Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Epistemologi dan Teologi dalam Pemikiran al-Ghazali tentang Ilmu Kasyf Syamsuddin Arif; Kholili Hasib; Zainal Abidin; Neneng Uswatun Khasanah
TSAQAFAH Vol 16, No 2 (2020): Islamic Theology
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v16i2.4765

Abstract

 Epistemologi dalam tradisi tasawuf memiliki karakter yang intuitif, metafisik dan illuminatif. Salah satu bentuk epistemologi tasawuf imam al-Ghazali adalah kasyf. Pengetahuan kasyf merupakan pengetahuan tertinggi dalam pandangan imam al-Ghazali. Pengetahuan kasyf merupakan bentuk pengintuisian yang melibatkan jiwa, hati dan akal. Menurut imam al-Ghazali, pengintuisian melalui jalan kasyf merupakan limpahan dari Allah swt. Tetapi, seseorang yang mengalami pengintuisian ini apabila jiwa dan hatinya bersih. Selain itu akal yang mengalami pengintuisian ini adalah bukan akal diskursif dalam pengertian biasa. Tetapi bagi imam al-Ghazali ada bagian akal yang dalam disebut intellektus. Jiwa yang mengalami kasyf ia mendapatkan pengalaman spiritual hingga kondisi jiwanya itu berada pada posisi tinggi. Pengetahuan yang dimiliki dan masuk ke dalam jiwa menjadi pengetahuan yang tinggi pula. Melihat realitas dunia tidak seperti pandangan mata orang awam dalam kesadaran biasa. Sehingga pemahaman tauhidnya juga berbeda dengan pemahaman tauhid orang biasa. Seorang yang mendapatkan limpahan kasyf ini disebut muqarrabun. Melihat alam tidak seperti orang biasa melihat alam. Ia mendapatkan penemuan-penemuan pada tiga aspek. Penemuan hal (perasaan), penemuan kognitif (ilmu) dan penemuan tertinggi yaitu penemuan berupa pengintuisian terhadap kewujudan. Pada penemuan kognitif ini kasyf dapat difungsikan sebuah sebuah metode pengetahuan. Ia melalui beberapa fase. Fase pertama melibatkan ilmu rasional-empirik, kemudian dilanjutkan dengan proses intuitif sehingga sampai mencapai hakikat sejati. Berarti perspektif dalam tasawuf imam al-Ghazali memerlukan pengkajian ilmu sains (thabi’iyyat), dan ilmu thabi’iyyat harus ditimbang sebagai wasilah pada puncak tauhid. Epistemologi harus didasarkan pada teologi.
تعديل الإسلام في المؤسسات التعليمية بالقرية الإنجليزية Dwi Puji Lestari; Asep Rahmatullah; Zainal Abidin
Jurnal Pendidikan Islam Vol 11 No 1 (2021)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/jpi.v11i1.613

Abstract

إن الحديث عن الإسلام المعتدل في السياق الإندونيسي ليس حديثًا جديدًا في الواقع. يمكن تتبع الإسلام المعتدل في إندونيسيا من آثار دخول الإسلام إلى إندونيسيا. على الرغم من أن الخبراء لديهم آراء مختلفة فيما يتعلق بدخول الإسلام إلى إندونيسيا، إلا أنه لا يأتى بأسلوب الإسلام الإندونيسي. إن الإسلام الإندونيسي الذي كان قادرًا على التثاقف مع الثقافة المحلية قد أنتج إسلامًا مميزًا ، وهو الإسلام الذي كان معتدلًا ومتسامحًا وقادرًا على قبوله من قبل المجتمع المحلي في ذلك الوقت. يستخدم هذا البحث نهجًا نوعيًا مع تصميم دراسة الحالة. ويخلص هذا البحث إلى أنه فيما يتعلق بالاعتدال الإسلامي في المؤسسة التعليميةفي القرية الإنجليزية ، يمكن ملاحظة أن الوسطية الإسلامية تحدث بسبب انفتاح المجتمع على قبول جميع الاختلافات. بمعنى أن حدث نجاح الوسطية الإسلامية في المؤسسات التعليمية القروية الإنجليزية لأن المجتمع كان "welcome" أي دائما على حالة قبول بترحيب حار بوصول المشاركين في الدورة من مختلف المناطق في إندونيسيا. ثم انتشر هذا الحال والبيئة طيبة وأصبح روح جميع أصحاب المصلحة في مؤسسة القرية الإنجليزية.
Peer Group Optimization in Developing Religious Culture of High School Students Zainal Abidin; Jaudi Jaudi; Imaduddin Imaduddin; Mukhaemin Mukhaemin
Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 5 No 3 (2022): Islamic Education
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Institut Pesantren KH Abdul Chalim Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.397 KB) | DOI: 10.31538/nzh.v5i3.2429

