Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Correlation of Lymphocyte-Monocyte Ratio with Grading of Breast Cancer Malignancy Muhartono Muhartono; Rizki Hanriko; Suharyani
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 4 No. 3 (2020): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bsm.v4i3.139

Abstract

Introduction: Breast cancer cases are increase and fast becoming the leading cause of oncologic mortality among women worldwide. Delay in management will worsen the prognosis of breast cancer patients. The poor prognosis is correlate with high grade of breast cancer malignancy. Histology can be used as an indicator to assess the grade of breast cancer malignancy. In addition, a high predictive value of lymphocyte-monocyte ratio (LMR) has been suggested to indicate favorable prognosis of various cancer, and used as parameters for assessing breast cancer prognosis. Method: This study is a quantitative research, using an observational approach. Laboratory examination results are collected from 43 breast cancer patients who will conduct treatment at Urip Sumoharjo Hospital from June to September 2019. Data are processed by the Spearman rank test using SPSS 22.0. Results: Correlation test results between lymphocyte-monocyte ratio with histological grading of breast cancer obtained a P value of 0.376. Conclusions: Lymphocytes to monocytes ratio (LMR) value cannot be utilize as a parameter for evaluating prognosis of breast cancer.
Rekonstruksi Pendekatan Andragogi dan Pedagogi Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Mahasiswa Suharyani; Purwoko, Budi; Rosyanafi, Rofik Jalal
Transformasi : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Non Formal Informal Vol. 11 No. 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Pendidikan Luar Sekolah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jtni.v11i2.16361

Abstract

Abstract: The higher education system in Indonesia faces serious challenges, such as uneven teaching quality, lack of reputable research output, and the impact of digital transformation and the COVID-19 pandemic. To respond to this, a learning approach is needed that can meet the needs of today's students. This article examines and reconstructs two main approaches in education, namely andragogy and pedagogy, emphasizing the role of both in improving the quality of learning in higher education. The andragogy approach emphasizes independent learning, relevance of experience, and high intrinsic motivation in adult learners. Meanwhile, pedagogy, although rooted in children's education, is now evolving towards a more participatory, contextual, and technology-based approach. This study also highlights implementation challenges, such as the readiness of lecturers to apply innovative methods such as flipped classrooms, technical constraints in online learning, and the diversity of student learning styles. This literature review offers a flexible integration of andragogy and pedagogy principles to create an inclusive, adaptive, and effective learning environment. It is recommended that lecturers improve their competencies through continuous training and utilize technologies such as AI to personalize learning. By reconstructing a teaching approach that is more responsive to the contemporary context, this article aims to provide theoretical and practical contributions to improving the quality of higher education in Indonesia. Abstrak: Sistem pendidikan tinggi di Indonesia menghadapi tantangan serius, seperti kualitas pengajaran yang belum merata, kurangnya output penelitian bereputasi, serta dampak dari transformasi digital dan pandemi COVID-19. Untuk merespons hal ini, diperlukan pendekatan pembelajaran yang mampu menjawab kebutuhan mahasiswa masa kini. Artikel ini mengkaji dan merekonstruksi dua pendekatan utama dalam pendidikan, yaitu andragogi dan pedagogi, dengan menekankan peran keduanya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi. Pendekatan andragogi menitikberatkan pada pembelajaran mandiri, relevansi pengalaman, dan motivasi intrinsik yang tinggi pada pembelajar dewasa. Sementara pedagogi, meskipun berakar pada pendidikan anak-anak, kini mengalami evolusi ke arah pendekatan yang lebih partisipatif, kontekstual, dan berbasis teknologi. Penelitian ini juga menyoroti tantangan implementatif, seperti kesiapan dosen dalam menerapkan metode inovatif seperti flipped classroom, kendala teknis dalam pembelajaran daring, serta keberagaman gaya belajar mahasiswa. Studi literatur ini menawarkan integrasi fleksibel antara prinsip andragogi dan pedagogi untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, adaptif, dan efektif. Disarankan agar pengajar meningkatkan kompetensinya melalui pelatihan berkelanjutan dan memanfaatkan teknologi seperti AI untuk personalisasi pembelajaran. Dengan merekonstruksi pendekatan pengajaran yang lebih responsif terhadap konteks kontemporer, artikel ini bertujuan memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.
Pelatihan Guru Tentang Identifikasi Gaya Belajar Siswa Dalam Penerapan Pendekatan Deep Learning di Yayasan Daarul Asshiddiqin Lombok Suharyani; Maharani, Jessica Festy; Alit Suarti, Ni Ketut; Astuti, Farida Herna; Wahyuni, Tri
Jurnal Dedikasi Madani Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Dedikasi Madani, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jdm.v4i2.18967

