Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Identifikasi Jenis dan Karakteristik Lempung di Perbukitan Jiwo, Bayat, Klaten dan Arahannya sebagai Bahan Galian Industri Winarno, Tri; Kurniasih, Anis; Marin, Jenian; Kusuma, Ari Istiqomah
TEKNIK Vol 38, No 2 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.956 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v38i2.12942

Abstract

Perbukitan Jiwo di Bayat, Klaten, merupakan suatu inlier dari batuan Pra-Tersier dan Tersier di sekitar endapan Kuarter. Perbukitan Jiwo tersebut mempunyai kondisi geologi yang kompleks. Salah satu batuan yang menyusun Kompleks Perbukitan Jiwo adalah batuan metamorf   berupa sekis dan filit. Batuan metamorf  tersebut  telah  mengalami  pelapukan  yang  intensif,  ditandai  dengan  hadirnya  soil  yang berwarna merah. Hasil pelapukan batuan metamorf tersebut berupa lempung yang telah dimanfaatkan oleh  penduduk sekitar sebagai bahan pembuatan gerabah.  Tujuan dari penelitian ini  adalah untuk mengidentifikasi jenis mineral lempung di Perbukitan Jiwo dan juga karakteristik fisik dan kimia dari mineral lempung tersebut untuk melihat potensi lempung untuk bidang industri. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode analisis XRD untuk mengetahui karakteristik mineralogi lempung, analisis XRF untuk mengetahui kandungan kimia lempung dan metode analisis fisik untuk mengetahui karakteristik fisik dan megaskopis lempung. Berdasarkan hasil analisis, jenis mineral lempung yang dijumpai adalah  kaolinit, smektit  dan  serisit.  Lempung tersebut dapat  dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan gerabah. Lempung tersebut tidak dapat digunakan dalam industri lain seperti farmasi, kosmetik dan kertas karena tidak memenuhi persyaratan kadar kimia
Sebaran ostracoda sebagai bioindikator kondisi perairan lepas pantai Balikpapan, Kalimantan Timur Wibowo, Ponco Agung; Kurniasih, Anis; Suprapto, Tjoek Aziz; Dewi, Kresna Tri
Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.89541

Abstract

Abstrak Perairan lepas pantai Balikpapan memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan kualitas air yang diakibatkan sedimentasi di sekitar kawasan tersebut. Oleh sebab itu, penelitian mengenai kondisi lingkungan perairan di daerah ini penting dilakukan.  Salah satu bioindikator yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas perairan adalah ostracoda, yang merupakan mikroorganisme dari jenis Crustacea. Penelitian ini dilakukan di selatan Teluk Balikpapan menggunakan data kemelimpahan ostracoda dalam sedimen Resen pada 25 sampel permukaan dasar laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi lingkungan perairan di area penelitian berdasarkan distribusi ostracoda. Hasil penelitian menunjukkan kemelimpahan ostracoda semakin rendah ke arah perairan laut terbuka, dan dari tingkat keanekaragamannya diketahui kondisi perairan tergolong stabil. Hasil analisis cluster membagi area penelitian menjadi dua biotop yakni Biotop1, merupakan lingkungan laut dangkal dengan spesies penciri Cytherella semitalis, Cytherelloidea sp., Phlyctenophora orientalis dan Neomonoceratina indonesiana; Biotop2, berasosiasi dengan lingkungan terumbu karang ditandai dari kehadiran spesies Bairdopillata paraalcyonicola, Paranesidea sp., dan Loxoconcha sp.  Abstract The offshore waters of Balikpapan considered as vulnerable in term of changes in water quality due to high sedimentation. Therefore, research on the condition of the aquatic environment in this area is necessary. One bioindicator that can be used to determine water quality is ostracods, the Crustacean microorganisms that commonly found in the seabed sediments. This research was conducted in southern Balikpapan Bay using ostracod abundance in Recent sediments on 25 seabed surface samples. The aim of this research is to determine the condition of the aquatic environment based on the distribution of ostracods. The results show that the abundance of ostracods is lower towards open sea waters, and from the level of diversity it is known that water conditions are relatively stable. The results of the cluster analysis divided the research area into two biotopes, Biotope1, a shallow marine environment with the diagnostic species Cytherella semitalis, Cytherelloidea sp., Phlyctenophora orientalis and Neomonoceratina indonesiana; Biotope2, associated with coral reef environments, is characterized by the presence of Bairdopillata paraalcyonicola, Paranesidea sp., and Loxoconcha sp.
Provenance Analysis Based On Petrographic Samples On EXIA-1 Well, Banggai Basin, East Sulawesi, Indonesia Setyawan, Reddy; Aribowo, Yoga; Kurniasih, Anis; Fahrudin; Ali, Rinal Khaidar; Najib; Ferdy; Wijaya, Ennur Kusuma; Qadaryati, Nurakhmi; Khorniawan, Wahyu Budhi; Dalimunte, Hasnan Luthfi; Ringga, Anita Galih
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 9 No. 2 (2024): JGEET Vol 09 No 02 : June (2024)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2024.9.2.13367

