Murni Marlina Simarmata
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGARUH PENYIMPANGAN AKSIS PADA PENDERITA ASTIGMATISME Aslih Supriyono; M.Wahyu Budiana; Murni Marlina Simarmata
Jurnal Mata Optik Vol. 2 No. 1 (2021): Jurnal Mata Optik
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v2i1.30

Abstract

One of the emergence of complaints of vision in patients with astigmatism with the wrong axis is lack of sharp vision, imperfections (distortion) sharp vision, shaded or appearing double when looking at objects. Determination of the axis of astigmatism can be done with blur and cross cylinder techniques. In this paper, the author uses descriptive data collection with literature, one of which is written by Khurana, A. titled “Comprehensive Ophthalmology ". The purpose of the refraction examination technique using the two methods mentioned above in patients with astigmatism is to get comfortable vision for astigmatism sufferers.
FITTING IDEAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESTABILAN LENSA KONTAK LUNAK TORIK Darma Kusumah; Murni Marlina Simarmata; Ferry Doringin
Jurnal Mata Optik Vol. 1 No. 2 (2020): Bulan November
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/jmo.v1i2.17

Abstract

Toric soft contact lenses are contact lenses that have silinderstrength so they can be used to correct astigmatism disorders. The difference in meridian strength involves a difference in thickness that affects the stability of the toric soft contact lens that is attached to the eye. One of the problems most frequently complained of by users of toric soft contact lenses is unstable visual acuity where when the soft toric contact lens is used the vision becomes unclear due to the soft toric contact lens that is attached to the eye rotating so that the axis shifts. This is often caused by the inaccuracy of contact lens Fitting that has not been carried out before trial installation, so conducting a trial first in recommending toric soft contact lenses is very important to ensure the stability of soft toric contact lenses when worn by users. This paper aims to determine and discuss that the ideal Fitting assessment greatly affects the stabilization of toric soft contact lenses.
SKRINING KELAINAN REFRAKSI DAN EDUKASI KESEHATAN MATA PADA SISWA SMP DAN SMA BHAKTI MULYA 400 Murni Marlina Simarmata; Annadira Nabilla Sari; Ai Siti Lestari; Nailatu Firha; Anita Nur Anisa
Journal Peduli Kesehatan Mata Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Peduli Kesehatan Mata
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/fctbje55

Abstract

Gangguan refraksi merupakan salah satu penyebab utama penurunan tajam penglihatan pada anak dan remaja usia sekolah yang dapat memengaruhi proses belajar serta kualitas hidup siswa. Rendahnya kesadaran akan pentingnya pemeriksaan mata secara berkala menyebabkan banyak kasus kelainan refraksi tidak terdeteksi dan tidak terkoreksi dengan baik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan tujuan mendeteksi dini kelainan refraksi serta meningkatkan pengetahuan siswa mengenai kesehatan mata melalui skrining dan edukasi kesehatan mata pada siswa SMP dan SMA Bhakti Mulya 400. Metode kegiatan meliputi pemeriksaan tajam penglihatan (visus), pemeriksaan refraksi untuk mengidentifikasi jenis dan derajat kelainan refraksi, serta pemberian edukasi secara langsung mengenai pentingnya pemeriksaan mata rutin, penggunaan kacamata yang tepat, dan kebiasaan menjaga kesehatan mata dalam aktivitas belajar sehari-hari. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mengalami kelainan refraksi, dengan miopia sebagai gangguan refraksi yang paling banyak ditemukan. Sebagian besar kasus miopia termasuk kategori miopia rendah, namun ditemukan pula siswa dengan miopia sedang hingga tinggi yang memerlukan perhatian dan tindak lanjut lebih lanjut. Selain itu, masih terdapat siswa yang mengalami gangguan refraksi tetapi belum menggunakan koreksi penglihatan berupa kacamata. Kegiatan edukasi yang diberikan juga meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata dan melakukan pemeriksaan mata secara berkala. Dengan demikian, skrining kelainan refraksi dan edukasi kesehatan mata berbasis sekolah merupakan upaya promotif dan preventif yang efektif untuk mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini serta meningkatkan kesadaran siswa dalam menjaga kesehatan mata guna mendukung proses belajar yang optimal. Refractive errors are one of the leading causes of decreased visual acuity among school-aged children and adolescents, potentially affecting their learning process and quality of life. Low awareness of the importance of regular eye examinations has resulted in many cases of refractive errors remaining undetected and inadequately corrected. This community service activity was conducted as an implementation of the Tri Dharma of Higher Education with the aim of early detection of refractive errors and improving students’ knowledge of eye health through vision screening and eye health education among students of Bhakti Mulya 400 Junior and Senior High School. The methods included visual acuity assessment, refractive examinations to identify the type and degree of refractive errors, and direct educational sessions on the importance of regular eye examinations, proper spectacle use, and healthy visual habits in daily learning activities. The results showed that most students had refractive errors, with myopia being the most commonly identified condition. The majority of myopia cases were classified as low myopia; however, several students were found to have moderate to high myopia requiring further attention and follow-up. In addition, some students with refractive errors were not yet using appropriate spectacle correction. The educational intervention also improved students’ understanding of the importance of maintaining eye health and undergoing regular eye examinations. Therefore, school-based refractive error screening and eye health education represent effective promotive and preventive strategies for the early detection of visual disorders and for increasing students’ awareness of maintaining eye health to support optimal learning outcomes.
EDUKASI DAN PEMERIKSAAN PADA SISWA DAN GURU DI SMAN 2 BANJARMASIN TAHUN 2026 Muhammad Akbar Setiawan; Murni Marlina Simarmata; Sahri Ramdani; Khairurrizal Khairurrizal; Muhammad Raja El Aqsa
Journal Peduli Kesehatan Mata Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Peduli Kesehatan Mata
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/bde0vv50