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru Yayasan Daarul Ass-Shiddiqin Lombok dalam mengidentifikasi gaya belajar siswa dan menerapkan pembelajaran adaptif berbasis deep learning. Latar belakang masalah mencakup rendahnya pemahaman guru terhadap keberagaman gaya belajar siswa VARK serta minimnya literasi teknologi untuk analisis data pembelajaran, yang berdampak pada kurang optimalnya keterlibatan siswa. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan (pemetaan kebutuhan dan modul), pelatihan (sosialisasi, identifikasi gaya belajar, pengenalan deep learning, workshop adaptif), evaluasi (pre-test/post-test, observasi), pendampingan lanjutan, dan pelaporan. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan guru hingga 85% dalam memahami gaya belajar, 75% kemampuan menyusun perangkat ajar adaptif, dan 70% penerapan teknologi berbasis data. Luaran utama berupa modul pelatihan, laporan kegiatan, dan artikel ilmiah ber-ISSN. Kegiatan ini menjadi model transformasi pembelajaran abad-21 di pendidikan dasar Islam terpadu.
Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru di Yayasan Darul As-Shiddiqin Lombok Desa Sepapan Kecamatan Jerowaru Lombok Timur Suharyani; Farida Herna Astuti; Ni Ketut Alit Suarti; Jessica Festi Maharani
Jurnal Dedikasi Vol 1 No 1 (2024): Jurnal Dedikasi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Yayasan Lentera Mandalika Berinovasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah Pendidikan secara umum semakin rumit, bertambah banyak dan komplek. Salah satu permasalahan Pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu Pendidikan pada setiap jenjang satuan Pendidikan. Berbagai indikator mutu Pendidikan belum menunjukan peningkatanyang berarti. Sebagian sekolah terutama di kota-kota menunjukkan peningkatan Pendidikan yang cukup  menggembirakan, tetapi yang lainnya masih memprihatinkan. Rendahnya mutu Pendidikan di sekolahdisebabkan oleh beberapa faktor antara lain: (a) Rendahnya sarana fisik sekolah; (b). Rendahnya kualitas guru; (c). Kurangnya pemerataan Pendidikan; (d). Rendahnya relevansi Pendidikan dengan kebutuhan; (e). Mahalnya biaya Pendidikan. Salah satu faktor mendasar yang menentukan tercapainya tujuan pendidikan nasional diatas adalah guru. Peran guru menjadi salah satu komponen yang penting dan strategis melalui kinerjanya. Kinerja guru sangat penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan menentukan tinggi rendahnya mutu pendidikan, akan tetapi kinerja guru ini banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam maupun dari luar individu yang bersangkutan. Adapun kegiatan pelatihan ini dilaksanakanmerupakan sebuah upaya meningkatkan kompetensi guru agar bisa melaksanakan tugas-tugas pengabdiannya kepada bangsa dan Negara dengan baik. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama 6 bulan yang terbagi dalam tiga tahap yaitu: (1) tahap perencanaan, (2) tahap pelaksanaan, (3) tahap pendampingan dan tindak lanjut. Tahap perencanaan telah ditetapkan hal-hal sebagai berikut: tempat/lokasi kegiatan dipilih di Yayasan Darul Ash-Shiddiqin Lombok desa Sepapan, Kecamatan JerowaruKabupaten Lombok Timur. Jenis kegiatan berupa pelatihan dan pendampingan kepada guru-guru dalam implementasi kurikulum Merdeka. Tahap pelaksanaan berupa penyajian materi secara teori selama 2 kali pada bulan pertama dan dilanjutkan dengan pendampingan selama 5 bulan yang dibantu oleh mahasiswa  UNDIKMA program Studi PLS berjumlah 3 orang. Hasil dari kegiatan ini adalah memberikan pemahaman baru kepada para guru khususnya dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, terutama dalam penggunaan sumber belajar yang sesuai dengan potensi local, penilaian kinerja Produk, Proyek, Portofolio dan Penilaian Sikap dan penilaian kinerja. Hal ini dikarenakan masih banyaknya guru yang menilai kinerja siswa tidak menggunakan rubrik penilaian.
Analisis Implementasi Program Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis oleh Dinas Sosial Kota Mataram Janah, Miftahul; Suharyani; Herlina; Sa'di, Kholisus
Reflection Journal Vol. 4 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/rj.v4i2.4825

