Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengembangan “Desa Wisata Kampung Koi” Latukan sebagai Upaya Penguatan BUMDesa melalui Pengembangan Kelompok Pembudidaya dan BUMDesa Latukan, Kabupaten Lamongan: Empowerment of Latukan "Koi Village" as an Effort to Strengthen BUMDesa through the Development of Fish Farmers and BUMDesa Latukan Village, The Regency of Lamongan Maftuch, Maftuch; Setyawan, Fahreza Okta; Astuti, Retno Tri; Farikhah, Reghita Dwi; Ash Shufi, Abdillah Hanan
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 5 (2024): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v9i5.4362

Abstract

Latukan Village is one of the villages in Lamongan Regency with Independent Village status in the 2020 Building Village Index (IDM). Independent Village has the highest status in the IDM assessment scale published by the Ministry of Villages. Through the  Empowered Village Program, Latukan Village seeks to build a village icon by constructing the Latukan “Koi Village”. However, the complete design concept regarding the development of Latukan Village as a  Kampung Koi Tourism Village has not yet been formed optimally. Therefore, it is essential to prepare strategic development steps, which include elements of Koi Fish Cultivation, Post-harvest Management, Transportation, Marketing Management, the establishment of recreational and educational parks, as well as human resource development, in this case, the Koi Fish Cultivator Group and the Harvest Management Group. The solution is to create a development design for the Kampung Koi Tourism Village as part of the BUM Desa business unit. For this reason, the Brawijaya University Community Service team designed an activity to build a stronger and more sustainable Latukan Village Icon. Service activities consist of identifying the status of the problem and planning solutions, forming a koi fish cultivator group and making portable spawning ponds, strengthening the role of BUMDesa, village government, and cultivators through focus group discussions and comparative studies, and koi fish cultivation and breeding training. All activities have been conducted and compiled in scientific publications and mass media. In its implementation, this activity involved five students concentrating on fisheries cultivation and fishery product technology.
Analisis Delineasi Garis Pantai dengan Metode Object-Based Image Analysis di Kabupaten Malang Menggunakan Citra Satelit Planetscope: Analysis of Shoreline Delineation Using Object-Based Image Analysis Method in Malang Regency with Planetscope Satellite Imagery Saphira, Shada; Setyawan, Fahreza Okta; Fuad, M. Arif Zainul; Rijal, Seftiawan Samsu
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 1 (2025): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.01.3

