Fluktuasi kekeruhan air pada sumber mata air pegunungan di Dusun Bonto dan Tonasa, Desa Songing, Kabupaten Sinjai, yang cenderung meningkat secara signifikan saat musim hujan akibat masuknya material erosi ke dalam aliran, telah menyebabkan penurunan kualitas air baku dan berpotensi mengganggu pemanfaatannya untuk kebutuhan domestik masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya sistem monitoring kualitas air yang mampu melakukan deteksi dini dan memberikan notifikasi langsung kepada pengguna. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem monitoring kekeruhan air berbasis Internet of Things (IoT) yang terintegrasi dengan Telegram sebagai media pengiriman data dan peringatan secara real-time, sekaligus dilengkapi mekanisme filtrasi otomatis untuk menjaga kualitas air tetap layak digunakan. Perancangan sistem memanfaatkan sensor kekeruhan SEN0189 sebagai akuisisi data, mikrokontroler ESP8266 sebagai unit pemrosesan dan komunikasi, serta integrasi ke Telegram untuk pengiriman data dan notifikasi secara real-time. Metode pengembangan menggunakan model prototype, dengan evaluasi kinerja melalui pengujian black box. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem mampu mengirimkan data kekeruhan melalui Telegram dengan baik, dengan stabilitas pembacaan sensor mencapai rata-rata 95% yang menunjukkan konsistensi deteksi kekeruhan. Selain itu, pengujian System Usability Scale (SUS) menghasilkan skor 73, yang termasuk kategori Good, sehingga sistem dinilai layak diterapkan untuk monitoring kualitas air berbasis IoT di wilayah pedesaan.