Abstract

Penelitian ini menganalisis implementasi program penanggulangan gelandangan dan pengemis oleh Dinas Sosial Kota Mataram melalui tujuh komponen intervensi, yaitu pendataan dan identifikasi, penjangkauan, penertiban, rehabilitasi dan pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan ekonomi, reintegrasi sosial, serta evaluasi dan pemantauan. Studi menggunakan desain deskriptif kuantitatif berbasis persepsi dengan data kuantitatif utama dari 20 petugas Dinas Sosial yang terlibat langsung dalam penanganan, sedangkan wawancara terhadap 10 gelandangan dan pengemis digunakan sebagai data pendukung. Skor dianalisis menggunakan persentase skala Likert dan dibaca menurut interval kategori efektivitas. Hasil menunjukkan rata-rata implementasi sebesar 76,6% dan berada pada kategori efektif. Pendataan dan identifikasi memperoleh skor tertinggi (100%), diikuti reintegrasi sosial (83%) serta evaluasi dan pemantauan (82%). Penjangkauan mencapai 80%, pelatihan dan pemberdayaan ekonomi 73,6%, dan penertiban 62,3%. Rehabilitasi dan pembinaan menjadi komponen terlemah dengan skor 55,6% dan hanya berada pada kategori cukup efektif. Pola ini menunjukkan bahwa kapasitas administratif, penjangkauan, dan pemantauan relatif lebih kuat dibandingkan intervensi rehabilitatif jangka panjang. Temuan memperluas studi sebelumnya tentang pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Mataram Nomor 5 Tahun 2012 dengan memberikan pemetaan komparatif terhadap tujuh tahapan layanan dari perspektif pelaksana dan penerima layanan. Implikasi utama penelitian adalah perlunya penguatan rehabilitasi, pembinaan berkelanjutan, dukungan ekonomi pascapelatihan, dan koordinasi lintas sektor agar penanganan tidak berhenti pada penertiban dan pemulangan. Analysis of the Implementation of the Homeless and Beggar Management Program by the Mataram City Social Affairs Office  This study examines the implementation of programs for addressing homelessness and begging by the Mataram City Social Service across seven intervention components: data collection and identification, outreach, enforcement, rehabilitation and guidance, skills training and economic empowerment, social reintegration, and evaluation and monitoring. The study employed a quantitative descriptive, perception-based design. The primary quantitative data were obtained from 20 Social Service officers directly involved in program implementation, while interviews with 10 homeless persons and beggars were used as supporting evidence. Likert-scale scores were converted into percentages and interpreted using effectiveness intervals. The overall implementation score was 76.6%, indicating an effective level. Data collection and identification received the highest score (100%), followed by social reintegration (83%) and evaluation and monitoring (82%). Outreach scored 80%, skills training and economic empowerment 73.6%, and enforcement 62.3%. Rehabilitation and guidance was the weakest component, scoring 55.6% and falling within the moderately effective category. The pattern suggests that administrative capacity, outreach, and monitoring are relatively stronger than sustained rehabilitative interventions. The study extends previous work on the implementation of Mataram City Regulation No. 5 of 2012 by comparatively mapping seven stages of service delivery from the perspectives of implementers and service recipients. The findings imply that stronger rehabilitation, continuous guidance, post-training economic support, and cross-sector coordination are required to move policy responses beyond temporary enforcement and return-to-family measures.
Relationship Between Package C Learners’ Perceptions of Tutorial Learning Implementation and Academic Achievement at PKBM Lentera Nusa Cendikia Laila, Parhana; Suharyani; Kholisussa'di; Herlina
Reflection Journal Vol. 3 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/rj.v3i2.6580

Abstract

Non-formal equivalency education requires instructional approaches that can accommodate learners with diverse ages, educational experiences, and learning needs. Tutorial learning offers opportunities for more intensive interaction, guidance, feedback, and adjustment of learning support to individual needs. This study aimed to describe learners’ perceptions of tutorial learning implementation and academic achievement and to examine the relationship between these variables among Package C learners at PKBM Lentera Nusa Cendikia. A quantitative correlational design was employed involving all 25 Package C learners as the local study population. Learners’ perceptions of tutorial implementation were measured using a 12-item Likert-scale questionnaire covering learner participation, tutor-learner interaction, guidance and mentoring, material adjustment, feedback, and supportive learning conditions. Academic achievement was represented by learners’ report card scores, while perceived learning achievement was used as supplementary descriptive information. Data were analyzed using descriptive statistics and Pearson Product-Moment correlation. The findings showed that learners generally reported highly positive perceptions of tutorial implementation, with a mean score of 55.60 (SD = 4.77). Report card scores ranged from 79 to 93, with a mean of 87.00 (SD = 4.08). The correlation analysis revealed a positive and statistically significant relationship between tutorial learning implementation and academic achievement, r(23) = 0.808, p < 0.001. The coefficient of determination (r² = 0.653) indicated substantial statistically shared variance between the two variables. These findings suggest that more positive experiences of tutorial learning are associated with higher academic achievement among the Package C learners examined, while causal interpretations remain beyond the scope of the correlational design