Abstract

Salah satu fenomena alam yang rentan terjadi di wilayah pantai adalah perubahan garis pantai, karena sifat pantai yang dinamis, mengakibatkan wilayah pantai selalu mengalami perubahan. Oleh karena itu, delineasi garis pantai penting untuk dilakukan secara berkala agar garis pantai dapat dipantau secara terus menerus untuk mencegah terjadinya abrasi maupun akresi, juga delineasi garis pantai merupakan hal yang esensial dalam pengelolaan wilayah pesisir berkelanjutan. Penelitian ini berfokus pada delineasi garis pantai berdasarkan metode penginderaan jauh menggunakan Citra Satelit Resolusi Tinggi (CSRT) di Kabupaten Malang, dimana perubahan garis pantai terjadi wilayahnya. Delineasi garis pantai dilakukan dengan menggunakan metode integrasi dari model deep learning, Convolutional Neural Network (CNN), dan Object Based Image Analysis (OBIA). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dan mengevaluasi garis pantai dari metode yang digunakan. Didapatkan garis pantai hasil metode OBIA Kabupaten Malang di bagian barat 34.49 km, tengah 51.21 km, dan timur 67.81 km. Nilai overall accuracy yang didapatkan sebesar 83.62% di barat, tengah 80.79%, dan timur 85.06%. Jarak antara garis pantai hasil ekstraksi dan tracking dibandingkan dan didapatkan nilai RMSE di barat sebesar 4.91 meter, tengah 6.62 meter, dan timur 3.68 meter. Hasil tersebut membuktikan bahwa integrasi metode CNN dan OBIA berhasil menciptakan garis pantai dengan akurasi yang baik.   One of the natural phenomena commonly occurring in coastal areas is shoreline change, driven by the coast’s dynamic nature, resulting in coastal areas always experiencing changes. Therefore, delineation of the shoreline is important to be carried out periodically so that the shoreline can be monitored continuously to prevent abrasion and accretion, also delineation of the shoreline is essential in the management of sustainable coastal areas. This research focuses on shoreline delineation based on remote sensing method using High Resolution satellite imagery in Malang Regency, where shoreline changes occur. Shoreline delineation is performed using an integrated method of deep learning models, Convolutional Neural Network (CNN), and Object Based Image Analysis (OBIA). This research aims to obtain and evaluate the shoreline of the method used. The shoreline obtained from OBIA method in Malang Regency is 34.49 km in the west, 51.21 km in the central, and 67.81 km in the east. The overall accuracy value achieved in the western part is 83.62%, the central part is 80.79%, and the eastern part is 85.06%. The distance between the extracted and the tracking shoreline was compared and an overall average RMSE value of 4.91 meters in the western part, 6.62 meters in the middle part, and 3.68 meters in the eastern part. These results prove that the integration of CNN and OBIA methods can successfully create shoreline with good accuracy.
HUBUNGAN PANJANG BERAT DAN TINGKAT EKSPLOITASI Sari, Wahida Kartika; Sutjipto, Darmawan Ockto; Setyohadi, Daduk; Setyawan, Fahreza Okta; Aliviyanti, Dian
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 1 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selat Madura masuk dalam Sub Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia 712. Perikanan di Selat Madura memiliki karakteristik multigear dan multispecies. Cantrang merupakan salah satu alat tangkap yang masih dioperasikan di Selat Madura meskipun menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor / PERMEN-KP/ 2016 melarang adanya pengoperasian alat tangkap tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman alat tangkap cantrang terutama yang berkaitan dengan panjang dan berat ikan hasil tangkapan, tingkat eksploitasi, dan fluktuasi hasil tangkapan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus tahun 2020 di Pelabuhan Perikanan Pantai Mayangan. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data Panjang ikan (cm) dan berat ikan (kg) hasil tangkapan Cantrang yaitu ikan kurisi, ikan swanggi, dan ikan eloso. Hasil perhitungan menunjukkan hubungan panjang dan berat ketiga ikan sample bersifat allometris negatif. Hasil perhitungan Cacth Per Unit Effort (CPUE) paling tinggi berada pada tahun 2011 untuk semua ikan. Hasil tangkapan alat tangkap sangat fluktuatif, namun cenderung menurun beberapa tahun terakhir. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan terutama dalam pembuatan kebijakan berkaitan dengan kebijakan pengoperasian alat tangkap cantrang.
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM DI KECAMATAN KUALA PESISIR, KABUPATEN NAGAN RAYA, ACEH Setyawan, Fahreza Okta; Sari, Wahida Kartika; Aliviyanti, Dian
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 2 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.22

Abstract

Perubahan garis pantai merupakan salah satu bentuk dinamisasi pada kawasan pantai yang dapat terjadi secara terus menerus. Faktor penyebab terjadinya perubahan garis pantai dapat diakibatkan oleh adanya abrasi dan akresi. Faktor hidro – oseanografi yang juga mempengaruhi perubahan garis pantai yaitu gelombang dan pasang surut air laut. Secara umum, penyebab terjadinya gelombang laut yang dominan yaitu diakibatkan oleh faktor aingin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan garis pantai serta hubungan antara perubahan garis pantai dengan pasang surut dan gelombang laut yang terjadi di Pantai Gampong Lhok, Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode thresholding untuk memisahkan antara daratan dengan lautan dan pengaplikasian Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Hasil penelitian yang didapatkan yaitu pada tahun 2016 – 2020 kawasan pesisir Pantai Gampong Lhok mengalami akresi maksimum sebesar 30,16 m/tahun, sedangkan abrasi maksimum terjadi sebesar -34,49 m/tahun. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai penelitian awal dalam pembuatan kebijakan oleh pemerintah untuk kawasan pesisir Pantai Gampong Lhok.
Penerapan Konsep Ekonomi Sirkular Dalam Pengelolaan Sampah Untuk Menunjang Green Economy di Desa Nelayan Kondangmerak, Kabupaten Malang Setyawan, Fahreza Okta; Yona, Defri; Rahman, M. Arif; Firdaus, Naufal; Risqi, Mohammad Aditya
Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA) Vol 4, No 1 (2024): Abdira, Januari
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdira.v4i1.410

