Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA GANGGUAN PERSEPSI PENDENGARAN: PRESBIKUSIS DENGAN TEHNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK DI UPT PELAYANAN SOSIAL BINJAI Rindiani, Rindiani; Pangaribuan, Resmi; Tarigan, Jemaulana
Jurnal Nurse Vol. 6 No. 2 (2023): Juli: Jurnal Nurse
Publisher : STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/nurse.v6i2.184

Abstract

Pelayanan kesehatan pada lansia masih sangat terbatas, baik dari segi jenis dan cukupnya. Gangguan persepsi adalah ketidakmampuan manusia dalam membedakan antara langsung timbul dari sumber internal (pikiran, perasaan) dan stimulus eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan gerontik pada pasien pemenuhan kebutuhan komunikasi non verbal pada lansia dengan presbikusis di UPT pelayanan sosial lanjut usia Binjai.  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan studi kasus yang dilakukan pada dua orang pasien dengan diagnosa yang sama yaitu Presbiakusis dengan gangguan komunikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan proses keperawatan meliputi tahapan sebagai berikut: Pengkajian, Diagnosa keperawatan, intervensi, Implementasi dan evaluasi. Hasil dan Pembahasan:  Pada kasus 1 dengan masalah keperawatan ganguan pendengaran komunikasi teraupetik dengan susah mendengar suara. Dikatakan teratasi sebagaian karena dilihat dari pernyataan klien dan observasi perawat yaitu data subjektif klien mengatakan susah mendengar suara klien mengatakan kepala sering tiba-tiba pusing dan kuping tiba-tiba berdengung, kemudian dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital TD:130/80 mmhg N: 88x/menit R: 22x/menit S:36˚C. Pada kasus 2 masalah keperawatan dengan gangguan pendengaraan komunikasi, klien mengatakan tidak mendengar jika diajak berbicara dengan suara dan nada biasa. Klien memohon kepada mahasiswa untuk meningkatkan nada bicara TTV TD:120/70 mmhg N:80x/menitR: 24x/menit, S:36˚C. Kesimpulan dan saran:  Setelah peneliti melakukan studi kasus pada klien kurang komunikasi teraupetik pada gangguan persepsi pendengaran pada Ny. N dan Ny. R di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai, maka peneliti dapat menyimpulkan masalah teratasi sebagian hal ini karena keterbatasan waktu peneliti dan responden.
Komunikasi Verbal pada Stroke Non Hemoragik di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Resmi Pangaribuan; Melinda Ayu Pratiwi; Jemaulana Tarigan
Jurnal Insan Cendekia Vol 8 No 2 (2021): Jurnal Insan Cendekia
Publisher : STIKES Insan Cendekia Medika Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35874/jic.v8i2.934