Abstract

The structure of Exia is composed of Miocene built-up carbonates formed by shear faults. The buildup carbonate feature in the Exia prospect can be seen from the high elevation surrounded by lows with an NNE-SSW and NE-SW trending. The MA-1, SE-1, MI-1 wells are several wells in the Tiaka and Senoro Fields which are proven to have large gas reserves. Tiaka Field is located to the west of the Exia Well, while Senoro Field is to the northeast. The study used primary data from the Exia-1 well in the form of cutting samples. The wet and dry cutting samples were further processed into thin section. This thin section is then carried out for petrographic, XRD, and SEM analysis. Tomori Formation starts from the deeper environment FZ1 upwards to the shallower FZ5 –FZ6 (reef) with open marine and restricted areas. The allochem that composes the limestone at The Matindok Formation consists of red algae fragments and benthic forams which indicate the facies zone of formation in FZ 4 (slope). In the upper Mantawa Formation, it is still quite clear the presence of large forams indicating a reef association environment (FZ5-FZ6), but the presence of a large number of planktonic forams indicates a deeper depositional environment / slope, so it is possible that large forams were transported from a shallower environment. The Kintom Formation have rock provenance ranging from continental blocks in the interior of the craton to a recycled orogeny section of recycled quartz zone.
POLA SEBARAN FORAMINIFERA PADA ENDAPAN SEDIMEN GOSONG PANTAI DELTA WULAN, DEMAK, JAWA TENGAH Kurniasih, Anis; Tiara, Meidey; Hidajat, Wahju Krisna
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 21, No 1 (2023)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.21.1.2023.797

Abstract

Delta Wulan mengalami dinamika sedimentasi yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan proses sedimentasi di Delta Wulan dapat diamati dari perubahan morfologi delta yang disebabkan peningkatan pengaruh gelombang laut. Proses sedimentasi juga berpengaruh terhadap pola distribusi foraminifera yang terkandung dalam sedimen. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pola sebaran foraminifera dan hubungannya dengan proses sedimentasi tersebut, terutama pada endapan gosong pantai di Delta Wulan. Objek penelitian ini adalah foraminifera pada sampel yang berasal dari tiga buah inti sedimen yang diambil di bagian laguna, gosong muara, dan bagian depan gosong memanjang pantai. Foraminifera yang teridentifikasi kemudian dianalisis sebarannya menggunakan Rasio P/B. Hasil penelitian ini menunjukkan taksa foraminifera planktonik yang paling dominan antara lain Sphaeroidinella subdehiscens, Globorotalia menardii, dan Orbulina universa. Takson foraminifera bentonik yang mendominasi adalah Bathysiphon sp. Pola sebaran foraminifera menggambarkan pola yang umum dijumpai di perairan laut dalam. Hal ini diduga berkaitan dengan proses sedimentasi yang terpengaruh kuat oleh gelombang laut sehingga membawa cangkang foraminifera dari batimetri yang lebih dalam ke bagian delta. Dengan kata lain, sebaran cangkang foraminifera yang teridentifikasi tidak menggambarkan komunitas asli perairan Delta Wulan karena merupakan hasil transportasi dari lingkungan perairan yang berbeda.
Analisis Perubahan Garis Pantai Menggunakan Digital Shoreline Analysis System untuk Mendukung Mitigasi Pesisir Kota Pekalongan, Jawa Tengah Endarsih, Alfyah Edina; Kurniasih, Anis; Khomarudin, M. Rokhis
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2025.3960

