Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pemberdayaan Kader Kesehatan dan Penyuluhan Pada Kelompok Pemberdayaan Disabilitas Mitra Mandiri, Gunung Kidul Bararinda, Pradipta Putramachristy; Widagdo, The Maria Meiwati; Oktaviano, William; Nawangwulan, Charista Prasasti
Patria : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat SPECIAL ISSUE - SENDIMAS IX
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/patria.v1i1.12731

Abstract

Laporan ini menyajikan hasil akhir program ECCE (Early Clinical and Community Exposure) yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran UKDW dengan pembimbing yang berfokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas untuk menjadi kader kesehatan dalam kelompok Mitra Mandiri. Pemberdayaan penyandang disabilitas untuk menjadi kader kesehatan memainkan peran penting dalam meningkatkan akses dan inklusivitas perawatan kesehatan. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri mereka tetapi juga berkontribusi pada sistem kesehatan yang lebih luas dengan menyediakan komunitas dengan individu yang berpengetahuan yang dapat menawarkan layanan kesehatan dan pendidikan. Penyandang disabilitas menghadapi banyak hambatan dalam mengakses perawatan kesehatan, dan keterlibatan mereka sebagai kader kesehatan dapat menjembatani kesenjangan ini, mendorong pendekatan perawatan kesehatan yang lebih inklusif dan empatik. Proses pemberdayaan melibatkan pelatihan keterampilan, terutama dalam menggunakan alat medis dan memahami prinsip-prinsip perawatan kesehatan dasar, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan unik mereka. Dengan mengintegrasikan penyandang disabilitas ke dalam peran perawatan kesehatan, komunitas mendapat manfaat dari perspektif yang beragam, sementara individu memperoleh pekerjaan yang bermakna dan rasa kontribusi sosial. Model pemberdayaan ini sejalan dengan tujuan yang lebih luas dari keadilan sosial dan kesetaraan kesehatan, membuat sistem perawatan kesehatan lebih responsif terhadap kebutuhan semua warga negara, terutama kelompok marjinal.This report presents the final results of the ECCE (Early Clinical and Community Exposure) conducted by a group of medical students at UKDW under the guidance of their supervisors program focused on empowering people with disabilities to become health cadres in the Mitra Mandiri group. Empowering people with disabilities to become health cadres plays a crucial role in improving healthcare access and inclusivity. This initiative not only enhances their self-reliance and confidence but also contributes to the broader health system by providing communities with knowledgeable individuals who can offer health services and education. People with disabilities face numerous barriers in accessing healthcare, and their involvement as health cadres can bridge these gaps, fostering a more inclusive and empathetic healthcare approach. The empowerment process involves skill training, especially in using medical devices and understanding basic healthcare principles, tailored to their unique needs and abilities. By integrating people with disabilities into healthcare roles, communities benefit from diverse perspectives, while individuals gain meaningful employment and a sense of social contribution. This model of empowerment aligns with broader goals of social justice and health equity, making healthcare systems more responsive to the needs of all citizens, particularly marginalized groups.
CHOOSING INCLUSIVE OR SPECIAL SCHOOLS FOR CHILDREN WITH DISABILITY IN INDONESIA: EDUCATIONAL PLACEMENT AND ANALYSIS OF RELATED FACTORS Widagdo, The Maria Meiwati; Pudjohartono, Maria Fransiska
IJIET (International Journal of Indonesian Education and Teaching) Vol 7, No 2 (2023): July 2023
Publisher : Sanata Dharma University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/ijiet.v7i2.6445

Abstract

Access to education remains a challenge for children with disability. In Indonesia, families can choose to send children with disability to either inclusive or specialized schools. This study aimed to identify the factors associated with the choice of sending children with disability to inclusive or special schools and factors linked to school dropout. Caregivers of children with disability in Java, Indonesia were interviewed to collect data on enrolment in school, sex and age of the children with disability, type of disability, parents’ age and education, and independence of children with disability. The characteristics of children with disability studying in inclusive and special schools were compared. Logistic multivariate linear regression was done to analyze factors related to the choice of school. Data from 281 children with disability were analyzed: 175 (62.3%) of the school-aged children with disability were actively studying at school, with 84.57% studying in inclusive schools and 15.43% in special schools. Children’s age, independence in daily activities, and ability to learn and play are factors that affect parents’ choice of educational placement for children with disability. Children’s age and mothers’ age are variables influencing children with disability to drop out.
JOGJA SAPA LANSIA Silalahi, Lothar Matheus Manson Vanende; The Maria Meiwati Widagdo; Mitra Andini Sigilipoe
Jurnal Atma Inovasia Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jai.v5i1.10224

