Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

APPLICATION OF QORDH, IJARAH AND WAKALAH BIL UJRAH IN AQAD FINANCING ON FINANCIAL TEHCNOLOGY Ahmad Zubaidi
Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 13 No 1 (2022): Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Islam As-Syafiiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/alrisalah.v13i1.1716

Abstract

The development of Sharia Financial Technology raises the question of what contracts are used so that sharia fintech practices are in accordance with sharia provisions. In this interest, DSN MUI has issued Fatwa DSN MUI Number 117/DSN-MUI/II/2018 concerning Information Technology-Based Financing Services Based on Sharia Principles. However, the application of this fatwa also requires other DSN fatwas in order to create a fintech product that can answer the needs of the community but still comply with sharia. One of the products needed by the business world is financing for company receivables due to the provision of work from other parties for which cash payments are not made. One solution is to provide financing by using qordh, ijarah and wakalah bil ujrah contracts. This article will explain how the Qord, Ijarah, and wakalah bil Ujrah contracts are applied to the fintech industry which can be applied to the Islamic finance business, their implementation models, the policies of the Financial Services Authority, and fatwas related to fintech. Berkembangnya Financial Technology Syariah memunculkan pertanyaan akad-akad apa yang digunakan agar praktik fintech syariah sesuai dengan ketentuan syraiah. Dalam kepentingan ini, DSN MUI sudah mengeluarkan Fatwa DSN MUI Nomor 117/DSN-MUI/II/2018 Tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah. Namun, demikian dalam pengaplikasian fatwa ini juga membutuhkan fatwa-fatwa DSN yang lain agar tercipta sebuah produk fintech yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat tetapi tetap sesuai syariah. Salah satu prodk yang dibutuhkan dunia usaha adalah pembiayaan terhadap piutang perusahaan akibat adanya pemberian kerja dari pihak lain yang tidak dilakukan pembayaran secara kontan. Salah satu solusinya adalah dengan pemberian pembiayaan dengan menggunaan akad qordh, ijarah dan wakalah bil ujrah. Artikel ini akan menjelaskan bagaimana akad Qord, Ijarah, dan wakalah bil Ujrah diterapkan pada Industri fintech dapat diterapkan dalam bisnis keuangan syariah, model-model penerapannya, kebijakan Otoritas Jasa Keuangan, dan Fatwa-fatwa yang berkaitan dengan fintech.
Jerat Riba di Era Digital: Analisis Pinjaman Online Ilegal dalam Perspektif Ekonomi Islam Ahmad Zubaidi; Muhammad Azkar
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol. 15 No. 3 (2025): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v15i3.2864

Abstract

Maraknya praktik pinjaman online ilegal di Indonesia telah menimbulkan berbagai dampak negatif, terutama karena unsur riba yang terkandung di dalamnya. Layanan pinjaman digital ini sering menetapkan bunga tinggi, biaya tersembunyi, serta denda keterlambatan yang tidak proporsional, sehingga menjerat masyarakat dalam siklus utang yang sulit diputuskan. Selain dampak ekonomi, korban pinjol ilegal juga mengalami tekanan psikologis akibat intimidasi, pelanggaran privasi, serta ancaman dari debt collector. Fenomena ini menunjukkan adanya celah dalam sistem keuangan yang tidak mampu memberikan akses pembiayaan yang adil dan berlandaskan nilai moral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik pinjaman online ilegal dalam perspektif ekonomi Islam, serta menawarkan solusi berbasis prinsip syariah. Penelitian menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi pustaka terhadap berbagai sumber ilmiah, fatwa, regulasi, serta laporan lembaga terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pinjol ilegal mengandung unsur riba yang jelas dan sangat bertentangan dengan prinsip keadilan, tolong-menolong (ta’awun), dan larangan eksploitasi dalam Islam. Riba dalam pinjol ilegal menyebabkan akumulasi kekayaan pada segelintir pihak dan memperdalam ketimpangan sosial. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan literasi keuangan syariah, pengembangan layanan Qard Hasan, serta optimalisasi zakat, infak, dan sedekah sebagai alternatif pembiayaan halal. Selain itu, sinergi antara pemerintah, OJK, MUI, dan lembaga keuangan syariah sangat penting untuk melindungi masyarakat dari jerat riba di era digital.
Pengembangan Dakwah Digital Berbasis Sirah Nabawiyah: Upaya Meningkatkan Pendidikan Moral Generasi Z Melalui Media Radio Dzulkifli Hadi Imawan; Ahmad Zubaidi
SiRad: Pelita Wawasan February (Vol. 1 No. 1, 2025)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v1i1.art6

