Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Lingkungan Pengendapan dan Pola Persebaran Reservoir Batupasir Formasi Talangakar, Sub Cekungan Ciputat, Cekungan Jawa Barat Utara Dalimunthe, Hasnan Luthfi; Syaifudin, M; Prasetyadi, C; Indah, Mill Sartika
Jurnal Migasian Vol. 5 No. 1 (2021): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM Akademi Minyak dan Gas Balongan Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36601/jurnal-migasian.v5i1.147

Abstract

Cekungan Jawa Barat Utara memiliki beberapa Sub Cekungan yang memiliki sumber daya hidrokarbon salah satunya adalah Sub Cekungan Ciputat yang dimana pada tahun 2007 berhasil melakukan pemboran hidrokarbon pada Formasi Talangakar dengan sistem cebakan stratigrafi. Identifikasi lingkungan pengendapan sangat penting untuk mengetahui pola persebaran reservoir dan perubahan fasies yang terjadi dengan bantuan integrasi data sumur dan seismik. Penelitian ini menggunakan analisis setiap data yang sudah tersedia seperti data log sumur dan data seismik yang didukung dengan hasil analisis biostratigrafi dan petrografi. Hasil dari analisis dari data-data tersebut kemudian diperoleh interpretasi dari fasies pengendapan pada setiap sikuen pada Formasi Talangakar di Lapangan “x” Sub Cekungan Ciputat Cekungan Jawa Barat Utara dan kemudian menghasilkan interpretasi lingkungan pengendapannya. Akhir dari tahap penelitian adalah dilakukan pembuatan peta lingkungan pengendapan pada setiap batas sikuen yang menunjukkan distribusi penyebaran dari reservoir batupasir dengan bantuan atribut seismik RMS. Berdasarkan peta fasies, kondisi pengendapan dipengaruhi oleh suatu sistem pasang surut air laut Anomali peta atribut RMS menunjukkan adanya potensi leads yang berada pada selatan sikuen 1 terbentang dari Barat-Timur
Karakteristik Petrografi Batugamping Anggota Batugamping Formasi Bojongmanik, Ciampea, Provinsi Jawa Barat Dalimunthe, Hasnan Luthfi; Jambak, Ali; Putra, Bagaskara Wahyu Purnomo
Jurnal Geosains dan Teknologi Vol 7, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgt.7.2.2024.135-142

Abstract

Batugamping pada Anggota Batugamping Formasi Bojongmanik yang berlokasi di daerah Ciampea memiliki umur yang ekuivalen dengan Formasi Parigi di Cekungan Jawa Barat Utara yang memiliki cadangan gas 1490 BCF, sehingga sangat menarik untuk dipelajari dan diteliti dari segi fasies sebagai analogi Formasi Parigi di bawah permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik petrografi dari Anggota Batugamping Formasi Bojongmanik. Metode penelitian adalah pengambilan sampel batuan yang kemudian dilakukan analisis petrografi dan point counting untuk penamaan dan komposisi batuan. Interpretasi dilakukan dengan mengambil sampel dari 16 singkapan batugamping di daerah penelitian yang digunakan untuk analisis petrografi yang menunjukkan litologi packestone, wackestone dan boundstone. Hasil analisis petrografi menunjukkan terdapat 3 tipe mikrofasies yang teridentifikasi, yaitu 1) boundstone, 2) red algae packstone, 3) skeletal wackestone, dengan tipe standard microfacies (SMF) 10 (bioclastic packstone or wackestone with worn skeletal grain), SMF 8 (wackestone or floatstone which whole fossils), dan SMF 7 (organic boundstone, platform margin reef). Lingkungan pengendapan berada pada Facies Zone (FZ) 7 (open marine) dan FZ 5(organic buildups).
Potensi Geosite Kawasan Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur Sebagai Landasan Penentuan Kawasan Geokonservasi Purnomo Putra, Bagaskara Wahyu; Hendratno, Agus; Barianto, Didit Hadi; Dalimunthe, Hasnan Luthfi
Jurnal Geosains dan Teknologi Vol 7, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgt.7.2.2024.143-164

