shaping, rhetorical timing, and culturally informed diction. The study also discusses the pedagogical value of these techniques and the ethical considerations of transitioning the genre from ritual to stage. Karambangan emerges as a genre of artistic and cultural significance, where voice serves not only as a musical tool but also as a moral and spiritual practice. The research contributes a genre specific model for vocal interpretation in indigenous traditions and highlights the importance of culturally embedded music education.
Suara dan Spiritualitas dalam Film Ariansah, Mohamad; Nasution, Siti Asifa; Wibawa, Budi
IMAJI Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemunculan film pada akhir abad ke-19 merupakan klaim terhadap perwujudan obsesi manusia terhadap gerak. Penciptaan kamera sebagai alat perekam dapat dilihat sebagai jawaban terhadap permasalahan yang mengusik peradaban Barat sejak zaman Yunani Kuno. Kamera mampu menghadirkan gerak secara visual, namun tetap masih ada sesuatu yang mengganjal kesempurnaan penemuan medium (film) tersebut. Seandainya sinema hanya mengandalkan gambar, serta menegasikan eksistensi suara, maka rangkaian proses sangat panjang dari penemuan film terkesan percuma. Mengapa tuntutan terhadap suara dalam film menjadi sesuatu yang krusial? Padahal tujuan film hanya merekam gerak yang bersifat visual semata. Tulisan ini berusaha untuk melihat kemungkinan lain dari suara dalam film berdasarkan pendekatan fenomenologis. Persoalan eksistensial tentang keberadaan manusia dan relasinya dengan dunia melahirkan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang jalan keluarnya menempatkan posisi film menjadi sebuah alternatif pemecahan problem. Sehingga, kemungkinan yang dihadirkan melalui integrasi suara dan gambar membuat pemahaman terhadap dunia menjadi terbuka. Pada akhirnya, kerinduan manusia untuk memahami diri dan dimensi spiritualitasnya dimungkinkan dengan potensi film sebagai medium audio-visual secara utuh.
Memahami Kepenontonan Film Indonesia Wibawa, Budi; Ariansah, Mohamad; Respati, Bawuk
IMAJI Vol. 8 No. 1 (2016): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian perihal kepenontonan (spectatorship) merupakan salah satu faktor penting dalam kajian sinema. Makna penelitian kepenontonan film di Indonesia selama ini cenderung mengalami peyorasi. Umumnya, penelitian kepenontonan di Indonesia diarahkan untuk mengukur kuantitas penonton film dalam konteks kepentingan bisnis film, sehingga seringkali terjebak hanya kepada persoalan-persoalan bagaimana memperebutkan pangsa penonton. Sebagai suatu tujuan pragmatis dari sebuah penelitian hal tersebut tentu sah-sah saja. Namun, aspek-aspek lain seperti: psikologi kepenontonan dan kemampuan bentuk dan gaya sinematik tertentu dalam mempengaruhi penonton secara ideologis misalnya, tentu menjadi topik yang tak kalah penting untuk dipahami. Penelitian ini adalah sebuah usaha awal dalam membaca dan memahami kepenontonan film Indonesia.
Ethical Problems in Documentary Cases Jagal (2012) and Senyap (2014) Part II Wibawa, Budi
IMAJI Vol. 12 No. 3 (2021): Membingkai Realitas melalui Imaji Visual
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v12i3.57

Abstract

Jagal (2012) dan Senyap (2014) adalah dua film dokumenter yang sempat menyita perhatian dunia. Kedua film itu berhasil mengangkat isu tentang peristiwa Tragedi 1965, sebuah sejarah kelam negara Indonesia di masa Orde Baru dengan cara yang unik. Isu yang diangkat kedua dokumenter tersebut berhasil menstimulus munculnya kembali berbagai perdebatan hangat terkait kebenaran sejarah peristiwa Tragedi 1965. Sayangnya, kajian mengenai dokumenter tersebut sebagai “teks” yang menggunakan medium “gambar bergerak” justru sering terabaikan, tenggelam di tengah kegaduhan isu yang ditawarkannya, yang lebih sebagai “konteks” yang melebar terlalu luas, ketimbang analisis yang berpegang erat pada “teks” yang ditawarkan oleh film-film itu sendiri.
Film Sebagai Seni Wibawa, Budi
IMAJI No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni ataupun kesenian merupakan bagian dari kebudayaan. Kata seni berasal dari bahasa Latin: ars, artis yang berarti keterampilan, dalam bahasa Inggris: art. Secara harfiah, seni dapat diartikan sebagai ‘perbuatan apapun yang dilakukan dengan sengaja dan maksud tertentu yang mengacu pada apa yang indah’ atau bisa juga disederhanakan menjadi; ‘kreasi manusia yang memiliki mutu atau nilai-nilai keindahan. Namun demikian definisi ini masih sangat sederhana dan memiliki pengertian yang terlalu luas. Jika kita hanya berpedoman pada definisi sederhana ini, maka pada dasarnya semua hasil karya (budidaya) manusia dapat kita golongkan sebagai seni, sebab pada dasarnya setiap manusia tentu selalu menginginkan yang terbaik dan terindah bagi dirinya, termasuk bagi semua yang ingin ia kerjakan/hasilkan.
Komposisi Potemkin Sergei Eisenstein Wibawa, Budi
IMAJI No. 4 (2008): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bermula dari perdebatan beberapa teoritikus dalam menanggapi tawaran para pengusung montage Soviet demi mengajukan editing (Lebih tepatnya montage) sebagai kontributor utama bagi film sebagai medium ekspresi seni dan konstruksi re alitos. Artikel ini sebenarnya adalah tulisan klasik dalam konteks sejarah film yang pada akhirnya akan bermuara pada pemisahan duo tradisi aliran teori film: formalis dan realis. Ditulis oleh S. Eisenstein sebagai semacam "pembelaan" atas "gugatan" beberapa teoritikus yang menilai The Battleship Potemkin (1925) sebagai film yang mengandalkan montage sebagai teknik yang sangat mendikte/memengaruhi penonton sehingga lebih mirip propaganda. Selain untuk memperkenalkan gagasan Eisenstein sebagai pelaku langsung dalam sejarah film, tulisan ini juga berusaha mengisi sangat minimnya literatur film yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.