Abstract

Kelainan refraksi merupakan salah satu gangguan penglihatan yang sering terjadi dan dapat memengaruhi aktivitas belajar. Rendahnya kesadaran terhadap pentingnya pemeriksaan mata menyebabkan banyak kasus kelainan refraksi tidak diketahui sejak dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMAN 2 Banjarmasin pada 8 April 2026 dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa serta guru mengenai pentingnya deteksi dini kelainan refraksi mata. Kegiatan dilakukan melalui pemberian edukasi, pemeriksaan mata, dan pembagian kacamata bagi peserta yang membutuhkan. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan sebanyak 59 orang. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 44 peserta (74,6%) mengalami kelainan refraksi, sedangkan 15 peserta (25,4%) memiliki penglihatan normal (emetrop). Selain itu, peserta menunjukkan antusiasme yang baik selama kegiatan dan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong kebiasaan pemeriksaan mata secara rutin sebagai upaya pencegahan gangguan penglihatan. Refractive errors are among the most common visual disorders and may affect learning activities. Low awareness of the importance of eye examinations often causes refractive errors to go undetected. This community service activity was conducted at SMAN 2 Banjarmasin on April 8, 2026, with the aim of increasing students’ and teachers’ awareness of the importance of early detection of refractive errors. The program included eye health education, eye examinations, and the distribution of eyeglasses for participants who needed them. A total of 59 students and teachers participated in the activity. The examination results showed that 44 participants (74.6%) had refractive errors, while 15 participants (25.4%) had normal vision (emmetropia). Participants also showed good enthusiasm throughout the activity and gained a better understanding of the importance of maintaining eye health. This activity is expected to encourage regular eye examinations as an effort to prevent visual impairment.
PROFIL KELAINAN REFRAKSI PADA PESERTA PEMERIKSAAN MATA DI SMA AL MUBARAK JOMBANG TAHUN 2026 Imron Gusroni; Murni Marlina Simarmata; Annadira Nabila Sari; Frederica Aratwembun; Eva Asriyanti; Lena Lisnawati; Putri Ghanim Septia Habiba
Journal Peduli Kesehatan Mata Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Peduli Kesehatan Mata
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/xg3vxa39