Abstract

Pendahuluan. Lanjut usia (lansia) dengan disabilitas mempunyai keluhan kesehatan paling tinggi. Meskipun keluhan kesehatannya paling tinggi, lansia dengan disabilitas merupakan populasi yang memiliki persentase paling tinggi yang tidak melakukan pengobatan. Minimnya pengobatan kesehatan ini juga menjadi risiko munculnya masalah kesehatan lain. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta berkolaborasi dengan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Yogyakarta melakukan kegiatan bertajuk “Jogja Sapa Lansia” berfokus pada lansia dengan disabilitas. Tujuan. Sebagai perwujudan Kota Yogyakarta ramah lansia. Metode. Program service learning bersama mahasiswa. Kegiatan yang dilakukan adalah dalam bentuk kunjungan ke lansia tirah baring. Dalam kunjungan mahasiswa melakukan observasi langsung dan eksplorasi masalah mengenai pemenuhan kebutuhan lansia. Asesmen menggunakan kuesioner short CANE (Camberwell Assessment Of Need For The Elderly). Hasil. Dilakukan kunjungan kepada sembilan lansia yang tirah baring dan didapatkan kebutuhan dominan yang belum terpenuhi adalah kebutuhan pendengaran/penglihatan, mobilitas dan dukungan sosial. Dari sisi caregiver kebutuhan lansia yang belum terpenuhi adalah kebutuhan informasi kondisi kesehatan. Mahasiswa kemudian melakukan edukasi sesuai dengan kondisi lansia. Kesimpulan. Lansia dengan tirah baring perlu dukungan lebih pada kondisi penglihatan/pendengaran, mobilitas, sosial dan informasi kondisinya.
Pendidikan Seksual dan Higiene Pribadi bagi Anak Berkebutuhan Khusus di SLBN 1 Yogyakarta Manus, Widya Christine; Widagdo, The Maria Meiwati; Matahari Bunga Indonesia
Jurnal Atma Inovasia Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jai.v5i1.10422

Abstract

Anak berkebutuhan khusus atau ABK adalah anak yang membutuhkan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan kondisi fisik, mental, intelektual, sosial, dan emosional mereka. Setiap anak yang memiliki disabilitas baik dengan keterbatasan fisik, mental, intelektual, sosial dan emosional berhak memperoleh pendidikan. Pendidikan seksual juga penting bagi ABK, mengingat mereka mengalami pubertas seperti anak lainnya. Di Yogyakarta, terdapat 9 SLBN, termasuk SLBN 1 Yogyakarta yang bekerja sama dengan FK UKDW. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman ABK tentang pendidikan seksual dan kebersihan genitalia melalui metode cross age peer teaching. Kegiatan ini menggunakan alat peraga, video, dan puzzle. Evaluasi langsung pada siswa dan evaluasi yang didapat dari umpan balik dari orang tua menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pengetahuan dan sikap siswa akan konsep “area pribadi”. Akan Tetapi, membutuhkan kolaborasi lebih lanjut diperlukan antara guru, orang tua, dan tenaga medis untuk mendukung keberhasilan pendidikan seksual bagi ABK. Program ini diharapkan menjadi model pembelajaran inklusif yang dapat diterapkan di sekolah khusus lainnya.
Hubungan antara Sukungan Sosial, Jenis Kelamin, dan Tingkat Pendidikan dengan Depresi dan Fungsi Kognitif Lanjut Suia dalam Komunitas Keagamaan Jayadi, Tejo; The, Maria Meiwati Widagdo; Sooai, Christiane Marlene; Indonesia, Bunga Matahari; Agustina, Maria; Waskitaningtyas, Bernadeta Amaya
Bahasa Indonesia Vol 23 No 3 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i3.6002

Abstract

Introduction: Elderly individuals often experience psychosocial vulnerabilities that increase their risk for psychological disorders and are linked to cognitive impairments. This study explored how social support and demographic variables relate to the incidence of depression and cognitive decline among devout older adults. Methods: This cross-sectional observational study involved 125 senior participants from the Javanese Christian Church in Ambarrukma District of Yogyakarta. The research utilized demographic questionnaires, social support evaluations, surveys on religious attitudes, the Geriatric Depression Scale, and the MOCA-Ina tests. Data will undergo univariate and bivariate analyses and binary linear regression to evaluate odds ratios (OR), 95% confidence intervals (CI), and Pearson correlations between variables. Results: Elderly devout respondents (99.2%) who received good social support were more likely to experience no depression (47.9%) than those with poor social support (40.3%) (p=0.025; OR 0.182; 95% CI 0.038-0.873). The female gender suffered more from mild depression (p=0.021; OR 0.176; 95% CI 0.037-0.841) compared to men. Older adults with an education level of 7 years or more showed less mild cognitive impairment (p=0.044; OR 4.500; 95% CI 0.929-21.802). Conclusion: This study revealed that social support plays a role in modifying the incidence of depression in devout elderly individuals. The female gender suffered more from mild depression. Additionally, lower education levels were correlated with mild cognitive impairment. Further research with a more robust analysis with a larger sample size and consideration of other factors is necessary to confirm the causal relationships between social support and gender and depression.  
Social Network of Urban and Rural Elderly with Disability in Indonesia Widagdo, The Maria Meiwati; Putri, Gusti Ayu Agung Indra Sari; Widyaningsih, Bernadeta Dhaniswara
Proceeding ISETH (International Summit on Science, Technology, and Humanity) 2024: Proceeding ISETH (International Summit on Science, Technology, and Humanity)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/iseth.5544

