Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

ANALISIS KEBUTUHAN PARAMETER JARINGAN LTE DENGAN SISTEM REFARMING FREKUENSI PADA DAERAH URBAN METROPOLITAN CENTRE Sri Indah Rezkika; Sari Novalianda; Andri Ramadhan
Prosiding Seminar Nasional Teknik UISU (SEMNASTEK) SEMNASTEK UISU 2019
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.035 KB)

Abstract

Salah satu upaya yang dilakukan oleh operator seluler untuk mempertahankan kualitas layanan data adalah membangun teknologi 4G Long Term Evolution. Namun, terbatasnya spektrum frekuensi yang tersedia menciptakan suatu sistem yang disebut dengan refarming frekuensi sebagai solusi untuk membangun teknologi 4G LTE (Long Term Evolution). Pada tulisan ini, untuk memprediksikan jumlah kebutuhan parameter jaringan LTE meliputi link budget, path loss, cell radius, coverage area, dan eNodeB pada daerah metropolitan centre dengan menentukan model propagasi path loss COST231-Hata, frekuensi kerja 1800 MHz, tinggi antena pemancar 70 m dan tinggi antena penerima 3 m. Dari analisis yang dilakukan secara perhitungan pada lokasi urban metropolitan centre diperoleh nilai MAPL sebesar 195,16 dBm, cell radius sebesar 0,087 km, coverage area seluas 0,039 km, dan jumlah sel eNodeB sebanyak 2 buah.
Prototipe Monitoring Level Air dan Kualitas Udara Kandang Ayam Broiler Berbasis IoT Masdania Zurairah Siregar; Panangian Sihombing; Mawardi Mawardi; Sri Indah Rezkika; Muhammad Fauzi; Mona Vionita
Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Vol. 14 No. 01 (2024): Artikel Riset Edisi April 2024
Publisher : Information Technology and Science (ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/elektriese.v14i01.4263

Abstract

Beberapa parameter yang mempengaruhi pertumbuhan ayam broiler, yaitu suhu, kelembaban, ketersediaan air, dan kadar gas amonia di dalam kandang ayam. Agar dapat tumbuh secara optimal, suhu kendang di antara 24oC – 32oC (sesuai usia ayam), kelembaban udara sekitar 60% - 70% dan ketersediaan air yang terjaga. Kadar gas amonia harus di bawah 20 ppm. Petani budidaya ayam broiler harus senantiasa memantau nilai setiap parameter tersebut, sehingga dapat melakukan tindakan yang tepat dan cepat untuk mengurangi tingkat kematian ayam. Namun, mayoritas petani kecil budidaya ayam masih menggunakan metode konvensional untuk memantau parameter-parameter tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan sebuah alat yang mampu mengukur level air dan kualitas udara di kendang ayam broiler. Alat tersebut harus berbasis internet of things (IoT) sehingga petani dapat memonitor parameter-parameter tersebut secara real time dan juga dapat mengirimkan pemberitahuan otomatis kepada petani jika parameter tidak optimal. Sebuah prototipe telah dihasilkan yang tersusun dari beberapa komponen utama yaitu, prosesor Wemos D1R2, sensor gas amonia MQ-137, sensor ultrasonik HC-SR04, sensor suhu DS18B20, LCD1602, dan modul relai empat kanal. Wemos D1R2 memproses luaran setiap sensor dan mengontrol empat kipas melalui relai. Wemos D1R2 juga menampilkan hasil setiap sensor pada LCD1602 dan dashboard pada platform Blynk IoT. Berdasarkan hasil penelitian telah diketahui bahwa prototipe yang dihasilkan memiliki kinerja yang baik. Hal tersebut dibuktikan dengan parameter suhu, level air, dan kadar gas amonia kendang ayam dapat diketahui secara real-time menggunakan smartphone. Prototipe juga dapat mengontrol empat kipas angina dan mengirimkan notifikasi ke pengguna secara otomatis.
Evaluasi kebutuhan daya listrik pada gedung distributor kertas PT. X Dwiyanto, Dwiyanto; Azhari, Muhammad Dimas; Sihombing, Panangian Mahadi; Padli, Ridho; Rezkika, Sri Indah; Novalianda, Sari
Jurnal VORTEKS Vol. 4 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Program Studi Teknik mesin, Fakultas Teknik, Universitas Al Azhar Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54123/vorteks.v4i1.266