Abstract

ABSTRACT Shoreline changes in the form of abrasion or accretion often occur in coastal area due to dynamic natural processes. The northern coastal area of Pekalongan City is one the areas that has been facing significant abrasion, resulting in land loss along the coast. This abrasion process gradually damages the coastal embankments, allowing seawater to inundate inland areas so that tidal flood area expands and begins to encroach on residential areas. Therefore, research about shoreline changes is necessary as one of the mitigation approaches. This study aims to map shoreline changes in Pekalongan City from 2016 to 2022, analyze the values of these changes, and identify the causes in order to determine appropriate mitigation. Monitoring of these changes is conducted through remote sensing methods using Sentinel-2 images by applying threshold values to extract coastlines. The rate of shoreline change is subsequently calculated using Digital Shoreline Analysis System (DSAS) and validated with field conditions through direct observation surveys. The results showed that Pekalongan City experienced significant shoreline changes from 2016 to 2022. Maximum abrasion occurred in Bandengan with an average erosion of 79.5 m, while maximum accretion occurred in Panjang Wetan with an average addition of 3.88 m. Abrasion is the dominant process with a rate of change of 3.95 to 4.02 m/year. The main factor causing abrasion is the interaction between sedimentation with waves, ocean currents and wind. The construction of appropriate types of coastal protection can reduce wave energy and control ocean currents, protecting the coast from abrasion caused by sedimentation. ABSTRAK Perubahan garis pantai dalam bentuk abrasi maupun akresi sering terjadi di lingkungan pesisir yang disebabkan oleh adanya proses alam yang dinamis. Daerah pesisir utara Kota Pekalongan merupakan salah satu daerah yang mengalami abrasi signifikan yang berdampak pada hilangnya lahan di sekitar pantai. Proses abrasi tersebut perlahan menyebabkan kerusakan tanggul pantai yang membuat air laut masuk ke daratan sehingga area genangan banjir rob semakin meluas dan mulai merambah ke permukiman. Oleh sebab itu, penelitian tentang perubahan garis pantai penting dilakukan sebagai salah satu upaya mitigasi bencana abrasi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan perubahan garis pantai di Kota Pekalongan tahun 2016–2022, menganalisis nilai perubahan garis pantai, dan mengidentifikasi penyebab perubahan garis pantai sehingga dapat diketahui langkah mitigasi yang tepat. Pemantauan perubahan ini dilakukan dengan metode penginderaan jauh menggunakan citra Sentinel-2 yang dilakukan thresholding untuk mengekstrasi garis pantai. Laju perubahan garis pantai tersebut selanjutnya dihitung menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dan divalidasi dengan kondisi lapangan melalui survei pengamatan langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Pekalongan mengalami perubahan garis pantai cukup signifikan pada tahun 2016–2022. Abrasi maksimum terjadi di Kelurahan Bandengan dengan pengikisan rata-rata 79,5 m, sementara akresi maksimum terjadi di Kelurahan Panjang Wetan dengan penambahan daratan rata-rata 3,88 m. Abrasi menjadi proses dominan dengan laju perubahan 3,95 hingga 4,02 m/tahun. Faktor utama penyebab terjadinya abrasi adalah interaksi antara sedimentasi dengan gelombang, arus laut, dan angin. Pembangunan jenis pelindung pantai yang sesuai dapat mengurangi energi gelombang dan mengendalikan arus laut sehingga dapat melindungi pantai dari abrasi yang disebabkan oleh sedimentasi.
Evaluation of Reservoir Characteristics of Wells X, Y, Z in the Pliocene Interval of the Tarakan Sub-Basin, Tarakan Basin, North Kalimantan Hendardi, Rizaldi Primanda; Hidajat, Wahju Krisna; Setyawan, Reddy; Kurniasih, Anis; Qadaryati, Nurakhmi; Khorniawan, Wahyu Budhi; Dalimunte, Hasnan Luthfi; Ringga, Anita Galih
Journal of Applied Geology Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Geological Engineering Department Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jag.86053

Abstract

The Tarakan Basin is one of the basins that has been producing hydrocarbons since 1901, with nine active oil fields to this day. The exploration of oil and gas in the Tarakan Basin has been ongoing for a considerable amount of time and can be considered as the oldest exploration in Indonesia that continues due to its estimated economically viable reserves based on its geological conditions. Research on the evaluation of reservoir characteristics in the Tarakan Sub-Basin with a Pliocene age interval aims to determine the subsurface lithology and fluid conditions qualitatively and the quantitative characteristics of the reservoir rocks. This study utilizes quantitative petrophysical analysis using a deterministic method with primary data consisting of wireline log data, as well as secondary data including core data, mud logs, biostratigraphy data, drill stem test data, and sidewall core data. Based on the analysis results, the petrophysical properties of the target reservoir in the study area include an average shale volume (VSH) of 16.65% - 29.31%, average effective porosity (PHIE) of 11.80% - 27.09%, which falls into the categories of fair to excellent quality, hydrocarbon saturation ranging from 7.68% - 43.03%, an average permeability value (PERM) of 10.03 mD - 613.29 mD, falling into the categories of good to very good, and a net pay thickness ranging from 4 feet to 16.7 feet, with a total thickness of 67.4 feet containing oil and gas fluids.