Depita, Natalia
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

LOCAL FILM FESTIVAL CHARACTERISTICS: A CASE STUDY OF THE MERDEKA FILM FESTIVAL Wangsa, Edelin; Depita, Natalia
Capture : Jurnal Seni Media Rekam Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Seni Media Rekam ISI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/capture.v14i2.4124

Abstract

Local cinema festival is an alternative form of entertainment for locals. Merdeka Film Festival in Solo, Central Java, is an annual event involving the youth community and local government institutions. This film festival offers entertainment in the form of film screenings on plugged screen (layar tancap). This research mainly seeks to investigate the production pattern of a local film festival. This research employs a descriptive qualitative approach that includes interviews with festival’s organizers and film festival experts. The results indicate that Merdeka Film Festival exhibits the characteristics of local film festival. Besides, the organizers must have a close relationship with the locals through the youth community and local government institutions in order for the film festival to operate smoothly. 
LOCAL FILM FESTIVAL CHARACTERISTICS: A CASE STUDY OF THE MERDEKA FILM FESTIVAL Wangsa, Edelin; Depita, Natalia
Capture : Jurnal Seni Media Rekam Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Seni Media Rekam ISI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/capture.v14i2.4124

Abstract

Local cinema festival is an alternative form of entertainment for locals. Merdeka Film Festival in Solo, Central Java, is an annual event involving the youth community and local government institutions. This film festival offers entertainment in the form of film screenings on plugged screen (layar tancap). This research mainly seeks to investigate the production pattern of a local film festival. This research employs a descriptive qualitative approach that includes interviews with festival’s organizers and film festival experts. The results indicate that Merdeka Film Festival exhibits the characteristics of local film festival. Besides, the organizers must have a close relationship with the locals through the youth community and local government institutions in order for the film festival to operate smoothly. 
Pendekatan autoetnografi untuk penyampaian isu identitas dalam film dokumenter Akar Manusia Urban Depita, Natalia
Cipta Vol 2, No 3 (2024): Cipta
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/cipta.v2i3.2708

Abstract

Film dokumenter Akar Manusia Urban adalah dokumenter partisipatoris, yang menggali tentang identitas anak urban yang memiliki orang tua berbeda suku, namun tidak memiliki pemahaman tentang kedua suku tersebut. Film dokumenter ini menceritakan kisah hidup penulis, yang dibuat berdasarkan pengalaman empiris tentang rasa berjarak dengan kampung halaman dan tradisi kedua orang tua. Oleh karenanya, metode yang digunakan adalah autoetnografi. Metode ini dapat dikatakan sebagai metode penelitian yang masih jarang digunakan dalam proses berkarya secara kreatif. Metode ini sangat menekankan pada subjektifitas dan bersifat personal. Proses perjalanan ke kampung halaman orang tua di Palangkaraya, Kalimantan Tengah dan Larantuka, Nusa Tenggara Timur adalah upaya untuk memahami lebih dekat tentang silsilah keluarga besar dan nilai tradisi yang terdapat di daerah. Melalui pendekatan dokumenter partisipatoris dan autoetnografi, dokumenter ini menghadirkan pengalaman-pengalaman yang jarang dijumpai di kota Jakarta. Terdapat banyak perbedaan yang ditemui dari perjalanan ke keluarga besar, seperti masakan, budaya salam dan sebagainya.  Selain perbedaan yang ditemui terdapat juga beragam kesamaan dari suku Dayak dan Flores, antara lain bagaimana air memiliki peranan penting dalam kehidupan, karena kedua kampung halaman dikelilingi oleh sungai dan laut. 
Edukasi Eksplorasi Karya Animasi dan Film dengan Kearifan Lokal di Pantai Cibuaya Ujung Genteng Sukabumi Arby, Sella; Rosita, Ely; Depita, Natalia; Lestari, Afifa
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9 No 4 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v9i4.27315

Abstract

Wilayah Jampang di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memiliki kekayaan biodiversitas dan potensi wisata yang besar namun belum tergarap optimal akibat keterbatasan akses dan kurangnya pemanfaatan pendekatan kreatif dalam pengembangan wilayah. Pakidoelan Eco Art and Cultural Laboratory (Pakidoelan Lab) hadir sebagai platform seni dan pendidikan yang mendorong pemanfaatan seni, budaya, dan ekologi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat setempat. Kegiatan ini mengacu pada teori Art-Based Environmental Education (ABEE), yang memadukan praktik seni dengan pendidikan lingkungan untuk membangun kesadaran ekologis dan mendorong partisipasi aktif masyarakat. Melalui kolaborasi dengan Politeknik Multimedia Nusantara (MNP) dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN), diselenggarakan “Jampang Creative Camp” pada 17–18 Mei 2025 di Pantai Cibuaya, dengan metode lokakarya, pertunjukan seni tradisional, serta diskusi interaktif bersama pegiat lokal dalam bidang geografi dan sejarah. Tujuannya adalah membangun kesadaran masyarakat terhadap potensi lokal, mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya dan ekologi, serta mengembangkan strategi berbasis kreativitas untuk pengembangan pariwisata Jampang. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kreativitas yang berakar pada kearifan lokal sebagai dasar pengembangan wilayah yang berkelanjutan.
Preserving Identity, Embracing Change: The Survival of Pekalongan Peranakan Batik Purnomo, Setianingsih; Annita, Annita; Depita, Natalia
ULTIMART Jurnal Komunikasi Visual Vol 18 No 2 (2025): Ultimart: Jurnal Komunikasi Visual
Publisher : Universitas Multimedia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31937/ultimart.v18i2.4415

Abstract

Indonesia is famous for its cultural heritage. One of the acknowledged heritages is Pekalongan Peranakan batik, a delicate and beautiful craftmanship influenced by Asia, Arab, and Europe. The Peranakan batik combines Javanese batik-making artistry with the Chinese design planning and trading strategies. This article investigates the survival of Pekalongan Peranakan batik as an endangered culture and how the artisan batik adapts with the modern era.  The method used in this study is literature review, interview with the owner of the last producer of Pekalongan Peranakan batik and descriptive–qualitative analysis. The findings reveal that although UNESCO’s recognition of batik as intangible heritage, and Peranakan batik holds centuries-old heritage of cross-cultural exchange, this art form now risks extinction. This paper examines its historical development and contemporary challenges, arguing that revitalization through innovation is essential for its survival. Besides that, this research contributes to archiving the process and the portrait of artisan batik Liem Ping Wie in Kedungwuni, Pekalongan.   Keywords: Chinese Javanese Peranakan Batik; cultural heritage; revitalization.