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Stroke non hemoragik merupakan serangan pada jaringan otak yang terjadi secara mendadak dan menyebabkan kelumpuhan atau cacat menetap pada bagian tubuh. Apabila stroke menyerang otak kiri maka akan mengenai pusat bicara, kemungkinan pasien akan mengalami gangguan bicara. Salah satu cara dalam mengembalikan kemampuan bicara dapat dilakukkan terapi komunikasi verbal dengan menyebutkan huruf vocal yaitu huruf A, I, U, E, O. Tujuan: untuk mengetahui penerapan asuhan keperawatan pada pasien stroke non haemoragik yang mengalami gangguan komunikasi yang dapat dilakukan dengan terapi huruf vokal A, I, U, E, O untuk kemampuan bicara pasien stroke non hemoragik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian dilakuan pada 2 orang pasien dengan kasus yang ama yaitu pasien stroke yang mengalami gangguan komunikasi verbal. Hasil:stroke non hemoragik berhubungan dengan kerusakan komunikasi verbal. Intervensi dan implementasi keperawatan yaitu mengkaji kadaan umum pasien, membedakan antara afasia dan disartria, mengkatakan secara langsung dengan pasien perlahan dan dengan tenang, mengatakan dengan nada normal dan hindari percakapan yang cepat, meminta klien untuk mengikuti perintah sederhana, mengucapkan huruf vokal seperti A, I, U, E, O. Kesimpulan: Evaluasi dilakukan selama 3 hari dan didapatkan hasil pasien dapat mengucapkan huruf vokal AIUEO tetapi masih kurang jelas. ABSTRACT Introduction: Non-hemorrhagic stroke is an attack on brain tissues that occurs suddenly and could cause paralysis or permanent disability in any part of the body. Health issues that arise due to stroke vary widely. If the stroke occurs in the left side of the brain it will affect the speech, the patient will experience speech disorders. One way to restore speech ability could be implemented by using verbal communication therapy by mentioning vowels. Objective: The study aimed to determine the application of nursing care to the patients with non-hemorrhagic stroke who experienced speech disorders and which can be done by implementing speech therapy vowels on the communication ability of patients with non-hemorrhagic stroke. The method used a descriptive case study. The subject of the study was conducted on 2 patients with the same case who experienced speech disorders. Results: The results showed that non-hemorrhagic stroke was associated with impaired verbal communication. The intervention and implementation were performed by analyzing the general condition of the patients, distinguishing between aphasia and dysarthria, speaking directly to the patient slowly and calmly, communicating in a normal tone and avoiding fast conversation, asking to follow a simple command, and pronouncing the vowels such. Conclusion: The evaluation was carried out for 3 days and found that the patient could pronounce the vowels but it's still unclear.
PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI PADA ASMA BRONKIAL DENGAN POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF DI RUMAH SAKIT PUTRI HIJAU TK II MEDAN Barus, Tantiyani; Pangaribuan, Resmi; Tarigan, Jemaulana
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 1 (2024): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Januari 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v3i1.2063

Abstract

Background: Bronchial asthma is a chronic condition of the respiratory tract that often causes bronchial narrowing, bronchial hyperresponsiveness, and chronic inflammation. In many cases, patients with bronchial asthma have ineffective breathing patterns that affects negatively on oxygenation. Fulfilling oxygenation in patients with bronchial asthma is done to maintain the metabolism of body cells and the activity of various organs or cells. Objective: This case study research aims to describe the application of nursing care management in patients with bronchial asthma associated with oxygenation fulfillment. Method: This descriptive research is conducted using nursing process approach. The research subjects consist of 2 patients with the same case, namely bronchial asthma patients experiencing ineffective breathing patterns. Results: Based on the nursing evaluation of client I and client 2, it indicates that this condition has been resolved from the first to the third day which is shown by significant progress and the client's health improvement. Conclusion: By fulfilling oxygen, doing high- fowler position, using nebulizer and practicing effective coughing, the problem of oxygenation fulfillment with ineffective breathing patterns can be resolved for patients with bronchial asthma.
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA GANGGUAN KOGNITIF DEMENSIA DENGAN BRAIN GYM EXERCISE DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA BINJAI Sijabat, R. Sri Rezeki; Pangaribuan, Resmi; Tarigan, Jemaulana
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 1 (2024): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Januari 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v3i1.2064

Abstract

Background:According to the World Health Organization(WHO,2018),approximately 50 million people suffer from dementia,with nearly 60%residing in low and middle-income countries.Each year, there are almost 10 milion new cases.The total number of dementia patients worldwide is projected to reach 82 million by 2030 and 152 million by 2050.Dementia is a symptom of declining memory. thinking,behavior,and the ability to perform daily activities.An individual is considered to have dementia when experiencing mental disturbances in at least two brain functions.One effort to prevent cognitive decline in the elderly is by engaging in Brain Gym Exercise. Method: This research is a case study with a descriptive research design following the nursing care process for the elderly.The focus of this case study is on two elderly individuals diagnosed with dementia.Study subjects were selected based on inclusion and exclusion criteria,then an intervention was conducted for 3 days by providing nursing care action in the form of Brain Gym Exercise for 15 minutes once a day.Data collection was done through interviews,observations,and nursing care.Cognitive function was measured using the Mini-Mental State Exam(MMSE)instrument. Results: After conducting Brain Gym Exercise for 15 minutes once a day for the two elderly respondents,the research results indicated that brain exercises can enhance cognitive function in elderly dementia patients,as shown by increased MMSE scores in both study subjects. Conclusion: After a 3-day brain exercise intervention,the MMSE scores increased within the range of 0-17,and both respondents were able to perform it.
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Pasien Pneumonia dengan Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif di Rumah Sakit Tk. II Putri Hijau Medan T, Lamria Meilina; Tarigan, Jemaulana; Pangaribuan, Resmi
PubHealth Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2024): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/pubhealth.v2i3.463

