Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kesiapan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mengimplementasikan Activity-Based Costing (ABC) di era digital sebagai metode penentuan biaya yang lebih akurat dibandingkan metode konvensional. Transformasi digital memberi peluang peningkatan efisiensi pencatatan biaya melalui aplikasi akuntansi, integrasi data, serta otomatisasi proses bisnis. Namun, penerapan ABC pada UMKM masih jarang karena menuntut pemahaman akuntansi biaya, pemetaan aktivitas yang jelas, ketersediaan data, dan dukungan teknologi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan kuesioner kepada 100 UMKM lintas sektor. Data dianalisis menggunakan skala Likert untuk mengukur kesiapan pada aspek teknologi, sumber daya manusia, dokumentasi data aktivitas, dan pemahaman akuntansi. Hasil menunjukkan kesiapan UMKM berada pada kategori sedang. Kesiapan teknologi menjadi indikator tertinggi, sedangkan pemahaman akuntansi dan kesiapan SDM merupakan hambatan utama. Selain itu, sebagian UMKM belum mendokumentasikan proses bisnis secara sistematis sehingga menyulitkan identifikasi aktivitas dan penentuan pemicu biaya. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi ABC bergantung pada penguatan literasi akuntansi biaya, peningkatan kompetensi digital, serta penyediaan sistem pencatatan aktivitas yang sederhana, terstandar, dan mudah dioperasikan. Implikasinya, UMKM, pemerintah, dan lembaga pelatihan perlu merancang program pendampingan dan perangkat digital yang realistis agar penerapan ABC dapat meningkatkan akurasi biaya, kualitas keputusan, dan daya saing secara berkelanjutan pada lingkungan bisnis digital.