Abstract

Waste management remains a challenge in Indonesia to this day. Several regions, including the fishing village of Kondangmerak in Malang Regency, East Java, still face obstacles in the waste disposal process. Due to its distance from the village's administrative center, 20 households in Kondangmerak are compelled to manage their own waste. Efforts involve waste incineration, but this poses new issues due to incomplete combustion. The objective of this initiative is to enhance the knowledge and well-being of the community through waste management activities. Various methods are employed, such as waste management and recycling training, the creation of plastic bottle waste bins, and the development of infographic banners on waste. The outcomes encompass improved community skills in waste management, the utilization of dedicated plastic waste bins, and the dissemination of information through infographic banners at various locations along the Kondangmerak Beach.
Analisis Tingkat Akurasi Data Batimetri Menggunakan Singlebeam Echosounder System (Sbes) dan Citra Satelit Spot-7 di Perairan Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo Laily, Hilda Hikmatul; Setyawan, Fahreza Okta; Fuad, M. Arif Zainul; Nandika, Muhammad Rizki
Jurnal Kelautan Nasional Vol 19, No 1 (2024): APRIL
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v19i1.13381

Abstract

Pulau Gili Ketapang memiliki jumlah potensi sumberdaya perikanan mencapai 40%, sehingga Gili Ketapang berpotensi menjadi daerah perikanan dengan sumberdaya yang cukup tinggi dan pelayaran yang cukup padat. Hal ini berarti informasi mengenai batimetri di perairan tersebut bermanfaat untuk mengetahui kondisi perairan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat akurasi data batimetri dari Singlebeam Echosounder System (SBES) dan citra satelit SPOT-7, sehingga dapat digunakan sebagai referensi kedalaman perairan. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini merupakan Satellite Derived Bathymetry (SDB) metode klasifikasi Random Forest dengan menggunakan software Satellite Derived Bathymetry (SDB) GUI. Kedalaman perairan di Pulau Gili Ketapang berdasarkan hasil pemeruman berkisar antara 0-30m. Profil kedalaman perairan pada peta batimetri 3D menunjukkan bahwa morfologi dasar laut tidak rata. Profil kedalaman dari garis pantai hingga jarak 200 m memiliki nilai kedalaman 0-20 m, sedangkan profil kedalaman dari jarak 200m hingga perairan terbuka cukup bervariasi. Klasifikasi kelas lereng di perairan Pulau Gili Ketapang didominasi oleh kategori datar sebesar 77,28%. Hasil regresi (R²) pada model SDB antara data citra dengan data insitu yaitu 0,59 atau 59%. Nilai RMSE yang tertinggi terdapat pada kedalaman 0 – 5m yaitu 0,87, sedangkan yang terendah pada kedalaman 15,1 - 20m yaitu 1,31.
Pemetaan Batimetri dan Morfologi Dasar Perairan Sendangbiru, Kabupaten Malang Desy Setyoningrum; Fahreza Okta Setyawan; Riswan Septriayadi Sianturi; Citra Syananta; Siti Al Khumairoh Annadziroh Nurshokh; Decha Satria Ibnu Faqih; Agung Wahyudi Prasetyo; Naufal Fidel Satria Aryasatya
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.28860

