Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Paritas, Age, and Education Are Associated with the Level of Anxiety in Facing the Childbirth Period in PMB Komang Seni Rahayu, A.Md.Keb Fitriana Suandari, Kadek Indah; Tangkas, Made; Adhiestiani, Ni Made E gar
Journal of Ageing And Family Vol 3, No 2 (2023): Journal of Ageing And Family
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM Universitas Respati Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/joaf.v3i2.4134

Abstract

Pregnancy-related anxiety is a condition that arises from the subjective experience of unsettling mental tension as a general reaction and the inability to deal with issues or feelings of insecurity that affect pregnant women and are related to the mother's concern for the welfare of herself and her fetus. The pregnant woman's age, education level, and prior pregnancies and deliveries are risk factors that contribute to anxiety in pregnant women. Particularly throughout the third trimester of pregnancy up until delivery, anxiety can strike pregnant women. Pregnant women experience anxiety during this time, including worry about having a healthy baby or worrying about the discomfort they are experiencing. These diseases can raise the risk of bleeding wounds and uterine atony, while also raising the likelihood of preterm birth and low birth weight in babies. This study's main goal was to find out how third-trimester pregnant women at PMB Komang Seni Rahayu, A.Md.Keb related to parity, age, and education. This study is quantitative and cross-sectional in nature. A questionnaire that was distributed to a specified group of respondents was used to collect data using the purposive sampling technique. 32 samples total were used in this study. Both univariate and bivariate data analysis are used in this study. Results of the correlations statistical test (= 0.05). The findings revealed a correlation between parity, age, and education with the degree of anxiety associated with giving birth in third-trimester pregnant women at PMB Komang Seni Rahayu, A.Md.Keb, with a significance of p = 0.139 at parity, age with p = 0.005, and level of education with 0.628. Keywords : Characteristics, Pregnant Women, Anxiety
A predictive model for in vitro fertilization success: a retrospective cohort study from a tertiary clinic in Indonesia Tangkas, Made; Putra, I Made Mahadinata; Endarwati, Juwita
Indonesian Journal of Perinatology Vol. 6 No. 2 (2025): Available online : 1 December 2025
Publisher : The Indonesian Society of Perinatology, South Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/inajperinatol.v6i2.84

Abstract

Background: In vitro fertilization (IVF) remains one of the most effective assisted reproductive technologies for the management of infertility; however, its success rate varies widely across populations and clinical settings. In Indonesia, data-driven evaluations of IVF success predictors remain limited, and locally validated prognostic tools to support individualized counseling and treatment planning are scarce. This study aimed to identify factors associated with successful pregnancy outcomes among couples undergoing IVF at the WIN Infertility Clinic, Puri Bunda Hospital, Denpasar. Methods: A retrospective cohort study with a case–control approach was conducted using secondary data from medical records of 243 infertile couples who underwent IVF cycles between January 2023 and December 2024. Clinical pregnancy confirmed by laboratory and ultrasound findings was classified as the success group (n = 100), while unsuccessful cycles constituted the control group (n = 143). Variables evaluated included female age, basal hormonal profile, ovulation induction protocol, number of embryos transferred, body mass index (BMI), infertility duration, and infertility status. Univariate and multivariate logistic regression analyses were performed to identify independent predictors, followed by the development of a predictive scoring model. Results: The overall clinical pregnancy rate was 41.2%. Multivariate analysis demonstrated that four variables were independently associated with IVF success: female age (adjusted OR [aOR] 0.91; 95% CI 0.85–0.98; p = 0.012), number of embryos transferred (aOR 1.68; 95% CI 1.22–2.33; p = 0.001), normal BMI (aOR 2.00; 95% CI 1.12–3.59; p = 0.019), and duration of infertility (aOR 0.92; 95% CI 0.86–0.99; p = 0.041). A predictive scoring system derived from these factors demonstrated moderate discriminatory performance (AUC = 0.724). Conclusion: Female age, number of embryos transferred, BMI, and infertility duration are significant independent predictors of IVF success at this center. The proposed scoring model may serve as a practical tool to support individualized patient counseling and optimize treatment planning in IVF programs.
ANALISIS HUBUNGAN PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS DENGAN STATUS GIZI REMAJA DI KOTA PALU Manda, Manda; Tangkas, Made; Dewi, Nikmah Utami
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55056

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap permasalahan gizi yang ditandai dengan fenomena triple burden of malnutrition, sehingga diperlukan intervensi gizi yang efektif, salah satunya melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan gizi, kepatuhan konsumsi menu, dan preferensi makanan Program MBG dengan status gizi remaja di Kota Palu. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 105 siswa penerima MBG di dua SMP di Kota Palu yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Asupan gizi diukur menggunakan metode food recall 2×24 jam, kepatuhan konsumsi dan preferensi makanan diukur dengan kuesioner terstruktur, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) sesuai standar WHO 2007. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi normal (55,24%), asupan gizi MBG kategori cukup (54,29%), tingkat kepatuhan konsumsi tinggi (71,43%), serta preferensi positif terhadap menu MBG (80,00%). Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan gizi (p=0,345), kepatuhan konsumsi (p=0,201), dan preferensi makanan (p=0,294) dengan status gizi remaja. Hasil analisis multivariat juga menunjukkan bahwa seluruh variabel independen tidak berhubungan signifikan terhadap status gizi. Kesimpulannya, Program Makan Bergizi Gratis berperan sebagai pendukung pemenuhan gizi remaja, namun belum menjadi faktor penentu utama status gizi, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif melalui peningkatan kualitas menu, edukasi gizi, dan pengendalian pola konsumsi di luar sekolah.
FAKTOR RISIKO RIWAYAT INFEKSI, ASUPAN MAKAN, PENGETAHUAN IBU DAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDERE Hutama, Tirta Sari Putri; Laenggeng, Abd. Hakim; Tangkas, Made
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55087

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan. Kejadian stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti riwayat penyakit infeksi, asupan makan, pengetahuan ibu, dan sanitasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh riwayat infeksi, asupan makan, pengetahuan ibu, dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian stunting pada balita usia 6–59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pandere. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain case–control. Sampel berjumlah 72 balita, terdiri dari 36 balita stunting sebagai kelompok kasus dan 36 balita tidak stunting sebagai kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, pengukuran antropometri, serta penilaian asupan makan menggunakan metode food recall 2×24 jam. Pengukuran antropometri dilakukan dengan mengukur panjang badan menggunakan infantometer dan tinggi badan menggunakan stadiometer, kemudian status stunting ditentukan berdasarkan indikator PB/U atau TB/U menggunakan standar WHO dengan kriteria Z-score < -2 SD. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara riwayat penyakit infeksi (p=0,000), asupan protein (p=0,001), asupan lemak (p=0,029), asupan karbohidrat (p=0,004), pengetahuan ibu (p=0,008), dan sanitasi lingkungan (p=0,000) dengan kejadian stunting. Hasil multivariat menunjukkan bahwa sanitasi lingkungan merupakan faktor paling dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting (p=0,004). Kesimpulan penelitian ini adalah kejadian stunting dipengaruhi oleh riwayat infeksi, asupan makan, pengetahuan ibu, dan sanitasi lingkungan, dengan sanitasi lingkungan sebagai faktor dominan.