Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

UJI MUTU FISIK BIBIT KELICUNG (Diospyros macrophylla) PADA PERSEMAIAN MASYARAKAT DI KECAMATAN GUNUNGSARI KABUPATEN LOMBOK BARAT Chaerani, Nurul; Shabrina, Hasyyati; Lestari, Andi Tri; Indriyatno, Indriyatno; Mulyanugroho, Ade Isna; Imam, Syaiful
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 35 No 3 (2025): Jurnal Agroteksos Desember 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agroteksos.v35i3.1515

Abstract

Bibit yang berkualitas merupakan salah satu parameter penting dalam keberhasilan program rehabilitas hutan dan lahan (RHL). Bibit berkualitas selain dipengaruhi oleh faktor genetik, juga dipengaruhi oleh proses produksi dan pemeliharaan selama di Persemaian. Bibit dapat diuji mutu fisiknya berdasarkan (SNI 8420:2018) dengan kriteria tinggi, diameter, kekompakan media, jumlah daun, batang lurus sudah berkayu, dan sehat. Bibit di Indonesia umumnya diproduksi berbagai pihak, salah satunya di Persemaian Masyarakat Alam Lestari di Lombok Barat yang memproduksi bibit tanaman lokal yaitu kelicung (Diospyros macrophylla). Kelicung memiliki kelas kekuatan II-III dan kelas keawetan V sebagai bahan kontruksi. Saat ini kelicung termasuk dalam jenis dilindungi, sehingga perlu adanya pelestarian dengan melakukan budidaya dan penanaman skala luas, oleh karena itu perlu adanya evaluasi mutu bibit. Usaha persemaian oleh Masyarakat umumnya dilaksanakan pada areal sempit dan masih menggunakan teknologi sederhana yang seringkali belum dievaluasi secara sistematis. Tujuan dari penelitian ini yaitu menguji mutu fisik di Persemaian Mayarakat Alam Lestari di Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat berdasarkan (SNI) 8420:2018 yang meliputi persyaratan umum dan khusus. Hasil uji menunjukan bahwa mutu bibit kelicung pada persemaian Masyarakat Lombok Barat belum sepenuhnya memenuhi (SNI) 8420:2018. Bibit yang lulus persyaratan umum hanya 72% dari standar >95% dan bibit yang lulus persyaratan khusus hanya 69% dari standar >90%. Berdasarkan hasil tersebut, bibit kelicung yang diuji termasuk dalam kategori belum memenuhi kelas mutu dan tidak dapat diterbitkan sertifikat. Diperlukan perbaikan terutama pada kriteria tinggi, kelurusan batang, kesehatan bibit, dan kekompakan media tanam.
Spatial and Canopy Utilization Pattern by Long-Tailed Monkeys (macaca fascicularis) Along the Oi Marai Tourist Trail Rahman, Dedy; Syaputra, Maiser; Shabrina, Hasyyati
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i1.11354

Abstract

The riparian ecosystem along the Oi Marai tourism trail in Tambora National Park constitutes a critical habitat for various wildlife species, including the Long-tailed Macaque (Macaca fascicularis). This study aims to analyze spatial use and canopy utilization by long-tailed macaques along the Oi Marai tourism trail in response to pressures from tourism activities. Data were collected using line transect and ad libitum sampling methods to record daily movements over a 14-day observation period. Spatial use was analyzed using the Minimum Convex Polygon (MCP) technique based on GPS coordinates. The results identified a single group of long-tailed macaques (Macaca fascicularis) consisting of 21 individuals led by one dominant male (alpha). The home range of this group was recorded at 3.60 ha, with daily travel distances ranging from 1.31 km to 5.52 km and a maximum ranging radius of 0.43 km. The territorial area covered 0.85 ha, with the farthest and nearest night sleeping position (NPS) distances recorded at 0.36 km and 0.03 km, respectively. The core area was estimated at 0.30 ha. Animal movements were predominantly concentrated along the river corridor due to the availability of water and food resources, including both natural forage and supplementary food provided by visitors. Vertically, canopy utilization exhibited functional stratification: strata C and D served as the primary zones for social activities and feeding (65%), whereas strata A and B functioned mainly as protective areas (20%). These findings indicate a reduction in home range size associated with the availability of supplementary food along the tourism trail.