Abstract

ABSTRAKPerairan Sendang Biru, Kabupaten Malang, merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di pesisir selatan Jawa, terutama saat puncak musim penangkapan ikan pada bulan Agustus hingga Oktober. Aktivitas pelayaran dan perikanan intensif di wilayah ini memerlukan data batimetri yang akurat untuk mendukung keselamatan navigasi dan pengelolaan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kontur batimetri dan mengidentifikasi morfologi dasar laut di Perairan Sendang Biru menggunakan metode pemeruman dengan Single Beam Echosounder (SBES). Pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober 2024 dengan interval jalur pemeruman sejauh 50 meter, menghasilkan data kedalaman yang dikoreksi terhadap pasang surut menggunakan Metode Admiralty. Pengolahan data pasang surut dilakukan berdasarkan konstanta harmonik untuk menentukan nilai elevasi penting, seperti HHWL, MHWL, MSL, MLWL, dan LLWL. Hasil analisis menunjukkan tipe pasang surut di Perairan Sendang Biru adalah tipe campuran dominan ganda dengan bilangan Formzahl sebesar 0,31744. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman perairan berkisar antara 1 meter hingga 36 meter. Morfologi dasar laut didominasi oleh lereng landai dengan beberapa area lereng curam yang tersebar di bagian selatan dan barat daya perairan. Selain itu, terdapat beberapa wilayah yang teridentifikasi sebagai potensi pengendapan sedimen di area dangkal. Berdasarkan hasil penelitian ini, memberikan informasi penting bagi penataan alur pelayaran dan area tambat do Pelabuhan Pondokdadap, terutama karena kontur kedalaman yang bervariasi dan keberadaan zona potensi sedimentasi di area dekat pantaiKata kunci: Pemetaan Batimetri; Perairan Sendangbiru; Single Beam Echosounder (SBES); Survey Hidrografi.ABSTRACTThe waters of Sendang Biru, Malang Regency, are among the busiest shipping routes along the southern coast of Java, especially during the peak fishing season from August to October. The intensive shipping and fishing activities in this area require accurate bathymetric data to support navigation safety and water management. This study aims to map bathymetric contours and identify the seabed morphology in the waters of Sendang Biru using a hydrographic survey method with a Single Beam Echosounder (SBES). Data collection was conducted on October  2024, with survey line intervals of 50 meters, producing depth data corrected for tidal variations using the Admiralty Method.Tidal data processing was carried out based on harmonic constants to determine critical elevation values such as HHWL, MHWL, MSL, MLWL, and LLWL. The analysis results indicate that the tidal type in the waters of Sendangbiru is a mixed predominantly semidiurnal type, with a Formzahl number of 0.31744. The study results show that water depths range from 1 meter to 36 meters. The seabed morphology is dominated by gentle slopes with some steep slope areas scattered in the southern and southwestern parts of the waters. Additionally, several areas were identified as potential sediment deposition zones in shallow areas. This findings provide essential information for planning navigation routes and mooring areas at Pondokdadap Port, particularly considering the variable depth contours and presence of sedimen-accumulation zone near the coastline. Keywords: Bathymetric Mapping; Single Beam Echosounder (SBES); Sendang Biru Waters; Hydrographic Survey
Analisis Akurasi Data Batimetri Single Beam Echosounder System (SBES) dan Satellite Derived Bathymetry (SDB) (Studi Kasus Perairan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah): Accuracy Analysis of Single Beam Echosounder System (SBES) and Satellite Derived Bathymetry (SDB) Data (Cased Study the Waters of Cilacap Regency, Central Java) Setyawan, Fahreza Okta; Rahman, Alham Danendra; Hidayati, Nurin; Fuad, Mochamad Arif Zainul; Semedi, Bambang; Setyoningrum, Desy
JFMR-Journal of Fisheries and Marine Research Vol. 10 No. 1 (2026): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2026.010.01.4

