Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pelatihan Presentasi Berbahasa Inggris Kepada Siswa Pondok Muslimah Syamila Jember Yuslaili Ningsih; Enik Ruklati; Nodistya Septian Indrastana; Renata Kenanga Rinda; Vigo Dewangga
SABAJAYA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 3 (2023): SABAJAYA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : SABA JAYA PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pondok Muslimah Syamila merupakan salah satu pondok modern yang menyelenggarakan Pendidikan bagi Muslimah untuk diberikan pendidikan profesi berbasis syariat dan sunnah. Pondok ini cukup dan layak diperhitungkan sebab para asatizh pengajarnya sudah diakui secara profesional. Hal ini sangat menentukan lulusan pondok yang mampu bersaing dalam ranah nasional maupun internasional. Namun demikian pada kenyataannya masih banyak mahasiswa yang kurang layak untuk dapat kesempatan tersebut. Salah satu penyebabnya adalah kemampuan berbicara bahasa Inggris yang merupakan syarat utama dalam pembelajaran maupun setelah lulus dan memasuki dunia kerja yang nyata. Persaingan untuk mendapatkan pekerjaan dan berprestasi membangun karier dalam pekerjaan terutama di perusahaan-perusahaan asing bukanlah perkara mudah. Keahlian Public speaking sangat diperlukan untuk membangun karir di tempat kerja. Keahlian ini dapat diwujudkan dengan tugas presentasi untuk memberi pengalaman real public speaking bagi siswa pondok. Disamping jumlah jadwal belajar Bahasa Inggris di pondok masih kurang dibanding dengan target keahlian yang harus dicapai oleh siswa, praktik Bahasa Inggris merupakan keharusan. Bagaimanapun keahlian keahlian presentasi bukanlah hal yang mudah bagi siswa. Mereka mengalami banyak kesulitan dalam hal percaya diri dan kecemasan dalam presentasi di depan banyak orang. Dalam upaya agar siswa mendapatkan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris khususnya public speaking lewat kemampuan presentasi, dan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi siswa, maka siswa pondok harus dibekali dengan kemampuan public speaking atau presentasi.Oleh karena itu, tim pengabdian dari program studi Bahasa Inggris Politeknik Negeri Jember mengadakan program pelatihan presentasi dalam Bahasa Inggris untuk memberi pengalaman real kepada siswi pondok dalam public speaking. Pelatihan ini melibatkan siswi Pondok Muslimah Syamila sebagai mitra. Penggunaan Bahasa Inggris bertujuan untuk meningkatkan kemampuan public speaking, sedangkan kemampuan metode menyajikan bertujuan untuk keahlian menyajikan acara dan menumbuhkan percaya diri siswa untuk presentasi di depan banyak orang. Pelatihan dilaksanakan dengan metode action research dan dengan menerapkan empat langkah yaitu rencana, pelaksanakan, pengamatan, dan refleksi selama enam bulan. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini maka tujuan pembelajaran speaking skill dapat dicapai untuk meningkatkan kemampuan presentasi siswa di suatu acara tau dunia kerja. Kata Kunci: pelatihan, bahasa inggris, public speaking, presentasi.
Inisiasi Pelatihan Basic English for Tourism sebagai Upaya Peningkatan Kesiapan Komunikasi Masyarakat Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi Meiga Rahmanita; Firda Diartika; Nodistya Septian Indrastana; Renata Kenanga Rinda; Titik Ismailia
ASPIRASI : Publikasi Hasil Pengabdian dan Kegiatan Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Juli : ASPIRASI : Publikasi Hasil Pengabdian dan Kegiatan Masyarakat
Publisher : Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/aspirasi.v4i4.2848

Abstract

Karangpring Village, Sukorambi District, Jember Regency, has considerable natural and cultural tourism potential that continues to be developed. However, the local community's readiness to communicate in English as part of tourism services remains limited. This community service program aimed to describe the implementation of a Basic English for Tourism training program and examine its role in improving the community's communication readiness to support village tourism development. The training involved 12 participants representing the Youth Organization (Karang Taruna), Village-Owned Enterprise (BUMDes), village facilitators, and Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs). The program was conducted through four stages: material presentation, guided practice, communication practice through role play, and evaluation. The training focused on giving directions, greeting visitors, and introducing oneself and the tourist destination by using local tourism attractions as learning contexts. The results showed that participants were highly engaged and gradually became able to use basic English expressions in simulated tourism service situations. Although many participants were initially hesitant and struggled to communicate, continuous guidance through role play helped improve their confidence and willingness to speak English. The evaluation results also indicated positive participant responses regarding the training materials, delivery, and overall benefits. Therefore, the Basic English for Tourism training can serve as an initial step in strengthening the communication capacity of local communities to support the development of Karangpring Village as a tourist destination.