Abstract

Asuhan Keperawatan adalah seluruh rangkaian proses keperawatan yang diberikan kepada pasien yang berkesinambungan dengan kiat-kiat keperawatan yang dimulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi adalah usaha memperbaiki ataupun memelihara derajat kesehatan yang optimal. Pnemonia adalah infeksi inflamasi akut pada jaringan paru-paru atau parenkim yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, ataupun parasit dengan tanda dan gejala seperti batuk dan sesak nafas. Bersihan jalan nafas tidak efektif merupakan suatu masalah yang sering terjadi pada pasien pneumonia, Batuk efektif dan Nebulizer merupakan metode efektif untuk membantu mencehah terjadinya bersihan jalan nafas tidak efektif. Tujuan Penelitian: Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien pneumonia dalam bersihan jalan nafas tidak efektif di Rumah Sakit TK II Putri Hijau. Metode Penelitian: Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus, partisipan pada kasus ini dilakukan pada 2 klien pneumonia dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik. Hasil: Hasil pengkajian keperawatan didapatkanperbedaan adanya suara nafas ronchi dan wheezing dan perbedaan lain pada kedua klien yaitu, klien 1 mengeluhkan sesak, batuk berdahak dan demam RRP: 24x/m GCS: 13 sedangkan klien 2 mengeluhkan sesak,batuk berdahak, tidak nafsu makan RR: 28x/m GCS: 12. Kesimpulan: Berdasarkan evaluasi keperawatan pada klien 1 dan 2 hari pertama sampai hari ketiga sudah teratasi dengan menunjukkan kemajuan yang signifikan dan perkembangan kesehatan klien jauh lebih membaik
PELATIHAN PENANGANAN CEDERA RINGAN BAGI SISWA KELAS IX DI SMP NUR CAHAYA MEDAN Resmi Pangaribuan; Jemaulana Tarigan; Arni Juwita; Cinsih Rotua Lubis; Atsnia
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 04 (2023): AGUSTUS 2023
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cedera dapat menyerang hampir seluruh bagian tubuh, biasanya anak anak apabila dihadapkan dengan suatu permainan mereka lupa bahwa mereka dibatasi dengan aturan supaya mereka tidak sampai mengalami cedera. Hal tersebut dapat berdampak buruk terhadap fisik dan juga mentalnya, apalagi untuk anak pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) karena mereka masih dalam tahap pertumb uhan dan perkembangan yang sangat baik. Penyebab cedera bisa disebabkan oleh faktor eksternal (dari luar pelaku) dan faktor internal (dari dalam diri pelaku). Metode:  Metode yang digunakan adalah adalah one groups Pretest-Posttest design. Dilakukan pada 26 orang siswa kelas IX-1. Kegiatan  yang  digunakan  dalam  program  pengabdian  masyarakat  ini  berupa penyuluhan  dan  simulasi  Pelatihan pertolongan  Cedera Ringan bagi siswa kelas IX SMP Nur Cahaya Medan. Hasil:  Siswa Kelas IX  yang  mengikuti  kegiatan  penyuluhan  dan  simulasi ini memahami tentang cara pertolongan Cedera Ringan bagi siswa kelas IX SMP Nur Cahaya mampu meningkatkan pengetahuan siswa kelas IX tentang  bagaimana  cara  melakukan  pertolongan  yang mengalami  cedera ringan. Kesimpulan: Kegiatan  ini  dapat  meningkatkan  pengetahuan  siswa  tentang pertolongan cedera ringan.
PENYULUHAN DAN SIMULASI PERTOLONGAN PERTAMA PADA ANAK DENGAN TERSEDAK DI DUSUN II DESA SEI MENCIRIM KAB. DELISERDANG Resmi Pangaribuan; Jemaulana Tarigan; Indri Greace Naibaho; Immanuel. T; Arta Siahaan
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 1 No. 2 (2023): JULI 2023