Abstract

Hidrografi dan batimetri menyediakan informasi kedalaman dan bentuk dasar perairan yang sangat penting bagi navigasi, perencanaan pelabuhan, rekayasa pantai, dan tata ruang laut, terutama pada perairan dinamis dan keruh seperti Kabupaten Cilacap yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Penelitian ini bertujuan menganalisis akurasi data batimetri Satellite Derived Bathymetry (SDB) berbasis citra PlanetScope beresolusi tinggi dan membandingkannya dengan hasil pemeruman Single Beam Echosounder System (SBES). Data SBES dikumpulkan menggunakan Garmin 585 C, sedangkan kedalaman SDB diekstraksi dengan algoritma machine learning Generalized Additive Model (GAM). Data dibagi 75% untuk training dan 25% untuk testing, dan kinerja model dinilai menggunakan koefisien determinasi (R²) dan Root Mean Square Error (RMSE). Pengolahan data didukung perangkat lunak SIG dan penginderaan jauh seperti ArcMap, SNAP, ENVI, Global Mapper, RStudio, dan Surfer. Hasil menunjukkan SBES memiliki akurasi tinggi dan tetap menjadi rujukan utama pemetaan dasar perairan Cilacap. Sebaliknya, model SDB–GAM menghasilkan R² sebesar 0,35 dan RMSE 2,80 sehingga belum mampu merepresentasikan variasi kedalaman pada perairan. Nilai ini rendah karena perairan Cilacap yang keruh serta keberadaan sunglint pada citra menyebabkan distorsi reflektansi sehingga kedalaman hasil SDB sulit merepresentasikan variasi kedalaman aktual. Oleh karena itu, SDB – GAM belum direkomendasikan untuk pemetaan operasional di perairan keruh seperti Cilacap tanpa koreksi glint dan peningkatan strategi pemodelan, serta lebih tepat digunakan sebagai pemetaan awal pada kondisi perairan yang lebih jernih dan kedalaman terbatas.   Hydrography and bathymetry provide information on water depth and seabed morphology that is crucial for navigation, port planning, coastal engineering, and marine spatial planning, especially in dynamic and turbid waters such as Cilacap Regency, which borders directly with the Indian Ocean. This study aims to analyze the accuracy of bathymetric data Satellite Derived Bathymetry (SDB) derived from high-resolution PlanetScope imagery and compare it with obtained from Single Beam Echosounder System (SBES) sounding. SBES data were collected using a Garmin 585 C, while SDB depths were extracted using the Generalized Additive Model (GAM) machine learning algorithm. Data were split into 75% for training and 25% for testing, and model performance was evaluated using the coefficient of determination (R²) and Root Mean Square Error (RMSE). Data processing was supported by GIS and remote sensing software such as ArcMap, SNAP, ENVI, Global Mapper, RStudio, and Surfer. The results show that SBES provides high accuracy and remains the primary reference for seabed mapping in Cilacap waters. Conversely, the SDB–GAM model produces an R² of 0.35 and an RMSE of 2.80, indicating that it has not yet adequately represented depth variability in waters. This value is low because the murky waters of Cilacap and the presence of sunglint in the image cause reflectance distortion, making it difficult for the SDB results to represent actual depth variatons. Therefore, SDB-GAM is not yet recommended for operational mapping in murky waters such as Cilacap without glint correction and improved modeling strategies, and is more appropriately used for initial mapping in clearer waters and limited depths.
Comparative Analysis of SBES Bathymetry and Machine Learning-Based Satellite-Derived Bathymetry from Sentinel-2 in the Coastal Waters of Dubibir, Situbondo Fuad, Mochamad Arif Zainul; Zannuar, Rizky Wisudawan; Rijal, Seftiawan Syamsu; Setyawan, Fahreza Okta
JFMR-Journal of Fisheries and Marine Research Vol. 10 No. 1 (2026): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2026.010.01.13

