Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : journal health and nutritions

ANALISIS KANDUNGAN ZAT BESI DAN UJI ORGANOLEPTIK PADA MUFFIN INOVATIF DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG BAYAM MERAH DAN PUREE PISANG AMBON Aprilia, Vina; Kasmad, M. Rachmat; Kamaruddin, Ilham
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 12, No 1 (2026): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v12i1.1668

Abstract

Iron is an essential mineral that plays a crucial role in hemoglobin formation. Inadequate iron intake may increase the risk of anemia, particularly among adolescent girls. One strategy to improve iron intake was through food innovation based on local ingredients. The study was aimed to analyze iron content, iron contribution of muffin, and organoleptic acceptance of innovative muffins substituted with red spinach flour and ambon banana puree. The experimental study employed a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four formulations namely F0 (100%:0%:0%), F1 (80%:10%:5%), F2 (70%:20%:10%), and F3 (55%:30%:15%) for flour: red spinach flour: ambon banana puree. Iron content was analyzed using laboratory methods, while organoleptic evaluation assessed color, texture, smell and taste. The results showed significant differences in iron content among formulations, with F3 having the highest iron content and F0 the lowest, indicating that higher substitution levels of red spinach flour and ambon banana puree positively increased muffin iron content. Formulations 2 and 3 were able to meet the target 30% of daily iron requirements for adolescent girls with two cup muffin while remaining within the recommended energy limits for snacks. Organoleptic test results revealed that F2 was the best formulation, demonstrating the highest panelist preference and the most balanced sensory characteristics. The conclusion of the study was the substitution of red spinach flour and Ambon banana puree in muffins increases iron content, with F3 having the highest level, F2 and F3 were able to meet approximately 30% of iron requirements as snack options, while formulation F2 was considered the best due to its highest level of acceptability and most optimal sensory characteristics.Zat besi merupakan mineral esensial yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin. Kekurangan zat besi dapat meningkatkan risiko anemia, khususnya pada remaja putri. Upaya peningkatan asupan zat besi dapat dilakukan melalui inovasi pangan berbasis bahan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan zat besi, pemenuhan zat besi muffin, serta penerimaan organoleptik muffin inovatif dengan substitusi tepung bayam merah dan puree pisang ambon. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas empat formulasi, yaitu F0 (100%:0%:0%), F1 (80%:10%:5%), F2 (70%:20%:10%), dan F3 (55%:30%:15%) untuk perbandingan tepung terigu: tepung bayam merah: puree pisang ambon. Analisis kandungan zat besi dilakukan melalui analisis laboratorium, sedangkan uji organoleptik meliputi aspek warna, tekstur, aroma, dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kandungan zat besi pada setiap formulasi, dengan nilai tertinggi pada F3 dan terendah pada F0, yang menandakan bahwa peningkatan substitusi tepung bayam merah dan puree pisang ambon berpengaruh terhadap peningkatan kadar zat besi muffin. Formulasi 2 dan 3 mampu memenuhi target kontribusi 30% kebutuhan zat besi harian remaja putri dengan dua cup muffin dan tetap sesuai dengan batas energi makanan selingan. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa F2 merupakan formulasi terbaik dengan tingkat penerimaan panelis tertinggi dan keseimbangan karakteristik sensorik yang optimal. Kesimpulan penelitian ini adalah substitusi tepung bayam merah dan puree pisang ambon pada muffin meningkatkan kadar zat besi dimana F3 memiliki kandungan tertinggi, F2 dan F3 mampu memenuhi sekitar tiga puluh persen kebutuhan zat besi sebagai makanan selingan, serta formulasi F2 menjadi yang terbaik karena paling disukai dan memiliki karakteristik sensorik paling optimal.
HUBUNGAN TINGKAT PENDAPATAN KELUARGA DAN POLA MAKAN DENGAN STATUS GIZI BALITA Masnur, Nur Ilmi; Kasmad, M. Rachmat; Arfanda, Poppy Elisano; Nurfaidah, Nurfaidah; Kartini, Kartini
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 12, No 1 (2026): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v12i1.1701

Abstract

Nutritional status of toddlers is an important indicator of child health influenced by socioeconomic factors and dietary patterns. The study was aimed to analyze the relationship between family income level and dietary patterns with the nutritional status of toddlers. The research employed a quantitative method with a cross-sectional design and a descriptive correlational approach. The sample consisted of 58 toddlers determined using the slovin formula. The variables measured included family income level and dietary patterns as independent variables and nutritional status of toddlers as the dependent variable. Data were collected through structured questionnaires and anthropometric measurements. The results showed that the majority of families had low income (94.8%), and many toddlers had moderate dietary patterns (55.2%). The nutritional status of toddlers was categorized into good nutrition (43.1%), undernutrition (41.4%), and severe malnutrition (15.5%). Statistical analysis using the chi-square test indicated that there was no significant association between family income and the nutritional status of toddlers (p=0.623), and no significant association between dietary patterns and nutritional status (p=0.774). In conclusion, the nutritional status of toddlers is not only influenced by family income and dietary patterns, but also by other factors such as parenting practices, nutritional knowledge, and environmental conditions. It is recommended to improve parental nutrition education, enhance feeding practices, and strengthen health programs as well as integrative environmental interventions to improve the nutritional status of toddlers. Status gizi balita merupakan indikator penting kesehatan anak yang dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan pola makan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dan pola makan dengan status gizi balita. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional serta pendekatan deskriptif korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 58 balita yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Variabel yang diukur meliputi tingkat pendapatan keluarga dan pola makan sebagai variabel independen serta status gizi balita sebagai variabel dependen. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan pengukuran antropometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga memiliki pendapatan rendah (94,8%), dan sebagian besar balita memiliki pola makan sedang (55,2%). Status gizi balita dikategorikan menjadi gizi baik (43,1%), gizi kurang (41,4%), dan gizi buruk (15,5%). Analisis statistik menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita (nilai p=0,623), serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan status gizi (nilai p=0,774). Kesimpulan, status gizi balita tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatan keluarga dan pola makan, tetapi juga faktor lain seperti pola asuh pengasuhan, pengetahuan gizi dan kondisi lingkungan. Disarankan perlu peningkatan edukasi gizi kepada orang tua, perbaikan pola asuh dalam pemberian makan anak, serta dukungan program kesehatan dan perbaikan lingkungan secara terpadu guna meningkatkan status gizi balita.