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tersedak merupakan kegawat daruratan yang sangat berbahaya, karena hanya beberapa menit anak akan mengalami kekurangan oksigen bahkan kematian dari batang otak. Sehingga orang tua perlu memahami berbagai jenis pertolongan pertama yang dapat diberikan pada anak yang tersedak. Kejadian tersedak memerlukan perhatian khusus karena dapat menyebabkan kekurangan oksigen bahkan kematian jika tidak cepat ditangani. Tersedak kebanyakan terjadi pada usia tiga tahun ke bawah karena sifatnya yang mengeksplorasi benda dengan menggunakan mulut. Metode: kegiatan yang digunakan dalam program pengabdian masyarakat ini berupa penyuluhan dan simulasi pertolongan pertama pada anak dengan tersedak di dusun II Desa Sei Mencirim Kab. Deliserdang. Hasil: Ibu-ibu yang mengikuti kegiatan penyuluhan dan simulasi ini memahami tentang cara pertolongan pertama pada anak dengan tersedak  mampu meningkatkan pengetahuan ibu tentang bagaimana cara melakukan pertolongan pertama pada anak-anak yang mengalami tersedak. Kesimpulan: Kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang pertolongan pertama pada anak dengan tersedak.
PEMENUHAN KEBUTUHAN RASA AMAN NYAMAN NYERI KEPALA PADA HIPERTENSI DENGAN TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA BINJAI Fadli Siregar; Resmi Pangaribuan; Jemaulana Purba
VARIABLE RESEARCH JOURNAL Vol. 1 No. 02 (2024): JULI 2024
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Lansia merupakan seseorang yang beranjak pada usia 60 tahun atau bisa lebih, dikarenakan factor-faktor tertentu yang akan terjadi tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya baik secara jasmani, rohani maupun sosialnya. Teknik relaksasi otot progresif adalah memusatkan perhatian pada suatu aktivitas otot, dengan mengidentifikasi otot yang tegang kemudian menurunkan ketegangan dengan melakukan teknik relaksasi untuk mendapatkan perasaan relaks. Teknik relaksasi otot progresif dilakukan dengan cara mengendorkan atau mengistirahatkan otot-otot, pikiran dan mental dan bertujuan untuk mengurangi kecemasan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh penerapan teknik relaksasi otot progresif terhadap lansia untuk menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di UPT pelayanan unit sosial lanjut usia Binjai.  Metode Penelitian: Metode   penelitian   ini   adalah   deskriptif   dengan   pendekatan   proses Keperawatan. Subjek  penelitian  dilakukan  pada  2  orang  pasien  dengan  kasus  yang sama yaitu pada pasien yang mengalami gangguan rasa aman dan nyaman nyeri pada lansia Hipertensi. Hasil: Dengan dilakukannya tehnik relaksasi otot progresif) selama 3 hari dengan frekuensi 1 kali sehari dengan 10-30 menit pada lansia Hipertensi pada kedua orang pasien tersebut dapat mengikuti latihan tehnik relaksasi otot progresif. Kesimpulan: Dengan dilakukannya tehnik relaksasi otot progresif pada lansia Hipertensi masalah pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman neri kepala dapat teratasi.
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KEPATUHAN PROTOKOL KESEHATAN COVID-19 PADA LANSIA KOMORBID HIPERTENSI DI UPT PELAYANANSOSIAL BINJAI Gabrielle Cristin Purba; Resmi Pangaribuan; Jemaulana Tarigan
VARIABLE RESEARCH JOURNAL Vol. 1 No. 02 (2024): JULI 2024
