Dyna R D, Hildegardis
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Penginjilan yang Aplikatif pada Masyarakat Penganut Politeisme berdasarkan Kisah Para Rasul 17:16-34 Dyna R D, Hildegardis; PAP, Yonas; Simon, Simon
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 3 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v3i2.77

Abstract

Abstract: Evangelism must be done correctly and peacefully to its listeners. To realize this, an effective strategy is needed so that the gospel is delivered without debate with different beliefs. The apostle Paul, a highly educated, insightful, and communicative Pharisee, was chosen by God to spread the gospel to the Gentiles. In his mission, Paul preached the gospel to Athens, a place where scholars and various fisuf sects were born. The purpose of writing this article is to provide insight to Christians on how to conduct effective evangelism in communities that have different religions or creeds. The method used in this writing is qualitative-descriptive with a scientific review of the literature. The findings in this article describe that Paul conveyed the gospel message through an inscription seen on an altar of idolatry. This opportunity was used by Paul to introduce the philosophers of Jesus Christ and how to worship the true God. As a result, some members of the Areopagus Court joined him and believed in Jesus. What Paul did was part of an evangelistic strategy that was applicable in the field in carrying out the mission of the Great Commission. Abstrak: Penginjilan harus dilakukan secara benar dan damai kepada para pendengarnya. Untuk merealisasikan hal itu, diperlukan strategi yang efektif agar injil tersampaikan tanpa perdebatan dengan kepercayaan yang berbeda. Rasul Paulus, seorang Farisi yang memiliki latar pendidikan yang tinggi, berwawasan luas, dan komunikatif dipilih Tuhan untuk menyebarkan Injil ke bangsa-bangsa non-Yahudi. Dalam misinya, Paulus mengabarkan Injil ke Athena, sebuah tempat dimana kaum terpelajar dan berbagai aliran fisuf dilahirkan. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberikan wawasan kepada orang Kristen dalam melakukan penginjilan yang efektif pada masyarakat yang memiliki agama atau aliran kepercayaan yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kualitatif-deskriptif dengan kajian ilmiah literatur. Temuan dalam artikel ini menguraikan bahwa Paulus menyampaikan pesan Injil melalui sebuah tulisan yang dilihat pada sebuah mezbah penyembahan berhala. Kesempatan ini dipakai Paulus untuk mengenalkan tentang Yesus Kristus dan bagaimana menyembah kepada Allah yang benar kepada para filsuf aliran epikurios dan stoa. Dampaknya adanya beberapa anggota Mahkamah Areopagus yang menggabungkan diri dengannya dan percaya kepada Yesus. Apa yang dilakukan Paulus bagian dari strategi penginjilan yang aplikatif di lapangan dalam menjalankan misi Amanat Agung.
MEDIATISASI IMAN: DAMPAK TEKNOLOGI KOMUNIKASI TERHADAP GEREJA KONTEMPORER MENURUT AMSAL 1:5 Dyna R D, Hildegardis; Simon, Simon; Zacheus, Soelistiyo Daniel
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2024): November 2024
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v3i1.83

Abstract

Abstract: New technology, especially artificial intelligence (AI), is changing how churches work and connect with people. This study looks at the good and bad ways AI affects churches, focusing on the need for knowledge and understanding to deal with these changes. AI can make church work more efficient and help churches reach more people online. But it also brings ethical and theological challenges, like the possibility of less face-to-face interaction and weaker relationships. Churches in Indonesia and around the world are using social media and apps to connect with people who are far apart, which helps keep communities close even when they are physically distant. This study uses a qualitative approach with a literature review to analyze how communication technology affects religious practices from both theological and sociological perspectives. Proverbs 1:5 serves as a guiding principle, emphasizing wisdom and understanding as churches embrace technological advancements while maintaining their spiritual integrity. The findings show that with a careful approach, churches can use new technology to support their spiritual mission and keep their faith communities strong. Abstrak: Kemajuan teknologi komunikasi, khususnya kecerdasan buatan (AI), telah membawa perubahan signifikan pada cara gereja beroperasi dan berinteraksi dengan jemaatnya. Studi ini mengeksplorasi dampak Artificial intelligence (AI) pada gereja, baik yang konstruktif maupun yang menantang, dengan penekanan pada pentingnya pengetahuan dan pemahaman dalam menavigasi perubahan. AI menawarkan peluang untuk meningkatkan efisiensi pelayanan dan memperluas jangkauan misi gereja melalui media digital. Namun, tantangan etika dan teologis muncul terkait penggunaan AI dalam konteks spiritual, seperti potensi berkurangnya interaksi tatap muka dan kedalaman hubungan interpersonal. Gereja-gereja di Indonesia dan secara global memanfaatkan media sosial dan aplikasi digital untuk menjangkau jemaat yang tersebar, membantu memperkuat ikatan komunitas meskipun ada keterbatasan geografis. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka untuk menganalisis dampak teknologi komunikasi pada praktik keagamaan dari perspektif teologis dan sosiologis. Amsal 1:5 berfungsi sebagai prinsip panduan, yang menekankan hikmat dan pemahaman saat gereja merangkul kemajuan teknologi sambil menjaga integritas spiritual mereka. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang bijaksana, gereja dapat memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mendukung misi rohani mereka sambil menjaga integritas komunitas iman.