Abstract

The background of this research is the decline of religious culture among young people and students alike, then the influence of peer groups (Peer Group) was very strong in shaping the character of students for the need to optimize Peer groups in developing the religious culture of SMA Negeri 1 Pacet Mojokerto students. The focus of research in this study is 1) Optimization of Peer Group in developing the religious culture of SMA Negeri 1 Pacet Mojokerto students, 2) The constraints of optimizing Peer Group in developing the religious culture of students of SMA Negeri 1 Pacet Mojokerto. The method used is the descriptive qualitative method. Data collection techniques using direct observation, interviews, and documentation. The data analysis stage uses the Milles and Huberman method which is done through data reduction, data presentation, verification, and conclusions. Checking the validity of the data using triangulation techniques. The subjects of this study are the Principal, Islamic Religious Education Teachers, and Students as additional subjects, while the object is the Peer Group and religious culture. The results of this study note that the optimization of the Peer Group at SMA Negeri 1 Pacet Mojokerto in developing religious culture went smoothly. The constraints in optimizing Peer Group in SMA Negeri 1 Pacet Mojokerto in developing students' religious culture in the form of internal, external, and endogenous factors.
Implementation of Islamic Religious Education Learning and Character in the New Normal Era Zainal Abidin; Dina Destari; Syafruddin Syafruddin; Syamsul Arifin; Mila Agustiani
Al-Hayat: Journal of Islamic Education Vol 6 No 1 (2022): Al-Hayat: Journal of Islamic Education
Publisher : Al-Hayat Al-Istiqomah Foundation collab with Letiges

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35723/ajie.v6i1.239

Abstract

This article aims to describe the planning, implementation, and evaluation of IRE (Islamic Religious Education) and Character learning at SMK Thoriqul Ulum Pacet. This article uses qualitative research with a case study approach. For data collection, researchers used observation, interviews, and documentation techniques. Data analysis techniques were carried out by data reduction, data presentation, and conclusion drawing. This study obtained the following results: 1) General learning planning, a) determination of health protocols, b) preparation of lesson plans, c) face to face assessment during the new standard period d) evaluation. 2) Implementing Islamic Education and Character Learning in the New Normal Era at Thoriqul Ulum Pacet Vocational School using face to face but reducing learning hours. 3) Evaluation of Islamic Education and Character Learning in the New Normal Era at Thoriqul Ulum Pacet Vocational School with the teacher giving exams, oral tests, assignments, and homework.
Konsep Pendidikan Agama Pada Anak Usia Dini (Dalam Tinjauan Psiko-Pedagogis) Imaduddin Imaduddin; Zainal Abidin Bilfaqih
Adabuna : Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Vol 1 No 2 (2022): Adabuna : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran
Publisher : Program Pascasarjana Institut Agama Islam (IAI) Darullughah Wadda'wah Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.307 KB)

