Zacheus, Soelistiyo Daniel
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Teologis Konsep Pemberitaan Injil Berdasarkan 2 Korintus 5: 18-21 Efrayim Ngesthi, Yonathan Salmon; Munandar, Aris; Zacheus, Soelistiyo Daniel; Dwikoryanto, Matius I Totok
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.025 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.108

Abstract

Preaching the gospel in believers requires responsibility and courage to actualize it. But many people do not understand that evangelism is God's way of working with people to bring a message of reconciliation to people. Through descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that God's people must be able to understand that there is a heart of God in saving humans in God's mission of reconciliation for humans. Furthermore, God's people can also understand how God entrusts the task of serving missions to be a priority and responsibility to do, because being a messenger of Christ for the salvation of others is a way for believers to respond to God's call to be a blessing to this world.AbstrakMemberitakan injil dalam diri orang percaya memerlukan tanggung jawab dan keberanian dalam mengaktualisasi. Namun banyak orang tidak memahami bahwa penginjilan adalah cara Allah bekerja sama dengan manusia membawa pesan pendamaian bagi manusia. Melalui metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature dapat disimpulkan bahwa umat Tuhan harus dapat memahami bahwa adanya hati Allah dalam menyelamatkan manusia dalam misi pendamaian Allah bagi manusia. Selanjutanya umat Tuhan dapat mengerti juga bagaimana Allah Mempercayakan tugas pelayanan misi menjadi prioritas dan tanggung jawab untuk dikerjakan, sebab menjadi utusan Kristus bagi keselamatan orang lain adalah merupakan cara orang percaya merespon panggilan Tuhan untuk menjadi berkat bagi dunia ini.
Tanggapan Alkitab dan Gereja Terhadap Faktor Pemicu Terjadinya Perceraian Sele, Ricu; Zacheus, Soelistiyo Daniel
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 3 No 1 (2021): JIREH: Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v3i1.47

Abstract

The divorce rate in Indonesia is increasingly showing a significant upward trend. Therefore, this study aims to describe the factors of divorce, the response of Lakit and the church to the divorce. Divorce doesn't just happen. Divorce is triggered by various factors. These factors are used as justification for conducting a divorce. Those reasons are used as the basis for suing and carrying out a divorce. The Bible is against divorce. God hates divorce. God never designed a marriage for divorce. Biblical marriage is marriage for life. Marriage must be built on a strong foundation, namely love. Like the bond of love between Christ and His church, so is the bond of husband and wife in a marriage. The church is in line with the Bible / Word of God, does not tolerate divorce. The church must strive to prevent its people from divorcing. Because divorce does not solve problems, but in Christ and His love all problems that arise in marriage can be resolved. He is in Christ and in His love there must be a way out. The method used by researchers in this writing is descriptive qualitative by using literature sources that support the writing of this article. Hopefully the results of this research can be a reference for pastors and churches and people to solve every problem in marriage wisely so that it doesn't end in divorce. Angka perceraian di Indonesia semakin menunjuk tren peningkatan yang signifikan. Karena itu penelitian ini bertujuan untuk memaparkan faktor-faktor perceraian, tanggapan Alkitab dan gereja terhadap perceraian tersebut. Perceraian dipicu oleh berbagai faktor. Alasan-alasan itulah yang dijadikan sebagai dasar untuk menuntut dan melakukan perceraian. Alkitab menentang perceraian. Tuhan tidak pernah merancang sebuah pernikahan untuk perceraian. Pernikahan Alkitabiah adalah pernikahan seumur hidup. Pernikahan harus dibangun dasar yang kuat yaitu kasih. Seperti ikatan kasih antara Kristus dan jemaatNya. Gerejapun sejalan dengan Alkitab/Firman Allah, tidak mentolerir adanya perceraian. Gereja harus berjuang untuk menghindarkan umatnya dari perceraian. Sebab perceraian tidak menyelesaikan masalah, tetapi di dalam Kristus dan kasihNya semua persoalan yang muncul dalam pernikahan bisa diselesaikan. Adapun metode yang dipergunakan peneliti dalam penulisan ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan sumber-sumber literatur yang mendukung penulisan artikel ini. Kiranya hasil penelitian ini, dapat menjadi acuan bagi Pendeta dan gereja serta umat untuk menyelesaikan setiap masalah dalam pernikahan secara bijak sehingga tidak berakhir dengan perceraian.
MEDIATISASI IMAN: DAMPAK TEKNOLOGI KOMUNIKASI TERHADAP GEREJA KONTEMPORER MENURUT AMSAL 1:5 Dyna R D, Hildegardis; Simon, Simon; Zacheus, Soelistiyo Daniel
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2024): November 2024
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v3i1.83

Abstract

Abstract: New technology, especially artificial intelligence (AI), is changing how churches work and connect with people. This study looks at the good and bad ways AI affects churches, focusing on the need for knowledge and understanding to deal with these changes. AI can make church work more efficient and help churches reach more people online. But it also brings ethical and theological challenges, like the possibility of less face-to-face interaction and weaker relationships. Churches in Indonesia and around the world are using social media and apps to connect with people who are far apart, which helps keep communities close even when they are physically distant. This study uses a qualitative approach with a literature review to analyze how communication technology affects religious practices from both theological and sociological perspectives. Proverbs 1:5 serves as a guiding principle, emphasizing wisdom and understanding as churches embrace technological advancements while maintaining their spiritual integrity. The findings show that with a careful approach, churches can use new technology to support their spiritual mission and keep their faith communities strong. Abstrak: Kemajuan teknologi komunikasi, khususnya kecerdasan buatan (AI), telah membawa perubahan signifikan pada cara gereja beroperasi dan berinteraksi dengan jemaatnya. Studi ini mengeksplorasi dampak Artificial intelligence (AI) pada gereja, baik yang konstruktif maupun yang menantang, dengan penekanan pada pentingnya pengetahuan dan pemahaman dalam menavigasi perubahan. AI menawarkan peluang untuk meningkatkan efisiensi pelayanan dan memperluas jangkauan misi gereja melalui media digital. Namun, tantangan etika dan teologis muncul terkait penggunaan AI dalam konteks spiritual, seperti potensi berkurangnya interaksi tatap muka dan kedalaman hubungan interpersonal. Gereja-gereja di Indonesia dan secara global memanfaatkan media sosial dan aplikasi digital untuk menjangkau jemaat yang tersebar, membantu memperkuat ikatan komunitas meskipun ada keterbatasan geografis. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka untuk menganalisis dampak teknologi komunikasi pada praktik keagamaan dari perspektif teologis dan sosiologis. Amsal 1:5 berfungsi sebagai prinsip panduan, yang menekankan hikmat dan pemahaman saat gereja merangkul kemajuan teknologi sambil menjaga integritas spiritual mereka. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang bijaksana, gereja dapat memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mendukung misi rohani mereka sambil menjaga integritas komunitas iman.