Abstract

Purpose: This study aimed to compare the social network between rural and urban elderly with disability. Methodology: The study participants were community dwelling rural and urban elderly with disability. Disability was assessed using Washington Group Short Set of questions on functioning and social network was rated using the Lubben Social Network Scale. Data were analysed using ANOVA test and crosstabulation to gain a deeper understanding with demographic variables. Results: A total of 115 (55 rural and 60 urban) elderly with disability aged 60-95 years participated in this study. Rural elderly with disability are more involved in social networking. Urban elderly women seem to experience higher rates of isolation. Rural men exhibit higher level of social networking compared to urban men and women in both rural and urban settings. Elderly who have education have higher social network than those without education. Married elderly, particularly in rural areas, have higher levels of social networking and lower rates of isolation compared to those who are single. Single elderly, especially in urban areas, are more vulnerable to social isolation. Applications/Originality/Value: Rural older people with disability have higher social networking than their urban counterparts. The findings that sociodemographic and geographic factors shape social network of elderly with disability emphasize the needs of social policies and community-based programs targeting urban elderly with disability, particularly women, those who are single or have lower education.
Mengurangi Risiko Jatuh pada Lanjut Usia dengan Latihan Keseimbangan Widagdo, The Maria Meiwati; Sambudi, Rambat
Nommensen Journal of Medicine Vol 7 No 1 (2021): Nommensen Journal of Medicine: Edisi Agustus
Publisher : Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.72 KB) | DOI: 10.36655/njm.v7i1.599

Abstract

Background: Population of elderly in Indonesia continues to grow. Physical changes in the elderly cause balance disturbances, increasing the risks of falling. Objective: To determine balance training effectiveness on reducing risks of falls in elderly. Methods: This study used a quasi-experimental design with control and intervention groups. Functional Reach Test (FRT) and Falls Efficacy Scale-International (FES-I) were used to assess balance function. The elderly in this study had risks of falling according to FRT and FES-I. Timed Get-up and Go Test was used to assess physical function. Education and balance exercises were given for 3 weeks to the intervention group. Pre-test data were taken at the beginning of the study, while post-test data after the balance training was given to the intervention group. Paired t-test was used to compare the pre-test and post-test data. Results: Research was conducted in Warungboto and Giwangan Kampongs, Umbulharjo District, Yogyakarta Municipality. Data from 60 elderly: 30 in the intervention and 30 in the control groups. Paired t-test showed a significant difference between pre-test and post-test results in the intervention group on FRT (t=-16,301, p<0.001, and FES-I (t=-24,457, p<0.001). The three-week-balance-training significantly reduced the risk of falling in the intervention group. Significant difference was not found in the control group on FRT (t=-0.126, p=0.901), and FES-I (t=-0.764, p=0.451). There was no significant reduction in the risks of falls in the control group. Conclusion: Balance training is effective in reducing the risk of falls in elderly.
Pengetahuan Kader Posyandu Lansia tentang Demensia di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Simbolon, Yosephine Aemelia Sherry; Widagdo, The Maria Meiwati; Djonggianto, Johan Kurniawan
Nommensen Journal of Medicine Vol 8 No 1 (2022): Nommensen Journal of Medicine: Edisi Agustus
Publisher : Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36655/njm.v8i1.745