Abstract

Setiap anak yang terlahir ke dunia ini menurut pandang islam telah membawa fitrah islamiyah. Maka setiap orang tua muslim wajib menyelematkannya dengan usaha-usaha yang nyata. Yang dimaksud dengan fitrah yaitu potensi sang anak terhadap akidah islamiyah dalam artian siap menjadi manusia yang berpedoman islam dalam kehidupannya. Fitrah beragama pada fase usia dini itu akan berkembang seiring dengan perkembangan yang dilalui manusia. Pada konteks ini perkembangan berarti serangkaian perubahan progesif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Hal itu benar bahwa sewaktu anak lahir, ia belum memiliki kesadaran ber-agama. Lewat kontak dengan lingkungan hidupnya, hubungan dengan orang tuanya, keluarganya serta masyarakat sekitarnya, kesadaran beragama tahap demi tahap bergerak maju menuju kematangan. Apabila sudah matang pada akhirnya akan meraih predikat insan kamil tanpa menafikan adanya tantangan dan gangguan yang cepat mengubah warna kehidupan dan menyimpang dari realisasi fitrah dasar tersebut. Pendidikan rohani bagi anak merupakan modal utama yang dapat mempengaruhi jiwa anak dalam menuju perkembangannya. Bila pendidikan ini tidak dijalankan oleh pendidik atau orang tua, anak akan nakal, sukar diatur dan kemungkinan anak tersebut akan jauh dari agama. Oleh karena itu tepatlah apabila kita segera mencari landasan yang kokoh yang ditanamkan sejak usia dini. Agar pendidikan anak tidak terlumuri dengan perlakuan kotor. Dalam islam sendiri kita menemukan dua konsep ajaran Rasulullah SAW yang maknanya sangat padat dan memilik kaitan erat dengan tujuan pendidikan yaitu “IMAN DAN TAQWA” kedua konsep itu tidak dapat dipisahkan. Taqwa merupakan asas, sedangkan Iman merupakan pernyataan pembenaran dengan kalbu sehingga manusia terbebas dari perbuatan dosa. Penelitian ini bertujuan untuk bagaimana sang pendidik bisa mendidik anak pada usia dini dengan berdasarkan agama dengan menselaraskannya dalam psiko-pedagogisnya. Penelitian ini adalah jenis penelitian library research yaitu penelitian yang menjadikan literatur (buku-buku) sebagai bahah rujukan, kemudian diusahakan adanya penjelasan dan analisa terhadap data tersebut. Dari semua hasil data yang telah terkumpul Konsep Pendidikan Agama Pada Anak Usia Dini (Dalam Tinjauan Psiko-Pedagogis) yaitu : Sang Pendidik atau Orang Tua dapat menentukan anak disaat ia masih usia dini, kedua orang tua bertanggung jawab untuk merawat, mengasuh dan mendidik anaknya dengan penuh perhatian tanpa terkecuali sehingga menjadi anak yang beragama, bertaqwa, sehat jasmani dan rohani, cerdas, terampil, aktif, kreatif, sopan, penyayang, bertanggung jawab serta tanggap terhadap tantangan zaman.
Metodologi Sains dan Agama: Pembacaan Kritis terhadap Teori Integrasi Holmes Rolston Zainal Abidin; Kholili Hasib
Adabuna : Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Vol 1 No 1 (2022): Adabuna : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran
Publisher : Program Pascasarjana Institut Agama Islam (IAI) Darullughah Wadda'wah Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.925 KB)