Abstract

Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan yang dapat menghambat aktivitas belajar, bekerja, dan menurunkan kualitas hidup seseorang apabila tidak dikoreksi dengan tepat. Deteksi dini melalui pemeriksaan refraksi sangat penting untuk mengetahui jenis dan derajat kelainan refraksi sehingga dapat diberikan koreksi yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kelainan refraksi pada peserta pemeriksaan mata dalam kegiatan Praktik Klinik Lanjutan/Ujian Akhir Program (PKL/UAP) yang dilaksanakan di SMA Al Mubarak Jombang pada tanggal 21–22 Mei 2026. Penelitian menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang (cross- sectional). Sampel penelitian terdiri dari 56 peserta yang meliputi siswa, guru, dan yayasan yang mengikuti pemeriksaan mata. Pengumpulan data dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan tajam penglihatan (visus), pemeriksaan refraksi objektif dan subjektif, serta penentuan resep kacamata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa miopia merupakan kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan, terutama pada kelompok usia 15–17 tahun. Selain miopia, ditemukan pula kasus astigmatisme dan presbiopia pada peserta berusia di atas 40 tahun yang memerlukan tambahan lensa baca. Beberapa peserta juga mengalami miopia derajat tinggi dengan ukuran refraksi mencapai S -11,00 dioptri pada kedua mata. Sebagian besar peserta mengalami peningkatan tajam penglihatan setelah diberikan koreksi menggunakan kacamata yang sesuai. Dapat disimpulkan bahwa miopia merupakan kelainan refraksi yang paling dominan pada peserta pemeriksaan mata di SMA Al Mubarak Jombang sehingga diperlukan pemeriksaan mata secara berkala sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan gangguan penglihatan yang lebih lanjut. Refractive error is one of the leading causes of visual impairment that can interfere with learning activities, work performance, and overall quality of life if not properly corrected. Early detection through refractive examinations is essential to identify the type and degree of refractive errors so that appropriate correction can be provided. This study aimed to determine the profile of refractive errors among participants of an eye examination program conducted during the Advanced Clinical Practice/Final Program Examination (PKL/UAP) at SMA Al Mubarak Jombang on May 21–22, 2026. This study employed a descriptive observational design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 56 participants, including students, teachers, and foundation staff who underwent eye examinations. Data were collected through anamnesis, visual acuity assessment, objective and subjective refraction examinations, and eyeglass prescription determination. The results showed that myopia was the most common refractive error, particularly among participants aged 15–17 years. In addition to myopia, cases of astigmatism and presbyopia were also identified among participants over 40 years of age who required additional reading lenses. Several participants were found to have high myopia, with refractive measurements reaching S -11.00 diopters in both eyes. Most participants experienced improved visual acuity after receiving appropriate spectacle correction. It can be concluded that myopia was the predominant refractive error among participants at SMA Al Mubarak Jombang. Therefore, regular eye examinations are necessary as an early detection and prevention strategy for further visual impairment.
EDUKASI KESEHATAN MATA DAN PEMBAGIAN KACAMATA BAGI MASYARAKAT DI BERBAGAI DAERAH INDONESIA TAHUN 2026 Stepanus Silaban; Murni Marlina Simarmata; Nisa Zakiati Umami
Journal Peduli Kesehatan Mata Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Peduli Kesehatan Mata
Publisher : Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54363/91kfv697

Abstract

Gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya pada anak usia sekolah dan kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mata. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, telah dilaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa edukasi kesehatan mata, pemeriksaan mata, dan pembagian kacamata di berbagai wilayah Indonesia selama periode Maret hingga Mei 2026. Sasaran kegiatan meliputi siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, santri pondok pesantren, penghuni panti asuhan, jemaat gereja, serta masyarakat umum. Kegiatan dilaksanakan melalui penyuluhan kesehatan mata, pemeriksaan ketajaman penglihatan, dan pemberian kacamata bagi peserta yang membutuhkan koreksi penglihatan. Sebanyak 18 kegiatan PKM berhasil dilaksanakan di berbagai provinsi, antara lain Riau, Lampung, Kalimantan Timur, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Riau. Program ini menjangkau sekitar 874 peserta. Selain itu, sebanyak 528 kacamata berhasil dibagikan kepada peserta yang membutuhkan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi kesehatan mata yang dipadukan dengan pemeriksaan mata dan pemberian kacamata mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mata serta memperluas akses terhadap layanan koreksi penglihatan. Program ini menunjukkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan kesehatan mata masyarakat dan mencegah gangguan penglihatan yang dapat dicegah. Visual impairment and uncorrected refractive errors remain significant public health issues in Indonesia, particularly among school-aged children and underserved communities. To address this problem, a community service program (PKM) focusing on eye health education, vision screening, and eyeglass distribution was conducted in various regions across Indonesia from March to May 2026. The program targeted elementary, junior high, and senior high school students, Islamic boarding school students, orphanage residents, community groups, religious congregations, and public health center beneficiaries. The implementation involved educational sessions on eye health, eye examinations, and the distribution of eyeglasses to participants requiring vision correction. A total of 18 PKM activities were conducted in multiple provinces including Riau, Lampung, East Kalimantan, Banten, Jakarta, West Java, South Kalimantan, Central Kalimantan, South Sulawesi, North Sulawesi, and Riau Islands. The activities reached approximately 874 participants. Furthermore, 528 eyeglasses were distributed to beneficiaries identified as needing corrective lenses. The results indicate that eye health education combined with direct vision screening and eyeglass provision effectively increased public awareness of eye health while improving access to visual correction services. This program demonstrates the importance of collaborative community-based interventions in promoting eye health and preventing avoidable visual impairment among vulnerable populations.