Abstract

Accurate Bathymetryc information in shallow coastal waters is critical for marine navigation, coastal zone management, habitat assessment, and environmental monitoring. Conventional Bathymetryc surveys are limited by high operational costs, restricted spatial coverage, and time-consuming fieldwork. To overcome these challenges, the present study assesses the potential of Satellite-Derived Bathymetry (SDB) using Sentinel-2 imagery as an alternative, comparing it with in situ Bathymetryc measurements obtained via Single Beam Echosounder (SBES) in the coastal waters of Dubibir, Situbondo, Indonesia. Bathymetryc data were collected with an SBES GPSMAP 585c, and Sentinel-2 multispectral imagery was processed to estimate water depth using a Random Forest (RF) machine learning model. Results indicate that SBES measurements reached a maximum depth of 53.34 m, while Sentinel-2-derived bathymetry captured depths up to 29.61 m. Model evaluation yielded a coefficient of determination (R²) of 0.83, a mean absolute error (MAE) of 1.90 m, and a root mean square error (RMSE) of 3.56 m, demonstrating strong predictive performance in shallow-water environments. However, the findings also show reduced SDB capability in deeper, optically complex waters, particularly where turbidity limits light penetration and weakens the satellite signal. Overall, Sentinel-2 imagery combined with the RF algorithm offers a practical, cost-effective, and spatially efficient solution for shallow-water Bathymetryc mapping, while SBES remains essential for validation and for representing deeper seabed conditions. This study advances the application of machine learning-based SDB for coastal mapping and provides a relevant approach for generating Bathymetryc data in data-limited coastal regions.
GREENSHELLUTION: INOVASI PENGOLAHAN LIMBAH CANGKANG KERANG BERBASIS EKONOMI SIRKULAR DI DESA PASINAN, KABUPATEN PASURUAN, INDONESIA: GREENSHELLUTION: INNOVATION IN ENVIRONMENTALLY SHELLWHEAT WASTE PROCESSING BASED ON A CIRCULAR ECONOMY IN PASINAN, PASURUAN REGENCY, INDONESIA Aliviyanti, Dian; Setyawan , Fahreza Okta; Fadhillianto, M. Falih; Balqis, Tariska Hilwa Azra; Achmad, Ghazali; Winanda, Naisya Febrian; Sianturi, Renika; Abhinaya, Ardra Raditya; S, Alif Bintang Busyra; Ratri, Agustin Tri Dinda Ning
Jurnal Pengabdian Perikanan dan Kelautan: Piskarias Ministerium Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Perikanan dan Kelautan: Piskarias Ministerium pada Bulan Juni
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.piskarias.2026.004.01.5

