Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Divorce Contribution During the Covid-19 Pandemic in Banjarmasin City Muzainah, Gusti; Faridh, Miftah; Hasan, Ahmadi
Kawanua International Journal of Multicultural Studies Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : State Islamic Institute of Manado (IAIN) Manado, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/kijms.v4i1.554

Abstract

The Covid-19 epidemic has influenced numerous facets of human existence. There are a large number of layoffs which has a negative economic impact on the family. According to data made accessible by the Banjarmasin Religious Court, the divorce rate increased from 13729 cases in 2020 to 1652 cases in 2021. This study intended to identify the contribution to the cause of divorce in Banjarmasin during the Covid-19 pandemic. The method employed was empirical legal research, and the approaches were legal sociology and legal psychology. The results revealed that the covid-19 pandemic has contributed to the rising divorce rate. Economic issues, domestic abuse, and the presence of a third party are the leading causes of divorce. In addition, this study indicated that husbands were victims of domestic violence.
Comparative Fiqh Analysis: Ibn Hazm and Al-Nawawi Regarding the Validity of Combining Janabah and Friday Bath Ilhami, Achmad Abdi; Faridh, Miftah
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i4.1485

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendapat dua ulama besar Islam, Ibn Hazm dan Al-Nawawi, tentang menggabungkan pelaksanaan mandi Janabah dan mandi Jumat. Selain itu, penting untuk melacak akar argumentasi keduanya. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif analitis dengan pendekatan komparatif. Bahan hukum primer digali dari buku Al-Muhalla karya Ibn Hazm dan Al-Majmu’ karya Al-Nawawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ibn Hazm tidak membolehkan penggabungan kedua mandi tersebut karena keduanya bersifat wajib, sedangkan Al-Nawawi membolehkannya karena mandi Jumat hukumnya sunnah, (2) Ibn Hazm cenderung tektualis dengan merujuk kepada nash Al-Qur’an, hadis tentang niat, dan keharusan mengikuti panduan Nabi. Sedangkan Al-Nawawi tidak menyebutkan argumentasi spesifik, beliau tampak hanya mengikuti mainstream pemikiran mazhab Syafi’i yang membolehkan pelaksanaan dua jenis ibadah yang sejenis.
Comparative Analysis Of The Limit Of Hand Wiping In Tayammum According To The Shafi‘I And Hanbali Schools Rahmaniah, Rahmaniah; Alfiannoor, Imam; Faridh, Miftah
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : SPT. haria Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v4i1.1749

Abstract

Tayamum merupakan keringanan dalam syariat Islam yang digunakan sebagai pengganti bersuci dengan air ketika tidak memungkinkan menggunakan air. Salah satu persoalan yang diperdebatkan para ulama adalah batasan mengusap tangan dalam tayamum. Artikel ini membahas perbandingan pandangan mazhab Syafi‘i dan mazhab Hanbali mengenai batasan tersebut serta metode argumentasi hukum yang digunakan oleh masing-masing mazhab. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan komparatif melalui kajian terhadap kitab-kitab fikih dari kedua mazhab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mazhab Syafi‘i berpendapat pengusapan tangan dilakukan hingga siku dengan menggunakan qiyas serta kaidah mutlak muqayyad. Sebaliknya, mazhab Hanbali membatasi pengusapan tangan hingga pergelangan tangan dengan berpegang pada pemahaman tekstual terhadap ayat tayamum dan hadis sahih riwayat ‘Ammar bin Yasir. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa metode istinbat hukum memengaruhi perbedaan praktik ibadah dalam fikih Islam.