Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Preventive Health Behaviors Pada Caregiver Pasien Lansia Dan Hubungannya Dengan Kepatuhan Pengobatan Di Sulawesi Selatan Anggriani, A.; Rahmawati, Fita; Wahab, Izyan Abdul
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 13 No. 1 (2021): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.661 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v13i1.24

Abstract

Pasien lanjut usia atau geriatri rentan terhadap berbagai masalah klinis yang timbul akibat proses degeneratif dan berpengaruh dalam menjalankan kegiatan pribadi sehingga membutuhkan bantuan dari orang lain yang disebut caregiver. Seorang caregiver, selain membantu kegiatan pribadi pasien geriatri, juga berperan penuh dalam proses penyembuhan pasien. Hal ini dapat mengakibatkan caregiver akan memiliki beban mental yang harus diperhatikan agar proses caregiving pada pasien lanjut usia dapat berjalan dengan lancar. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi aspek penguasaan emosional individu caregiver serta menelaah perannya dalam proses pengobatan pasien geriatri, terutama pada kepatuhan penggunaan obat. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yang melibatkan 131 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap caregiver pasien usia lanjut yang mendapatkan layanan kesehatan di Puskesmas daerah Sulawesi Selatan. Instrumen kuesioner Pearlin Mastery Score digunakan untuk mengukur penguasaan emosional individu caregiver, dan pill count method untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien. Analisis data menggunakan statistik deskriptif terkait data demografi pasien dan caregiver serta Spearman-rho untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil analisis menunjukkan angka koefisien korelasi sebesar 0,417** yaitu tingkat hubungan antara variabel penguasaan emosional caregiver terhadap tingkat kepatuhan pasien geriatri adalah sebesar 0,417 atau korelasi sedang dengan hubungan antar variabel searah dan bernilai signifikan (p<0,05). Semakin tinggi tingkat penguasaan emosional caregiver maka semakin tinggi tingkat kepatuhan pasien geriatri. Kata kunci: Geriatri, Caregiver, Preventive Health Behaviour, Kepatuhan Penggunaan Obat
Financial Knowledge, Self-Efficacy, and Financial Well-Being: The Role of Digital Inclusion in Indonesia Hesniati, H.; Anggriani, A.; Suprapto, Yandi; Arviano, Hengky
Golden Ratio of Finance Management Vol. 6 No. 1 (2026): October - March
Publisher : Manunggal Halim Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52970/grfm.v6i1.1779

Abstract

This research examines the role of financial knowledge and self-efficacy in shaping financial well-being, with digital financial inclusion tested as a mediating factor. Survey data were collected from 407 Indonesian respondents and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results indicate that both financial knowledge and self-efficacy significantly influence digital financial inclusion. Digital financial inclusion, in turn, positively affects financial well-being. Self-efficacy also directly improves financial well-being, whereas financial knowledge shows no direct impact. Instead, financial knowledge indirectly contributes to financial well-being through digital financial inclusion, underscoring the mediating role of digital access. This study adds to the financial behavior literature by highlighting digital financial inclusion as a crucial channel that converts capability into improved outcomes, and by showing that self-efficacy plays a stronger role than knowledge alone. The findings suggest that policies and programs should go beyond literacy campaigns to also strengthen financial confidence and digital readiness, particularly among younger groups and vulnerable communities. The study is limited by its reliance on self-reported, cross-sectional data and its focus on the Indonesian context, which may constrain causal inference and limit the generalizability of the results.
Hubungan Level Depresi terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kota Makassar Utami, Mutiara Cahya; Tangdilintin, Frederika; Anggriani, A.; Bahar, Muh. Akbar
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.789

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit kronis yang memiliki prevalensi cukup tinggi. Kondisi depresi pada pasien dapat memengaruhi tingkat kepatuhan dalam mengonsumsi obat serta berdampak buruk pada pengendalian kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara tingkat depresi dan kepatuhan pengobatan pada penderita DMT2 di beberapa Puskesmas Kota Makassar. Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 150 pasien dari empat puskesmas. Tingkat depresi dinilai menggunakan instrumen Beck Depression Inventory-II (BDI-II), sementara kepatuhan minum obat diukur dengan Medication Adherence Rating Scale (MARS). Analisis data dilakukan melalui uji regresi logistik multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (84,7%) memiliki tingkat kepatuhan sedang, sedangkan 15,3% termasuk dalam kategori kepatuhan tinggi. Berdasarkan tingkat depresi, 24,7% pasien berada dalam kategori normal, 30% mengalami gangguan suasana hati ringan, 17,3% berada pada ambang depresi, dan 28% mengalami depresi ringan hingga sedang. Analisis bivariat mengungkapkan bahwa lama pendidikan memiliki hubungan signifikan dengan kepatuhan pengobatan. Sementara itu, analisis multivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat depresi dan kepatuhan minum obat (aOR: 0,156; 95% CI: 0,038–0,636; p = 0,010). Temuan ini mengindikasikan bahwa depresi berperan penting dalam memengaruhi kepatuhan pengobatan pasien DMT2. Oleh karena itu, penanganan depresi perlu menjadi pertimbangan dalam tata laksana DMT2 guna meningkatkan kepatuhan terapi dan kontrol glikemik yang lebih baik.