Abstract

Kajian ini didasarkan oleh pemikiran dasar bahwa hubungan sains dan agama bukan hubungan saling berlawanan. Tetapi bisa berkawan. Holmes Rolston, termasuk ilmuan Barat kontemporer yang memiliki dasar pemikiran demikian. Atas dasar itu Holmes mengajukan tesis bahwa, antara teori dalam sains dan teologi dalam agama lebih banyak memiliki kesamaan dari pada perbedaannya. Tesis ini mengandung masalah utama yang akan dikaji yaitu bagaimana suatu teori ilmiyah dan teologi itu dirumuskan. Sejauh ini dalam tradisi sains modern (sains Barat), teori ilmu pengetahuan dan teologi tidak bisa bertemu. Kajian Homes ini sebenarnya masuk ke wilayah basis filsafat ilmu yang menjadi dasar tumbuh berkembangnya suatu teori. Persoalan berikutnya adalah, apakah metolologi yang digunakan dalam sains, baik sains sosial atau sains humaniora itu dapat digunakan dalam penyelidikan agama?. Maka, ada empat masalah pokok yang dibahas oleh Holmes, yaitu Pertama, Teori, Keyakinan dan Pengalaman. Kedua, Model, pola dan paradigma. Ketiga, Objektivitas dan Keterlibatan. Keempat, Logika ilmiah dan agama. Paper ini akan mengkaji empat isu pokok di atas sebaimana tercantum dalam buku Holmes Rolston berjudul ilmu dan agama sebuah survai kritis bab Pertama, metode penyelidikan sains dan agama. Keyword: integrasi, sains, agama, Holmes Rolston
The Strategy of Islamic Religious Teachers in the Development of Akhlakul Karimah in Integrated Islamic Elementary School Students Imaduddin Imaduddin; Sodikin Sodikin; Zainal Abidin
Munaddhomah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 3 No. 4 (2022): Management of Islamic Education
Publisher : Prodi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/munaddhomah.v3i4.437

Abstract

Study This discuss (1) role strategy Teacher education religion Islam in coaching morals karimah; (2) form coaching Akhlakul Karimah conducted by Islamic religious education teachers. Study This using a descriptive qualitative approach. The results of the study are (1) strategy Teacher education religion Islam in coaching morals karimah done through habituation, exemplary, recommendation or advice, prohibition, supervision and punishment; (2) moral development in SDIT Permata Kota Probolinggo is divided become two that is intracurricular Which focused on religious studies consisting of Aqidah/Tawhid, and extracurricular activities , including sports, field trips, and social activities; And form coaching morals done with read prayer read Al-Qur'an, Salat Zhuhur And commemorate day Big Islam like Year new And Mawlid Prophet.
Epistemologi dan Teologi dalam Pemikiran al-Ghazali tentang Ilmu Kasyf Syamsuddin Arif; Kholili Hasib; Zainal Abidin; Neneng Uswatun Khasanah
TSAQAFAH Vol. 16 No. 2 (2020): Islamic Theology
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v16i2.4765

Abstract

 Epistemologi dalam tradisi tasawuf memiliki karakter yang intuitif, metafisik dan illuminatif. Salah satu bentuk epistemologi tasawuf imam al-Ghazali adalah kasyf. Pengetahuan kasyf merupakan pengetahuan tertinggi dalam pandangan imam al-Ghazali. Pengetahuan kasyf merupakan bentuk pengintuisian yang melibatkan jiwa, hati dan akal. Menurut imam al-Ghazali, pengintuisian melalui jalan kasyf merupakan limpahan dari Allah swt. Tetapi, seseorang yang mengalami pengintuisian ini apabila jiwa dan hatinya bersih. Selain itu akal yang mengalami pengintuisian ini adalah bukan akal diskursif dalam pengertian biasa. Tetapi bagi imam al-Ghazali ada bagian akal yang dalam disebut intellektus. Jiwa yang mengalami kasyf ia mendapatkan pengalaman spiritual hingga kondisi jiwanya itu berada pada posisi tinggi. Pengetahuan yang dimiliki dan masuk ke dalam jiwa menjadi pengetahuan yang tinggi pula. Melihat realitas dunia tidak seperti pandangan mata orang awam dalam kesadaran biasa. Sehingga pemahaman tauhidnya juga berbeda dengan pemahaman tauhid orang biasa. Seorang yang mendapatkan limpahan kasyf ini disebut muqarrabun. Melihat alam tidak seperti orang biasa melihat alam. Ia mendapatkan penemuan-penemuan pada tiga aspek. Penemuan hal (perasaan), penemuan kognitif (ilmu) dan penemuan tertinggi yaitu penemuan berupa pengintuisian terhadap kewujudan. Pada penemuan kognitif ini kasyf dapat difungsikan sebuah sebuah metode pengetahuan. Ia melalui beberapa fase. Fase pertama melibatkan ilmu rasional-empirik, kemudian dilanjutkan dengan proses intuitif sehingga sampai mencapai hakikat sejati. Berarti perspektif dalam tasawuf imam al-Ghazali memerlukan pengkajian ilmu sains (thabi’iyyat), dan ilmu thabi’iyyat harus ditimbang sebagai wasilah pada puncak tauhid. Epistemologi harus didasarkan pada teologi.
تعديل الإسلام في المؤسسات التعليمية بالقرية الإنجليزية Asep Rahmatullah; Dwi Puji Lestari; Zainal Abidin
Jurnal Pendidikan Islam Vol 11 No 1 (2021)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/jpi.v11i1.613