Abstract

Gunung Penanggungan merupakan gunungapi Kuarter di Jawa Timur yang unik karena memiliki geosite berkaitan dengan situs cagar budaya. Namun, eksistensi Kawasan Gunung Penanggungan berada di ambang kerusakan karena kegiatan ekstraksi bahan galian C dan pembangunan kawasan pabrik di sekitarnya. Untuk melindungi Kawasan Gunung Penanggungan, perlu dilakukan identifikasi potensi geosite sebagai landasan penentuan kawasan geokonservasi. Identifikasi potensi geosite menggunakan Standar Nasional inventarisasi dan identifikasi geosite dari Pusat Survei Geologi, Badan Geologi dan perhitungan kelayakan geosite dengan metode analytical hierarchy process (AHP) serta mempertimbangkan hasil survei lapangan. Berdasarkan hasil penelitian, Kawasan Gunung Penanggungan terbagi menjadi lima satuan geomorfologi yang tersusun atas tujuh satuan litologi. Hasil inventarisasi dan identifikasi geosite menghasilkan 29 geosite diantaranya geosite Candi Kendalisodo, geosite Petirtaan Jolotundo, dan geosite Candi Wayang yang memiliki nilai saintifik, nilai konservasi dan nilai kebudayaan menonjol, sehingga geosite pada Kawasan Gunung Penanggungan termasuk dalam stone heritage. Hasil perhitungan AHP potensi geosite Kawasan Gunung Penanggungan menunjukkan tingkat potensi sedang hingga tinggi untuk mendukung Kawasan Gunung Penanggungan sebagai kawasan geokonservasi.
Relative Age and Depositional Environment of The Limestone Unit of Karangsambung Formation in Jatibungkus Hill, Kebumen Geopark, Indonesia Kurniasih, Anis; Wicitra, Annisa Puspa; Qadaryati, Nurakhmi; Khorniawan, Wahyu Budhi; Dalimunthe, Hasnan Luthfi; Setyawan, Reddy; Jayanti, Anita Galih Ringga
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 11 No. 02 (2026): Article In Press-JGEET Vol 11 No 02 : June (2026)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Jatibungkus Hill is an isolated karst hill and is one of the olistolith fragments in the Karangsambung Formation deposited as olistostrome deposits. This formation formed above the Luk-Ulo Mélange Complex, one of the geological heritage sites in the Kebumen Geopark. The presence of limestone as a fragment in the olistostrome deposits requires further investigation because its formation history is related to regional geological history. This study aims to determine the relative age and depositional environment of limestone in Jatibungkus Hill based on microfossil analysis through petrographic observations. Of the 39 rock samples obtained during field data collection, 15 rock samples were selected for petrographic analysis. The petrographic analysis is divided into two parts, namely descriptive methods and point counting as the basis for classifying carbonate rocks. Based on the classification results, reef facies analysis was conducted using facies zonation and standard microfacies (SMF) to obtain an overview of the limestone depositional environment. In addition, the types of large foraminifera fossils and algae were also used as a basis for determining the relative age. The lithology found in the research area consist of packstone, rudstone, grainstone, and crystalline limestone. The limestone depositional environment is located in SMF 4, SMF 5, and SMF 6 which are included into FZ 4 (Slope) on a restricted carbonate platform. This facies zone influenced by currents and waves between the storm base wave and the normal base wave. The petrographic analysis showing the domination of large bioclastic grain indicating that the deposition were under a high energy. The influence of waves is also reflected in the mixture of bioclass and lithoclast grains or high-density terrigenous clastics that are observed in most of the samples. This facies contains more quartz clastics and bioclast grains than carbonate mud as consistently observed in the identified samples.The association of large benthic foraminifera fossils and algae indicates that the limestone was formed in Zone Ta1 (Late Paleocene) characterized by the presence of Discocyclina sp., Ranikothalia sp., Nummulites sp., Miscelanea sp., Distichoplax biserialis, and Parachaetes sp. It can be seen that the deposition of the limestone olistolith occured after the initial subduction event which produced the mélange complex in Early Cretaceous.