Abstract

Abstrak Pendahuluan: Demensia merupakan salah satu gangguan yang bisa terjadi pada lanjut usia akibat proses penuaan dan kerusakan sel saraf dan koneksinya. Pada kondisi demensia yang parah bisa terjadi gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan menjadi orang tidak mandiri. Pemerintah memiliki upaya tindakan preventif dan promotif dengan mengadakan posyandu lansia yang dibantu oleh kader kesehatan. Kader kesehatan diharapkan bisa membantu mengedukasi masyarakat. Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan kader tentang demensia di Desa Wonokerto, Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode Penelitian: Subyek penelitian ini adalah kader posyandu lansia di Desa Wonokerto, Turi yang diambil dengan cara purposeful sampling dengan metode penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dengan in-depth interview dan selanjutnya dilakukan transkrip wawancara dan dianalisis dengan menggunakan thematic framework. Hasil: Mayoritas subyek penelitian masih kurang memahami terkait pengetahuan umum demensia.Pada subyek penelitian yang berusia lebih tua, tingkat pendidikan terakhir SMA se-derajat atau D-3, memiliki motivasi untuk melakukan pengabdian kepada masyakatat, mengalami pengalaman menjadi kader >10 tahun, memiliki pengalaman melaksanakan kegiatan khusus demensia dan sudah pernah diberikan pelatihan terkait demensia mampu menjawab hampir seluruh pertanyaan dengan lebih mendalam. Kesimpulan: Mayoritas subyek penelitian masih kurang memahami terkait pengetahuan umum demensia. Tingkat pengetahuan subyek penelitian juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kata Kunci: Demensia, Kader Posyandu Lansia, Pengetahuan
Gambaran Perilaku Pencarian Pengobatan Lansia Di Keluarahan Kotabaru Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta Prakoso, Pindo Galih; Meiwati Widagdo, The Maria
Nommensen Journal of Medicine Vol 10 No 1 (2024): Nommensen Journal of Medicine: Edisi Agustus
Publisher : Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36655/njm.v10i1.1479

Abstract

Latar belakang: Jumlah penduduk lansia di Indonesia tahun 2021 sebesar 10,82%. Jumlah lansia lebih dari 7% total penduduk menunjukkan bahwa Indonesia berada di era ageing population. Diperlukan analisis terkait dengan perilaku pencarian pengobatan pada lansia untuk dapat memastikan kualitas hidup yang baik. Perilaku pencarian pengobatan meliputi sikap dan tindakan yang diambil oleh individu ketika sakit atau mengalami masalah kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku pencarian pengobatan pada lansia, terutama di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi cross-sectional. Besar sampel adalah 40 responden. Hasil: Data demografi menunjukkan 72,5% responden masuk dalam elderly (60-74 tahun), 25% masuk dalam kategori old (75- 90 tahun) dan 2,5% dalam kategori very old (> 90 tahun). 55% responden memiliki sikap kurang dan 45% bersikap baik dalam pencarian pengobatan. Aspek tindakan responden menunjukkan 65% bertindak baik dan 35% bertindak kurang baik dalam pencarian pengobatan. Responden dengan pengeluaran Rp 25.000 – Rp 50.000 per hari memiliki rasio tindakan pencarian obat yang baik lebih tinggi signifikan dibandingkan dengan responden dengan pengeluaran Rp 10.000 – 24.999 per hari (X2= 9,707, p= 0,008). Responden dengan fasilitas pelayanan pengobatan skor tinggi memiliki rasio responden dengan tindakan baik lebih tinggi dibandingkan dengan fasilitas pelayanan pengobatan skor sedang (X2= 7,556, p= 0,006). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki sikap yang kurang baik dan tindakan yang baik dalam pencarian pengobatan. Pengeluaran per hari responden dan fasilitas pelayanan pengobatan memengaruhi tindakan pencarian pengobatan. Kata kunci: Perilaku pencarian pengobatan, lansia, sikap, tindakan.
JOGJA SAPA LANSIA Silalahi, Lothar Matheus Manson Vanende; The Maria Meiwati Widagdo; Mitra Andini Sigilipoe
Jurnal Atma Inovasia Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jai.v5i1.10224

Abstract

Pendahuluan. Lanjut usia (lansia) dengan disabilitas mempunyai keluhan kesehatan paling tinggi. Meskipun keluhan kesehatannya paling tinggi, lansia dengan disabilitas merupakan populasi yang memiliki persentase paling tinggi yang tidak melakukan pengobatan. Minimnya pengobatan kesehatan ini juga menjadi risiko munculnya masalah kesehatan lain. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta berkolaborasi dengan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Yogyakarta melakukan kegiatan bertajuk “Jogja Sapa Lansia” berfokus pada lansia dengan disabilitas. Tujuan. Sebagai perwujudan Kota Yogyakarta ramah lansia. Metode. Program service learning bersama mahasiswa. Kegiatan yang dilakukan adalah dalam bentuk kunjungan ke lansia tirah baring. Dalam kunjungan mahasiswa melakukan observasi langsung dan eksplorasi masalah mengenai pemenuhan kebutuhan lansia. Asesmen menggunakan kuesioner short CANE (Camberwell Assessment Of Need For The Elderly). Hasil. Dilakukan kunjungan kepada sembilan lansia yang tirah baring dan didapatkan kebutuhan dominan yang belum terpenuhi adalah kebutuhan pendengaran/penglihatan, mobilitas dan dukungan sosial. Dari sisi caregiver kebutuhan lansia yang belum terpenuhi adalah kebutuhan informasi kondisi kesehatan. Mahasiswa kemudian melakukan edukasi sesuai dengan kondisi lansia. Kesimpulan. Lansia dengan tirah baring perlu dukungan lebih pada kondisi penglihatan/pendengaran, mobilitas, sosial dan informasi kondisinya.