Abstract

Beban penerangan, beban air conditioner (AC) dan peralatan listrik portabel memainkan peranan penting dalam menentukan kebutuhan daya listrik pada sebuah gedung. Penentuan kebutuhan daya listrik yang tepat dapat meningkatkan efisiensi penggunaan energi listrik sehingga dapat menurunkan biaya tagihan listrik. Selain itu juga dapat menanggulangi resiko kebakaran akibat listrik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengevaluasi kebutuhan daya listrik pada Gedung Distributor Kertas PT X Medan sesuai dengan standar kelistrikan yang berlaku. Evaluasi dilakukan dengan cara membandingkan kebutuhan daya listrik hasil perhitungan sesuai dengan standar PUIL 2011 terhadap daya listrik yang terpasang pada gedung. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh total kebutuhan daya listrik untuk Gedung Distributor Kertas PT X Medan sebesar 22.290 Watt dengan perincian kebutuhan daya listrik untuk penerangan sebesar 2.250 Watt dan kebutuhan listrik untuk AC sebesar 20.040Watt. Berdasarkan hasil observasi, daya listrik terpasang pada gedung sebesar 23.000 VA. Dengan demikian, daya terpasang Gedung Distributor Kertas PT X Medan perlu dinaikkan hingga 26.000VA untuk menanggulangi dampak faktor daya dan pemakaian peralatan listrik portabel
Radio Frequency Energy Harvesting pada Antena Mikrostrip Array Frekuensi 2100 MHz Sri Indah Rezkika; Sari Novalianda; Panangian Mahadi Sihombing
Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Vol. 14 No. 02 (2024): Artikel Riset Edisi Oktober 2024
Publisher : Information Technology and Science (ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/elektriese.v14i02.4914

Abstract

Pada perkembangan telekomunikasi yang semakin berkembang pesat kebutuhan akan energi listrik juga semakin tinggi, untuk itu perlu digunakan energi alternatif untuk menutupi kebutuhan energi. Energi alternatif dapat memanfaatkan energi yang terdapat di bumi salah satunya yaitu gelombang elektromagnetik bebas dengan menggunakan sistem RF (Radio Frequency) energy harvesting. Salah satu komponen penting pada sistem RF (Radio Frequency) energy harvesting adalah antena. Pada penelitian ini dirancang antena mikrostrip array patch segiempat frekuensi 2100 MHz yang terdiri dari atas 4 susunan. Dari hasil pengukuran antena didapat nilai VSWR dan return loss yang terbaik sebesar 1,07 dan -29,25 dB pada frekuensi 2170 MHz. Tegangan keluaran dari antena mikrostrip yang diimplementasikan pada sistem RF energy harvesting adalah sebesar 17 mV untuk pengukuran daerah kota Medan, yaitu di Laboratorium Sistem Komunikasi Radio, 29 mV untuk pengukuran daerah kota Medan di Jalan Abdul Hakim dan 33 mV untuk pengukuran di Plaza Medan Fair. Dari implementasi yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan tegangan yang dipanen di dalam ruangan lebih kecil dibandingkan di luar ruangan.
Radio Frequency Energy Harvesting pada Antena Mikrostrip Array Frekuensi 2100 MHz Rezkika, Sri Indah; Novalianda, Sari; Sihombing, Panangian Mahadi
Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Vol. 14 No. 02 (2024): Artikel Riset Edisi Oktober 2024
Publisher : Yayasan Cita Cendekiawan Al Khwarizmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/elektriese.v14i02.4914

Abstract

Pada perkembangan telekomunikasi yang semakin berkembang pesat kebutuhan akan energi listrik juga semakin tinggi, untuk itu perlu digunakan energi alternatif untuk menutupi kebutuhan energi. Energi alternatif dapat memanfaatkan energi yang terdapat di bumi salah satunya yaitu gelombang elektromagnetik bebas dengan menggunakan sistem RF (Radio Frequency) energy harvesting. Salah satu komponen penting pada sistem RF (Radio Frequency) energy harvesting adalah antena. Pada penelitian ini dirancang antena mikrostrip array patch segiempat frekuensi 2100 MHz yang terdiri dari atas 4 susunan. Dari hasil pengukuran antena didapat nilai VSWR dan return loss yang terbaik sebesar 1,07 dan -29,25 dB pada frekuensi 2170 MHz. Tegangan keluaran dari antena mikrostrip yang diimplementasikan pada sistem RF energy harvesting adalah sebesar 17 mV untuk pengukuran daerah kota Medan, yaitu di Laboratorium Sistem Komunikasi Radio, 29 mV untuk pengukuran daerah kota Medan di Jalan Abdul Hakim dan 33 mV untuk pengukuran di Plaza Medan Fair. Dari implementasi yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan tegangan yang dipanen di dalam ruangan lebih kecil dibandingkan di luar ruangan.
Prototipe Monitoring Level Air dan Kualitas Udara Kandang Ayam Broiler Berbasis IoT Siregar, Masdania Zurairah; Sihombing, Panangian; Mawardi, Mawardi; Rezkika, Sri Indah; Fauzi, Muhammad; Vionita, Mona
Elektriese: Jurnal Sains dan Teknologi Elektro Vol. 14 No. 01 (2024): Artikel Riset Edisi April 2024
Publisher : Yayasan Cita Cendekiawan Al Khwarizmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/elektriese.v14i01.4263