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi didalam kehidupan manusia. Penanganan dan pencegahan kasus pandemi COVID-19 ini  sudah dilakukan dengan berbagai cara, baik secara global maupun nasional atau wilayah. Berbagai upaya telah dilakukan dalam menurunkan tingkat penyebaran COVID-19 pada lansia, upaya yang dilakukan adalah upaya promotive, kuratif dan rehabilitattif dan salah satunya upaya preventif. Upaya preventif dalam protokol kesehatan yang diterapkan masyarakat dalam memutus mata rantai penularan COVID-19 pada masa New Normal yaitu dengan membiasakan diri memakai masker, mencuci tangan pakai sabun (hand sanitizer), menjaga jarak (sosial distancing), menjauhi keramaian dan menghindari berpergian ke luar daerah, terutama daerah-daerah yang sudah dinyatakan sebagai zona merah. Tujuan: Memberikan gambaran Pendidikan Kesehatan tentang Kepatuhan Protokol Kesehatan COVID-19 pada Lansia Komorbid Hipertensi di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai. Metode Penelitian: Metode   penelitian ini adalah deskriptif dengan   pendekatan   proses Keperawatan. Subjek  penelitian  dilakukan  pada  2  orang  pasien  dengan  kasus  yang sama yaitu pada pasien yang mengalami ketidakpatuhan pada lansia comorbid hipertensi. Hasil: Dengan dilakukannya pendidikan kesehatan kepatuhan protokol kesehatan covid 19 pada lansia comorbid hipertensi selama 3 hari selama 60 menit pada lansia comorbid hipertensi dan pada kedua orang pasien tersebut dapat mengetahui tentang kepatuhan protokol kesehatan tentang covid 19 seperti kepatuhan menggunakan masker, mencuci tangan, sosial distancing. Ke dua pasien tersebut mau melakukannya di wisma UPT Binjai.  Kesimpulan: Dengan dilakukannya pendidikan kesehatan tentang kepatuhan protokol kesehatan covid 19 pada lansia comorbid hipertensi masalah ketidakpatuhan dan kurang pengetahuan dapat teratasi.
PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI PADA CEDERA KEPALA SEDANG DENGAN MASALAH BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF Sianipar, Sabrina; Pangaribuan, Resmi; Tarigan, Jemaulana
VARIABLE RESEARCH JOURNAL Vol. 2 No. 03 (2025): JULI 2025
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan frekuensi pernapasan dapat menyebabkan saturasi oksigen dalam darah dan perfusi jaringan otak menurun. Perburukan kondisi pasien dengan cedera kepala dapat terjadi jika perfusi jaringan ke otak rendah, sehingga pasien memiliki outcomes yang buruk. Cedera kepala adalah gangguan pada bagian otak diakibatkan oleh kekuatan atau benturan dari luar tubuh yang sifatnya lebih keras.Cedera kepala mengakibatkan penderita mengalami penurunan kesadaran, kerusakan saraf, kerusakan pembuluh darah, pembendungan cairan otak, kecacatan permanen hingga kematian. Pemenuhan kebutuhan oksigenasi adalah pemberian oksigen untuk membebaskan jalan nafas dan mencegah terjadinya kematian sel otak apabila lebih dari 4 menit orang tidak mendapatkan oksigen maka akan berakibat pada kerusakan otak yang tidak mampu diperbaiki atau mengakibatkan kematian. Tujuan:   Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memberikan Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Dengan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi Pada Cedera Kepala Sedang Dengan Masalah Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif di Rumah Sakit Putri Hijau Medan. Metode Penelitian: Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan studi kasus yang bertujuan untuk mengetahui gambaran Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi Pada Cedera Kepala Sedang Dengan Masalah Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif. Hasil: Dengan dilakukanya pemberian oksigen 3-4 l/menit selama 3 hari pada kedua pasien tersebut dari hasil obsevasi dapat diperoleh hasil SPO2 98% dan masalah Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif  telah teratasi. Kesimpulan: Dengan dilakukanya Pemenuhan Oksigenasi Pada Cedera Kepala Masalah Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif telah Teratasi.