Abstract

This study aims to develop a digital da'wah initiative based on Sirah Nabawiyah at Radio Dakwah Unisia as an innovative solution to enhance the moral values of Generation Z. The program employs a systematic method encompassing planning, content production, implementation, and evaluation. It begins with orientation discussions with partners to understand Generation Z's needs, followed by the preparation of modules based on Sirah Nabawiyah highlighting values such as patience, honesty, and responsibility. Content production involves creating 10 podcast episodes, three online discussion sessions, and high-quality audio-visual materials supported by expert speakers. Evaluation was conducted through interviews, observations, and questionnaires, analyzed qualitatively and quantitatively to measure the program's impact. Results indicate a 60% increase in Generation Z participation, with 85% of participants reporting new insights on the relevance of Sirah Nabawiyah values in their daily lives. The novelty of this program lies in its approach, which integrates Islamic historical content with modern, interactive digital formats, making it relevant to the lifestyle of Generation Z. The program's implications include a shift from traditional da'wah strategies to a more inclusive and adaptive technology-based approach. Sustainability is ensured through the establishment of online communities and technical training for partners. This Sirah Nabawiyah-based da'wah approach strengthens Radio Dakwah Unisia's position as an adaptive and effective da'wah medium in the digital era while contributing significantly to enhancing Generation Z's moral values.   [Studi ini mengkaji tentang pengembangan dakwah digital berbasis Sirah Nabawiyah di Radio Dakwah Unisia sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan moral generasi Z. Pendidikan moral berbasis sirah nabawiyah ini sangat penting untuk membentengi mora generasi Z dan memberi keteladanan yang baik. Program ini menggunakan metode sistematis yang mencakup perencanaan, produksi konten, implementasi, dan evaluasi. Kegiatan ini diawali dengan diskusi orientasi bersama mitra untuk memahami kebutuhan generasi Z, diikuti dengan penyusunan modul berbasis Sirah Nabawiyah yang menyoroti nilai-nilai seperti kesabaran, kejujuran, dan tanggung jawab. Produksi konten melibatkan pembuatan 10 episode podcast, tiga sesi diskusi daring, serta materi audio-visual berkualitas tinggi yang didukung oleh narasumber ahli. Evaluasi dilakukan melalui wawancara, observasi, dan kuesioner, dengan analisis kualitatif dan kuantitatif untuk mengukur dampak program. Hasil menunjukkan peningkatan partisipasi generasi Z sebesar 60%, serta 85% peserta menyatakan mendapatkan pemahaman baru terkait relevansi nilai Sirah Nabawiyah dalam kehidupan mereka. Kebaruan program ini terletak pada pendekatannya yang memadukan konten historis Islami dengan format digital modern yang interaktif, sehingga relevan dengan gaya hidup generasi Z. Implikasinya, program ini menawarkan model dakwah berbasis teknologi yang dapat diadopsi oleh lembaga lain untuk menjawab tantangan moral generasi muda. Keberlanjutan program dirancang melalui pembentukan komunitas daring dan pelatihan teknis bagi mitra. Pendekatan dakwah berbasis Sirah Nabawiyah ini memperkuat posisi Radio Dakwah Unisia sebagai media dakwah yang adaptif dan efektif di era digital, sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan moral generasi Z.]
Digital reading platforms in literary learning: cultural understanding and engagement in Indonesian and Malay texts Mohd Roslan Mohd Nor; Ahmad Zubaidi
Lingua Technica: Journal of Digital Literary Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Literature and computation: mapping, modeling, and mediation
Publisher : Asosiasi Relawan dan Pengelola Jurnal LPTNU (ARJUNU)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64595/lingtech.v2i1.131

Abstract

Background: The increasing use of digital reading platforms in humanities education has transformed how readers interact with texts, yet their impact on literary engagement, cultural understanding, and interpretive depth in Southeast Asian literary learning remains underexplored. Objective: This study investigates how digital reading platforms shape engagement, cultural meaning-making, and interpretive depth in the reading of Indonesian and Malay texts. Method: Employing a mixed-methods design, the study analyzes digitally mediated interactions—annotations, discussions, and reflective responses—across a curated corpus of canonical Indonesian and Malay works (published between the 1970s and 2010s) accessed through institutional digital reading platforms. Results: The findings reveal distinct patterns of digital engagement, with Indonesian texts eliciting stronger annotation-based interaction and Malay texts fostering more dialogic discussion. Cultural understanding emerges in differentiated forms, combining historical–political contextualization and ethical–communal interpretation. Furthermore, digital mediation supports advanced literary interpretation, including thematic synthesis, ideological critique, and intertextual reasoning. Implication: These results indicate that digital reading platforms function as cultural and interpretive mediation spaces rather than neutral technologies. Novelty: This study integrates literature-specific interpretive indicators with platform-based empirical data, offering a culturally grounded model of digital literary learning.