Abstract

Beberapa parameter yang mempengaruhi pertumbuhan ayam broiler, yaitu suhu, kelembaban, ketersediaan air, dan kadar gas amonia di dalam kandang ayam. Agar dapat tumbuh secara optimal, suhu kendang di antara 24oC – 32oC (sesuai usia ayam), kelembaban udara sekitar 60% - 70% dan ketersediaan air yang terjaga. Kadar gas amonia harus di bawah 20 ppm. Petani budidaya ayam broiler harus senantiasa memantau nilai setiap parameter tersebut, sehingga dapat melakukan tindakan yang tepat dan cepat untuk mengurangi tingkat kematian ayam. Namun, mayoritas petani kecil budidaya ayam masih menggunakan metode konvensional untuk memantau parameter-parameter tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan sebuah alat yang mampu mengukur level air dan kualitas udara di kendang ayam broiler. Alat tersebut harus berbasis internet of things (IoT) sehingga petani dapat memonitor parameter-parameter tersebut secara real time dan juga dapat mengirimkan pemberitahuan otomatis kepada petani jika parameter tidak optimal. Sebuah prototipe telah dihasilkan yang tersusun dari beberapa komponen utama yaitu, prosesor Wemos D1R2, sensor gas amonia MQ-137, sensor ultrasonik HC-SR04, sensor suhu DS18B20, LCD1602, dan modul relai empat kanal. Wemos D1R2 memproses luaran setiap sensor dan mengontrol empat kipas melalui relai. Wemos D1R2 juga menampilkan hasil setiap sensor pada LCD1602 dan dashboard pada platform Blynk IoT. Berdasarkan hasil penelitian telah diketahui bahwa prototipe yang dihasilkan memiliki kinerja yang baik. Hal tersebut dibuktikan dengan parameter suhu, level air, dan kadar gas amonia kendang ayam dapat diketahui secara real-time menggunakan smartphone. Prototipe juga dapat mengontrol empat kipas angina dan mengirimkan notifikasi ke pengguna secara otomatis.
Pengujian Saturasi Trafo Arus terhadap Pengaruh Kerja Rele Proteksi Muhammad Ikhwan Fahmi; Mhd Fahmi Syawali Rizki; Muhammad Fadlan Siregar; Sri Indah Rezkika; Arif Milando; Ahmad Arif; Zahrul Ulum
Impression : Jurnal Teknologi dan Informasi Vol. 4 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jti.v4i2.960

Abstract

Fenomena saturasi pada trafo arus memiliki dampak krusial terhadap kinerja rele proteksi dalam sistem tenaga listrik. Pengujian eksperimental dilakukan untuk menganalisis karakteristik trafo arus, dengan fokus pada hubungan antara arus masukan primer (I1​), arus keluaran sekunder (I2​), dan tegangan keluaran (V). Hasil menunjukkan korelasi positif antara I1​ dengan I2​ dan V. nilai V tetap konstan pada 5,5 Volt meskipun I1​ meningkat dari 600 mA ke 800 mA, dan nilai I yang kembali ke 1,3 A pada tegangan tertentu dalam pengujian terpisah. potensi saturasi inti trafo atau perilaku non-linear komponen yang diuji, yang berpotensi memengaruhi akurasi pengukuran arus oleh rele proteksi. khususnya saat mendekati atau memasuki kondisi saturasi. Perilaku non-linear, seperti yang ditunjukkan oleh nilai V yang stabil pada dua titik I1​ yang berbeda, dan penurunan I pada tegangan yang meningkat, pengujian karakteristik trafo arus secara menyeluruh untuk memastikan rele proteksi dapat beroperasi secara akurat dan tepat waktu, terutama dalam menghadapi kondisi gangguan yang mungkin menyebabkan saturasi trafo.   The saturation phenomenon in current transformers has a crucial impact on the performance of protection relays in electric power systems. Experimental testing was conducted to analyze the characteristics of current transformers, focusing on the relationship between primary input current (I1), secondary output current (I2), and output voltage (V). The results showed a positive correlation between I1 and I2 and V. The V value remained constant at 5.5 Volts even though I1 increased from 600 mA to 800 mA, and the I value returned to 1.3 A at a certain voltage in a separate test. potential saturation of the transformer core or non-linear behavior of the components under test, which could potentially affect the accuracy of current measurement by the protection relay. especially when approaching or entering saturation conditions. Non-linear behavior, as indicated by stable V values at two different points of I1, and a decrease in I at increasing voltage, thorough testing of the current transformer characteristics to ensure the protection relay can operate accurately and timely, especially in the face of fault conditions that might cause transformer saturation.
Karakterisasi Partial Discharge pada Pengujian Isolator Keramik dengan Metode HFCT Mhd Fahmi Syawali Rizki; Muhammad Fadlan Siregar; Ahmad Arif; Sri Indah Rezkika; Arif Milando; Ahmad Faisal; Jhoni Hidayat
Impression : Jurnal Teknologi dan Informasi Vol. 4 No. 3 (2025): November 2025
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jti.v4i3.1304