Abstract

إن الحديث عن الإسلام المعتدل في السياق الإندونيسي ليس حديثًا جديدًا في الواقع. يمكن تتبع الإسلام المعتدل في إندونيسيا من آثار دخول الإسلام إلى إندونيسيا. على الرغم من أن الخبراء لديهم آراء مختلفة فيما يتعلق بدخول الإسلام إلى إندونيسيا، إلا أنه لا يأتى بأسلوب الإسلام الإندونيسي. إن الإسلام الإندونيسي الذي كان قادرًا على التثاقف مع الثقافة المحلية قد أنتج إسلامًا مميزًا ، وهو الإسلام الذي كان معتدلًا ومتسامحًا وقادرًا على قبوله من قبل المجتمع المحلي في ذلك الوقت. يستخدم هذا البحث نهجًا نوعيًا مع تصميم دراسة الحالة. ويخلص هذا البحث إلى أنه فيما يتعلق بالاعتدال الإسلامي في المؤسسة التعليميةفي القرية الإنجليزية ، يمكن ملاحظة أن الوسطية الإسلامية تحدث بسبب انفتاح المجتمع على قبول جميع الاختلافات. بمعنى أن حدث نجاح الوسطية الإسلامية في المؤسسات التعليمية القروية الإنجليزية لأن المجتمع كان "welcome" أي دائما على حالة قبول بترحيب حار بوصول المشاركين في الدورة من مختلف المناطق في إندونيسيا. ثم انتشر هذا الحال والبيئة طيبة وأصبح روح جميع أصحاب المصلحة في مؤسسة القرية الإنجليزية.
Peer Group Optimization in Developing Religious Culture of High School Students Zainal Abidin; Jaudi Jaudi; Imaduddin Imaduddin; Mukhaemin Mukhaemin
Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 5 No 3 (2022): Islamic Education
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Institut Pesantren KH Abdul Chalim Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/nzh.v5i3.2429

Abstract

The background of this research is the decline of religious culture among young people and students alike, then the influence of peer groups (Peer Group) was very strong in shaping the character of students for the need to optimize Peer groups in developing the religious culture of SMA Negeri 1 Pacet Mojokerto students. The focus of research in this study is 1) Optimization of Peer Group in developing the religious culture of SMA Negeri 1 Pacet Mojokerto students, 2) The constraints of optimizing Peer Group in developing the religious culture of students of SMA Negeri 1 Pacet Mojokerto. The method used is the descriptive qualitative method. Data collection techniques using direct observation, interviews, and documentation. The data analysis stage uses the Milles and Huberman method which is done through data reduction, data presentation, verification, and conclusions. Checking the validity of the data using triangulation techniques. The subjects of this study are the Principal, Islamic Religious Education Teachers, and Students as additional subjects, while the object is the Peer Group and religious culture. The results of this study note that the optimization of the Peer Group at SMA Negeri 1 Pacet Mojokerto in developing religious culture went smoothly. The constraints in optimizing Peer Group in SMA Negeri 1 Pacet Mojokerto in developing students' religious culture in the form of internal, external, and endogenous factors.