Gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya pada anak usia sekolah dan kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mata. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, telah dilaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa edukasi kesehatan mata, pemeriksaan mata, dan pembagian kacamata di berbagai wilayah Indonesia selama periode Maret hingga Mei 2026. Sasaran kegiatan meliputi siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, santri pondok pesantren, penghuni panti asuhan, jemaat gereja, serta masyarakat umum. Kegiatan dilaksanakan melalui penyuluhan kesehatan mata, pemeriksaan ketajaman penglihatan, dan pemberian kacamata bagi peserta yang membutuhkan koreksi penglihatan. Sebanyak 18 kegiatan PKM berhasil dilaksanakan di berbagai provinsi, antara lain Riau, Lampung, Kalimantan Timur, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Riau. Program ini menjangkau sekitar 874 peserta. Selain itu, sebanyak 528 kacamata berhasil dibagikan kepada peserta yang membutuhkan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi kesehatan mata yang dipadukan dengan pemeriksaan mata dan pemberian kacamata mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mata serta memperluas akses terhadap layanan koreksi penglihatan. Program ini menunjukkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan kesehatan mata masyarakat dan mencegah gangguan penglihatan yang dapat dicegah. Visual impairment and uncorrected refractive errors remain significant public health issues in Indonesia, particularly among school-aged children and underserved communities. To address this problem, a community service program (PKM) focusing on eye health education, vision screening, and eyeglass distribution was conducted in various regions across Indonesia from March to May 2026. The program targeted elementary, junior high, and senior high school students, Islamic boarding school students, orphanage residents, community groups, religious congregations, and public health center beneficiaries. The implementation involved educational sessions on eye health, eye examinations, and the distribution of eyeglasses to participants requiring vision correction. A total of 18 PKM activities were conducted in multiple provinces including Riau, Lampung, East Kalimantan, Banten, Jakarta, West Java, South Kalimantan, Central Kalimantan, South Sulawesi, North Sulawesi, and Riau Islands. The activities reached approximately 874 participants. Furthermore, 528 eyeglasses were distributed to beneficiaries identified as needing corrective lenses. The results indicate that eye health education combined with direct vision screening and eyeglass provision effectively increased public awareness of eye health while improving access to visual correction services. This program demonstrates the importance of collaborative community-based interventions in promoting eye health and preventing avoidable visual impairment among vulnerable populations.