Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : NALARs

TRANSFORMASI MATERIAL PELINGGIH MERAJAN/SANGGAH DI BALI PERIODE TAHUN 1970 SAMPAI DENGAN 2024 Gunawan, I Gusti Ngurah Anom; Prianto, Eddy
NALARs Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji transformasi material pada pelinggih Merajan/Sanggah di Bali dari tahun 1970 hingga 2024, dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, faktor ekonomi, dan perubahan sosial-budaya. Pada periode 1970-1990, material tradisional seperti batu alam, kayu, dan ijuk mendominasi pembangunan pelinggih, dipilih karena nilai spiritual serta estetika yang melekat pada material tersebut. Namun, pada akhir periode ini, modernisasi mulai memperkenalkan material seperti beton dan bata press, yang lebih efisien dan mudah diakses. Pada periode 1991-2000, penggunaan material modern seperti beton cetakan dan genteng keramik meningkat seiring perkembangan teknologi konstruksi yang mempermudah proses pembangunan. Material modern ini menawarkan daya tahan dan efisiensi lebih tinggi, meskipun mengurangi keaslian nilai spiritual bangunan. Memasuki periode 2001-2024, muncul tren keberlanjutan yang mendorong penggunaan material ramah lingkungan, seperti bata daur ulang dan genteng berkelanjutan. Kesadaran terhadap pelestarian lingkungan semakin terintegrasi dalam proses pembangunan, dengan revitalisasi material lama yang berfokus pada pengurangan limbah konstruksi dan menjaga nilai budaya.Faktor-faktor yang mendorong perubahan material ini termasuk inovasi teknologi, pertimbangan ekonomi, dan globalisasi yang mempengaruhi preferensi masyarakat Bali. Kesimpulannya, perubahan material pada pelinggih Merajan/Sanggah mencerminkan adaptasi terhadap modernisasi dan upaya untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi, keberlanjutan lingkungan, serta pelestarian nilai budaya. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan arsitektur tradisional yang mampu beradaptasi dengan zaman tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan dan spiritualitas.   This study examines the transformation of materials in Merajan/Sanggah shrines in Bali from 1930 to 2024, influenced by technological developments, economic factors, and socio-cultural changes. During the 1930-1990 period, traditional materials such as natural stone, wood, and ijuk (palm fibre) dominated shrine construction due to their spiritual and aesthetic values. However, modernisation introduced materials such as concrete and pressed bricks, which were more efficient and accessible. In the 1991-2000 period, the use of modern materials like cast concrete and ceramic roof tiles increased as construction technology advanced. Entering the period of 2001-2024, sustainability trends encouraged the adoption of eco-friendly materials, such as recycled bricks and sustainable roof tiles. The primary factors driving these material changes included technological innovation, economic considerations, and globalisation, which have influenced the preferences of Balinese communities. To conduct the study, a qualitative descriptive research design with the case study approach was adopted. Data were collected through field observations, interviews with Balinese traditional architects (undagi) and local communities, and document analysis. The analysis techniques applied included thematic, comparative and sustainability analyses to assess the impact of material transformation on cultural values and environmental sustainability. Findings of the study denote the material changes in Merajan/Sanggah shrines that reflect an adaptation to modernisation while striving to maintain a balance between efficiency, environmental sustainability, and cultural preservation.