Abstract

Limbah cangkang kerang merupakan salah satu permasalahan lingkungan utama yang dihadapi masyarakat pesisir Desa Pasinan, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Tingginya aktivitas pengolahan kerang konsumsi menghasilkan timbulan limbah cangkang dalam jumlah besar yang belum dikelola secara optimal, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan sanitasi. Di sisi lain, cangkang kerang memiliki kandungan kalsium karbonat (CaCO₃) yang tinggi dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pendukung pakan ternak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk merumuskan dan mengimplementasikan model pemanfaatan limbah cangkang kerang berbasis ekonomi sirkular melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA), yang meliputi pemetaan potensi dan permasalahan desa, diskusi kelompok terfokus, pelatihan teknis pengolahan limbah, serta pendampingan awal kepada kelompok sasaran. Kegiatan ini melibatkan masyarakat pesisir, pelaku UMKM pengolahan kerang, kelompok peternak, dan BUMDes Desa Pasinan. Hasil kegiatan menunjukkan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan limbah cangkang kerang dan potensi pemanfaatannya sebagai bahan pendukung pakan ternak. Analisis SWOT mengindikasikan bahwa ketersediaan bahan baku yang melimpah dan dukungan kelembagaan desa menjadi faktor pendukung utama keberlanjutan program, meskipun masih terdapat tantangan berupa keterbatasan teknologi, data laboratorium, dan literasi teknis masyarakat. Secara keseluruhan, program ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan ekonomi lokal berbasis desa, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan limbah berbasis ekonomi sirkular, serta SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui upaya pengurangan pencemaran lingkungan pesisir. Program ini berpotensi menjadi model pengelolaan limbah berbasis pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di wilayah pesisir lainnya.   Shellfish shell waste is one of the major environmental problems faced by coastal communities in Pasinan Village, Lekok District, Pasuruan Regency. The high intensity of shellfish processing activities generates a large amount of shell waste that has not been optimally managed, resulting in environmental pollution and sanitation issues. On the other hand, shellfish shells contain high levels of calcium carbonate (CaCO₃), which have the potential to be utilized as a supplementary material for animal feed. This community service program aimed to formulate and implement a circular economy–based model for shellfish shell waste utilization through a community empowerment approach. The program employed the Participatory Rural Appraisal (PRA) method, which included mapping local potentials and problems, focus group discussions, technical training on waste processing, and initial mentoring of target groups. The activities involved coastal communities, shellfish-processing micro and small enterprises, livestock farmer groups, and the Village-Owned Enterprise (BUMDes) of Pasinan Village. The results indicate an increased level of community awareness and understanding regarding shellfish shell waste management and its potential use as a supplementary material for animal feed. The SWOT analysis shows that the abundant availability of raw materials and strong institutional support at the village level are key factors supporting program sustainability, although challenges remain in terms of technological limitations, the availability of laboratory-based data, and community technical literacy. Overall, this program contributes to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) through strengthening local, village-based economic activities, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) through circular economy–based waste utilization, and SDG 14 (Life Below Water) by reducing coastal environmental pollution. This program has the potential to serve as a replicable model for community-based waste management in other coastal areas.
Co-Authors Abhinaya, Ardra Raditya Achmad, Ghazali Ade Yamindago Agung Wahyudi Prasetyo AGUS TUMULYADI Agustinus Agustinus Aida Sartimbul Aisah Girindra Akhmad Zainuri Aliviyanti, Dian Althofian Arya Anatasya Alya Ariyanti ANDIK ISDIANTO Andik Isdianto Anggita Sekar M ARIEF SETYANTO As'adi, Muhammad Arif Ash Shufi, Abdillah Hanan Astried Vanessa Astuti, Retno Tri Atsuhiko Isobe AULIA LANUDIA FATHAH Balqis, Tariska Hilwa Azra Bambang Semedi BERLANIA MAHARDIKA PUTRI Chiara Dewi Nathania El Zam Citra Syananta Daduk Setyohadi Darmawan Ockto Sutjipto Decha Satria Ibnu Faqih Defri Yona Defri Yona Desy Setyoningrum Dhira Khurniawan Saputra Dumatubun, Innocentius Arya Panji Pramudewata Edriana Pangestuti Fadhillianto, M. Falih Faisal Akmal Farikhah, Reghita Dwi Feni Iranawati Feni Iranawati, Feni Firdaus, Naufal Fuad, M. Arif Zainul Fuad, Mochamad Arif Zainul Fuad, Muhammad Arif Zainul Gading Mahendra GATUT BINTORO Guntur Haq, Nuril Annisa Hidayat, Esa Fajar Hidayati, Nurin Hidayatullah, Fathurrosyid Imam Akbar Wicaksono Johar Setiyadi Krisnanto, Wahyu Fajar Laily, Hilda Hikmatul M. Falbian Arsetyo N M. Nadhif Maftuch Maftuch MUHAMMAD ARIF ASADI Muhammad Ariq Kautsar MUHAMMAD FIKRI ARIEFANDI Muhammad Ridha Naila Nency Nandika, Muhammad Rizki Naufal Fidel Satria Aryasatya OKTIYAS MUZAKY LUTHFI Rahman, Alham Danendra Rahman, M. Arif Ratri, Agustin Tri Dinda Ning Rijal, Seftiawan Syamsu Risqi, Mohammad Aditya Riswan Septriayadi Sianturi Rudianto S, Alif Bintang Busyra Saphira, Shada Sari, Wahida Kartika Seftiawan Samsu Rijal, Seftiawan Samsu Sevia Medytya Shalma Dinda Shefita Meilana Sianturi, Renika Sisylia Eka Narriyah Putri Sisylia Eka Narriyah Putri Siti Al Khumairoh Annadziroh Nurshokh Sunardi Sunardi SUPRIYADI SUPRIYADI Syarifah Hikmah Julinda Sari Tambunan, Jeny Ernawati TRI DJOKO LELONO Ubaidillah Ubaidillah Ussania, Qoirunnisa Vira Nur Titisari Wattimena, Kerenhapukh Emmanuella Grace Widodo S Pranowo Widodo Setiyo Pranowo Winanda, Naisya Febrian WIRASTIKA ADHIHAPSARI Zannuar, Rizky Wisudawan