Abstract

Karakteristik Partial Discharge (PD) pada isolator piring keramik berbahan porselen di bawah berbagai tingkat tegangan uji, yaitu 5 kV, 10 kV, 15 kV, dan 20 kV. Data yang dikumpulkan meliputi amplitudo PD tertinggi dan terendah dalam desibel (dB) serta fase PD dalam derajat, yang divisualisasikan dalam bentuk grafik garis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami pola distribusi fase PD sehubungan dengan amplitudo dan tegangan yang diterapkan, yang dapat memberikan indikasi mengenai kondisi isolasi material. analisis menunjukkan adanya pola fase PD yang berulang (90°, 180°, 270°, 360°) pada sebagian besar kondisi tegangan dan amplitudo. Fluktuasi fase PD seiring perubahan amplitudo menunjukkan dinamika aktivitas pelepasan parsial dalam satu siklus gelombang tegangan. Pola ini konsisten pada tegangan yang lebih rendah dan menengah, namun pada tegangan uji tertinggi (20 kV), piring keramik berbahan porselin yang diuji pada variasi tegangan 5 kV, 10 kV, 15 kV, dan 20 kV, pola fase PD yang konsisten berulang pada 90°, 180°, 270°, dan 360° di seluruh rentang tegangan yang diuji. Meskipun amplitudo PD bervariasi antara nilai tertinggi dan terendah pada setiap titik tegangan, pola fase cenderung mempertahankan bentuk dasarnya.   The characteristics of partial discharge (PD) on porcelain-based ceramic disc insulators under various test voltage levels, namely 5 kV, 10 kV, 15 kV, and 20 kV, were investigated. The collected data included the highest and lowest PD amplitudes in decibels (dB) and PD phase angles in degrees, which were visualized using line graphs. The purpose of this study was to understand the phase distribution patterns of PD in relation to amplitude and applied voltage, which can provide indications of the insulation condition of the material. The analysis shows the presence of repetitive PD phase patterns (90°, 180°, 270°, and 360°) under most voltage and amplitude conditions. Phase fluctuations accompanying changes in amplitude indicate the dynamic behavior of partial discharge activity within one voltage waveform cycle. These patterns are consistent at low and medium voltage levels; however, at the highest test voltage (20 kV), porcelain-based ceramic discs tested at 5 kV, 10 kV, 15 kV, and 20 kV still exhibit consistent repeating PD phase patterns at 90°, 180°, 270°, and 360° across the entire tested voltage range.Although PD amplitudes vary between maximum and minimum values at each voltage level, the phase patterns tend to preserve their basic shape.
Multi-LoRa-Based Automatic Drinking Water Transmission System Sri Indah Rezkika; Adinda Juwita Nasution; Andri Ramadhan; Muhammad Fiza Lubis; Panangian Mahadi Sihombing; Aulia Agung Dermawan
Journal of Applied Informatics and Computing Vol. 10 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Politeknik Negeri Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30871/jaic.v10i3.12862

Abstract

Drinking water transmission systems are needed to fill some reservoirs. However, the water level in each reservoir must be monitored constantly to ensure optimal water transmission. Therefore, a device is needed to monitor the water level and automatically control the transmission system. The purpose of this research is to develop a multi-LoRa-based automatic drinking-water transmission system that provides near-real-time water-level information with an average end-to-end latency of 1.2 seconds, meeting the typical requirements for water-level monitoring in remote reservoirs (acceptable delay < 10 seconds). This study uses a prototype experimental approach, validated with a Laser Distance Meter and sticker meters. The star topology connects several LoRa modules that transmit water-level data without internet access. The purpose system consists of several LoRa modules, water-level sensors, liquid crystal displays (LCDs), solenoid valves, and pressure-switch sensors. A pressure sensor switch is installed on the power-supply side of the water pump, controlling the pump based on the water-pressure difference. The result of this study is that the purpose system can automatically control the water pump to fill several reservoirs based on water-level information from each reservoir. This is evidenced by each solenoid valve opening when the water level is below 10 cm and closing when it reaches 70 cm. So that the water pump can be controlled through a pressure sensor switch. The purpose system can also accurately measure water levels, as evidenced by ME ≤ 0.5 cm, MAPE ≤ 4.4%, RMSE ≤ 0.7 cm, and R² ≥ 0.97. These findings demonstrate the potential of the proposed solution as a cost-effective and reliable solution for remote areas without internet infrastructure.